Esai

Membayangkan Kembali (Kesusastraan) Indonesia dan Dunia

Jika Anda pembaca novel-novel atau cerita-cerita John Steinbeck, Anda mungkin akan mulai membayangkan seperti apa California di masanya, lengkap dengan lanskap pantai yang dipenuhi kapal-kapal nelayan dan pabrik pengalengan, para gelandangan, para pekerja, kebun anggur, atau orang-orang sederhana yang memelihara bunga krisan di depan rumahnya. Demikian juga jika Anda akrab dengan karya-karya Pramoedya, Anda mulai membangun imajinasi tentang Blora dengan sungai Lusi yang mengalir di sana.

Di novel Never Any End to Paris karya Enrique Vila-Matas, seorang anak muda yang merupakan seorang novelis pemula (yang juga narator dengan nama sama seperti penulis novel), pindah ke Paris setelah membaca A Moveable Feast. Ia tergila-gila dengan Paris dan kehidupan kesusastraannya, sebagaimana yang dibayangkannya setelah membaca karya Hemingway itu. Paris mungkin sangat beruntung, begitu banyak penulis dan karya sastra telah membangun bayangan orang tentangnya. Citra sebagai kota romantik penulis dibangun juga oleh kehidupan para penulisnya, dari mulai Victor Hugo hingga cafe-cafe tempat Simone de Beauvoir dan Jean Paul Sartre nongkrong, atau “generasi yang hilang” macam kawan-kawan Hemingway melintasi jalan-jalannya. Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali ke Paris, satu tempat yang saya sempatkan untuk berkunjung adalah katedral Notre-Dame, masuk ke dalamnya dan menyalakan lilin. Tentu saja karena saya ingin mengkonfirmasi bayangan saya tentang katedral itu setelah membaca The Hunchback of Notre-Dame.

Belum lama saya membaca artikel di The Independent tentang kota-kota sastra yang disarankan untuk dikunjungi. Misalnya kita bisa merasakan suasana dan lanskap serta bertemu manusia-manusia Meksiko sebagaimana kita baca di The Savage Detective Roberto Bolaño. Tentu saja artikel itu juga menyarankan untuk mengunjungi kota Dublin dan meskipun jarak waktu yang membentang, kita mungkin akan membandingkannya dengan Dubliners karya James Joyce. Saya tak tahu, apakah ada orang Indonesia yang iseng mengunjungi Bloomington hanya karena membaca kumpulan cerpen Budi Darma, Orang-orang Bloomington.

Barangkali dengan kesadaran semacam ini pula, misalnya, Orham Pamuk terus-menerus menceritakan kota tempatnya tinggal hampir di sepanjang hidupnya (konon di lingkungan yang juga sama), Istanbul. Di mulai dari Istanbul lama, di masa kesultanan, melalui The White Castle dan My Name is Red, Istanbul yang mengalami beragam pergolakan di masa modern melalui A Strangeness in My Mind dan The Museum of Innocence, hingga akhirnya ia menerbitkan memoar tentang kota itu sebagaimana ia mengingatnya, melalui Istanbul. Membaca karya-karyanya, hampir mustahil kita tak tersedot dan mulai akrab dengan kota itu, bahkan tanpa mengunjunginya.

***

Tak hanya kepada kota-kota, para penulis dan karya sastra menciptakan aneka bayangan di kepala kita. Mereka bisa membawa kita ke mana saja, tentu saja, melintasi tak hanya batas-batas wilayah, tapi juga waktu, bahkan menembus batas-batas dunia nyata dan imajiner.

Ketika saya membaca untuk pertama kali The Tin Drum karya Günter Grass, saya tak hanya membayangkan seperti apa Jerman di masa sebelum Perang Dunia II hingga masa setelahnya, tapi juga mengikuti perjalanan Oskar, sang narator, untuk melihat “kehidupan Jerman”. Kita mungkin tak akan bisa memahami sepenuhnya gejolak sosial atau politik sebuah negara hanya melalui sebuah novel, tapi bagaimanapun, sebuah novel mungkin saja membentuk bayangan kita tentang itu, sekecil apa pun.

Hal yang sama saya kira bisa terjadi dengan Midnight’s Children karya Salman Rushdie. Tentu saja konyol jika Anda berharap mengerti sejarah India, kebudayaan mereka, gejolak kehidupan sosial dan politik pasca kemerdekaan mereka, hanya dengan membaca novel itu. Anda bahkan bisa membaca novel tersebut tanpa maksud-maksud demikian. Tapi sekali Anda membacanya, selalu ada kemungkinan apa yang dikatakan oleh Salman Rushdie menelusup ke dalam pikiran Anda, dan Anda tanpa sadar mulai membayangkan India dan orang-orang India dengan kehidupan sosial dan politiknya.

Bahkan meskipun diceritakan di kota imajiner, One Hundred Years of Solitude dan karya-karya Gabriel García Márquez yang lain, bisa memberi kita bayangan pembanding tentang Kolombia, selain soal perang antar gang kartel narkotika yang mungkin kita akrabi melalui berita, seri TV, maupun permainan komputer. Melalui karya-karya William Faulkner, kita membangun imajinasi tentang selatan di Amerika, meskipun bayangan itu mungkin juga berbaur dengan apa-apa yang ditulis oleh Eudora Welty.

Selama beberapa lama, misalnya, bayangan saya tentang Jepang dan orang-orangnya hanya dibangun oleh bacaan saya atas Yasunari Kawabata. Saya membayangkan kehidupan yang lamban, perempuan-perempuan yang cantik, ritual-ritual kecil yang jelimet. Bayangan itu rusak setelah membaca Haruki Murakami, meskipun tidak lenyap begitu saja. Mereka membaur, bersitegang dan menciptakan bayangan baru saya tentang Jepang dan orang-orangnya dalam sejenis ekuilibrium. Dan bayangan saya terus diperbaharui setelah membaca Ryūnosuke Akutagawa, Kobo Abe, Yukio Mishima, bahkan setelah melihat anime, film-film Akira Kurosawa dan tentu saja membaca manga.

Sial bagi Rusia. Bayangan saya tentang negeri itu berhenti di apa-apa yang saya baca dari Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky, Anton Chekhov, atau kalaupun lebih muda dari mereka, juga berhenti di Maxim Gorki, Nikolai Leskov, atau Isaac Babel. Saya nyaris tak membaca karya-karya kontemporer mereka lagi, sehingga bayangan saya tentang Rusia mungkin hanya dibangun oleh berita-berita tentang Vladimir Putin, sang presiden.

Dan apa yang bisa dibayangkan orang di negeri asing yang jauh, katakanlah di Eropa Timur, di pedalaman Afrika, atau di ujung selatan Amerika Latin, tentang Indonesia? Mungkin mereka belum pernah membaca karya sastra Indonesia, dan tak satu pun penulis kita mereka kenal. Tidak juga film, musik, komik kita mereka kenal. Apa yang bisa mereka bayangkan? Mungkin sekilas mereka membaca tentang bom bunuh diri beberapa tahun lalu di satu berita kecil. Mungkin mereka melihat foto tentang dua anak muda yang dicambuk di muka umum di Aceh. Atau gembong narkoba yang dihukum mati di Nusa Kambangan. Maka mereka akan membayangkan seperti itulah Indonesia.

***

Sekarang, izinkan saya bicara tentang sesuatu yang lebih praktis dan mungkin politis. Kita tentu akrab dengan pertanyaan, “Apakah karya sastra bisa mengubah dunia?” Jika maksud pertanyaan itu adalah mengubah dunia secara langsung, saya sangsi. Jika ada karya sastra yang sanggup melakukannya, mungkin satu dari sejuta judul, atau lebih. Tapi saya percaya, karya sastra mampu mengubah cara pandang orang (pembacanya) tentang dunia, dan dari sanalah, perlahan-lahan, kita bisa mengharap orang tersebut (para pembaca) beraksi untuk mengubah dunia. Saya tak ingin melebih-lebihkan peran kesusastraan. Karya-karya seni dan intelektual lain, juga bekerja dengan cara yang kurang-lebih sama: film, musik, komik, seni pertunjukan, lukisan, dan lain sebagainya.

Saya rasa kita semua sadar, kita bukan negeri populer di dunia. Dalam berbagai gurauan, Bali lebih banyak dikenal daripada Indonesia, dan mereka tak tahu bahwa pulau itu ada di sini (dan gurauan ini sungguh nyata). Bahkan kunjungan wisatawan asing kita kalah telak oleh negara-negara tetangga, yang jauh lebih kecil, seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand. Tentu saja saya tak sedang membayangkan karya sastra Indonesia sebagai mesin yang mendatangkan banyak wisatawan. Ini sesederhana untuk menunjukkan betapa Indonesia dalam titik tertentu menjadi semacam “halaman kosong” di peta pikiran banyak orang.

