Journal

Misreadings, Umberto Eco

Di satu malam di satu lorong kota Bologna, seorang profesor dihadang seseorang yang tanpa basa-basi langsung memukulnya jatuh, menendangnya, dan ketika mencoba bangkit, dipukul lagi. Setelah dibawa ke rumah sakit oleh dua biarawati yang kebetulan lewat dan melihatnya tergeletak, diketahui profesor tersebut adalah Umberto Eco. Si penyerang baru diketahui beberapa hari kemudian setelah berhasil ditangkap oleh polisi. Ia seorang penulis muda bernama Dante Alighieri. Rupanya Dante kesal atas komentar sang profesor, yang diperkerjakan oleh penerbit untuk menyaring naskah dan membuat ulasan ringkas, atas karyanya yang berjudul The Divine Comedy. Sang profesor antara lain bilang, “Alighieri merupakan tipikal penulis sambilan.” Kemudian, meskipun mengakui kualitas teknisnya, ia menyarankan penerbit untuk menolak buku tersebut, sebab menurutnya buku ini terlalu posmo, ditulis dengan dialek Florence yang berat. Kalau mau menerbitkannya secara luas, harus menerbitkan versi dialek Milan dan lainnya. “Itu pekerjaan penerbit kecil.” Profesor Eco memang sering menulis di Il Verri, kadang ulasan ringkas atas karya yang akan atau telah terbit, kadang esai tentang beberapa isu, tapi gayanya yang nyeleneh dan seringkali kasar, tak urung memancing emosi banyak orang. Masih untung jika hanya mendapat sanggahan yang sama kerasnya di majalah sastra, seperti sudah ditulis di muka, kadang ia memperoleh serangan fisik. Kasus pemukulan oleh Dante jelas bukan yang pertama. Sebelumnya, sekelompok (atau seseorang?) yang menamakan dirinya sebagai Anonymous juga menghadangnya, tepat di depan apartemennya ketika ia baru pulang dari kampus agak larut malam. Polisi tak pernah berhasil mengusut siapa Anonymous ini, mereka hanya curiga, “Mungkin sekelompok hacker internet yang berusaha cari perhatian dengan cita-cita meruntuhkan tatanan lama yang telah bobrok”. Tapi tak ada klaim apa pun di internet oleh Anonymous ini mengenai penyerangan atas Profesor Eco. Apa yang terjadi, sepenuhnya bersumber dari satu sisi, sang profesor sendiri. Semuanya bermula dari ulasannya mengenai buku The Bible, yang menurut profesor ditulis oleh Anonymous. Sebenarnya profesor memuji naskah tersebut dengan bilang, “Beberapa ratus halaman pertama benar-benar mencengkeramku. Penuh aksi, memiliki segala yang diinginkan pembaca kiwari dalam sebuah cerita yang baik. Ada seks (banyak, termasuk perzinahan, sodomi, inses), juga pembunuhan, perang, pembantaian, dan lain sebagainya.” Tapi kemudian ia curiga buku tersebut sebenarnya antologi banyak penulis, terlalu banyak puisi, dan ungkapan-ungkapan yang membosankan. Segalanya ada. “Buku ini seperti hendak menyenangkan semua orang, tapi akhirnya tak membuat senang siapa pun.” Bahkan sang profesor menyarankan, buku itu harus dipenggal, terbit bagian depannya saja. Cukup lima bab. Selain itu harus ganti judul. Anonymous menyerangnya dengan kesal, mengata-ngatainya tak tahu apa-apa soal sastra dan, bahwa buku tersebut memiliki nilai jauh melebihi sekadar cerita. “Kamu salah baca,” kata Anonymous. Profesor Eco, kemudian tak yakin apakah yang menyerangnya satu orang atau beberapa orang. Ia ditemukan pagi hari dalam keadaan babak belur dan tak sadarkan diri. Di luar itu, ia juga pernah membuat kesal sekelompok sutradara film, karena membocorkan resep mereka dalam membuat cerita. Resep yang disimpan dalam lemari terkunci di studio, tapi entah bagaimana Profesor Eco berhasil mendapatkannya. Ia diadukan ke pengadilan oleh Antonioni, Jean-Luc Godard, Luchino Visconti dan beberapa yang lain dengan tuduhan, “Membocorkan rahasia hak cipta pola menulis cerita film”. Ia kalah di pengadilan dan harus membayar denda yang membuatnya nyaris bangkrut. Untunglah tak lama selepas itu, novel sang profesor, The Name of the Rose, meledak tak hanya di Italia tapi di seluruh dunia, membuat kondisi finansialnya membaik, bahkan melebihi sebelumnya. Rupanya kasus pengadilan itu tak membuatnya kapok, ia terus menulis ulasan dan esai di majalah sastra Il Verri, dan terus membuat masalah dengan banyak orang. Ia mengomentari Justine karya Sade sebagai terlalu banyak filosofi. “Pembaca sekarang mau lebih banyak seks, seks, dan seks.” The Trial, karya seorang bujangan bernama Franz Kafka dikatainya sebagai “seolah ditulis di bawah rezim otoriter” dan harus diedit, sementara Finnegans Wake karya James Joyce dianggapnya tidak jelas ditulis dalam bahasa apa, yang jelas bukan bahasa Inggris. Tapi kasus yang mungkin merusak reputasinya adalah ketika Porfesor Eco menerbitkan cerita (masih di majalah yang sama) berjudul “Granita”. Banyak orang langsung menuduhnya melakukan plagiat atas novel berjudul Lolita. Memang tak sama persis. Di cerita yang ditulisnya, Eco mengganti si gadis kecil Lolita dengan seorang nenek bernama Granita. Ya, ini tentang seorang lelaki yang tergila-gila kepada perempuan yang sudah tua. Meskipun ada perbedaan tersebut, orang tetap menganggapnya melakukan plagiat. Coba lihat pembukaan ceritanya: “Granita. Bunga masa remajaku, derita malam-malamku. Akankah aku melihatmu lagi? Granita. Granita. Gran-i-ta.” Bahkan akhirnya Vladimir Nabokov menyeretnya ke pengadilan. Ini pengadilan kedua untuk Profesor Eco. Kali ini, dengan pembelaan yang penuh semangat dan melibatkan begitu banyak referensi, Eco berhasil meyakinkan hakim tentang perbedaan plagiat dan parodi. Pengadilan membebaskan Eco dalam kasus tersebut. Meskipun begitu, banyak mahasiswanya yang dipenuhi jiwa-jiwa muda yang membara, tetap merasa kecewa. Mereka mulai mempertanyakan reputasinya sebagai profesor, dan berombongan meninggalkan kuliah-kuliah semiotiknya, beralih ke kuliah teologi yang menurut mereka lebih memberi kepastian mengenai bagaimana menafsir segala sesuatu. Dengan berbagai kasus tersebut (tidak semuanya ditulis di sini), Profesor Eco akhirnya berhenti menulis di Il Verri. Tapi ketika namanya sebagai novelis maupun profesor semiotik semakin moncer, penerbit berniat untuk menerbitkan tulisan-tulisan tersebut dalam sejilid buku. Meski awalnya ragu, akhirnya Profesor Eco setuju. Tapi untuk menghindari masalah-masalah lebih lanjut, terutama serangan mematikan di jalanan dari penulis atau orang yang kecewa, dan teringat kepada Anonymous, Profesor Eco memberi judul buku tersebut sebagai Misreadings.

Standard
Esai

Membayangkan Kembali (Kesusastraan) Indonesia dan Dunia

Jika Anda pembaca novel-novel atau cerita-cerita John Steinbeck, Anda mungkin akan mulai membayangkan seperti apa California di masanya, lengkap dengan lanskap pantai yang dipenuhi kapal-kapal nelayan dan pabrik pengalengan, para gelandangan, para pekerja, kebun anggur, atau orang-orang sederhana yang memelihara bunga krisan di depan rumahnya. Demikian juga jika Anda akrab dengan karya-karya Pramoedya, Anda mulai membangun imajinasi tentang Blora dengan sungai Lusi yang mengalir di sana.

