Journal

Noli Me Tangere, José Rizal

Setelah beberapa lama cuma niat, akhirnya kesampaian juga membaca novel ini. Awalnya karena hendak membicarakan buku Benedict Anderson, Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial, saya merasa harus membaca setidaknya satu (dari dua) novel José Rizal, sebab buku tersebut hampir sepertiganya bicara tentang sang revolusioner Filipina. Demikianlah akhirnya saya membaca Noli Me Tangere (saya membaca versi terjemahan Inggris lawas, yang judulnya jadi The Social Cancer, sementara edisi yang baru mempergunakan judul asli dengan terjemahan Inggris di dalam kurung sebagai: Touch Me Not). Ini sebuah novel dengan latar masa kolonial Spanyol di Filipina, dan bisa juga disebut sebagai novel epik Filipina, tak hanya karena isinya, tapi juga efek yang diciptakan oleh penerbitan novel ini. Membaca beberapa bab awal, kita sudah disajikan dengan kebrutalan kekuasaan kolonial. Dikisahkan Crisóstomo Ibarra, sang tokoh utama, selepas bertahun-tahun mengembara di daratan Eropa akhirnya pulang ke Filipina hanya untuk menemukan ayahnya sudah meninggal (dan selama itu tak ada yang memberitahunya). Ia kemudian tahu bahwa ayahnya telah dihukum mati oleh konspirasi penguasa-penguasa lokal, yang meliputi penguasa kolonial serta para pemimpin gereja. Tak hanya itu, ketika ia mencari kuburannya, Ibarra tak menemukan kuburan itu. Ia akhirnya bertemu seseorang yang memberitahu: mayat ayahnya telah digali dan dibuang ke danau. Di sinilah ia mulai terlecut, kemarahannya kepada kekuasaan kolonial mulai membara, tapi ternyata kebrutalan tersebut belum cukup sampai di sana. Apa yang membuat kekejian kolonialisme terasa menyayat, terutama karena di novel ini, José Rizal berhasil membawa masalah sosial tersebut menjadi kisah-kisah individu. Kisah cinta Ibarra dan María Clara memiliki porsi yang sangat signifikan di sini, di mana kisah cinta mereka harus berakhir tragis lagi-lagi oleh konspirasi jahat antek-antek kolonial dan gereja. Di titik ini, pembaca Indonesia mungkin akan teringat kepada novel Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (dengan kisah Minke dan Annelisnya), setidaknya saya merasakan sejenis bayang-bayang tersebut. Mungkin Pram terinspirasi novel ini (Noli Me Tangere terbit 1887, hampir satu abad sebelum novel Pram)? Dan sekuelnya, El Filibusterismo mungkin juga membayangi Anak Semua Bangsa, terutama dalam konteks “globalisasi”-nya. Selain kisah cinta dua anak muda yang berakhir tragis dipisahkan oleh kuasa kolonial, ada hal-hal yang juga bisa diperbandingkan: baik Minke maupun Ibarra sama-sama bisa dibilang “elit lokal”, yang sama-sama memperoleh pendidikan kolonial (Ibarra lebih dari itu, ia bisa sekolah ke luar negeri, dan dalam tubuhnya juga mengalir darah Basque, ia seorang mestizo). Tapi tentu saja ada beberapa perbedaan mencolok. Bumi Manusia bisa dibilang roman sejarah, sementara novel ini justru bisa dilihat mendahului gerakan-gerakan revolusioner Filipina. Ia semacam inspirasi bagi kaum revolusioner Filipina untuk bangkit melawan, dan José Rizal sendiri, beberapa tahun kemudian, tak hanya diasingkan, tapi juga dihukum mati sebagai pahlawan bangsanya (dan banyak yang mengaitkan dirinya sebagai Ibarra). Selain itu, dua hal mencolok dalam novel Rizal: kebrutalannya (tak hanya hukuman mati, mayat digali, tapi juga penggantungan di muka umum, bahkan seorang anak dipenggal kepalanya dan digantung di muka rumah ibunya), juga keterlibatan kekuasaan gereja yang membuat rakyat Filipina seperti dijajah dari kiri dan kanan, di mana di-ekskomunikasi oleh gereja sama menakutkannya daripada dipenjara. Di luar itu, novel ini juga memberi sejenis keajaiban seperti dicatat Ben Anderson: Di Republik Kesusastraan Global, novel ini lahir dari pinggiran. Ia tak hanya merupakan novel modern paling awal yang menggetarkan Asia Tenggara, tapi juga mendahului banyak novel besar di Asia (ya, bahkan terbit duluan sebelum Max Havelaar, meskipun kemudian José Rizal juga mengagumi novel ini). Untuk memahami kenapa bisa seperti itu, buku Ben Anderson di awal tulisan ini mungkin perlu dibaca, sebagai pengantar yang menarik sebelum menikmati novel ini, terutama bagi yang tak terlampau akrab dengan sejarah Filipina atau konteks zaman di abad sembilan belas.

Standard
Esai

Membayangkan Kembali (Kesusastraan) Indonesia dan Dunia

Jika Anda pembaca novel-novel atau cerita-cerita John Steinbeck, Anda mungkin akan mulai membayangkan seperti apa California di masanya, lengkap dengan lanskap pantai yang dipenuhi kapal-kapal nelayan dan pabrik pengalengan, para gelandangan, para pekerja, kebun anggur, atau orang-orang sederhana yang memelihara bunga krisan di depan rumahnya. Demikian juga jika Anda akrab dengan karya-karya Pramoedya, Anda mulai membangun imajinasi tentang Blora dengan sungai Lusi yang mengalir di sana.

Di novel Never Any End to Paris karya Enrique Vila-Matas, seorang anak muda yang merupakan seorang novelis pemula (yang juga narator dengan nama sama seperti penulis novel), pindah ke Paris setelah membaca A Moveable Feast. Ia tergila-gila dengan Paris dan kehidupan kesusastraannya, sebagaimana yang dibayangkannya setelah membaca karya Hemingway itu. Paris mungkin sangat beruntung, begitu banyak penulis dan karya sastra telah membangun bayangan orang tentangnya. Citra sebagai kota romantik penulis dibangun juga oleh kehidupan para penulisnya, dari mulai Victor Hugo hingga cafe-cafe tempat Simone de Beauvoir dan Jean Paul Sartre nongkrong, atau “generasi yang hilang” macam kawan-kawan Hemingway melintasi jalan-jalannya. Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali ke Paris, satu tempat yang saya sempatkan untuk berkunjung adalah katedral Notre-Dame, masuk ke dalamnya dan menyalakan lilin. Tentu saja karena saya ingin mengkonfirmasi bayangan saya tentang katedral itu setelah membaca The Hunchback of Notre-Dame.