Memang banyak cara untuk memperkenalkan sebuah bangsa, sebuah negara. Saya pernah melihat foto iklan kunjungan wisata ke Indonesia di bus-bus yang berkeliaran di London, misalnya, dan saya yakin itu merupakan salah satu upaya pemerintah memperkenalkan Indonesia ke penduduk London. Iklan sejenis bisa juga ditampilkan di jaringan televisi di negara-negara yang dituju, atau di laman-laman internet, selama pemerintah memiliki uang banyak untuk membayarnya.

Tak hanya iklan-iklan jualan, berbagai misi kebudayaan juga dilakukan, yang pada dasarnya dalam operasional pemerintah tak jauh berbeda dengan iklan juga. Dalam kesusastraan dan perbukuan, kita tentu ingat bagaimana pemerintah mengirim berbagai delegasi penulis dan buku ke berbagai pameran buku internasional, di Frankfurt, London, Bologna, Seoul, dan Shanghai. Tak hanya sampai di situ, pemerintah juga ikut mendanai penerjemahan berbagai buku, agar lebih mudah terakses oleh orang-orang asing.

Sebagaimana iklan, upaya-upaya ini mungkin akan berhasil jika kita terus-menerus melakukan gempuran. Sialnya, kita bukan satu-satunya negara yang melakukan upaya tersebut. Negara dan bangsa lain juga melakukannya, bahkan jauh sebelum kita, dan saya yakin dengan metode dan upaya yang jauh lebih kaya dan beragam.

Lagipula karya sastra sebaiknya memang tak diletakkan seperti sebuah iklan (meskipun bisa diperlakukan begitu), sebagaimana sebaiknya tak diperlakukan sebagai kartu pos (meskipun bisa pula berperan demikian). Hal terbaik dari sebuah karya sastra adalah, pembaca bisa datang kepadanya, menjamahnya, masuk ke dalamnya secara sukarela, dan menyerahkan dirinya ke apa pun yang ditulis si penulis. Ia seharusnya tidak memaksa seperti iklan, sehingga apa pun yang ada di sana bisa diterima secara sukarela. Ia seharusnya tidak cuma menjadi memento atau suvenir, seperti kartu pos, tapi merangsang si pembaca untuk masuk dan keluar dengan sesuatu yang baru dari sana.

Upaya memperkenalkan kesusastraan Indonesia, untuk ikut membangun bayangan orang tentang Indonesia (bersama dengan upaya-upaya lain), memang patut dilakukan. Tapi menciptakan situasi di mana orang secara sukarela membaca karya sastra Indonesia, dan membiarkan berbagai gagasan tentang Indonesia dalam pikiran mereka, saya kira jauh lebih penting lagi.

***

Problemnya, dunia jelas bukan sesuatu yang homogen, dan industri buku dunia yang beraneka ragam ini juga kerap kali berjalan dengan logika bisnis mereka sendiri. Apa yang kita bayangkan sebagai “sastra dunia”, misalnya sebagai sekumpulan karya-karya sastra terpilih secara kualitas dari berbagai negeri, lebih sering merupakan ilusi daripada kenyataan. Lebih sering mereka tak terlalu peduli, misalnya lagi, dengan karya sastra terbaik tahun ini dari negeri anu, sebagaimana kita juga tak terlalu peduli dan tak benar-benar ingin membaca karya sastra terbaik tahun ini dari Mesir, dari Lithuania, dari Filipina, atau negeri-negeri lain yang kita tak begitu kenal. Lebih sering terjadi ukuran-ukuran kualitas setiap bangsa juga berbeda-beda, tapi yang terutama, tentu saja ukuran-ukuran tentang apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka ingin baca.

Di titik ini, ketika kita bicara tentang kesukarelaan orang membaca sebuah karya sastra, kita juga bicara tentang problematika dan harapan seorang pembaca, atau lebih luas sebuah komunitas pembaca (sebuah bangsa). Sebuah novel bisa saja dianggap hebat secara kualitas estetik di Indonesia, juga memiliki relevansi sosial-politik secara tema, tapi apakah kualitas estetik dan relevansi tema itu dibutuhkan oleh pembaca Amerika, pembaca Nigeria, pembaca Jepang, atau pembaca Prancis? Percayalah, lebih sering itu tak terjadi. Bahkan sesama negara yang kesusastraan dan ekonominya sudah berkembang pesat pun (dengan tradisi yang bersinggungan) seringkali tak terjadi. Bayangkan, sebagai contoh, ketika penulis Prancis seperti J. M. G. Le Clézio dan Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan, buku-bukunya masih jarang dan relatif tak dikenal di Amerika, sebab mungkin pembaca Amerika tak terlalu ingin membacanya.

Anomali-anomali kadang terjadi juga. Di masa-masa awal karirnya, William Faulkner bukanlah penulis yang dibaca di negerinya sendiri, Amerika. Jangankan di pembaca umum, bahkan di antara para kritikus pun bisa dibilang “diabaikan”. Diperkenalkan salah satunya oleh Sartre, ia menjadi populer di Prancis, sehingga orang Amerika pun mulai membacanya. Itu pun bahkan belum menyentuh para penjaga otoritas kualitas (jika istilah ini tepat) kesusastraan di sana. Setelah ia memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1949, barulah para kritikus dan juri “lokal” yang lama mengabaikannya memberi ia Pulitzer (1955, 1963), dan National Book Award (1951, 1955).

Hal-hal seperti itu bisa terjadi, untuk memperlihatkan apa yang disebut “sastra dunia” secara kualitas lebih sering ilusi, dan secara industri seringkali tak tertebak. Tapi pada saat yang sama, membaca karya-karya dari berbagai negeri yang terbit secara internasional (untuk sedikit menghindari diri dari menyebut mereka sebagai “sastra dunia”), bisa membawa kita ke berbagai keresahan dan harapan yang melanda dunia, melintasi batas-batas teritori wilayah, bahasa dan bahkan waktu.

Ketika saya membaca Everything I Don’t Remember karya penulis Swedia, Jonas Hassen Khemiri, saya menyadari keresahannya tentang isu-isu imigran, ras, dan politik identitas. Saya bisa mengerti bagaimana novel ini bisa diterima di beberapa negara lain, mengingat mereka juga menghadapi problem yang sama. Hal yang sama bisa dibaca untuk melihat kepopuleran kembali novel karya Margaret Atwood, The Handmaid’s Tale, dan ketakutan orang tentang kemungkinan kembalinya otoritarianisme, tak hanya di Amerika tapi juga di negara-negara lain.

Itu hanya sebagian contoh saja. Seringkali kebutuhannya tak melulu soal isu sosial-politik, tapi tentu juga estetik. Kemunculan penulis-penulis semacam Cesar Aira, Enrique Vila-Matas, juga Laszlo Krasznahorkai, saya kira juga menjawab kebutuhan pembaca akan terobosan-terobosan estetik yang baru.

Pertanyaannya, sejauh mana kita berada dalam arus kegelisahan dan harapan semacam ini? Sejauh mana kita menjadi bagian dari dunia dalam hal berbagi persoalan? Apakah keresahan-keresahan ini, secara sosial-politik maupun estetik, sudah tercermin dalam karya-karya kita, di kesusastraan Indonesia? Atau, jangankan kita tahu apakah kita berada dalam denyut yang sama dengan problem dunia, jangan-jangan kita bahkan tak tahu apa yang menjadi problem kita sendiri di Indonesia? Kita tak tahu apa masalah kita dalam berbangsa, dalam berkomunitas sebagai Indonesia? Kita juga mungkin tak tahu problem-problem estetik kesusastraan Indonesia sendiri?

Atau jika kita sudah (merasa tahu), apakah hal itu sudah tampak dalam karya-karya yang kita hasilkan? Seberapa banyak, secara kualitas maupun kuantitas? Atau malah kita justru menjadi bagian dari problem ini, dengan cara yang tanpa sadar telah kita pilih, dengan bersikap tak peduli?