Di novel Never Any End to Paris karya Enrique Vila-Matas, seorang anak muda yang merupakan seorang novelis pemula (yang juga narator dengan nama sama seperti penulis novel), pindah ke Paris setelah membaca A Moveable Feast. Ia tergila-gila dengan Paris dan kehidupan kesusastraannya, sebagaimana yang dibayangkannya setelah membaca karya Hemingway itu. Paris mungkin sangat beruntung, begitu banyak penulis dan karya sastra telah membangun bayangan orang tentangnya. Citra sebagai kota romantik penulis dibangun juga oleh kehidupan para penulisnya, dari mulai Victor Hugo hingga cafe-cafe tempat Simone de Beauvoir dan Jean Paul Sartre nongkrong, atau “generasi yang hilang” macam kawan-kawan Hemingway melintasi jalan-jalannya. Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali ke Paris, satu tempat yang saya sempatkan untuk berkunjung adalah katedral Notre-Dame, masuk ke dalamnya dan menyalakan lilin. Tentu saja karena saya ingin mengkonfirmasi bayangan saya tentang katedral itu setelah membaca The Hunchback of Notre-Dame.

Belum lama saya membaca artikel di The Independent tentang kota-kota sastra yang disarankan untuk dikunjungi. Misalnya kita bisa merasakan suasana dan lanskap serta bertemu manusia-manusia Meksiko sebagaimana kita baca di The Savage Detective Roberto Bolaño. Tentu saja artikel itu juga menyarankan untuk mengunjungi kota Dublin dan meskipun jarak waktu yang membentang, kita mungkin akan membandingkannya dengan Dubliners karya James Joyce. Saya tak tahu, apakah ada orang Indonesia yang iseng mengunjungi Bloomington hanya karena membaca kumpulan cerpen Budi Darma, Orang-orang Bloomington.

Barangkali dengan kesadaran semacam ini pula, misalnya, Orham Pamuk terus-menerus menceritakan kota tempatnya tinggal hampir di sepanjang hidupnya (konon di lingkungan yang juga sama), Istanbul. Di mulai dari Istanbul lama, di masa kesultanan, melalui The White Castle dan My Name is Red, Istanbul yang mengalami beragam pergolakan di masa modern melalui A Strangeness in My Mind dan The Museum of Innocence, hingga akhirnya ia menerbitkan memoar tentang kota itu sebagaimana ia mengingatnya, melalui Istanbul. Membaca karya-karyanya, hampir mustahil kita tak tersedot dan mulai akrab dengan kota itu, bahkan tanpa mengunjunginya.

***

Tak hanya kepada kota-kota, para penulis dan karya sastra menciptakan aneka bayangan di kepala kita. Mereka bisa membawa kita ke mana saja, tentu saja, melintasi tak hanya batas-batas wilayah, tapi juga waktu, bahkan menembus batas-batas dunia nyata dan imajiner.

Ketika saya membaca untuk pertama kali The Tin Drum karya Günter Grass, saya tak hanya membayangkan seperti apa Jerman di masa sebelum Perang Dunia II hingga masa setelahnya, tapi juga mengikuti perjalanan Oskar, sang narator, untuk melihat “kehidupan Jerman”. Kita mungkin tak akan bisa memahami sepenuhnya gejolak sosial atau politik sebuah negara hanya melalui sebuah novel, tapi bagaimanapun, sebuah novel mungkin saja membentuk bayangan kita tentang itu, sekecil apa pun.

Hal yang sama saya kira bisa terjadi dengan Midnight’s Children karya Salman Rushdie. Tentu saja konyol jika Anda berharap mengerti sejarah India, kebudayaan mereka, gejolak kehidupan sosial dan politik pasca kemerdekaan mereka, hanya dengan membaca novel itu. Anda bahkan bisa membaca novel tersebut tanpa maksud-maksud demikian. Tapi sekali Anda membacanya, selalu ada kemungkinan apa yang dikatakan oleh Salman Rushdie menelusup ke dalam pikiran Anda, dan Anda tanpa sadar mulai membayangkan India dan orang-orang India dengan kehidupan sosial dan politiknya.

Bahkan meskipun diceritakan di kota imajiner, One Hundred Years of Solitude dan karya-karya Gabriel García Márquez yang lain, bisa memberi kita bayangan pembanding tentang Kolombia, selain soal perang antar gang kartel narkotika yang mungkin kita akrabi melalui berita, seri TV, maupun permainan komputer. Melalui karya-karya William Faulkner, kita membangun imajinasi tentang selatan di Amerika, meskipun bayangan itu mungkin juga berbaur dengan apa-apa yang ditulis oleh Eudora Welty.

Selama beberapa lama, misalnya, bayangan saya tentang Jepang dan orang-orangnya hanya dibangun oleh bacaan saya atas Yasunari Kawabata. Saya membayangkan kehidupan yang lamban, perempuan-perempuan yang cantik, ritual-ritual kecil yang jelimet. Bayangan itu rusak setelah membaca Haruki Murakami, meskipun tidak lenyap begitu saja. Mereka membaur, bersitegang dan menciptakan bayangan baru saya tentang Jepang dan orang-orangnya dalam sejenis ekuilibrium. Dan bayangan saya terus diperbaharui setelah membaca Ryūnosuke Akutagawa, Kobo Abe, Yukio Mishima, bahkan setelah melihat anime, film-film Akira Kurosawa dan tentu saja membaca manga.

Sial bagi Rusia. Bayangan saya tentang negeri itu berhenti di apa-apa yang saya baca dari Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky, Anton Chekhov, atau kalaupun lebih muda dari mereka, juga berhenti di Maxim Gorki, Nikolai Leskov, atau Isaac Babel. Saya nyaris tak membaca karya-karya kontemporer mereka lagi, sehingga bayangan saya tentang Rusia mungkin hanya dibangun oleh berita-berita tentang Vladimir Putin, sang presiden.

Dan apa yang bisa dibayangkan orang di negeri asing yang jauh, katakanlah di Eropa Timur, di pedalaman Afrika, atau di ujung selatan Amerika Latin, tentang Indonesia? Mungkin mereka belum pernah membaca karya sastra Indonesia, dan tak satu pun penulis kita mereka kenal. Tidak juga film, musik, komik kita mereka kenal. Apa yang bisa mereka bayangkan? Mungkin sekilas mereka membaca tentang bom bunuh diri beberapa tahun lalu di satu berita kecil. Mungkin mereka melihat foto tentang dua anak muda yang dicambuk di muka umum di Aceh. Atau gembong narkoba yang dihukum mati di Nusa Kambangan. Maka mereka akan membayangkan seperti itulah Indonesia.

***

Sekarang, izinkan saya bicara tentang sesuatu yang lebih praktis dan mungkin politis. Kita tentu akrab dengan pertanyaan, “Apakah karya sastra bisa mengubah dunia?” Jika maksud pertanyaan itu adalah mengubah dunia secara langsung, saya sangsi. Jika ada karya sastra yang sanggup melakukannya, mungkin satu dari sejuta judul, atau lebih. Tapi saya percaya, karya sastra mampu mengubah cara pandang orang (pembacanya) tentang dunia, dan dari sanalah, perlahan-lahan, kita bisa mengharap orang tersebut (para pembaca) beraksi untuk mengubah dunia. Saya tak ingin melebih-lebihkan peran kesusastraan. Karya-karya seni dan intelektual lain, juga bekerja dengan cara yang kurang-lebih sama: film, musik, komik, seni pertunjukan, lukisan, dan lain sebagainya.

Saya rasa kita semua sadar, kita bukan negeri populer di dunia. Dalam berbagai gurauan, Bali lebih banyak dikenal daripada Indonesia, dan mereka tak tahu bahwa pulau itu ada di sini (dan gurauan ini sungguh nyata). Bahkan kunjungan wisatawan asing kita kalah telak oleh negara-negara tetangga, yang jauh lebih kecil, seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand. Tentu saja saya tak sedang membayangkan karya sastra Indonesia sebagai mesin yang mendatangkan banyak wisatawan. Ini sesederhana untuk menunjukkan betapa Indonesia dalam titik tertentu menjadi semacam “halaman kosong” di peta pikiran banyak orang.