Belum lama saya membaca artikel di The Independent tentang kota-kota sastra yang disarankan untuk dikunjungi. Misalnya kita bisa merasakan suasana dan lanskap serta bertemu manusia-manusia Meksiko sebagaimana kita baca di The Savage Detective Roberto Bolaño. Tentu saja artikel itu juga menyarankan untuk mengunjungi kota Dublin dan meskipun jarak waktu yang membentang, kita mungkin akan membandingkannya dengan Dubliners karya James Joyce. Saya tak tahu, apakah ada orang Indonesia yang iseng mengunjungi Bloomington hanya karena membaca kumpulan cerpen Budi Darma, Orang-orang Bloomington.

Barangkali dengan kesadaran semacam ini pula, misalnya, Orham Pamuk terus-menerus menceritakan kota tempatnya tinggal hampir di sepanjang hidupnya (konon di lingkungan yang juga sama), Istanbul. Di mulai dari Istanbul lama, di masa kesultanan, melalui The White Castle dan My Name is Red, Istanbul yang mengalami beragam pergolakan di masa modern melalui A Strangeness in My Mind dan The Museum of Innocence, hingga akhirnya ia menerbitkan memoar tentang kota itu sebagaimana ia mengingatnya, melalui Istanbul. Membaca karya-karyanya, hampir mustahil kita tak tersedot dan mulai akrab dengan kota itu, bahkan tanpa mengunjunginya.

***

Tak hanya kepada kota-kota, para penulis dan karya sastra menciptakan aneka bayangan di kepala kita. Mereka bisa membawa kita ke mana saja, tentu saja, melintasi tak hanya batas-batas wilayah, tapi juga waktu, bahkan menembus batas-batas dunia nyata dan imajiner.

Ketika saya membaca untuk pertama kali The Tin Drum karya Günter Grass, saya tak hanya membayangkan seperti apa Jerman di masa sebelum Perang Dunia II hingga masa setelahnya, tapi juga mengikuti perjalanan Oskar, sang narator, untuk melihat “kehidupan Jerman”. Kita mungkin tak akan bisa memahami sepenuhnya gejolak sosial atau politik sebuah negara hanya melalui sebuah novel, tapi bagaimanapun, sebuah novel mungkin saja membentuk bayangan kita tentang itu, sekecil apa pun.

Hal yang sama saya kira bisa terjadi dengan Midnight’s Children karya Salman Rushdie. Tentu saja konyol jika Anda berharap mengerti sejarah India, kebudayaan mereka, gejolak kehidupan sosial dan politik pasca kemerdekaan mereka, hanya dengan membaca novel itu. Anda bahkan bisa membaca novel tersebut tanpa maksud-maksud demikian. Tapi sekali Anda membacanya, selalu ada kemungkinan apa yang dikatakan oleh Salman Rushdie menelusup ke dalam pikiran Anda, dan Anda tanpa sadar mulai membayangkan India dan orang-orang India dengan kehidupan sosial dan politiknya.

Bahkan meskipun diceritakan di kota imajiner, One Hundred Years of Solitude dan karya-karya Gabriel García Márquez yang lain, bisa memberi kita bayangan pembanding tentang Kolombia, selain soal perang antar gang kartel narkotika yang mungkin kita akrabi melalui berita, seri TV, maupun permainan komputer. Melalui karya-karya William Faulkner, kita membangun imajinasi tentang selatan di Amerika, meskipun bayangan itu mungkin juga berbaur dengan apa-apa yang ditulis oleh Eudora Welty.

Selama beberapa lama, misalnya, bayangan saya tentang Jepang dan orang-orangnya hanya dibangun oleh bacaan saya atas Yasunari Kawabata. Saya membayangkan kehidupan yang lamban, perempuan-perempuan yang cantik, ritual-ritual kecil yang jelimet. Bayangan itu rusak setelah membaca Haruki Murakami, meskipun tidak lenyap begitu saja. Mereka membaur, bersitegang dan menciptakan bayangan baru saya tentang Jepang dan orang-orangnya dalam sejenis ekuilibrium. Dan bayangan saya terus diperbaharui setelah membaca Ryūnosuke Akutagawa, Kobo Abe, Yukio Mishima, bahkan setelah melihat anime, film-film Akira Kurosawa dan tentu saja membaca manga.

Sial bagi Rusia. Bayangan saya tentang negeri itu berhenti di apa-apa yang saya baca dari Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky, Anton Chekhov, atau kalaupun lebih muda dari mereka, juga berhenti di Maxim Gorki, Nikolai Leskov, atau Isaac Babel. Saya nyaris tak membaca karya-karya kontemporer mereka lagi, sehingga bayangan saya tentang Rusia mungkin hanya dibangun oleh berita-berita tentang Vladimir Putin, sang presiden.

Dan apa yang bisa dibayangkan orang di negeri asing yang jauh, katakanlah di Eropa Timur, di pedalaman Afrika, atau di ujung selatan Amerika Latin, tentang Indonesia? Mungkin mereka belum pernah membaca karya sastra Indonesia, dan tak satu pun penulis kita mereka kenal. Tidak juga film, musik, komik kita mereka kenal. Apa yang bisa mereka bayangkan? Mungkin sekilas mereka membaca tentang bom bunuh diri beberapa tahun lalu di satu berita kecil. Mungkin mereka melihat foto tentang dua anak muda yang dicambuk di muka umum di Aceh. Atau gembong narkoba yang dihukum mati di Nusa Kambangan. Maka mereka akan membayangkan seperti itulah Indonesia.