***

Melalui kesusastraan, sudah jelas kita menciptakan bayangan tentang dunia, sebagaimana jika itu kesusastraan Indonesia, ia juga menciptakan bayangan tentang Indonesia. Ia bisa menciptakan bayangan kita tentang sebuah kota, sebagaimana telah saya tunjukan di muka. Juga tentang perjalanan sebuah bangsa. Jauh lebih penting, saya kira, kesusastraan bisa menciptakan bayangan tentang seperti apa dunia dan Indonesia yang kita inginkan, hari ini maupun yang akan datang.

Novel seperti 1984 dan Animal Farm jelas lahir dari sutuasi kecemasan dan pada saat yang sama menguarkan impian tentang dunia. Ketakutan akan nafsu kekuasaan yang mendekam di balik aksi revolusi menghasilkan Animal Farm dan kecemasan akan masa depan di mana kehidupan manusia dikontrol oleh rezim totaliter, menghasilkan 1984. Meskipun novel ini bersifat fabel dan yang lainnya ditulis dengan gaya distopian, pada saat yang sama bukankah itu juga menyiratkan tentang dunia yang diharapkan? Dunia di mana kekuasaan memiliki batas-batas, demikian juga hubungan negara dan warga merupakan hubungan yang saling menghormati, di mana kebebasan dan hak pribadi dijamin.

Di sisi lain, Ulysses James Joyce bisa jadi menghentak mengenai kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dicapai oleh novel, dan bahasa yang dipergunakannya, bahkan sampai hari ini. Juga Pedro Paramo dari Juan Rulfo, tak semata-mata bersama novel-novel lain membuka kegelapan kawasan Amerika Latin, tapi juga membuka jalan bagi sebuah kecenderungan kesusastraan, yang antara lain menghasilkan booming kesusastraan Amerika Latin yang pengaruhnya menyebar ke mana-mana. Upaya-upaya menerobos problem-problem estetik kesusastraan, jelas sama pentingnya dengan problem-problem praktis yang dihadapi dunia.

Di kehidupan nyata, jelas Indonesia merupakan bagian dari dunia, dan dengan itu juga jelas menyumbang atau mewarisi problem-problem dunia. Itu sebenarnya sesuatu yang tak terelakkan. Kolonialisme yang diderita Indonesia, juga merupakan problem negara-negara lain di dunia, baik dari sisi yang mengkoloni maupun yang dikoloni. Dan problem itu jelas tak terisolir satu sama lain. Demikian pula problem-problem turunannya. Problem pascakolonial, revolusi kemerdekaan, kediktatoran militer, bahkan perang dingin, langsung atau tidak langsung dialami sebagian besar negara-negara di dunia.

Apakah problem-problem sosial politik itu juga berhubungan erat dengan problem-problem estetik kesusastraan? Saya bisa memastikan, iya, atau setidaknya, seharusnya begitu. Dalam kesusastraan kita sendiri, saya percaya kelahiran puisi-puisi Chairil Anwar, kebutuhannya akan sebuah bahasa dan ekspresi yang baru, beriringan dengan kebutuhan akan situasi sosial dan politik Indonesia yang juga baru. Dan bukankah Indonesia yang baru ini, adalah buah impian dari penyair semacam dia, tentu berkelindan dengan bayangan-bayangan yang juga muncul dalam karya-karya intelektual para pendiri bangsa ini.

***

Saya ingin melipir sejenak, untuk memperlihatkan bagaiman situasi sosial-politik, atau keputusan-keputusan sosial-politik, juga sanggup (secara terencana maupun tidak) menciptakan ruang estetik yang berbeda, bahkan dalam kesusastraan Indonesia. Kita akan kembali ke masa Soeharto. Bagaimana ia dan tangan-tangan kekusaannya, menciptakan situasi yang relatif kondusif untuk membuatnya berkuasa begitu dalam dan lama? Tentu saja salah satunya melalui strategi kebudayaan, termasuk strategi di bidang kesusastraan.

Kita tahu Soeharto telah membabat sebagian besar musuh-musuh politiknya, tertutama kaum kiri. Jika tidak dibunuh, mereka dikirim ke penjara dan pulau pembuangan, termasuk novelis Pramoedya Ananta Toer. Karya-karya mereka dengan cepat menghilang, diberangus. Ini situasi yang bahkan secara estetik, lawan-lawan politik rezim Soeharto tak memiliki tempat dan secara perlahan mulai menghilang. Dan ini belum cukup.

Saya kira bukanlah sebuah kebetulan jika sejak tahun 70an, masa di mana kekuasaan Soeharto memperoleh momentumnya untuk bertahan semakin lama, kesusastraan Indonesia juga diperkaya dengan lahirnya beragam genre. Saya menyebut kata “diperkaya” untuk melihat satu sisi secara positif, dan harus mengakui bahwa saya menikmati sebagian besar produk-produk kesusastraan ini, terutama karena saya hidup dan tumbuh bersama mereka. Tapi harus juga dilihat bahwa perkembangan yang luar biasa dalam kelahiran genre cerita silat, cerita horor, romansa, bahkan adaptasi pulp fiction, merupakan wajah brutal dari keberhasilan politik Soeharto: membuat kita jauh dari problem-problem sosial maupun politik. Satu generasi yang berjarak dengan problem sosial-politik, tentu saja menyumbang kekuasaan untuk langgeng lebih lama.

Jika kita membaca buku investigasi semacam Who Paid the Piper (karya Frances Stonor Saunders), kita tahu strategi kebudayaan semacam ini tak hanya terjadi di Indonesia. Itu merebak di mana-mana, di Amerila Latin, Asia, Eropa, bahkan Amerika Serikat, di bawah bayang-bayang perang dingin. Strategi kebudayaan Indonesia di masa itu, juga merupakan strategi kebudayaan dunia. Sekali lagi, dalam kehidupan nyata, Indonesia merupakan bagian dari dunia dan menyumbang atau mewarisi masalah maupun harapannya.

Sekarang mari kita bertanya, apa problem-problem Indonesia hari ini? Apakah problem-problem ini menyatu dalam denyut masalah negara-negara lain di dunia? Apakah problem-problem ini juga telah memicu kegelisahan kita terhadap masalah-masalah estetik dalam kesusastraan? Dalam penafsiran kita atas novel, puisi, atau bentuk kesusastraan yang lain. Atau lebih sederhana lagi, apakah problem sosial-politik maupun estetik ini, sudah mewujud dalam sebagian besar karya sastra kita hari ini?

Saya ingin menggarisbawahi beberapa isu penting yang setidaknya menggelisahkan saya akhir-akhir ini, dan mungkin menggelisahkan Anda semua. Kebangkitan politik identitas (salah satunya identitas agama), yang membuat perpisahan yang semakin nyata antara “kita” dan “mereka” tak hanya terjadi di Indonesia, tapi di mana-mana. Demikian juga problem-problem ketercerabutan manusia dari lingkungannya: pengungsi, imigran, maupun pengucilan karena perbedaan. Kita juga masih mewarisi isu-isu lama yang tak kunjung selesai: kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, maupun bagaimana kapitalisme global tak hanya merusak lingkungan secara nyata, tapi juga merusak tatanan sosial komunitas-komunitas yang semakin rapuh.

Pertanyaannya kembali, apakah isu-isu ini, yang tak hanya merupakan isu di dunia tapi juga problem kita sehari-hari, telah memperoleh tempat dalam kesusastraan kita? Apakah problem-problem ini telah memicu strategi-strategi baru dalam pendekatan estetik kesusastraan Indonesia?

Sejujurnya, dibandingkan kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah nama bisa dibilang tidak populer di dunia, dan kesusastraan Indonesia masih terengah-engah untuk memperoleh tempat dalam konstelasi kesusastraan dunia (apa pun definisinya), saya lebih mencemaskan sikap tidak peduli kita terhadap problem-problem dunia yang juga merupakan problem kita juga. Ketidakpedulian yang juga berimbas kepada tumpulnya daya kerja kreatif untuk menemukan strategi-strategi estetik dalam kesusastraan.

Jika kita berharap kesusastraan (setidaknya novel atau puisi) kita dibaca orang, menjadi warga kesusastraan dunia, diterjemahkan dan terbit di mana-mana, barangkali sebaiknya kita menengok sejenak atas karya-karya itu. Apa yang sudah kita tulis di sana? Apa yang membuat kita gelisah dan menuliskannya di sana? Apakah itu sesuatu yang akan membuat seseorang, entah jauh di mana, secara sukarela masuk ke sana, karena ia melihat kegelisahan sosial-politik atau estetik yang sama. Dan ketika ia membacanya, ia tak hanya melihat Indonesia, wajah orang-orang Indonesia, tapi siapa tahu juga ia menemukan dirinya di sana. Sebagaimana mungkin kita menemukan situasi absurd diri kita di novel-novel Franz Kafka, atau situasi-situasi tragis-menggelikan diri kita sebagaimana kita melihatnya di tokoh-tokoh cerpen Etgar Keret.