Memang banyak cara untuk memperkenalkan sebuah bangsa, sebuah negara. Saya pernah melihat foto iklan kunjungan wisata ke Indonesia di bus-bus yang berkeliaran di London, misalnya, dan saya yakin itu merupakan salah satu upaya pemerintah memperkenalkan Indonesia ke penduduk London. Iklan sejenis bisa juga ditampilkan di jaringan televisi di negara-negara yang dituju, atau di laman-laman internet, selama pemerintah memiliki uang banyak untuk membayarnya.

Tak hanya iklan-iklan jualan, berbagai misi kebudayaan juga dilakukan, yang pada dasarnya dalam operasional pemerintah tak jauh berbeda dengan iklan juga. Dalam kesusastraan dan perbukuan, kita tentu ingat bagaimana pemerintah mengirim berbagai delegasi penulis dan buku ke berbagai pameran buku internasional, di Frankfurt, London, Bologna, Seoul, dan Shanghai. Tak hanya sampai di situ, pemerintah juga ikut mendanai penerjemahan berbagai buku, agar lebih mudah terakses oleh orang-orang asing.

Sebagaimana iklan, upaya-upaya ini mungkin akan berhasil jika kita terus-menerus melakukan gempuran. Sialnya, kita bukan satu-satunya negara yang melakukan upaya tersebut. Negara dan bangsa lain juga melakukannya, bahkan jauh sebelum kita, dan saya yakin dengan metode dan upaya yang jauh lebih kaya dan beragam.

Lagipula karya sastra sebaiknya memang tak diletakkan seperti sebuah iklan (meskipun bisa diperlakukan begitu), sebagaimana sebaiknya tak diperlakukan sebagai kartu pos (meskipun bisa pula berperan demikian). Hal terbaik dari sebuah karya sastra adalah, pembaca bisa datang kepadanya, menjamahnya, masuk ke dalamnya secara sukarela, dan menyerahkan dirinya ke apa pun yang ditulis si penulis. Ia seharusnya tidak memaksa seperti iklan, sehingga apa pun yang ada di sana bisa diterima secara sukarela. Ia seharusnya tidak cuma menjadi memento atau suvenir, seperti kartu pos, tapi merangsang si pembaca untuk masuk dan keluar dengan sesuatu yang baru dari sana.

Upaya memperkenalkan kesusastraan Indonesia, untuk ikut membangun bayangan orang tentang Indonesia (bersama dengan upaya-upaya lain), memang patut dilakukan. Tapi menciptakan situasi di mana orang secara sukarela membaca karya sastra Indonesia, dan membiarkan berbagai gagasan tentang Indonesia dalam pikiran mereka, saya kira jauh lebih penting lagi.

***

Problemnya, dunia jelas bukan sesuatu yang homogen, dan industri buku dunia yang beraneka ragam ini juga kerap kali berjalan dengan logika bisnis mereka sendiri. Apa yang kita bayangkan sebagai “sastra dunia”, misalnya sebagai sekumpulan karya-karya sastra terpilih secara kualitas dari berbagai negeri, lebih sering merupakan ilusi daripada kenyataan. Lebih sering mereka tak terlalu peduli, misalnya lagi, dengan karya sastra terbaik tahun ini dari negeri anu, sebagaimana kita juga tak terlalu peduli dan tak benar-benar ingin membaca karya sastra terbaik tahun ini dari Mesir, dari Lithuania, dari Filipina, atau negeri-negeri lain yang kita tak begitu kenal. Lebih sering terjadi ukuran-ukuran kualitas setiap bangsa juga berbeda-beda, tapi yang terutama, tentu saja ukuran-ukuran tentang apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka ingin baca.

Di titik ini, ketika kita bicara tentang kesukarelaan orang membaca sebuah karya sastra, kita juga bicara tentang problematika dan harapan seorang pembaca, atau lebih luas sebuah komunitas pembaca (sebuah bangsa). Sebuah novel bisa saja dianggap hebat secara kualitas estetik di Indonesia, juga memiliki relevansi sosial-politik secara tema, tapi apakah kualitas estetik dan relevansi tema itu dibutuhkan oleh pembaca Amerika, pembaca Nigeria, pembaca Jepang, atau pembaca Prancis? Percayalah, lebih sering itu tak terjadi. Bahkan sesama negara yang kesusastraan dan ekonominya sudah berkembang pesat pun (dengan tradisi yang bersinggungan) seringkali tak terjadi. Bayangkan, sebagai contoh, ketika penulis Prancis seperti J. M. G. Le Clézio dan Patrick Modiano memperoleh Nobel Kesusastraan, buku-bukunya masih jarang dan relatif tak dikenal di Amerika, sebab mungkin pembaca Amerika tak terlalu ingin membacanya.

Anomali-anomali kadang terjadi juga. Di masa-masa awal karirnya, William Faulkner bukanlah penulis yang dibaca di negerinya sendiri, Amerika. Jangankan di pembaca umum, bahkan di antara para kritikus pun bisa dibilang “diabaikan”. Diperkenalkan salah satunya oleh Sartre, ia menjadi populer di Prancis, sehingga orang Amerika pun mulai membacanya. Itu pun bahkan belum menyentuh para penjaga otoritas kualitas (jika istilah ini tepat) kesusastraan di sana. Setelah ia memperoleh Nobel Kesusastraan tahun 1949, barulah para kritikus dan juri “lokal” yang lama mengabaikannya memberi ia Pulitzer (1955, 1963), dan National Book Award (1951, 1955).

Hal-hal seperti itu bisa terjadi, untuk memperlihatkan apa yang disebut “sastra dunia” secara kualitas lebih sering ilusi, dan secara industri seringkali tak tertebak. Tapi pada saat yang sama, membaca karya-karya dari berbagai negeri yang terbit secara internasional (untuk sedikit menghindari diri dari menyebut mereka sebagai “sastra dunia”), bisa membawa kita ke berbagai keresahan dan harapan yang melanda dunia, melintasi batas-batas teritori wilayah, bahasa dan bahkan waktu.

Ketika saya membaca Everything I Don’t Remember karya penulis Swedia, Jonas Hassen Khemiri, saya menyadari keresahannya tentang isu-isu imigran, ras, dan politik identitas. Saya bisa mengerti bagaimana novel ini bisa diterima di beberapa negara lain, mengingat mereka juga menghadapi problem yang sama. Hal yang sama bisa dibaca untuk melihat kepopuleran kembali novel karya Margaret Atwood, The Handmaid’s Tale, dan ketakutan orang tentang kemungkinan kembalinya otoritarianisme, tak hanya di Amerika tapi juga di negara-negara lain.

Itu hanya sebagian contoh saja. Seringkali kebutuhannya tak melulu soal isu sosial-politik, tapi tentu juga estetik. Kemunculan penulis-penulis semacam Cesar Aira, Enrique Vila-Matas, juga Laszlo Krasznahorkai, saya kira juga menjawab kebutuhan pembaca akan terobosan-terobosan estetik yang baru.

Pertanyaannya, sejauh mana kita berada dalam arus kegelisahan dan harapan semacam ini? Sejauh mana kita menjadi bagian dari dunia dalam hal berbagi persoalan? Apakah keresahan-keresahan ini, secara sosial-politik maupun estetik, sudah tercermin dalam karya-karya kita, di kesusastraan Indonesia? Atau, jangankan kita tahu apakah kita berada dalam denyut yang sama dengan problem dunia, jangan-jangan kita bahkan tak tahu apa yang menjadi problem kita sendiri di Indonesia? Kita tak tahu apa masalah kita dalam berbangsa, dalam berkomunitas sebagai Indonesia? Kita juga mungkin tak tahu problem-problem estetik kesusastraan Indonesia sendiri?