***

Sekarang, izinkan saya bicara tentang sesuatu yang lebih praktis dan mungkin politis. Kita tentu akrab dengan pertanyaan, “Apakah karya sastra bisa mengubah dunia?” Jika maksud pertanyaan itu adalah mengubah dunia secara langsung, saya sangsi. Jika ada karya sastra yang sanggup melakukannya, mungkin satu dari sejuta judul, atau lebih. Tapi saya percaya, karya sastra mampu mengubah cara pandang orang (pembacanya) tentang dunia, dan dari sanalah, perlahan-lahan, kita bisa mengharap orang tersebut (para pembaca) beraksi untuk mengubah dunia. Saya tak ingin melebih-lebihkan peran kesusastraan. Karya-karya seni dan intelektual lain, juga bekerja dengan cara yang kurang-lebih sama: film, musik, komik, seni pertunjukan, lukisan, dan lain sebagainya.

Saya rasa kita semua sadar, kita bukan negeri populer di dunia. Dalam berbagai gurauan, Bali lebih banyak dikenal daripada Indonesia, dan mereka tak tahu bahwa pulau itu ada di sini (dan gurauan ini sungguh nyata). Bahkan kunjungan wisatawan asing kita kalah telak oleh negara-negara tetangga, yang jauh lebih kecil, seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand. Tentu saja saya tak sedang membayangkan karya sastra Indonesia sebagai mesin yang mendatangkan banyak wisatawan. Ini sesederhana untuk menunjukkan betapa Indonesia dalam titik tertentu menjadi semacam “halaman kosong” di peta pikiran banyak orang.

Memang banyak cara untuk memperkenalkan sebuah bangsa, sebuah negara. Saya pernah melihat foto iklan kunjungan wisata ke Indonesia di bus-bus yang berkeliaran di London, misalnya, dan saya yakin itu merupakan salah satu upaya pemerintah memperkenalkan Indonesia ke penduduk London. Iklan sejenis bisa juga ditampilkan di jaringan televisi di negara-negara yang dituju, atau di laman-laman internet, selama pemerintah memiliki uang banyak untuk membayarnya.

Tak hanya iklan-iklan jualan, berbagai misi kebudayaan juga dilakukan, yang pada dasarnya dalam operasional pemerintah tak jauh berbeda dengan iklan juga. Dalam kesusastraan dan perbukuan, kita tentu ingat bagaimana pemerintah mengirim berbagai delegasi penulis dan buku ke berbagai pameran buku internasional, di Frankfurt, London, Bologna, Seoul, dan Shanghai. Tak hanya sampai di situ, pemerintah juga ikut mendanai penerjemahan berbagai buku, agar lebih mudah terakses oleh orang-orang asing.

Sebagaimana iklan, upaya-upaya ini mungkin akan berhasil jika kita terus-menerus melakukan gempuran. Sialnya, kita bukan satu-satunya negara yang melakukan upaya tersebut. Negara dan bangsa lain juga melakukannya, bahkan jauh sebelum kita, dan saya yakin dengan metode dan upaya yang jauh lebih kaya dan beragam.

Lagipula karya sastra sebaiknya memang tak diletakkan seperti sebuah iklan (meskipun bisa diperlakukan begitu), sebagaimana sebaiknya tak diperlakukan sebagai kartu pos (meskipun bisa pula berperan demikian). Hal terbaik dari sebuah karya sastra adalah, pembaca bisa datang kepadanya, menjamahnya, masuk ke dalamnya secara sukarela, dan menyerahkan dirinya ke apa pun yang ditulis si penulis. Ia seharusnya tidak memaksa seperti iklan, sehingga apa pun yang ada di sana bisa diterima secara sukarela. Ia seharusnya tidak cuma menjadi memento atau suvenir, seperti kartu pos, tapi merangsang si pembaca untuk masuk dan keluar dengan sesuatu yang baru dari sana.

Upaya memperkenalkan kesusastraan Indonesia, untuk ikut membangun bayangan orang tentang Indonesia (bersama dengan upaya-upaya lain), memang patut dilakukan. Tapi menciptakan situasi di mana orang secara sukarela membaca karya sastra Indonesia, dan membiarkan berbagai gagasan tentang Indonesia dalam pikiran mereka, saya kira jauh lebih penting lagi.

***

Problemnya, dunia jelas bukan sesuatu yang homogen, dan industri buku dunia yang beraneka ragam ini juga kerap kali berjalan dengan logika bisnis mereka sendiri. Apa yang kita bayangkan sebagai “sastra dunia”, misalnya sebagai sekumpulan karya-karya sastra terpilih secara kualitas dari berbagai negeri, lebih sering merupakan ilusi daripada kenyataan. Lebih sering mereka tak terlalu peduli, misalnya lagi, dengan karya sastra terbaik tahun ini dari negeri anu, sebagaimana kita juga tak terlalu peduli dan tak benar-benar ingin membaca karya sastra terbaik tahun ini dari Mesir, dari Lithuania, dari Filipina, atau negeri-negeri lain yang kita tak begitu kenal. Lebih sering terjadi ukuran-ukuran kualitas setiap bangsa juga berbeda-beda, tapi yang terutama, tentu saja ukuran-ukuran tentang apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka ingin baca.

Di titik ini, ketika kita bicara tentang kesukarelaan orang membaca sebuah karya sastra, kita juga bicara tentang problematika dan harapan seorang pembaca, atau lebih luas sebuah komunitas pembaca (sebuah bangsa). Sebuah novel bisa saja dianggap hebat secara kualitas estetik di Indonesia, juga memiliki relevansi sosial-politik secara tema, tapi apakah kualitas estetik dan relevansi tema itu dibutuhkan oleh pembaca Amerika, pembaca Nigeria, pembaca Jepang, atau pembaca Prancis? Percayalah, lebih sering itu tak terjadi. Bahkan sesama negara yang kesusastraan dan ekonominya sudah berkembang pesat pun (dengan tradisi yang bersinggungan) seringkali tak terjadi. Bayangkan, sebagai contoh, ketika penulis Prancis seperti J. M. G. Le Clézio dan Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan, buku-bukunya masih jarang dan relatif tak dikenal di Amerika, sebab mungkin pembaca Amerika tak terlalu ingin membacanya.