Jika hari ini kita memaki-maki atas situasi sosial-politik, di obrolan warung kopi maupun di lini masa sosial media, tapi pada saat yang sama kita menjauhi problem ini dalam kesusastraan, saya kuatir justru kita merupakan bagian dari problem. Itu menunjukkan kesusastraan kita tak memimpikan apa-apa, tak mencemaskan apa-apa, dan dengan satu dan cara lain, tidak sedang membayangkan dunia maupun Indonesia.

Jika kesusastraan kita tersing dari dunia, ini adalah penutup saya dan saya berharap kita memikirkannya dengan sangat serius, bisa jadi itu karena kita mengasingkan diri dari problem kita sendiri, secara sosial-politik maupun estetik. Kesusastraan Indonesia tidak menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, karena jangan-jangan kita tidak berbagi problem yang sama. Jika kesusastraan kita terasing dari masyarakatnya sendiri, bagaimana kita bisa berharap dunia menerima kesusastraan Indonesia?

Disampaikan pada Kuliah Umum di Kafe Basabasi, Yogyakarta, 3 Maret 2018. Juga diterbitkan di basabasi.co.
Standard
Journal

Playing in the Dark, Toni Morrison

Bagaimana keberadaan dan persona yang-bukan-putih dan Afrikanisme dikonstruksi — diciptakan — dalam kehidupan dan kesusastraan Amerika? Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasikan karya-karya yang rasis atau tidak rasis, apalagi menyudutkan penulisnya (seorang penulis secara pribadi tak berhubungan dengan tindakan karakter fiktifnya, meskipun ia bertanggung jawab atas mereka — begitu katanya) yang merupakan wilayah kritik lain, dengan jernih Toni Morrison melakukan pelacakan dalam monograf pendek ini. Selalu menarik menemukan seorang penulis fiksi juga menulis telaah tentang kesusastraan, terutama pada tema-tema yang merupakan pusat perhatiannya, seperti kebudayaan dan orang-orang kulit hitam Amerika bagi penulis ini. Tak hanya dalam esai-esai pendek, tapi terutama dalam satu buku utuh. Jelas Toni Morrison, sebagai perempuan kulit hitam, tampak sebagai antitesis bagi sejarah kesusastraan Amerika (yang begitu jelas sebagai sejarah kesusastraan lelaki-putih), dan dengan sadar ia menempatkan dirinya di sana, dengan kesadaran akan bias tersebut, dengan kemungkinan meromantisir yang-hitam daripada mengutuknya; atau mengaburkan yang-putih daripada membuatnya jelas. Playing in the Dark — Whiteness and the Literary Imagination awalnya merupakan bahan ceramah kuliahnya tentang sejarah peradaban Amerika yang kemudian disunting kembali menjadi monograf. Ia membukanya dengan sejenis sindiran betapa sejarah kesusastraan Amerika tak hanya mengabaikan narasi-narasi orang kulit hitam, tapi bahkan juga mengabaikan karya-karya orang kulit putih yang membicarakan orang atau kebudayaan orang kulit hitam. Sebagai contoh, karya-karya terakhir Faulkner yang banyak bicara tentang ras dan kelas, dianggap kritikus sebagai karya-karya minor. Saya rasa tinjauannya bisa dipergunakan untuk membaca kasus-kasus lain yang melibatkan kelompok-kelompok yang-tak-terepresentasikan di wilayah-wilayah geografi atau kebudayaan lainnya, dan bagi saya, itu sangat jelas terbayang bahkan ketika sambil membacanya. Toni Morrison menunjukkan, misalnya, lebih daripada pengabaian di dalam kesusastraan, bahkan ketika sebuah karya bicara tentang orang kulit hitam, kemungkinan besar karya itu ditujukan bukan buat mereka. Uncle Tom’s Cabin tidak ditujukan untuk pembaca seperti “Uncle Tom”, misalnya. (Apakah kesusastraan yang mencoba membela “yang tak bersuara” ditujukan untuk dibaca oleh orang-orang “yang tak bersuara” ini?, misal lain). Seperti umumnya buku yang baik dan telaah yang jernih, tanpa harus memaksanya, buku ini membawa saya ke mana-mana. Membuat saya bertanya-tanya bagaimana rasialisme bisa muncul — tak hanya sebagai sterotif tentang ras. Ia menunjukkan bahwa kadang perkara rasial ini dipergunakan penulis sebagai “strategi lingusitik” (yang buat saya, boleh jadi merupakan wujud kemalasan). Misal, dengan mengatakan seseorang sebagai “negro”, tak hanya itu merujuk kepada warna kulit, tapi juga stereotif kelas ekonomi. (Saya jadi ingat kampanye rasial selama pemilu gubernur Jakarta tahun lalu, di mana “Cina” juga berarti stereotif yang meliputi: kaya, asing, kafir, dan menjadikan label itu tak hanya sebagai warna kulit atau kesukuan belaka, tapi merupakan label umum yang menghilangkan persona individu). Tak cuma itu, ia juga menunjukkan (dengan cukup provokatif), “yang-hitam” tak hanya wujud kecurigaan tentang “yang liyan”, tapi juga merupakan strategi linguistik yang lain untuk mengekspresikan fetish, hasrat seksual maupun ketakutan erotis. Itu hanya sebagian dari hipotesis di buku ini. Pertanyaan yang sangat menggelitik, yang tentu saja saya sadar memiliki konteks yang berbeda dengan apa yang terjadi di kesusastraan Amerika dan hubungannya dengan narasi kulit-hitam, apakah argumen-argumen ini bisa diterapkan (atau diperbandingkan) dalam situasi yang lain? Tak hanya mengenai rasialisme di Indonesia, misalnya, tapi juga dalam problem-problem ketidakterwakilan gender, kelas, maupun keyakinan dalam kesusastraan kita.