Atau jika kita sudah (merasa tahu), apakah hal itu sudah tampak dalam karya-karya yang kita hasilkan? Seberapa banyak, secara kualitas maupun kuantitas? Atau malah kita justru menjadi bagian dari problem ini, dengan cara yang tanpa sadar telah kita pilih, dengan bersikap tak peduli?

***

Melalui kesusastraan, sudah jelas kita menciptakan bayangan tentang dunia, sebagaimana jika itu kesusastraan Indonesia, ia juga menciptakan bayangan tentang Indonesia. Ia bisa menciptakan bayangan kita tentang sebuah kota, sebagaimana telah saya tunjukan di muka. Juga tentang perjalanan sebuah bangsa. Jauh lebih penting, saya kira, kesusastraan bisa menciptakan bayangan tentang seperti apa dunia dan Indonesia yang kita inginkan, hari ini maupun yang akan datang.

Novel seperti 1984 dan Animal Farm jelas lahir dari sutuasi kecemasan dan pada saat yang sama menguarkan impian tentang dunia. Ketakutan akan nafsu kekuasaan yang mendekam di balik aksi revolusi menghasilkan Animal Farm dan kecemasan akan masa depan di mana kehidupan manusia dikontrol oleh rezim totaliter, menghasilkan 1984. Meskipun novel ini bersifat fabel dan yang lainnya ditulis dengan gaya distopian, pada saat yang sama bukankah itu juga menyiratkan tentang dunia yang diharapkan? Dunia di mana kekuasaan memiliki batas-batas, demikian juga hubungan negara dan warga merupakan hubungan yang saling menghormati, di mana kebebasan dan hak pribadi dijamin.

Di sisi lain, Ulysses James Joyce bisa jadi menghentak mengenai kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dicapai oleh novel, dan bahasa yang dipergunakannya, bahkan sampai hari ini. Juga Pedro Paramo dari Juan Rulfo, tak semata-mata bersama novel-novel lain membuka kegelapan kawasan Amerika Latin, tapi juga membuka jalan bagi sebuah kecenderungan kesusastraan, yang antara lain menghasilkan booming kesusastraan Amerika Latin yang pengaruhnya menyebar ke mana-mana. Upaya-upaya menerobos problem-problem estetik kesusastraan, jelas sama pentingnya dengan problem-problem praktis yang dihadapi dunia.

Di kehidupan nyata, jelas Indonesia merupakan bagian dari dunia, dan dengan itu juga jelas menyumbang atau mewarisi problem-problem dunia. Itu sebenarnya sesuatu yang tak terelakkan. Kolonialisme yang diderita Indonesia, juga merupakan problem negara-negara lain di dunia, baik dari sisi yang mengkoloni maupun yang dikoloni. Dan problem itu jelas tak terisolir satu sama lain. Demikian pula problem-problem turunannya. Problem pascakolonial, revolusi kemerdekaan, kediktatoran militer, bahkan perang dingin, langsung atau tidak langsung dialami sebagian besar negara-negara di dunia.

Apakah problem-problem sosial politik itu juga berhubungan erat dengan problem-problem estetik kesusastraan? Saya bisa memastikan, iya, atau setidaknya, seharusnya begitu. Dalam kesusastraan kita sendiri, saya percaya kelahiran puisi-puisi Chairil Anwar, kebutuhannya akan sebuah bahasa dan ekspresi yang baru, beriringan dengan kebutuhan akan situasi sosial dan politik Indonesia yang juga baru. Dan bukankah Indonesia yang baru ini, adalah buah impian dari penyair semacam dia, tentu berkelindan dengan bayangan-bayangan yang juga muncul dalam karya-karya intelektual para pendiri bangsa ini.

***

Saya ingin melipir sejenak, untuk memperlihatkan bagaiman situasi sosial-politik, atau keputusan-keputusan sosial-politik, juga sanggup (secara terencana maupun tidak) menciptakan ruang estetik yang berbeda, bahkan dalam kesusastraan Indonesia. Kita akan kembali ke masa Soeharto. Bagaimana ia dan tangan-tangan kekusaannya, menciptakan situasi yang relatif kondusif untuk membuatnya berkuasa begitu dalam dan lama? Tentu saja salah satunya melalui strategi kebudayaan, termasuk strategi di bidang kesusastraan.

Kita tahu Soeharto telah membabat sebagian besar musuh-musuh politiknya, tertutama kaum kiri. Jika tidak dibunuh, mereka dikirim ke penjara dan pulau pembuangan, termasuk novelis Pramoedya Ananta Toer. Karya-karya mereka dengan cepat menghilang, diberangus. Ini situasi yang bahkan secara estetik, lawan-lawan politik rezim Soeharto tak memiliki tempat dan secara perlahan mulai menghilang. Dan ini belum cukup.

Saya kira bukanlah sebuah kebetulan jika sejak tahun 70an, masa di mana kekuasaan Soeharto memperoleh momentumnya untuk bertahan semakin lama, kesusastraan Indonesia juga diperkaya dengan lahirnya beragam genre. Saya menyebut kata “diperkaya” untuk melihat satu sisi secara positif, dan harus mengakui bahwa saya menikmati sebagian besar produk-produk kesusastraan ini, terutama karena saya hidup dan tumbuh bersama mereka. Tapi harus juga dilihat bahwa perkembangan yang luar biasa dalam kelahiran genre cerita silat, cerita horor, romansa, bahkan adaptasi pulp fiction, merupakan wajah brutal dari keberhasilan politik Soeharto: membuat kita jauh dari problem-problem sosial maupun politik. Satu generasi yang berjarak dengan problem sosial-politik, tentu saja menyumbang kekuasaan untuk langgeng lebih lama.

Jika kita membaca buku investigasi semacam Who Paid the Piper (karya Frances Stonor Saunders), kita tahu strategi kebudayaan semacam ini tak hanya terjadi di Indonesia. Itu merebak di mana-mana, di Amerila Latin, Asia, Eropa, bahkan Amerika Serikat, di bawah bayang-bayang perang dingin. Strategi kebudayaan Indonesia di masa itu, juga merupakan strategi kebudayaan dunia. Sekali lagi, dalam kehidupan nyata, Indonesia merupakan bagian dari dunia dan menyumbang atau mewarisi masalah maupun harapannya.

Sekarang mari kita bertanya, apa problem-problem Indonesia hari ini? Apakah problem-problem ini menyatu dalam denyut masalah negara-negara lain di dunia? Apakah problem-problem ini juga telah memicu kegelisahan kita terhadap masalah-masalah estetik dalam kesusastraan? Dalam penafsiran kita atas novel, puisi, atau bentuk kesusastraan yang lain. Atau lebih sederhana lagi, apakah problem sosial-politik maupun estetik ini, sudah mewujud dalam sebagian besar karya sastra kita hari ini?

Saya ingin menggarisbawahi beberapa isu penting yang setidaknya menggelisahkan saya akhir-akhir ini, dan mungkin menggelisahkan Anda semua. Kebangkitan politik identitas (salah satunya identitas agama), yang membuat perpisahan yang semakin nyata antara “kita” dan “mereka” tak hanya terjadi di Indonesia, tapi di mana-mana. Demikian juga problem-problem ketercerabutan manusia dari lingkungannya: pengungsi, imigran, maupun pengucilan karena perbedaan. Kita juga masih mewarisi isu-isu lama yang tak kunjung selesai: kesenjangan ekonomi yang semakin lebar, maupun bagaimana kapitalisme global tak hanya merusak lingkungan secara nyata, tapi juga merusak tatanan sosial komunitas-komunitas yang semakin rapuh.

Pertanyaannya kembali, apakah isu-isu ini, yang tak hanya merupakan isu di dunia tapi juga problem kita sehari-hari, telah memperoleh tempat dalam kesusastraan kita? Apakah problem-problem ini telah memicu strategi-strategi baru dalam pendekatan estetik kesusastraan Indonesia?