Anomali-anomali kadang terjadi juga. Di masa-masa awal karirnya, William Faulkner bukanlah penulis yang dibaca di negerinya sendiri, Amerika. Jangankan di pembaca umum, bahkan di antara para kritikus pun bisa dibilang “diabaikan”. Diperkenalkan salah satunya oleh Sartre, ia menjadi populer di Prancis, sehingga orang Amerika pun mulai membacanya. Itu pun bahkan belum menyentuh para penjaga otoritas kualitas (jika istilah ini tepat) kesusastraan di sana. Setelah ia memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1949, barulah para kritikus dan juri “lokal” yang lama mengabaikannya memberi ia Pulitzer (1955, 1963), dan National Book Award (1951, 1955).

Hal-hal seperti itu bisa terjadi, untuk memperlihatkan apa yang disebut “sastra dunia” secara kualitas lebih sering ilusi, dan secara industri seringkali tak tertebak. Tapi pada saat yang sama, membaca karya-karya dari berbagai negeri yang terbit secara internasional (untuk sedikit menghindari diri dari menyebut mereka sebagai “sastra dunia”), bisa membawa kita ke berbagai keresahan dan harapan yang melanda dunia, melintasi batas-batas teritori wilayah, bahasa dan bahkan waktu.

Ketika saya membaca Everything I Don’t Remember karya penulis Swedia, Jonas Hassen Khemiri, saya menyadari keresahannya tentang isu-isu imigran, ras, dan politik identitas. Saya bisa mengerti bagaimana novel ini bisa diterima di beberapa negara lain, mengingat mereka juga menghadapi problem yang sama. Hal yang sama bisa dibaca untuk melihat kepopuleran kembali novel karya Margaret Atwood, The Handmaid’s Tale, dan ketakutan orang tentang kemungkinan kembalinya otoritarianisme, tak hanya di Amerika tapi juga di negara-negara lain.

Itu hanya sebagian contoh saja. Seringkali kebutuhannya tak melulu soal isu sosial-politik, tapi tentu juga estetik. Kemunculan penulis-penulis semacam Cesar Aira, Enrique Vila-Matas, juga Laszlo Krasznahorkai, saya kira juga menjawab kebutuhan pembaca akan terobosan-terobosan estetik yang baru.

Pertanyaannya, sejauh mana kita berada dalam arus kegelisahan dan harapan semacam ini? Sejauh mana kita menjadi bagian dari dunia dalam hal berbagi persoalan? Apakah keresahan-keresahan ini, secara sosial-politik maupun estetik, sudah tercermin dalam karya-karya kita, di kesusastraan Indonesia? Atau, jangankan kita tahu apakah kita berada dalam denyut yang sama dengan problem dunia, jangan-jangan kita bahkan tak tahu apa yang menjadi problem kita sendiri di Indonesia? Kita tak tahu apa masalah kita dalam berbangsa, dalam berkomunitas sebagai Indonesia? Kita juga mungkin tak tahu problem-problem estetik kesusastraan Indonesia sendiri?

Atau jika kita sudah (merasa tahu), apakah hal itu sudah tampak dalam karya-karya yang kita hasilkan? Seberapa banyak, secara kualitas maupun kuantitas? Atau malah kita justru menjadi bagian dari problem ini, dengan cara yang tanpa sadar telah kita pilih, dengan bersikap tak peduli?

***

Melalui kesusastraan, sudah jelas kita menciptakan bayangan tentang dunia, sebagaimana jika itu kesusastraan Indonesia, ia juga menciptakan bayangan tentang Indonesia. Ia bisa menciptakan bayangan kita tentang sebuah kota, sebagaimana telah saya tunjukan di muka. Juga tentang perjalanan sebuah bangsa. Jauh lebih penting, saya kira, kesusastraan bisa menciptakan bayangan tentang seperti apa dunia dan Indonesia yang kita inginkan, hari ini maupun yang akan datang.

Novel seperti 1984 dan Animal Farm jelas lahir dari sutuasi kecemasan dan pada saat yang sama menguarkan impian tentang dunia. Ketakutan akan nafsu kekuasaan yang mendekam di balik aksi revolusi menghasilkan Animal Farm dan kecemasan akan masa depan di mana kehidupan manusia dikontrol oleh rezim totaliter, menghasilkan 1984. Meskipun novel ini bersifat fabel dan yang lainnya ditulis dengan gaya distopian, pada saat yang sama bukankah itu juga menyiratkan tentang dunia yang diharapkan? Dunia di mana kekuasaan memiliki batas-batas, demikian juga hubungan negara dan warga merupakan hubungan yang saling menghormati, di mana kebebasan dan hak pribadi dijamin.

Di sisi lain, Ulysses James Joyce bisa jadi menghentak mengenai kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dicapai oleh novel, dan bahasa yang dipergunakannya, bahkan sampai hari ini. Juga Pedro Paramo dari Juan Rulfo, tak semata-mata bersama novel-novel lain membuka kegelapan kawasan Amerika Latin, tapi juga membuka jalan bagi sebuah kecenderungan kesusastraan, yang antara lain menghasilkan booming kesusastraan Amerika Latin yang pengaruhnya menyebar ke mana-mana. Upaya-upaya menerobos problem-problem estetik kesusastraan, jelas sama pentingnya dengan problem-problem praktis yang dihadapi dunia.

Di kehidupan nyata, jelas Indonesia merupakan bagian dari dunia, dan dengan itu juga jelas menyumbang atau mewarisi problem-problem dunia. Itu sebenarnya sesuatu yang tak terelakkan. Kolonialisme yang diderita Indonesia, juga merupakan problem negara-negara lain di dunia, baik dari sisi yang mengkoloni maupun yang dikoloni. Dan problem itu jelas tak terisolir satu sama lain. Demikian pula problem-problem turunannya. Problem pascakolonial, revolusi kemerdekaan, kediktatoran militer, bahkan perang dingin, langsung atau tidak langsung dialami sebagian besar negara-negara di dunia.

Apakah problem-problem sosial politik itu juga berhubungan erat dengan problem-problem estetik kesusastraan? Saya bisa memastikan, iya, atau setidaknya, seharusnya begitu. Dalam kesusastraan kita sendiri, saya percaya kelahiran puisi-puisi Chairil Anwar, kebutuhannya akan sebuah bahasa dan ekspresi yang baru, beriringan dengan kebutuhan akan situasi sosial dan politik Indonesia yang juga baru. Dan bukankah Indonesia yang baru ini, adalah buah impian dari penyair semacam dia, tentu berkelindan dengan bayangan-bayangan yang juga muncul dalam karya-karya intelektual para pendiri bangsa ini.