Standard
Journal

The Saint-Fiacre Affair, Georges Simenon

Di lobi hotel itu ada perpustakaan kecil. Tak tertahankan, saya mendatanginya meskipun di sudut-sudut lain ada tawaran lain: komputer dengan internet gratis, permainan sepakbola meja, bahkan camilan. Tak banyak bukunya memang, mungkin sekitar seratus jilid. Sebagian besar berbahasa setempat. Jika ada yang berbahasa Inggris, biasanya novel klasik yang sangat tebal, tak mungkin dibaca sambil bersantai di lobi. Bahkan dibawa masuk ke kamar pun, mungkin membutuhkan waktu berhari-hari tanpa melakukan apa pun. The Saint-Fiacre Affair karya Georges Simenon tergeletak di sana, seperti bekas dibaca seseorang. Saya belum pernah membaca Simenon dan tokoh inspektur polisi rekaannya, Inspektur Maigret. Tapi saya tahu ia menulis novel-novel fiksi kriminal, dan ia penulis berbahasa Perancis asal Belgia. Seperti pelancong yang memutuskan untuk mengarungi setapak atau gang di tengah kota yang tak dikenalinya, saya mengambil buku itu, membawanya ke kamar dan mulai membacanya. Adakah cerita kriminal di mana inspektur polisinya nyaris enggak ngerjain apa-apa dan pelaku kejahatan akhirnya ketahuan dengan sendirinya? Setidaknya, novel ini salah satunya. Tapi itu bukan masalah. Setidaknya buat saya, fiksi kriminal yang ideal bukanlah terletak di jagonya sang detektif memecahkan kasus kriminal melalui tanda-tanda (dan betapa jagonya penulis mengecoh pembaca melalui tanda-tanda yang sama), melainkan terletak pada watak-watak di dalamnya. Watak-watak kriminal di mana setiap tersangka memiliki jejak kemungkinan untuk menjadi pelaku kejahatan, tak hanya karena motif, tempat dan waktu memungkinkan. Telaah mengenai watak manusia yang tampak dan tak tampak (atau hanya tampak dalam situasi tertentu, seperti menghadapi peristiwa kejahatan), bagi saya merupakan hal paling mengasyikan dari fiksi kriminal. Lagipula adegan “pembunuhannya” juga tidak normal: seorang perempuan setengah baya, mati mendadak di kursi gereja. Kata dokter, kena serangan jantung. Tak ada luka, tak ada bekas kekerasan. Satu-satunya petunjuk untuk Inspektur Maigret bahwa itu pembunuhan, hanyalah karena ia menerima surat yang meramalkan kematian perempuan itu beberapa hari sebelumnya, dan bahwa ia menemukan potongan berita palsu di buku doa perempuan itu, yang kemungkinan besar terbaca dan membuatnya kena serangan jantung. Pelaku yang edan sekaligus jenius, bukan? Bagian itu saja pasti bisa bikin pengadilannya menjadi ruwet, jika cerita berlanjut hingga pengadilan. Satu hal yang menarik dari Maigret, ia tak hanya ada di sana sebagai detektif yang dingin memecahkan masalah, tapi juga bagian dari persoalan cerita. Perjalanannya ke Saint-Fiacre tak hanya untuk mengungkapkan kasus kematian yang telah diramalkan, tapi juga perjalanan emosional dirinya: Saint-Fiacre merupakan masa lalunya. Saya tak tahu apakah hal yang sama bisa saya temukan di judul-judul lainnya (Simenon menulis 75 novel Maigret), saya akan coba membaca yang lain jika ada kesempatan. Yang jelas novel ini melebihi harapan saya mengenai fiksi kriminal, seperti hal-hal mengejutkan bisa saya temukan di gang asing yang dengan nekat saya masuki. Bahasanya yang ekspresif, bahkan awalnya agak aneh, seperti grafiti di dinding rumah yang awalnya terasa meneror tapi kemudian menjadi hiburan yang akrab. Misal penggunaan kalimat pasif yang saya jarang temukan di dalam bahasa Inggris: dari dalam kamar bahasa Inggris terdengar diucapkan (alih-alih dari dalam kamar terdengar mereka bicara dalam bahasa Inggris). Mungkin perkara terjemahan, mungkin memang gayanya seperti itu, tapi setelah terbiasa, saya menemukan keasyikan sendiri. Dan kembali soal bagaimana kasus ini terbuka dengan sendirinya: si inspektur polisi bukanlah dewa yang menentukan mana dan bagaimana kebenaran. Intinya novel ini merupakan drama pembunuhan, dan inspektur polisi hanyalah satu dari sekian bidak di dalam drama tersebut. Bidak dengan persoalannya sendiri, sebagaimana para tersangka pembunuhan: anak si perempuan, seorang pemuda yang merupakan sekretaris sekaligus simpanannya, pastor, manajer keuangannya, serta anak si manajer keuangan. Kadang-kadang mengasyikkan menyesatkan diri ke bacaan-bacaan yang terasa asing, baru, dan mungkin di luar radar pengetahuan kita. Lagipula, kalau William Faulkner dan André Gide saja membaca Simenon, masa saya tidak tertarik?

Standard
Journal

Kisah Fantasi + Spekulasi Filsafat = Jorge Luis Borges

Jika boleh menyederhanakan, formula cerpen-cerpen Borges menurut saya bisa dikatakan adonan antara kisah fantasi dan spekulasi filsafat. Kalau penasaran, sila baca artikel saya “Kosmologi Borges”, tapi di sini saya terutama ingin menunjukkan bahwa kreatifitas pada dasarnya merupakan upaya membuat adonan baru dari sesuatu yang ada sebelumnya. Para ahli toh sudah banyak yang bilang bahwa tiga tahap kreatifitas itu sederhana. Pertama, kita meniru. Makanya, jangan buru-buru main hakim jika melihat seseorang meniru kreatifitas orang lain, atau memergoki anak kita mencontek. Meniru merupakan tahap awal kreatifitas. Yang harus ditanamkan adalah jangan membiasakan diri mengaku karya orang lain, apalagi memperoleh keuntungan dari pekerjaan orang lain, sebab itu sudah kriminal. Meniru bukanlah mencuri, atau mengaku, tapi sebuah usaha menempatkan diri di tempat orang lain dan mencoba melakukan hal yang sama yang telah dilakukan orang lain. Jika saya meniru lukisan Van Gogh, saya mencoba menempatkan diri di tempat Van Gogh dan mencoba melukis bunga matahari persis seperti yang dilakukannya. Biasanya tidak sama bagus, tapi setidaknya kita belajar sebuah proses kreatifitas langsung ke seorang master (meskipun secara imajiner). Ketika Borges menulis “The Story of the Two Dreamers”, saya rasa dia mencoba meletakkan dirinya di tempat Sir Richard Burton ketika menerjemahkan “The Ruined Man Who Became Rich Again Through A Dream”. Perbedaannya, Burton menerjemahkan karya itu dari Arab ke Inggris, sementara Borges membayangkan dirinya menerjemahkan ke Spanyol. Dan pada dasarnya, proses penerjemahan kurang-lebih sama seperti proses meniru, makanya banyak penulis mengawali karirnya belajar menulis melalui penerjemahan. Tahap kedua, setelah meniru, adalah memodifikasi atau mengubah karya orang lain. Di tahap ini seseorang tak lagi meniru, tapi mulai menambah atau mengurangi sesuatu secara sadar. Menyadur sebuah karya bisa dianggap merupakan proses modifikasi. Demikian pula parodi, saya kira. Sebagian besar karya awal Borges di A Universal History of Infamy, saya rasa merupakan proses modifikasi dari karya-karya atau sumber-sumber lain. Banyak penulis lain melakukan hal yang kurang sama: mengambil ide pokoknya, lalu mengembangkannya sendiri ke arah lain. Kita tahu Borges menulis buku The Book of Imaginary Beings, sejenis eksiklopedia mengenai makhluk-makhluk imajiner. Italo Calvino mencomot gagasan ini dan mengembangkannya menjadi Invisible Cities, yang kurang-lebih sama: tentang kota-kota imajiner. Roberto Bolaño saya kira juga berangkat dari gagasan yang sama dan memodifikasinya ketika ia menulis Nazi Literature in the Americas, tentang penulis-penulis dan kesusastraan sayap-kanan imajiner di dataran Amerika. Bahkan di tahap modifikasi ini pun, kreatifitas kadang menciptakan hal-hal hebat. Setelah meniru, memodifikasi, tahap terakhir kreatifitas adalah mencampur apa-apa yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang lain. Seperti buah jambu, nanas, bengkuang, dicampur gula merah, garam, cabai, asam jawa, dan jadilah “rujak”. Kita tahu di dalam rujak ada berbagai bahan, tapi kita tak lagi menyebutnya berdasarkan bahan-bahan itu. Dalam Borges, saya melihat kreatifitasnya merupakan adonan kisah-kisah fantasi ditambah spekulasi-spekulasi filsafat, yang kemudian menghasilkan cerpen-cerpen semacam “The Disk”, “The Book of Sand”, “Borges and I”, atau yang sangat terkenal, “Tlön, Uqbar, Orbis Tertius”. Dalam karya-karya Cormac McCarthy, kita menemukan adonan gaya Faulkner yang dicampur dengan kisah koboi atau “Spaghetti Western” (terutama dalam trilogi perbatasannya, serta di The Road dan No Country for Old Men). Dalam karya-karya Patrick Modiano, kita bertemu ramuan kisah detektif yang bertemu dengan tradisi Proust, serta novel-novel sosial-politik. Di Animal Farm, Orwell sudah jelas memadukan satir politik, sastra bertendens, dan fabel. Penulis Indonesia seperti Intan Paramaditha, meramu fairy tales dan dongeng gothic dengan isu-isu feminis dan politik, menghasilkan cerpen-cerpen yang orisinal. Dan puisi-puisi Joko Pinurbo, jika bisa disederhanakan, merupakan pertemuan antara kisah-kisah Alkitab dan lelucon-lelucon sufi, sertra tradisi puisi lirik. Tak ada yang baru di bawah langit, demikian kata pepatah. Tugas kita, manusia secara umum atau penulis secara khusus, hanyalah membuat rujak. Syukur jika enak dimakan. Syukur jika ada lidah yang terus mengenang rasa rujak itu dan mengingat rasa tersebut sambil mengingat siapa yang membuat adonannya.