Sejujurnya, dibandingkan kenyataan bahwa Indonesia sebagai sebuah nama bisa dibilang tidak populer di dunia, dan kesusastraan Indonesia masih terengah-engah untuk memperoleh tempat dalam konstelasi kesusastraan dunia (apa pun definisinya), saya lebih mencemaskan sikap tidak peduli kita terhadap problem-problem dunia yang juga merupakan problem kita juga. Ketidakpedulian yang juga berimbas kepada tumpulnya daya kerja kreatif untuk menemukan strategi-strategi estetik dalam kesusastraan.

Jika kita berharap kesusastraan (setidaknya novel atau puisi) kita dibaca orang, menjadi warga kesusastraan dunia, diterjemahkan dan terbit di mana-mana, barangkali sebaiknya kita menengok sejenak atas karya-karya itu. Apa yang sudah kita tulis di sana? Apa yang membuat kita gelisah dan menuliskannya di sana? Apakah itu sesuatu yang akan membuat seseorang, entah jauh di mana, secara sukarela masuk ke sana, karena ia melihat kegelisahan sosial-politik atau estetik yang sama. Dan ketika ia membacanya, ia tak hanya melihat Indonesia, wajah orang-orang Indonesia, tapi siapa tahu juga ia menemukan dirinya di sana. Sebagaimana mungkin kita menemukan situasi absurd diri kita di novel-novel Franz Kafka, atau situasi-situasi tragis-menggelikan diri kita sebagaimana kita melihatnya di tokoh-tokoh cerpen Etgar Keret.

Jika hari ini kita memaki-maki atas situasi sosial-politik, di obrolan warung kopi maupun di lini masa sosial media, tapi pada saat yang sama kita menjauhi problem ini dalam kesusastraan, saya kuatir justru kita merupakan bagian dari problem. Itu menunjukkan kesusastraan kita tak memimpikan apa-apa, tak mencemaskan apa-apa, dan dengan satu dan cara lain, tidak sedang membayangkan dunia maupun Indonesia.

Jika kesusastraan kita tersing dari dunia, ini adalah penutup saya dan saya berharap kita memikirkannya dengan sangat serius, bisa jadi itu karena kita mengasingkan diri dari problem kita sendiri, secara sosial-politik maupun estetik. Kesusastraan Indonesia tidak menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, karena jangan-jangan kita tidak berbagi problem yang sama. Jika kesusastraan kita terasing dari masyarakatnya sendiri, bagaimana kita bisa berharap dunia menerima kesusastraan Indonesia?

Disampaikan pada Kuliah Umum di Kafe Basabasi, Yogyakarta, 3 Maret 2018. Juga diterbitkan di basabasi.co.
Standard
Esai

Umberto Eco (1932-2016): “Saya Takut Mati Kehilangan Rasa Humor”

Dua penulis favoritnya merupakan penulis-penulis yang gemar “bermain-main”: James Joyce dan Jorge Luis Borges. Jika yang pertama bermain-main dengan elemen penting dalam kesusastraan, yakni bahasa; yang kedua bermain-main dengan elemen yang tak kalah pentingnya juga, yakni gagasan. Umberto Eco melangkah lebih jauh dari keduanya, bermain-main dengan bentuk (atau nama) lain dari bahasa dan gagasan: simbol.

Novel pertamanya, The Name of the Rose, merupakan misteri Abad Pertengahan. Novel bergaya detektif di mana untuk memecahkan teka-tekinya, mempergunakan perangkat analisis semiotik simbol-simbol, pengetahuan kitab suci, dan bahkan teori sastra. Tak ada pembahasan mengenai “mawar” di novel tersebut, dan untuk itu, sekali lagi, Eco bermain-main dengan simbol.
Aslinya, ia memang seorang filsuf. Profesor semiotik di Universitas Bologna (juga beberapa universitas lain). Sebelum terkenal sebagai novelis, ia menulis begitu banyak naskah akademik, juga esai-esai kritik sastra, serta spekulasi-spekulasi filsafat.

Meskipun dalam naskah-naskah akademiknya ia terbiasa mempergunakan cara naratif, Eco baru benar-benar menulis novel ketika berumur empat puluh delapan tahun. Bahkan sampai akhir khayatnya (19 Februari 2016), ia masih menganggap menulis novel sebagai “kerja sampingan”, yang hanya dilakukannya di akhir pekan dan terutama di musim panas (ketika libur mengajar).

Umberto Eco lahir 5 Januari 1932 di kota Alessandria, Italia. Kota yang sebagaimana kata-katanya, kembali merujuk kepada sesuatu yang simbolis, “Terkenal karena topi Borsalino-nya.” Seperti sebagian besar penulis, semuanya berawal dari kegemarannya membaca. Ketika ia kecil, ia sering disuruh mengambil sesuatu ke loteng rumah, dan ketika ia menemukan peti penuh buku peninggalan kakeknya, ia menjadi lebih sering pergi ke loteng tanpa diminta, menghabiskan waktu dengan membaca.

Membaca novel-novelnya, bahkan mungkin tanpa perlu membaca kajian-kajian akademisnya mengenai semiotika, kita akan merasakan betapa kuatnya pengaruh simbol-simbol dalam kehidupan manusia. Manusia adalah makhluk yang hidup dengan simbol-simbol. Dengan simbol, mereka tak hanya mencoba mengekalkan peristiwa atau ingatan, tapi juga, seperti pernah diungkapkan Eco dalam satu wawancara, membuat manusia berbohong.

Kita menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama tampil dalam bentuk simbol. Masyarakat ribut karena menemukan terompet tahun baru terbuat dari kertas bekas sampul Al-Quran, juga ribut menemukan motif alas sepatu yang menyerupai lafal Allah. Pada saat yang bersamaan, orang berkomunikasi tak lagi mempergunakan kalimat lengkap yang bisa dimengerti dengan mudah, tapi berbentuk stiker atau emoticon, juga dengan peluang untuk diinterpretasi.

Segala hasil kebudayaan manusia pada dasarnya bisa disederhanakan sebagai sekumpulan simbol-simbol yang bisa dibaca oleh siapa pun, baik dari lingkungan kebudayaan tersebut berasal maupun bukan, atau dari generasi simbol-simbol itu diciptakan, atau jauh setelahnya. Di sinilah benturan-benturan bisa terjadi: ada yang membaca simbol-simbol sebagaimana apa adanya, tapi juga ada yang menginterpretasikannya sesuai dengan keadaan yang berbeda-beda.

Dalam salah satu novelnya, The Mysterious Flame of Queen Loana, kita bisa melihat bahwa artefak budaya (dalam hal ini komik, majalah, buku, rekaman, dan koran), meskipun itu memiliki sifat sosial dan dalam tingkat tertentu menggambarkan suatu generasi, pada saat yang sama juga bersifat personal. Apa pun, ketika “dibaca”, pada akhirnya menjadi sesuatu yang subyektif.

Bisa dibilang novel tersebut memperlihatkan “main-main” Eco yang paling nakal mengenai simbol dan kebudayaan. Bercerita tentang lelaki tua yang terkena stroke dan kehilangan sebagian ingatannya (tepatnya: ingatan episodik, kenangan-kenangan peristiwa yang bersifat personal). Untuk menyembuhkan ingatannya, ia kembali ke masa kecilnya melalui komik yang pernah dibacanya, rekaman yang pernah didengarnya, majalah dan koran yang pernah dilihatnya. Dalam rangka itulah, si tokoh utama kembali harus menjelajahi dunia pembacaan.

“Dalam rangka memahami pesan misterius yang terdapat di dalam buku, kita perlu mencari ilham di luar apa yang dikatakan manusia,” kata si tokoh. Dan dalam hal ini, sudah jelas bagaimana dia membaca karya-karya itu di masa lalu, telah berbeda dengan saat ia membacanya bertahun-tahun kemudian, bahkan meskipun benda yang dihadapinya (artefak kebudayaan, simbol) merupakan benda yang sama.

Kita bersitegang tentang bagaimana hidup ini harus dijalani, dan bersitegang mengenai tafsir apa yang akan terjadi setelah kita mati. Semuanya berawal dari simbol-simbol yang diciptakan, baik simbol-simbol agama, ras, seksualitas, maupun lainnya.