***

Saya ingin melipir sejenak, untuk memperlihatkan bagaiman situasi sosial-politik, atau keputusan-keputusan sosial-politik, juga sanggup (secara terencana maupun tidak) menciptakan ruang estetik yang berbeda, bahkan dalam kesusastraan Indonesia. Kita akan kembali ke masa Soeharto. Bagaimana ia dan tangan-tangan kekusaannya, menciptakan situasi yang relatif kondusif untuk membuatnya berkuasa begitu dalam dan lama? Tentu saja salah satunya melalui strategi kebudayaan, termasuk strategi di bidang kesusastraan.

Kita tahu Soeharto telah membabat sebagian besar musuh-musuh politiknya, tertutama kaum kiri. Jika tidak dibunuh, mereka dikirim ke penjara dan pulau pembuangan, termasuk novelis Pramoedya Ananta Toer. Karya-karya mereka dengan cepat menghilang, diberangus. Ini situasi yang bahkan secara estetik, lawan-lawan politik rezim Soeharto tak memiliki tempat dan secara perlahan mulai menghilang. Dan ini belum cukup.

Saya kira bukanlah sebuah kebetulan jika sejak tahun 70an, masa di mana kekuasaan Soeharto memperoleh momentumnya untuk bertahan semakin lama, kesusastraan Indonesia juga diperkaya dengan lahirnya beragam genre. Saya menyebut kata “diperkaya” untuk melihat satu sisi secara positif, dan harus mengakui bahwa saya menikmati sebagian besar produk-produk kesusastraan ini, terutama karena saya hidup dan tumbuh bersama mereka. Tapi harus juga dilihat bahwa perkembangan yang luar biasa dalam kelahiran genre cerita silat, cerita horor, romansa, bahkan adaptasi pulp fiction, merupakan wajah brutal dari keberhasilan politik Soeharto: membuat kita jauh dari problem-problem sosial maupun politik. Satu generasi yang berjarak dengan problem sosial-politik, tentu saja menyumbang kekuasaan untuk langgeng lebih lama.

Jika kita membaca buku investigasi semacam Who Paid the Piper (karya Frances Stonor Saunders), kita tahu strategi kebudayaan semacam ini tak hanya terjadi di Indonesia. Itu merebak di mana-mana, di Amerila Latin, Asia, Eropa, bahkan Amerika Serikat, di bawah bayang-bayang perang dingin. Strategi kebudayaan Indonesia di masa itu, juga merupakan strategi kebudayaan dunia. Sekali lagi, dalam kehidupan nyata, Indonesia merupakan bagian dari dunia dan menyumbang atau mewarisi masalah maupun harapannya.

Sekarang mari kita bertanya, apa problem-problem Indonesia hari ini? Apakah problem-problem ini menyatu dalam denyut masalah negara-negara lain di dunia? Apakah problem-problem ini juga telah memicu kegelisahan kita terhadap masalah-masalah estetik dalam kesusastraan? Dalam penafsiran kita atas novel, puisi, atau bentuk kesusastraan yang lain. Atau lebih sederhana lagi, apakah problem sosial-politik maupun estetik ini, sudah mewujud dalam sebagian besar karya sastra kita hari ini?

Saya ingin menggarisbawahi beberapa isu penting yang setidaknya menggelisahkan saya akhir-akhir ini, dan mungkin menggelisahkan Anda semua. Kebangkitan politik identitas (salah satunya identitas agama), yang membuat perpisahan yang semakin nyata antara “kita” dan “mereka” tak hanya terjadi di Indonesia, tapi di mana-mana. Demikian juga problem-problem ketercerabutan manusia dari lingkungannya: pengungsi, imigran, maupun pengucilan karena perbedaan. Kita juga masih mewarisi isu-isu lama yang tak kunjung selesai: kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, maupun bagaimana kapitalisme global tak hanya merusak lingkungan secara nyata, tapi juga merusak tatanan sosial komunitas-komunitas yang semakin rapuh.

Pertanyaannya kembali, apakah isu-isu ini, yang tak hanya merupakan isu di dunia tapi juga problem kita sehari-hari, telah memperoleh tempat dalam kesusastraan kita? Apakah problem-problem ini telah memicu strategi-strategi baru dalam pendekatan estetik kesusastraan Indonesia?

Sejujurnya, dibandingkan kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah nama bisa dibilang tidak populer di dunia, dan kesusastraan Indonesia masih terengah-engah untuk memperoleh tempat dalam konstelasi kesusastraan dunia (apa pun definisinya), saya lebih mencemaskan sikap tidak peduli kita terhadap problem-problem dunia yang juga merupakan problem kita juga. Ketidakpedulian yang juga berimbas kepada tumpulnya daya kerja kreatif untuk menemukan strategi-strategi estetik dalam kesusastraan.

Jika kita berharap kesusastraan (setidaknya novel atau puisi) kita dibaca orang, menjadi warga kesusastraan dunia, diterjemahkan dan terbit di mana-mana, barangkali sebaiknya kita menengok sejenak atas karya-karya itu. Apa yang sudah kita tulis di sana? Apa yang membuat kita gelisah dan menuliskannya di sana? Apakah itu sesuatu yang akan membuat seseorang, entah jauh di mana, secara sukarela masuk ke sana, karena ia melihat kegelisahan sosial-politik atau estetik yang sama. Dan ketika ia membacanya, ia tak hanya melihat Indonesia, wajah orang-orang Indonesia, tapi siapa tahu juga ia menemukan dirinya di sana. Sebagaimana mungkin kita menemukan situasi absurd diri kita di novel-novel Franz Kafka, atau situasi-situasi tragis-menggelikan diri kita sebagaimana kita melihatnya di tokoh-tokoh cerpen Etgar Keret.

Jika hari ini kita memaki-maki atas situasi sosial-politik, di obrolan warung kopi maupun di lini masa sosial media, tapi pada saat yang sama kita menjauhi problem ini dalam kesusastraan, saya kuatir justru kita merupakan bagian dari problem. Itu menunjukkan kesusastraan kita tak memimpikan apa-apa, tak mencemaskan apa-apa, dan dengan satu dan cara lain, tidak sedang membayangkan dunia maupun Indonesia.