Standard
Journal

Menulis Aku

Semalam di forum kecil yang menghadirkan tiga orang penulis pemenang sebuah sayembara menulis novel, tiga orang juri yang memilih karya-karya mereka sebagai pemenang, dan beberapa teman bengis yang dengan cuek menimpali pembicaraan meskipun belum membaca karya-karya tersebut, kami ngobrol selama berjam-jam (ditemani soto dan kopi). Khusus saya, bahkan obrolan itu dilanjutkan di mobil selama hampir dua jam (karena kemacetan malam Sabtu di Jakarta yang sangat epik) bersama si pemenang pertama. Entah kenapa, satu hal yang menarik perhatian saya (mungkin juga kami), adalah tentang bagaimana menuliskan “aku”. Ya, yang saya maksud adalah menulis dengan sudut pandang orang pertama. Kita tahu tantangannya: dunia menjadi sempit, karena pengetahuan dan tangkapan inderawi si aku pasti terbatas. Juga tantangan yang lain: si aku bisa bicara apa saja yang dipikirkan, dan bagaimana kita harus mengendalikannya agar ia selaras dengan wataknya. Tantangan terbesar, dan saya rasa banyak novelis sangat tergoda melakukannya, adalah mengadirkan beberapa “aku” di dalam satu novel. Artinya, novel yang dibangun dengan beragam sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda, di mana mereka bicara masing-masing dengan sudut pandang pertama. Saya tak tahu siapa yang memulai cara seperti ini, tapi saya pertama kali membaca novel dengan pendekatan ini melalui karya William Faulkner, As I Lay Dying. Terakhir membaca novel semacam ini beberapa bulan lalu, Talking to Ourselves karya Andrés Neuman. Saya tak pernah menulis dengan cara seperti itu, dan rasanya tak berniat melakukannya di masa depan, tapi bukan berarti saya tak berniat untuk mengetahui triknya. Setidaknya, itu pasti berguna untuk dipergunakan di teknik yang lain. Menurut saya, tantangan terbesar dari menghadirkan beragam narator di satu karya tentu saja adalah bagaimana membedakan satu suara dengan suara lain. Realisme yang ekstrem akan mencoba menciptakan bangunan bahasa yang unik untuk masing-masing karakter, dengan asumsi, setiap watak tentu memiliki cara ungkap bahasa tersendiri. Hasrat untuk menjadikan setiap suara unik (penggunaan tatabahasa, diksi, bahkan dialek), sekaligus mempertahankan agar itu tetap konsisten sepanjang novel bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penulis pemula berambisi mencapai realisme yang ekstrem ini dan banyak yang gagal (saya bercanda, mungkin novel tersebut perlu disisipi berkas audio untuk mendengar dialek si tokoh). As I Lay Dying saya rasa ditulis dengan pendekatan ini, meskipun saya rasa tidaklah ekstrem. Faulkner membedakan gaya atau pilihan kata satu tokoh dengan tokoh lain. Pendekatan yang gampang-gampang susah, menurut saya tentu saja mengambil risiko nekat dengan menghadirkan “suara” tunggal, suara si super-narator (yakni narator yang menceritakan para narator, sebab tokoh-tokoh yang tengah menceritakan diri mereka sendiri ini juga bisa dianggap sebagai narator untuk bagian mereka). Di novel Orhan Pamuk yang terkenal, My Name is Red, saya rasa Pamuk memakai pendekatan ini. Tak banyak perbedaan gaya dari satu tokoh ke tokoh lain (termasuk sosok anjing dan mayat), tapi tentu saja tak sesederhana ini. Yang membuat satu tokoh dengan tokoh lain berbeda, adalah cara dan kerangka mereka berpikir, serta tentu saja pandang dunia mereka. Kita tahu yang bicara si mayat karena cara berpikir dan pandangan dunia-nya tipikal si mayat, misalnya, meskipun bagian dia ditulis dengan cara yang sama dengan bagian tokoh-tokoh lain. Gampang-gampang susah: terasa gampang jika kita pikirkan bahwa itu bisa ditulis dengan cara yang sama, tapi jelas susah karena kita justru harus masuk ke bagian yang dalam dari sekadar susunan kalimat, yakni kerangka berpikir, psikologi dan pandang dunia si tokoh. Di novel Talking to Ourselves, saya menemukan gagasan yang saya rasa segar untuk memakai teknik ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada usaha untuk membedakan gaya menulis dan kerangka berpikir tokoh-tokohnya, tentu saja, tapi bagian terbesar membedakan aku yang satu dan aku yang lain justru hadir melalui medium para aku ini bicara. Si ayah di cerita itu, bercerita ke alat perekam. Alat perekam ini menjadi sangat fungsional untuk memberi keunikan narasi si ayah, sekaligus penanda bagi pembaca. Si anak lebih bersifat monolog, seolah bicara dengan orang lain tapi pada dasarnya sendiri. Sementara si ibu menulis catatan harian. Yang pertama memiliki karakter lisan. Yang kedua, monolog-interior. Yang ketiga, bahasa tertulis. Tentu kita bisa menemukan strategi-strategi lain. Apa yang saya sebut bisa dibilang sebagai penyederhanaan juga. Itu teknik yang tidak gampang. Tapi siapa bilang menulis itu gampang?

Standard
Journal

Written Lives, Javier Marías

Pentingkah membaca riwayat hidup penulis? Orang bisa berdebat soal ini, tapi bagi saya, tulisan tentang apa pun asal ditulis dengan baik layak untuk dibaca. Jika kita bisa menikmati riwayat hidup seorang jenderal atau pemilik pabrik jamu, kenapa kita tak bisa menikmati riwayat hidup seorang penulis? Bahkan tanpa harus mengenal karya-karyanya sekali pun. Sayang sekali “biografi” sebagai sebuah genre sastra merupakan barang yang langka di Indonesia. Coba tengok, apakah sudah ada biografi otoritatif mengenai Pramoedya Ananta Toer? Saya yakin sampai lima tahun ke depan atau lebih, belum ada. Jangan sebut penulis-penulis lainnya. Oh, memang akhir-akhir ini ada banyak “biografi” di pasaran, tapi saya tak yakin saya minat membacanya. Kebanyakan dari pseudo-biografi ini isinya tak lebih dari omongan si tokohnya, sedikit mirip memoar tapi ditulis orang lain. Begini. Bagi saya, biografi yang baik pertama-tama harus menempatkan apa pun yang dikatakan si tokoh sebagai sumber sekunder, atau bahkan sumber kesekian. Sumber yang kebenarannya paling layak diragukan. Bukan lagi rahasia, tokoh apa pun cenderung bias bicara tentang dirinya. Yang kecil bisa dibesar-besarkan, yang memalukan bisa disembunyikan. Apa pun yang keluar dari si tokoh, hanya bisa dipegang jika bisa diverifikasi ke sumber lain. Ini yang jarang saya dapatkan di buku-buku pseudo-biografi. Saya memikirkan ini sambil membaca buku berjudul Written Lives karya Javier Marías. Buku yang menyenangkan, yang saya rasa memberi cakrawala tambahan mengenai genre biografi. Berisi riwayat hidup 20 penulis (plus dua tulisan tambahan mengenai beberapa penulis), yang disusun sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi cerita tersendiri, meskipun Marías meyakinkan kita bahwa tak ada apa pun di tulisannya yang dikarang-karang, dan semua yang ada di sana bisa dilacak sumbernya di tempat lain. Tentu saja ini bukan “biografi” yang ideal, dan sang penulis juga tidak bermaksud seperti itu, melainkan lebih menyerupai potret. Ya, potret: sekelumit bagian hidup seorang penulis, seringkali dalam bentuk close-up. Dengan mengacu sumber-sumber tertulis, ia “menciptakan” sosok-sosok para penulis ini dalam sudut pandang dia, dan hasilnya merupakan potret-potret penuh ironi dan kelucuan. Sebut misalnya potret mengenai Mishima dalam “Yukio Mishima in Death”. Ada bagian di mana pada tahun 1967 terdengar rumor bahwa seorang penulis Jepang akan memperoleh Nobel. Mishima, yang terkenal sangat narsis dan percaya diri, yang saat itu sedang berpergian, memutuskan pulang dan mengaturnya agar saat mendarat persis beberapa saat setelah pengumuman Nobel. Bahkan ia sudah menyewa ruangan VIP, mungkin untuk konferensi pers. Ketika pesawat mendarat, ia keluar dengan senyum mengembang. Ya, tentu saja tak ada wartawan atau fans yang menunggu dan mengelu-elukannya, sebab tahun itu yang memperoleh Nobel adalah penulis Guatemala (Miguel Ángel Asturias). Dari tulisan yang lain, “William Faulkner on Horseback” saya baru tahu bahwa Faulkner, salah satu penulis yang terkenal melarat (As I Lay Dying ditulis selama enam minggu di waktu istirahat saat ia harus kerja malam memasukkan batu-bara ke tungku), ternyata punya hasrat belanja yang agak tak terkendali untuk: pakaian mahal dan kuda! (Ehm, saya akan mengingat dia jika saya tak bisa menahan diri membeli t-shirt mahal). Sekali lagi ini bukan buku biografi seperti yang saya idealkan, dan lebih menyerupai potret. Tapi bahkan melalui potret-potret seperti ini, kita tahu ada hal-hal yang tak mungkin keluar dari mulut si tokoh. Senorak-noraknya Mishima, dia pasti berkilah soal menyewa ruang VIP di hari pengumuman Nobel. Meskipun mengaku gemar membeli kuda mahal, Faulkner diam-diam saja soal kecenderungan membeli baju mahal. Begitu pula James Joyce saya rasa (di tulisan “James Joyce in His Poses”), tak bakal terus-terang mengaku ia depresi selama dua tahun terakhir hidupnya, karena novel Finnegans Wake tak memperoleh sambutan meriah sebagaimana diharapkannya. Masih perlukah membaca riwayat hidup para penulis? Menurut saya perlu. Bagaimanapun mereka manusia yang pernah hidup dan cerita tentang mereka barangkali berguna untuk hidup kita. Terutama jika itu ditulis dengan baik, dan tidak berisi bualan-bualan membesar-besarkan diri si tokoh.