“Satu-satunya yang saya takuti jika mati adalah, takut kehilangan rasa humor,” kata Eco dalam satu wawancara. Dunia yang tegang ini barangkali telah kehilangan rasa humor, tapi setidaknya Umberto Eco meninggalkan dunia ini dengan warisan-warisan karya yang, jika kita mau terbuka melihatnya, sangat jenaka.

Obituari ini diterbitkan di Jawa Pos, edisi Selasa, 23 Februari 2016.
Standard
Journal

Paris

Sejujurnya saya nyaris tak bisa pergi ke mana-mana selama tiga hari di Paris. Sejak hari pertama diisi dengan berbagai pertemuan, diskusi, dan makan malam. Meskipun begitu, di sela-sela waktu dan dengan modal peta sederhana, saya menjelajah daerah sekitar. Beruntunglah hotel tempat saya menginap, Delavigne (memperoleh kamar di loteng dengan dinding miring, mengingatkan saya pada film Ratatouille) dan kantor penerbit saya (Sabine Wespieser Editeur) berada di tengah kota. Saya sempat mengunjungi Notre Dame (tentu saja mengingatkan saya pada tokoh si bongkok karya Victor Hugo) dan Louvre, tapi satu-satunya yang ngotot ingin saya kunjungi adalah toko buku tua Shakespeare & Co. Saya sampai dua kali ke sana, mengambil selfie di depannya, dan (sedikit bikin saya malu) menemukan dua jilid buku saya dijual di dalamnya. Semua orang tahu itu toko buku yang pertama kali menerbitkan Ulysses James Joyce, juga tempat nongkrong Ernest Hemingway dan gerombolan “lost generation” Amerika yang luntang-lantung di Paris di masa itu. Sampai editor saya berkomentar, “Ya, ya, tentu saja toko buku itu penting buat penulis sepertimu.” Hahahaha. Mungkin orang Paris sudah terlalu biasa dengan toko buku itu, lagipula yang dijual di sana memang buku berbahasa Inggris. Seperti umumnya datang ke suatu tempat, mengetahui saya penulis, tentu saja kadang ada orang bertanya, di acara diskusi formal maupun sambil minum anggur atau teh, “Siapa penulis Perancis yang kamu baca atau sukai.” Itu seringkali membantu percakapan mengalir, dan saya sering bersyukur mengetahui beberapa penulis asing dan karya mereka. Saya bisa mendiskusikan Albert Camus atau Jean-Paul Sartre, atau Denis Diderot (yang novelnya, Jacques the Fatalist sangat saya sukai). Mereka senang mendengar komentar orang luar tentang penulis-penulis kebanggaan mereka. Juga penulis kontroversial mereka. Ketika saya bilang bahwa saya juga membaca Michel Houellebecq, mereka sangat antusias ingin mendengar komentar saya. Saya bilang hanya membaca dua novelnya. Caranya menulis menyenangkan. Saya tak punya masalah dengan sinisme-nya (barangkali karena saya bukan orang Perancis), tapi memang saya menangkap kesan pesimisme yang akut di karya-karyanya. Dan ketika datang ke Paris, bertemu dengan orang-orang Paris, gambaran itu berbeda seratus delapan puluh derajat. Orang-orang Paris yang saya temui sangat menyenangkan, penuh keriangan, ramah, jauh dari kesan pesimis. Mungkin Houellebecq memang pesimis melihat dunia, dan penggemarnya mungkin melihat dunia dengan cara yang sama. Dan seperti biasa, tentu saja saya juga bertemu dengan teman-teman Indonesia (ini terjadi ke mana pun saya pergi). Selalu menyenangkan (dan pasti menyenangkan juga buat mereka, bertemu “kerabat” di tempat yang jauh). Pertanyaan yang agak lucu, tapi tak terelakkan dari mereka, selalu: bagaimana bisa bukumu diterbitkan di Perancis (bahkan oleh penerbit yang secara tradisional tak pernah menerbitkan karya dari Indonesia)? Tentu saja itu cerita yang panjang, meskipun kadang saya harus menceritakannya berulang-ulang, atau penerbit saya menceritakan bagaimana ia “bertemu” karya saya. Intinya sebenarnya sama: kita cenderung menerima kenyataan bahwa karya sastra kita “dikutuk” hanya dikenal di negeri sendiri. Ketika satu atau dua karya keluar, kita sendiri bingung dan bertanya, “Kok bisa?” Mudah-mudahan di masa depan, tak ada lagi pertanyaan seperti itu dan melihat penulis Indonesia di luar sama biasanya dengan membaca penulis asing di dalam terjemahan Indonesia. Saatnya menutup koper dan kembali ke Jakarta.

shakespeare-co

Standard
Journal

Woolf

Menjadi seorang penulis pada dasarnya menjadi sosok-sosok dalam novel Mrs Dalloway, yakni orang-orang yang lebih sering berada dan bicara di dalam pikirannya. Mungkin saya salah (dalam arti tak semua penulis berbuat begitu), tapi setidaknya itu terjadi pada saya. Minggu ini saya berada di Australia, untuk dua festival dan terutama memperkenalkan novel saya dalam edisi bahasa Inggris. Sebagai penulis, saya pernah beberapa kali menghadiri acara serupa itu, tapi saat ini saya merasa berbeda. Di acara-acara sebelumnya, sering saya merasa kehadiran saya di acara-acara ini dan itu sesederhana karena saya “penulis Indonesia”. Mereka mencari seorang penulis dari Indonesia, mungkin karena quota mengatakan begitu, mungkin ada sesuatu yang menarik perhatian dengan negeri itu, lalu mereka memilih satu atau beberapa dari “penulis Indonesia” tersebut. Untuk kali pertama saya tak perlu merasa demikian. Sekali lagi situasinya mungkin tidak persis seperti itu, tapi seperti bisa kita mengerti dari novel Virginia Woolf ini (atau novel-novel sejenisnya), apa yang ada di pikiran, perbincangan di kepala kita, seringkali menjadi hal yang lebih penting dalam cara kita memandang dunia. Membaca Woolf dalam Mrs Dalloway adalah membaca pergeseran narator yang terus bergerak. Kadang-kadang naratornya berdiri dari satu jarak, memandang karakter-karakternya (sebagaimana kita bisa melihat Mrs Dalloway melakukan perjalanan dari rumah ke toko untuk membeli bunga), tapi kemudian ia mendekat dan dengan ajaib masuk ke dalam si karakter dan serta-merta kita menemukan Mrs Dalloway lah yang menjadi pencerita. Ia tak hanya mengamati sekitarnya, tapi juga mulai melantur ke banyak hal. Pikirannya bekerja lebih cepat daripada waktu aktual yang dialaminya, terulur ke waktu yang melompat dari kini ke masa lalu sebelum melompat ke masa kini kembali. Daripada pengembaraan “kesadaran” tokoh-tokohnya, yang semua orang tahu dilakukannya setelah membaca Ulysses James Joyce, hal paling menarik dari Virginia Woolf bagi saya terutama bagaimana ia menggeser dan mengganti-ganti narator, dari yang obyektif ke subyektif, narator yang memandang ke luar menjadi narator yang memandang ke dalam diri, bahkan narator subyektif satu berganti ke narator subyektif yang lain. Di bab yang paling panjang, di bagian tengah misalnya, dibuka dengan narator memperkenalkan keadaan Peter Walsh, dan masuk ke dalam pikirannya (“It was awful, he cried, awful, awful!”). Tapi tak berapa lama, di paragraf berikutnya, sang narator malah masuk ke pikiran karakter lain, seorang perempuan bernama Lucrezia Warren Smith (“was saying to herself, It’s wicked; why should I suffer?”). Dan terus berganti. Seperti pesta di novel itu, malam pertama saya di Melbourne adalah menghadiri pesta kecil yang diadakan penerbit saya. Sejujurnya saya bukan “anak pesta”. Saya bukan tipe yang senang bicara dengan banyak orang, apalagi orang asing, dan berlama-lama. Perbincangan saya lebih banyak di dalam kepala. Tapi sesekali saya tak keberatan untuk acara semacam itu, dan jika beruntung bisa berkenalan dengan orang yang menyenangkan. Saya yakin, seperti di pesta Dalloway, di pesta kecil itu juga banyak orang, di antara kerumunan dan percakapan, membangun sendiri dunia mereka di dalam kepala. Jika ada seorang super narator yang memperhatikan pesta kecil itu, ia pasti bisa mengorek pikiran-pikiran kami, berpindah dari satu sosok ke sosok lain, seperti dilakukan Woolf. Malam itu saya berkenalan dengan satu sosok, yang saya yakin banyak orang mengenalnya: Jonathan Galassi. Saya sampai terdiam selama beberapa saat. Ia seorang penyair (Left Handed: Poems), seorang penerjemah (puisi-puisi Giacomo Leopardi), belum lama ini jadi novelis (Muse), dan bos penerbit (Farrar, Straus and Giroux). “Bagaimana rasanya sekarang menjadi ‘dikenal’?” Kurang-lebih seperti itu ia iseng bertanya. Seperti biasanya, saya berbalik ke kapala dan mencari jawaban itu di sana. Saya tak menemukannya. Saya tak memiliki pertanyaan itu dan tak berpikir dengan cara seperti itu. Dengan agak malu-malu saya bilang, “Tidak tahu. Ini heboh karena diterbitkan dalam bahasa Inggris aja.” Ia tersenyum lalu termenung. Saya juga larut dalam pikiran sendiri. Banyak orang punya dunia yang lebih luas di dalam pikirannya. Sambil bercakap-cakap hal lain, beberapa di antaranya gosip yang membuat saya tersenyum, kami terus asyik dengan pikiran sendiri. Dia pamit sebelum pesta berakhir, saya juga. Pesta selalu menyenangkan, tentu saja. Tapi seperti Mrs. Dalloway, banyak orang memiliki pesta yang lebih seru di dalam kepalanya.