Jika kesusastraan kita tersing dari dunia, ini adalah penutup saya dan saya berharap kita memikirkannya dengan sangat serius, bisa jadi itu karena kita mengasingkan diri dari problem kita sendiri, secara sosial-politik maupun estetik. Kesusastraan Indonesia tidak menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, karena jangan-jangan kita tidak berbagi problem yang sama. Jika kesusastraan kita terasing dari masyarakatnya sendiri, bagaimana kita bisa berharap dunia menerima kesusastraan Indonesia?

Disampaikan pada Kuliah Umum di Kafe Basabasi, Yogyakarta, 3 Maret 2018. Juga diterbitkan di basabasi.co.
Standard
Journal

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan

Standard
Cool Stuff, In English

Though he considers Pramoedya an influence, and a master of the historical novel, he is quick to point out the radical differences in their approach to fiction: “I don’t think Pramoedya would write about an undead woman rising from underground,” he said. “It’s not his style.”

“A Writer’s Haunting Trip Through the Horrors of Indonesian History”, by Gillian Terzis, The New Yorker

“The Violent Mysteries of Indonesia”, by Ian Buruma, The New York Review of Book

“Indonesia: Robbed, Raped, Abused”, by Charles R. Larson, Counter Punch

The New Yorker

Aside
Journal

Sjón dan Parabel Bunga

“Enam bulan pertama sejak buku saya terbit dalam bahasa Inggris, tak ada ulasan, tak ada berita. Sepi,” kata Sjón dalam obrolan dengan saya di satu kedai di daerah bantaran selatan Brisbane. Ia sedang bercerita tentang novel pertamanya yang terbit dalam bahasa Inggris, The Blue Fox. Nama besarnya di kesusastraan Islandia sama sekali tak memengaruhi pembaca Inggris. Ia mencoba membesarkan hati, berpikir barangkali di novel berikutnya keadaan akan berubah. Buku itu memang diterbitkan oleh penerbit kecil di London, Telegram. Barangkali karena tak ada biaya promosi besar, dan jaringan para pengulas yang terbatas, novelnya seperti lahir untuk terkubur. Saya sendiri mengenalnya sejak sekitar setahun lalu, melalui novelnya yang lain, The Whispering Muse. Di acara pembukaan festival, ketika seorang panitia mempertemukan kami dan ia bilang sedang membaca novel saya, dengan sedikit terkejut saya berkata, “Sjón? Ah, saya baca bukumu!” Ya, saya agak norak jika bertemu penulis yang saya pernah baca bukunya dan saya menyukainya. Kami janjian untuk minum kopi atau sarapan bareng. Sialnya karena jadwal kami sering tabrakan, kami hanya bertemu selewat-selewat. Hingga di malam terakhir, ketika saya merasa bosan, saya keluar hotel untuk sekadar minum di satu kedai. Saya berniat menghabiskan waktu satu-dua jam membaca satu novel Halldór Laxness, seorang penulis Islandia, The Fish Can Sing. Tanpa disangka, saya bertemu si penulis Islandia lainnya di kedai, dari generasi yang tentu saja jauh lebih muda. Akhirnya kami punya kesempatan ngobrol panjang. Dari Knut Hamsun (ia terkejut karena saya bahkan bisa menyebut judul novel Hamsun dalam bahasa Norwegia – cuma judulnya, dan ia berkata, “Wah, kamu benar-benar mengenal Hamsun!”), yang pengaruhnya sangat besar dalam kesusastraan Islandia dan Skandinavia secara umumnya (kecuali barangkali di Norwegia sendiri, hahaha, di mana banyak orang membencinya); melebar membicarakan Laxness (kita seharusnya cemburu, Islandia berpenduduk tak lebih dari 400.000 jiwa tapi bisa menghasilkan penulis sekelas mereka. Laxness memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1955), salah satu “murid” Hamsun; saya bicara tentang Pramoedya Ananta Toer (“Penulis terbesar kami, dan akan selalu merupakan yang terbesar, tak tergantikan”) dan ia bilang ingin membaca Pramoedya; hingga akhirnya ia bercerita tentang pengalamannya ketika novelnya mulai terbit dalam bahasa Inggris, dan selama enam bulan pertama tanggapan atas buku itu sepi saja. Ia menceritakan itu sambil tertawa, barangkali sambil membayangkan bulan-bulan penuh frustasi. Tapi setelah enam bulan itu, ketika si penulis berpikir karyanya tak sanggup membuat pembaca Inggris tersihir, tiba-tiba The Guardian menurunkan satu ulasan panjang atas novel itu. Dan tak tanggung-tanggung, yang mengulas adalah A.S. Byatt, seorang penulis papan atas. Gampang diduga, ulasan-ulasan lain mulai bermunculan dan orang-orang mulai mencari karyanya. Kini, ketiga novelnya yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris terbit di Amerika oleh Farrar, Straus and Giroux, dan tentu saja ia mulai menjadi seorang selebriti dalam kesusastraan kontemporer dunia. Cerita tentang “nasib” Sjón ini membuat saya teringat pada parabel bunga, yang dulu sering saya dengar di kelas filsafat. Parabel itu sebenarnya diceritakan untuk membantu memahami konsep-konsep mengenai “ada” dan “menjadi”, tapi saya rasa bisa juga untuk menjelaskan “nasib” Sjón dan bukunya. Bayangkan ada bunga (katakan mawar yang indah) di tengah hutan. Bunga itu benar-benar indah, tapi masalahnya: tak ada orang yang melihatnya. Bunga itu “ada” sekaligus “tidak ada”. Jika bunga itu memiliki keajaiban, dan bertahan enam bulan, suatu hari barangkali akan ada orang lewat dan menemukannya, mengetahui keindahannya. Seperti A.S. Byatt menemukan The Blue Fox setelah berbulan-bulan. Intinya, sebuah novel tak bisa dibilang buruk hanya karena tak ada yang membicarakannya. Kualitasnya telah “ada”, seperti mawar indah di hutan; tapi sekaligus “tak ada” sampai ada konfirmasi atasnya. Tentu saja ada kemungkinan lain: ada orang lewat melihat bunga mawar itu, tapi ia buta atau tak mengenal konsep indah, maka mawar itu pun tetap tak ditemukan dan terkonfirmasi. Jadi, mungkin saja selama enam bulan itu, The Blue Fox ada yang baca, tapi mereka tak menyadari kualitasnya. Lebih sial lagi: ada yang baca, tahu kualitasnya, tapi tak mau mengatakannya (bisa karena ia tak ingin orang lain tahu). Parabel ini memang aneh, tapi setidaknya bisa dipakai untuk menghibur diri: jika karyamu tak dianggap selama bertahun-tahun, barangkali suatu hari ada yang menemukan dan mengetahui kualitasnya. Kita tanpa sadar sering berpikir dengan cara seperti itu. Tapi tunggu, parabel ini juga bisa diceritakan dengan cara sebaliknya: ada bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira; lalu pemilik lahan yang berharap orang datang ke hutannya bercerita ke orang-orang, “Ada bunga indah mekar di lahanku.” Tentu saja ia penipu, tapi ia bisa menciptakan ilusi “ada”, sampai orang mengkonfirmasi kenyataan sebaliknya. Dan yang lebih sering terjadi, kita memiliki bungai bangkai layu yang buruk, dan orang-orang telah melihat bahwa itu memang buruk, tapi kita tetap yakin suatu hari akan ada yang melihatnya dan menganggapnya mawar yang indah. Parabel yang aneh. Saya tak perlu belajar filsafat untuk mengetahui itu berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Tapi menyangkut Sjón, saya sarankan kalian membacanya. Saat ini saya sedang membaca novelnya yang lain, From the Mouth of the Whale. Seperti orang Islandia umumnya, ia sangat mencintai laut. Negeri kita dikelilingi laut, tapi nyaris tak ada penulis kita bicara laut.