Standard
Journal

130 Tahun Huckleberry Finn

Selamat ulang tahun, Kawan. 130 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya tak tahu seperti apa keadaannya di hari itu, 10 Desember 1884, ketika The Adventures of Huckleberry Finn terbit pertama kali. Tapi hari ini saya masih membacanya kembali, melalui edisi yang saya beli dari toko buku loak di pinggiran Tokyo bernama Book-Off seharga 105 yen, dengan coretan-coretan huruf kanji dari seorang pembaca lokal yang mungkin tengah mempelajari bahasamu. Jika ada satu buku saya masih bertahan hingga setua itu dan masih ada yang membacanya, saya tak tahu apakah saya akan bahagia atau tidak: saya tak akan ada lagi di dunia ini untuk mengetahuinya. Tapi saya berharap kebahagiaan untuk penulismu. Ada orang-orang yang mengatakan kita menulis untuk keabadian. Saya meragukannya. Menurut saya, ini ilusi. Kenyataannya, 99,999999 persen buku di dunia ini akan lenyap ditelan gilasan roda zaman. Tak perlu menunggu 130 tahun, buku yang hari ini terbit banyak yang sudah dilupakan di tahun depan. Setidaknya 5 tahun sudah menjadi kertas tisue untuk cebok. Seperti dinosaurus dan harimau jawa, banyak gagasan dan buku yang akan punah. Kau harus percaya itu. Kau harus percaya Darwin, sebagaimana percaya Heraclitus yang mengatakan bahwa tak ada yang abadi kecuali perubahan. Kita, para penulis, menciptakan ilusi keabadian ini agar kita lupa dan tak sadar, bahwa sebagian besar yang kita tulis tak lebih dari sampah peradaban belaka. 130 tahun bukanlah waktu yang abadi. Selalu ada kemungkinan suatu hari kau akan lenyap, orang tak membutuhkanmu lagi, tak menginginkanmu lagi, dan kamu akan terlupakan. Tapi apa pedulinya dengan “suatu hari”? Dinosaurus barangkali tidak benar-benar punah. Kode-kode genetiknya diwariskan kepada kita, manusia, sebagaimana diwariskan kepada kodok dan cacing pita. Demikian pula buku: melebihi berapa ratus tahun sebuah buku bisa bertahan, jauh lebih penting bagaimana “kode genetik” buku-buku dan gagasan, diwariskan kepada buku-buku dan gagasan berikutnya. Sebagaimana dirimu memperoleh warisan berharga dari tradisi picaresque Spanyol, dari novel-novel anak-anak berandalan semacam Historia de la Vida del Buscón Don Pablos atau La Vida de Lazarillo de Tormes. Dan siapa tahu kau pun mewariskan sesuatu kepada novel lokal semacam Si Doel Anak Djakarta (sebelumnya Si Doel Anak Betawi)? “We said there warn’t no home like a raft, after all.” Kau mengatakan itu di bagian tengah buku, dan saya tak pernah tidak setuju. Hidup ini selalu merupakan perjalanan, terapung-apung di atas rakit, seperti kau lakukan di sepanjang sungai Mississippi. Kalimat itu, barangkali cukup satu kalimat saja dari ribuan kalimatmu, merupakan kode genetik yang merasuki kepala saya, dan izinkan menjadi bagian dari pikiran-pikiran saya. Saya tak tahu apakah penulismu merupakan penulis terbaik yang dilahirkan Amerika. Sejujurnya saya hanya membaca segelintir penulis Amerika. Selain penulismu, Mark Twain, saya membaca Herman Melville, Hemingway, Faulkner, Toni Morrison dan kurasa ini yang terbaik dari generasi kontemporer: Cormac McCarthy. Tapi saya rasa khayalan tentang Amerika akan sangat berbeda tanpa dirimu, tanpa petualangan Huckleberry Finn di sepanjang Mississippi, persahabatannya dengan Jim si budak, dan seperti novel-novel picaresque yang saya sukai, pertanyaan besar-kecil mengenai masyarakat orang dewasa dari kacamata seorang anak kecil. Ketika saya meninggalkan rumah dan sekolah, dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah saat umur belum juga genap 14, saya belum membacamu. Tapi ketika pertama kali membacamu, bertahun-tahun kemudian, saya melihat diri saya di wajahmu, sebagaimana sering kita temukan di karakter-karakter yang mengenangkan di novel-novel lain. Sekali lagi selamat ulang tahun. Saya tak bisa menyediakan 130 lilin, tapi lebih dari 500 kata tulisan ini barangkali cukup untuk ditiup, sebelum lenyap menjadi sampah peradaban yang lain.

Standard
Journal

Di Sini Monologue Intérieur Bermula

Mereka bilang di novel inilah monologue intérieur bermula. We’ll to the Woods No More. Edouard Dujardin. Ditulis di Paris tahun 1880an. Les lauriers sont coupés. Tanpa itu, tanpa teknik yang kemudian dikenal sebagai arus-kesadaran, novel ini mestinya hilang dari muka bumi. Terbit sekali kemudian dilupakan. Seperti jutaan buku lainnya. Omong kosong jika kau pikir menulis dan buku diciptakan untuk keabadian. Setiap hari orang menulis, setiap hari lahir buku baru, dan sebagian besar, 99,999999% akan hilang dari peradaban. Dilupakan. Percayalah. Survival the fittest, kata Darwin. Buku dan pemikiran tak ada bedanya dengan binatang. Ada yang punah, dan sedikit yang bertahan menghadapi ganasnya zaman. Penulis berusaha menulis sebaik-baiknya, berharap ia akan abadi, seperti seekor anjing mengharapkan kiriknya lahir sehat dan meneruskan spesies mereka. Alamlah yang akan menyiksa buku dan kirik ini, menghancurkannya dengan gila-gilaan. Menjadi artefak. Menjadi fosil. Novel ini, dengan caranya sendiri, memilih bertahan hidup. Bukan karena ia karya besar, bukan karena ia mengandung gagasan hebat, tapi semata-mata karena teknik yang dipergunakannya. Teknik, sayang. Pada akhirnya kesusastraan adalah keterampilan. Sebagaimana tukang kayu dihormati karena keterampilannya. Percuma memiliki gagasan besar jika kau tak terampil. Kau akan menjadi bahan tertawaan saja, Sayang. James Joyce membaca novel ini, tampaknya karena tak sengaja. Di perjalanan dari Paris ke Dublin tak lama setelah pergantian abad. 1902. Lama kemudian Joyce mencuri dari novel itu, si arus-kesadaran, untuk Ulysses. Ia mengakuinya, menyebut nama sang penemu. Dan Dujardin meledak gembira, karena novel kecil ini menjadi alas bagi satu novel besar. Menjadi dasar bagi satu gerakan besar. Di edisi setelahnya, Dujardin bahkan mendedikasikan novel ini untuk Joyce. Sebenarnya apa itu monolog interior? Tentu saja bukan sekadar monolog. Monolog, ngoceh sendiri, kemungkinan besar senantiasa dengan asumsi ada pendengar. Bahkan meskipun diri sendiri. Tidak demikian dengan monolog interior. Ia muncul seringkali tidak untuk didengarkan. Seringkali tanpa struktur. Seringkali merupakan kibasan-kibasan kesan. Jika kita menangkapnya dalam bentuk kata-kata, karena itu salah satu cara (yang sejujurnya lemah) untuk membuatnya ada. Monolog interior merupakan orkestra refleksi, abstraksi, kesan sejenak, mood, dibandingkan sebagai penceritaan aksi atau tindakan-tindakan. Kurang-lebih begitu menurut Dujardin. Saya yakin ia tak memikirkan itu ketika melakukannya. Ia mengatakan itu bertahun-tahun setelah novelnya terbit, bahkan setelah Ulysses juga terbit. Dan dalam novelnya, beberapa kali sejujurnya ia bocor. Si aku menceritakan tindakan-tindakan. Dan mengutip surat secara lengkap, alih-alih membiarkannya sebagai kenangan kacau. Tapi itulah gunanya membaca novel semacam ini. Kita bisa melakukannya jauh lebih baik, berabad-abad kemudian, setelah menemukan kesembronoannya. Bagi saya, monolog interior tak hanya ungkapan bagaimana pikiran bekerja, tapi terutama bagaimana dunia luar masuk ke dalam pikiran. Kadang-kadang ia runtut, seringkali tidak. Kadang-kadang logis, tak jarang tidak logis. Dunia luar masuk ke dalam pikiran, kemudian dikeluarkan kembali melalui kata-kata. Pembaca melihat dunia melalui apa yang ada di dalam pikiran. Begitulah. Monolog interior merupakan sejenis kode. Barangkali lebih menyerupai kode puisi daripada prosa. Tapi lupakan soal itu. Setiap orang berpikir dengan cara mereka sendiri. Dunia akan selalu berbeda di dalam pikiran setiap orang. Virginia Woolf memperlihatkan kepada kita dengan cara yang berbeda. William Faulkner juga. Dan novel ini … sejatinya saya menyukai ceritanya. Daniel Prince dan Leah. Oh. Seorang lelaki jatuh cinta kepada artis panggung. Diporotin. Berharap bisa tidur dengannya. Duitnya makin habis, dan ia belum juga menidurinya. Hingga kesempatan itu datang. Leah mengajaknya ke kamar. Tapi saat itulah ia berpikir, ia harus membuktikan cintanya. Cinta suci. Cinta murni, bukan cinta penuh nafsu. Ia akan menolak jika gadis itu mulai membuka pakaian. Tolol. Di dunia ini memang banyak lelaki tolol. Monolog interior mengajak kita masuk ke pikiran lelaki tolol, sebagaimana kita bisa masuk ke pikiran karakter macam apa pun. Tentu saja tak akan pernah sempurna. Bagaimanapun kata-kata tak akan pernah sempurna mewakili dunia. Dan pikiran manusia merupakan misteri gelap, yang kata-kata bahkan tak mungkin menaklukkannya.