Standard
Journal

Djuna Barnes dan Bagaimana Bertahan dalam Cinta yang Menderitakan

Di Paris di antara dua perang, di antara para raksasa kesusastraan berkelamin lelaki seperti James Joyce, Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, dan Ezra Pound, ada satu perempuan penulis yang para pembaca sastra serius semestinya tak melewatkan: Djuna Barnes. Saya terpikir untuk sedikit menulis tentangnya, setelah dalam satu wawancara, saya diingatkan betapa sedikit saya membaca karya-karya para perempuan. Tentu saja saya sempat mengelak, bahwa kenyataannya kesusastraan dunia memang disesaki para lelaki dan sastra yang maskulin. Meskipun begitu, tak ada salahnya dalam beberapa jurnal ke depan, saya ingin menengok beberapa perempuan penulis yang sempat saya baca, dan barangkali menarik untuk dibagi. Novelnya yang paling terkenal, Nightwood, bukanlah jenis novel yang gampang dibaca. Disebut-sebut sebagai salah satu karya klasik dalam gerakan kesusastraan modernis (sebagaimana Finnegans Wake James Joyce), novel ini juga merupakan salah satu karya klasik dalam kesusastraan lesbian. Seperti judul yang saya pergunakan di jurnal ini, Nightwood bisa disederhanakan sebagai “bagaimana bertahan dalam cinta yang menderitakan”. Oh, tentu saja novel ini tak sesederhana itu, dan sekali lagi, ini bukan jenis bacaan yang gampang. Bercerita tentang perempuan bernama Robin Vote, yang meninggalkan seorang suami (seorang yang mengaku sebagai Baron bernama Felix, kenyataannya seorang Yahudi) setelah memberinya anak (Guido), dengan mengatakan, “Aku tak menginginkan ini.” Ini yang dimaksud adalah, ia tak menginginkan anak, tak menginginkan keluarga, tak menginginkan cinta mereka. Intinya ia tak menginginkan hidup yang dijalaninya dalam keluarga tersebut. Ia keluar rumah dan jatuh ke pelukan seorang perempuan bernama Nora, sebelum “meninggalkannya” dan berhubungan dengan perempuan lain bernama Jenny. Terlihat seperti kisah yang sederhana, dan memang kisahnya sederhana. Yang rumit (dan membuat novel ini menarik, dan saya rasa membuatnya istimewa), adalah bagaimana kisah sederhana tersebut dibawakan dengan cara yang dalam tingkat tertentu menjadi puitis. Tidak, yang saya maksud dengan “puitis” bukan dalam makna Barnes mempergunakan banyak bahasa berbunga-bunga (yang umum bisa ditemukan dalam banyak novel kita), tapi bagaimana ia memeriksa setiap peristiwa, setiap impresi, menjadi semacam epifani. Bagaimana setiap kejadian, setiap ungkapan perasaan, bisa dibawa ke satu analogi yang menurut saya tetap menyegarkan meskipun novel ini terbit pertama kali tahun 1937. Apa yang saya maksud sebagai puitis adalah, bayangkan setiap peristiwa, setiap analogi dan epifani di novel ini, sebagai baris-baris dalam puisi. Seperti yang saya suratkan dalam judul, novel ini terutama dilihat dari sudut pandang penderitaan Felix dan Nora dalam hubungan cintanya dengan Robin. Ada satu sosok yang saya pikir berada di atas mereka semua, menjadi semacam penelaah atau cermin pantul, seorang dokter bernama Matthew. Melalui monolog dan percakapan si dokter inilah, kita kemudian bisa memeriksa bagaimana kedua orang ini bertahan dalam cinta yang menderitakan. Bagaimana Felix dan Nora tetap mencintai Robin, bahkan meskipun Robin selalu meninggalkan mereka (dan sesekali bisa muncul dalam situasi yang tak bisa ditolak). “Baronin,” kata Felix, “Selalu mencari seseorang untuk memberitahu dia bahwa dirinya inosens.” Dengan kata lain, Robin (si Baronin) merupakan orang yang terus berjalan, mencari konfirmasi, dan tak mungkin ditahan di dalam rumah. Bahkan meskipun ia ditahan di rumah, saya bayangkan ia terus bertanya kepada suaminya, “Kau mencintaiku? Aku cantik? Aku baik?” dan sang suami harus bertahan dalam pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Satu analogi yang terus terbayang oleh saya diceritakan oleh Nora. Robin sekali waktu memberinya boneka. “Ketika seorang perempuan memberikan boneka kepada seorang perempuan, itu hidup yang mereka tak bisa miliki, anak mereka, suci dan profan,” kata Nora. Tapi betapa hancurnya Nora, ketika ia tahu Robin juga memberikan boneka yang sama ke perempuan lain (Jenny). Apa boleh buat, cinta dan kebahagiaan pada dasarnya bukan hal yang sama. Saya rasa si dokter menyiratkan hal itu dalam monolognya. Jangan mengharapkan kebahagiaan dalam cinta, itu tidak seperti rasa manis dalam gula. Cinta tak selalu memberi kebahagiaan, sebagaimana seseorang bisa bahagia tanpa cinta. Itu sesederhana sesuatu yang berbeda. Dan orang-orang ini, Felix dan Nora, bisa menjadi contoh bagaimana ada manusia yang terus bertahan dalam cinta yang menderitakan, bahkan berkorban untuk itu. Entahlah, apakah itu sejenis ketololan atau bukan. Selain membaca novel ini, saya pernah membaca potret singkat Barnes yang ditulis Javier Marías di Written Lives, dan saya merasa kehidupan Barnes sendiri kurang-lebih menyerupai kehidupan Robin (meskipun dalam novel ini, kita bisa melihat simpati si penulis justru ke para “korban” Robin). Dalam potret itu Marías menulis bahwa, beberapa orang yang mengunjungi dia dan menghabiskan berjam-jam percakapan, selalu berakhir dengan sakit kepala. Saya rasa, jika Anda sakit kepala membaca novel ini dan memikirkan hubungan tokoh-tokohnya, itu pun bukan hal yang mengejutkan.