Standard

jplus_160815

Here is my glimpse view of Indonesian greatest writers, and some talented writers of our new generation (from JPlus, 16 August 2015).

Cool Stuff, In English

Indonesian Greatest Writers and Some Talented New Generations

Image
Journal

Kita Ingin Menceritakan Kisah Orang Lain, Pada Akhirnya Kita Menceritakan Diri Sendiri

Pada awalnya novel ini seperti novel lainnya: bagian pertama mengisahkan persahabatan seorang bocah dengan seorang anak perempuan yang sedikit lebih tua, diawali oleh sebuah gempa yang membuat orang-orang berhamburan keluar rumah. Si anak perempuan dikisahkan sebagai keponakan lelaki misterius bernama Raúl, yang merupakan tetangga si bocah. Persahabatan itu membawa mereka ke satu kesepakatan: si bocah akan memata-matai kehidupan Raúl dan melaporkannya ke si anak perempuan. Memasuki bagian kedua, saya segera sadar novel ini tidak sebagaimana novel pada umumnya. Setidaknya tidak terlalu umum. Bagian kedua menceritakan si aku, seorang penulis yang sedang berjuang menyelesaikan novelnya (novel kesekian), serta hubungannya dengan Eme, mantannya. Seperti kebanyakan novelis, ia harus berjuang menyelesaikan bab pertama novelnya, mengedit, menghapus, menulis ulang, dan satu-satunya harapan adalah Eme mau membacanya. Jika Eme suka dengan apa yang ia tulis, setidaknya ia punya harapan untuk melanjutkan. Eme mencari-cari dalih untuk tidak membacanya. Satu hal yang sangat jelas, bagian awal novel yang sedang ditulis si penulis ini adalah bagian awal novel yang baru saja saya baca: tentang persahabatan si bocah dengan anak perempuan selepas gempa. Tentu saja awalnya saya menganggap ini sejenis kegenitan, hal konyol yang sering menghinggapi generasi saya. Saya merasa berhak menyebut penulis novel ini sebagai “generasi saya”, karena kebetulan ia juga lahir di tahun 1975, meskipun tentu saja dalam kandungan tradisi yang jauh berbeda: Alejandro Zambra lahir di Santiago, Chile, ketika negeri itu masih dalam kekuasaan Allende, sebelum jatuh ke tangan Pinochet. Judul novelnya Ways of Going Home, jika tak salah merupakan novel ketiganya. Ia salah satu dari 39 penulis berumur di bawah 40 dalam daftar yang disebut sebagai Bogotá39, sebuah inisiatif untuk menemukan para penulis muda terbaik dari Amerika Latin. Sebagian besar nama-nama itu belum saya kenali karyanya, kecuali dua: Andrés Neuman (Argentina) dan Juan Gabriel Vásquez (Kolombia). Zambra merupakan nama ketiga dari daftar itu yang karyanya saya baca. Bogota39 kemudian melahirkan Beirut39 (untuk kesusastraan Arab) dan Africa39 (untuk kesusastraan Afrika). Saya sendiri punya sedikit obsesi tentang umur 40: Gabriel García Márquez menerbitkan Cien anos de soledad di umur 40, Pramoedya Ananta Toer dianggap “berbahaya” dan ditangkap sebelum dibuang ke Buru pada umur 40. Saya anggap itu memang umur istimewa untuk kesusastraan. Saya pernah mengusulkan agar lomba-lomba kesusastraan dikhususkan saja untuk para penulis di bawah umur 40, dan uang negara (jika ada) dipergunakan sebagian besar untuk mengirim para penulis di bawah umur 40 ke berbagai festival sastra di dunia. Tanggapan? Banyak yang jengkel kepada saya dengan alasan, “Mutu kesusastraan tak bisa diukur dengan umur.” Baiklah. Lupakan. Kembali ke Zambra. Sebagai penulis saya rasa ia berbagi banyak pengalaman dengan sebagian besar kita di sini: tidak mengalami atau masih terlalu kecil untuk melihat seorang diktator despotis naik ke puncak kekuasaan. Ia dengan satu atau lain kata, dibesarkan oleh Pinochet. Tak jauh berbeda dari saya dan para penulis seumuran saya: kami tak melihat bagaimana ratusan ribu orang dibunuh untuk melapangkan jalan bagi Soeharto naik ke kuasaan, malah kami menikmati pertumbuhan ekonomi dan pendidikan yang relatif baik dan murah di bawah kekuasaannya. Tapi ketika saya melihat stiker di bak truk dengan foto sang tiran serta kata-kata, “Piye, Dab, enak zamanku, toh?” (Bagaimana kabarmu, Sobat, lebih enak zamanku, kan?), kepala saya mendidih dan marah, meskipun saya masih bisa menerimanya sebagai sejenis ejekan penuh humor. Si penulis di novel ini, juga marah ketika ayahnya berkata, “Pinochet seorang diktator, ia membunuh banyak orang, tapi setidaknya di masa itu ada keteraturan.” Ia marah, barangkali karena meskipun bisa menikmati keteraturan, ekonomi dan pendidikan, ia menikmati itu semua di atas pembantaian manusia-manusia lain. Kisah tentang penguasa tiran, barangkali merupakan kisah para korban kekejiannya. Tapi novel ini mengingatkan: kisah itu pada dasarnya merupakan kisah semua orang. Bahkan orang yang diam, yang tak berpolitik, pada dasarnya telah memberi andil besar dengan membiarkan kekejaman kemanusian terjadi di depan matanya. Novel ini mencoba menceritakan kisah sebuah keluarga (si anak perempuan) yang harus tercerai-berai oleh kekuasaan Pinochet, tapi akhirnya ia menceritakan kisah keluarganya sendiri (orang tua si penulis, yang memilih diam dan apolitis dan membiarkan semua itu terjadi), sebagaimana dikatakan si penulis, “Meskipun kita barangkali ingin menceritakan kisah orang lain, pada akhirnya kita selalu menceritakan kisah tentang diri sendiri.”