Standard
Journal

Takashi Hiraide, Andrés Neuman, Sjón

Saya sadar, terus-terusan membaca karya klasik nan tua, meskipun saya menikmatinya, lama-kelamaan juga membosankan. Karya-karya itu, demikian tuanya, kadang-kadang tak ada hubungan apa-apa lagi dengan kehidupan kita sekarang. Tapi tentu saja, banyak di antara karya-karya itu masih asyik dinikmati. Dan jika mau mencari-cari pelajaran moral, mereka mengajarkan banyak hal. Hal paling waras, tentu saja menyelingi bacaan klasik tersebut dengan karya-karya baru. Karya-karya penulis yang masih hidup, beberapa di antaranya bahkan seumuran dengan saya. Buku pertama, The Guest Cat karya Takashi Hiraide, yang memang saya incar bahkan sejak buku itu masih “rencana terbit”. Pertama, saya selalu penasaran dengan penulis Jepang. Kedua, ini tentang kucing. Saya selalu senang membaca novel bagus tentang manusia dan binatang. Komentar saya? Manusia memiliki banyak bahasa untuk menjelaskan hubungan mereka dengan binatang: memelihara, melindungi, bahkan memiliki, atau kadang sekadar berteman. Lihat sepasang tokoh utama di novel ini: awalnya mereka menyebut Chibi (si kucing tetangga) sebagai “tamu”. Tapi di akhir cerita, kita tahu, Chibi bukan lagi sebagai tamu. Meskipun bagi Chibi, yang tak mengenali teriroti manusia (kecuali teritori binatangnya), gagasan tentang tamu atau tuan rumah itu sudah jelas pasti absurd (dan kontrasnya semakin menarik dengan kerumitan status si pemilik rumah, yang menyewa dan harus berpindah rumah). Menarik bahwa novel ini, selain menceritakan hubungan mereka dengan Chibi yang berubah bersama waktu, juga mencoba menjelaskan perilaku mereka (kucing, manusia dan kucing-manusia) dalam bentuk sejenis esai ringan yang terselip di sana-sini. Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Novel berikutnya adalah Talking to Ourselves, karya Andrés Neuman. Saya pernah membaca novel Neuman sebelumnya, Traveller of the Century, yang saya anggap sebagai novel terbaik yang saya baca tahun lalu. Kali ini ia muncul dengan novel yang lebih sederhana, lebih tipis, dengan hanya tiga tokoh yang berbicara bergantian dengan cara seperti Faulkner dalam As I Lay Dying. Seperti novel sebelumnya, ini novel gagasan. Neuman (ia lebih muda dari saya, lahir 1977), saya kira merupakan master dalam novel mengenai gagasan. Kelebihannya adalah, ia mampu meramu novel tentang gagasan dengan banalitas secara kontras, sehingga novel itu tak melulu merupakan perdebatan mengenai gagasan-gagasan (dalam hal ini, ia mengadu dan mempertemukan banyak gagasan penulis mengenai rasa sakit, dari Virginia Wolf hingga Roberto Bolaño, dari Kenzaburō Ōe hingga Javier Marías), tapi juga mengenai usia tua dan tubuh yang memburuk serta dorongan seksual yang malah membara. Meskipun tipis, seperti pendahulunya, saya beranggapan novel ini hanya diperuntukan untuk pembaca yang sabar. Novel ini diterbitkan oleh Pushkin Press, satu penerbit Inggris yang sedang merajalela dengan terjemahan-terjemahan sastra kelas satu dari berbagai tempat. Buku berikutnya berjudul The Whispering Muse, karya Sjón. Siapa Sjón? Jika melacak di internet, ia lebih banyak dihubung-hubungkan dengan Björk, karena ia banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi tersebut. Tapi sebenarnya ia, selain penyair, juga novelis ngetop di negaranya, Islandia. Novel ini berkisah tentang Valdimar Haraldsson, seorang penulis jurnal (ya, jurnal dalam pengertian jurnal ilmiah, tapi isinya ia tulis sendiri di setiap edisi) mengenai “ikan dan kebudayaan”. Intinya, itu jurnal mengenai pengaruh konsumsi ikan atas superioritas ras Nordic. Gara-gara jurnalnya ini, ia direkomendasikan seorang temannya untuk mengikuti pelayaran kapal dagang milik ayah si teman. Di kapal, ia bertemu seorang pendongeng. Sepanjang novel, selain menceritakan pengalaman berlayarnya, perjalanan itu juga menjadi bingkai bagi dongeng-dongeng yang didengarnya di atas kapal. Sekilas, juga mengingatkan pada tujuh petualangan ajaib Sinbad sang pelaut. Dengan kata lain, ini dongeng versi modern (settingnya selepas Perang Dunia). Dan tentu saja si penulis juga memberi kontribusi di kapal itu: memberi ceramah mengenai ikan dan kebudayaan. Intinya, menurut si tokoh, kehidupan manusia berasal dari laut. Dan secara biologi, termasuk susunan gigi manusia, dirancang untuk mengkonsumsi nutrisi dari laut. Secara pribadi, karena saya suka seafood, saya setuju. Saya jadi ingat, sewaktu kecil ibu saya selalu berkata, makan ikan agar pintar. Sampai sekarang, jika disuruh memilih dari berbagai macam makanan, saya akan menengok ke ikan. Tapi pertanyaan seriusnya, di negara kepulauan yang dikepung laut ini, benarkah laut atau ikan menjadi sumber pengaruh kebudayaan kita yang terbesar. Anehnya, saya sangsi. Indonesia merupakan negara yang dikepung laut tapi tak banyak memberi kontribusi terhadap kebudayaan ikan. Lihat saja menu makan kita. Berapa banyak variasi jenis makanan kita yang berasal dari ikan atau laut? Ikan hanya digoreng dan dibakar, atau dipepes. Menyedihkan, bukan? Saya rasa novel ini bisa dibaca sebagai ejekan untuk kita. Itu jika Anda sudi mengejek diri sendiri.

Standard
Journal

Dua Tradisi

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnotis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Standard