Standard
Journal

Günter Grass, Obituari

Saya tak ingat kapan pertama kali membaca The Tin Drum. Buku itu ada di rak buku saya, ada coretan-coretan saya di dalamnya. Tapi saat ini saya sedang tak mungkin untuk mengambilnya dari rak. Saya sedang di lobi sebuah hotel di daerah Kensington, London, jam 3 dinihari. Saya terbiasa bangun sangat pagi untuk menulis, untuk mengganti kebiasaan buruk lama “begadang” (yakni tidur menjelang dinihari), dan hanya beberapa jam sebelumnya mendengar kabar meninggalnya Günter Grass (usia 87), sang penulis. Bertahun-tahun lalu ketika mengunjungi Pramoedya Ananta Toer di rumahnya di Utan Kayu, Pram pernah memperlihatkan kepada saya satu lukisan di dindingnya. “Grass yang bikin,” kata Pram. Itu memang lukisan Grass, dihadiahkan kepada Pram ketika kedua penulis bertemu di Jerman. Ada dua hal setidaknya yang sering membuat saya iri kepada Grass. Yang pertama, luasnya keterampilan seni dia. Selain menulis novel, puisi, drama, dia juga membuat patung, karya grafis dan lukisan. Di kesusastraan, saya bahkan tak bisa menulis puisi! Dan di bidang seni rupa, ingin sekali saya punya studio kecil seperti miliknya untuk keisengan saya dengan grafis. Saya selalu tergila-gila dengan cetak saring dan cukil kayu, tapi tak pernah punya waktu (alasan para pemalas) untuk benar-benar melakukannya. Sumber keirian kedua, tentu saja watak kesusastraannya. Meskipun bisa dibilang saya tak memiliki pengetahuan melimpah mengenai kesusastraan Jerman, tapi jika membandingkannya dengan beberapa penulis Jerman lain, ada hal yang unik dalam dirinya. Saya sering membayangkan kesusastraan Jerman hampir mirip dengan filsafat Jerman: analitik, kontemplatif, memiliki skala yang “grande”. Membayangkan karya-karya Thomas Mann (The Magic Mountain), Robert Musil (The Man Without Qualities), Hermann Broch (Sleepwalker), sering sama “menakutkannya” dengan menghadapi kitab-kitab filsafat Kant, Hegel, dan kemudian Marx! Seperti saya menemukan sejenis keriangan dalam filsafat Jerman melalui Nietzsche, saya merasakan hal yang sama melalui novel-novel Grass dalam kesusastraan Jerman. Jujur, saya lebih sering membayangkan karya-karya Grass berada dalam tradisi Spanyol atau Inggris daripada Jerman. Pertama kali membaca The Tin Drum, kita sadar itu merupakan novel piqaresque, satu tradisi yang banyak berkembang di Spanyol (Don Quixote), Inggris (lihat beberapa karya Dickens), dan bahkan Amerika (Huckleberry Finn). Yang cerdas dari kisah Oskar Matzerath adalah, Grass berhasil mengelola kecenderungan picaresque yang seringkali memiliki watak kritis terhadap persoalan sosial, menjadi kendaraan untuk memotret sebuah zaman: terutama cikal-bakal dan memuncaknya kekuasaan Nazi. Setelah membaca beberapa karyanya yang lain, terutama yang paling saya suka The Flounder, kita juga segera menemukan kecenderungannya yang lain, yang membuat watak picaresque Grass semakin unik: fabel. Ya, selain meminjam alusi-alusi dari fabel, karya-karyanya juga memang sering dalam tingkat tertentu merupakan fabel. Tradisi picaresque dan fabel menciptakan dalam karya-karyanya sesuatu yang riang (meksipun humornya lebih seram gelap), kekanak-kanakan, ringan (meskipun hampir selalu dalam skala epik). Jarang saya melihat kualitas-kualitas semacam itu dalam karya penulis-penulis lain. Membaca Midnight’s Children Salman Rushdie barangkali bisa sedikit mengingatkan kita ke arah sana, meskipun Rushdie lebih sering disebut-sebut sebagai penulis realisme magis (label yang juga sebenarnya kerap ditimpakan juga kepada Grass), label yang dengan gampang sering diberikan orang asal menemukan elemen-elemen magis di dalam sebuah karya (jeritan si cebol Oskar bisa membuat kaca-kaca pecah berhamburan). Tapi bukankah fabel sejak awal sering muncul juga dengan keajaiban-keajaibannya? Grass saya rasa lebih banyak berutang kepada fabel, yang di tangannya, karya-karya itu menjadi fabel-fabel politik yang unik, dan telah memberi warna kesusastraan dunia di setengah terakhir abad kedua puluh. Oskar, mari tabuh beduk kecilmu untuk kepergiannya!

Standard