Standard
Journal

Senyap yang Lebih Nyaring

Tugas seorang penulis, dan intelektual secara umum, adalah bersuara. Tapi sejarah memperlihatkan, ada kalanya penulis memilih pesan bisu. Satu waktu, Gabriel García Márquez dan Mario Vargas Llosa pergi menonton film di bioskop. Entah apa yang terjadi di dalam, keduanya terlibat adu jotos. Kita hanya tahu melalui satu foto terkenal di mana Márquez keluar dari bioskop sudah dalam keadaan mata membengkak. Sampai akhir hayatnya, Márquez memilih bisu tentang apa yang terjadi, demikian pula Llosa sampai hari ini. Ada yang bilang itu menyangkut pilihan politik mereka (Márquez dikenal sebagai orang kiri, Llosa dari kiri kemudian menjadi kanan-liberal), tapi ada juga yang bilang itu urusan perempuan belaka. Tak ada yang tahu. Kedua peraih Nobel itu memilih bisu. Seumur hidup mungkin tak akan ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan barangkali itu lebih baik. Kebisuan yang paling “mengharukan” bagi saya tentu saja kebisuan Albert Camus di tahun-tahun terakhir hidupnya, terutama menyangkut perseteruan dan pertengkarannya dengan Jean-Paul Sartre, orang yang pernah menjadi sahabat dekatnya. Camus tak hanya berhenti bicara dengan Sartre, juga berhenti menulis tanggapan secara langsung, dan tak juga bicara tentang Sartre dengan orang lain secara terang-terangan. Kita tahu pertengkaran mereka dipicu oleh dua hal: perang Alzajair dan dukungan Sartre untuk Uni Sovyet. Kita tahu, Sartre yang pada dasarnya “intelektual belakang meja”, dari keluarga borjuis Paris, merupakan pendukung komunisme Sovyet dan perjuangan Aljazair membebaskan diri dari koloni Prancis (dengan kekerasan). Di lain pihak, ironinya, Camus yang merupakan orang lapangan, yang bergerilya dan menerbitkan pamflet bawah tanah, si anak kere proletar, tidak mendukung Sovyet dan perang Aljazair dianggapnya hanya membuat rakyat Aljazair lebih sengsara (ia lahir di sana). Kita tahu pertengkaran mereka demikian meruncing hingga akhirnya Camus “ngambek” dan tak mau bicara lagi dengan Sartre. Jika bermain Facebook dan Twitter, pasti mereka sudah unfriend dan unfollow. Ada tulisan Sartre yang mengharukan mengenai kebisuan Camus, yang ditulisnya sebagai obituari setelah Camus meninggal dalam kecelakaan mobil. “Enam bulan lalu, atau bahkan kemarin, kami bertanya-tanya, ‘Apa yang akan ia lakukan?’” tulis Sartre. Ia mengakui mereka bertengkar, dan menghormati kebisuan Camus. Tapi itu tak menghalangi Sartre untuk terus bertanya-tanya, buku apa yang sedang dibaca Camus. Jika ia membaca koran, ia bertanya kepada diri sendiri, apa komentar Camus mengenai topik ini? Kadang ia juga mengaku, kebisuan Camus menyakitkan. Ia yakin suatu hari Camus akan bicara, akan berubah sebagaimana dunia berubah. Tapi Sartre salah. Camus tetap membisu hingga kecelakaan mobil menghentikan hidupnya. Kebisuannya terdengar menjadi sesuatu yang nyaring, dan saya rasa menggema panjang bahkan hingga hari ini. Saya baru membaca sepotong biografi, sejenis kesenyapan dan kebisuan lain dari seorang penulis bernama Djuna Barnes. Tinggal di Paris, di lingkaran para penulis semacam Joyce dan Pound dan Hemingway dan Fitzgerald, ia dikenal sebagai orang yang selalu diam di kerumunan, meskipun mereka juga mengakuinya sebagai “perempuan paling brilian di masanya”. Pamornya yang cemerlang, tapi kebisuannya yang misterius, bahkan membuat dua perempuan penulis yang memujanya “menderita”: Anaïs Nin dan Carson McCullers. “Senyap membuat pengalaman melangkah lebih jauh, dan, ketika itu mati, memberinya martabat sebagaimana terhadap sesuatu yang kita sentuh dan tak lenyap.” Saya suka kutipannya, dan membaca biografi dialah yang membuat saya teringat kebisuan-kebisuan lain dari penulis lain. Saya juga jadi teringat jurnal yang saya tulis beberapa bulan lalu: di tengah kebisingan, ketika semua orang bisa bersuara, apa tugas penulis? Jawaban saya saat itu dan saat ini tetap: diam. Ada kalanya kita memang harus diam. Tutup mulut dan berpikir lebih panjang. Sebab senyap seringkali memberi pesan yang lebih nyaring dari apa pun. Selamat Natal.

Standard
Journal

Written Lives, Javier Marías

Pentingkah membaca riwayat hidup penulis? Orang bisa berdebat soal ini, tapi bagi saya, tulisan tentang apa pun asal ditulis dengan baik layak untuk dibaca. Jika kita bisa menikmati riwayat hidup seorang jenderal atau pemilik pabrik jamu, kenapa kita tak bisa menikmati riwayat hidup seorang penulis? Bahkan tanpa harus mengenal karya-karyanya sekali pun. Sayang sekali “biografi” sebagai sebuah genre sastra merupakan barang yang langka di Indonesia. Coba tengok, apakah sudah ada biografi otoritatif mengenai Pramoedya Ananta Toer? Saya yakin sampai lima tahun ke depan atau lebih, belum ada. Jangan sebut penulis-penulis lainnya. Oh, memang akhir-akhir ini ada banyak “biografi” di pasaran, tapi saya tak yakin saya minat membacanya. Kebanyakan dari pseudo-biografi ini isinya tak lebih dari omongan si tokohnya, sedikit mirip memoar tapi ditulis orang lain. Begini. Bagi saya, biografi yang baik pertama-tama harus menempatkan apa pun yang dikatakan si tokoh sebagai sumber sekunder, atau bahkan sumber kesekian. Sumber yang kebenarannya paling layak diragukan. Bukan lagi rahasia, tokoh apa pun cenderung bias bicara tentang dirinya. Yang kecil bisa dibesar-besarkan, yang memalukan bisa disembunyikan. Apa pun yang keluar dari si tokoh, hanya bisa dipegang jika bisa diverifikasi ke sumber lain. Ini yang jarang saya dapatkan di buku-buku pseudo-biografi. Saya memikirkan ini sambil membaca buku berjudul Written Lives karya Javier Marías. Buku yang menyenangkan, yang saya rasa memberi cakrawala tambahan mengenai genre biografi. Berisi riwayat hidup 20 penulis (plus dua tulisan tambahan mengenai beberapa penulis), yang disusun sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi cerita tersendiri, meskipun Marías meyakinkan kita bahwa tak ada apa pun di tulisannya yang dikarang-karang, dan semua yang ada di sana bisa dilacak sumbernya di tempat lain. Tentu saja ini bukan “biografi” yang ideal, dan sang penulis juga tidak bermaksud seperti itu, melainkan lebih menyerupai potret. Ya, potret: sekelumit bagian hidup seorang penulis, seringkali dalam bentuk close-up. Dengan mengacu sumber-sumber tertulis, ia “menciptakan” sosok-sosok para penulis ini dalam sudut pandang dia, dan hasilnya merupakan potret-potret penuh ironi dan kelucuan. Sebut misalnya potret mengenai Mishima dalam “Yukio Mishima in Death”. Ada bagian di mana pada tahun 1967 terdengar rumor bahwa seorang penulis Jepang akan memperoleh Nobel. Mishima, yang terkenal sangat narsis dan percaya diri, yang saat itu sedang berpergian, memutuskan pulang dan mengaturnya agar saat mendarat persis beberapa saat setelah pengumuman Nobel. Bahkan ia sudah menyewa ruangan VIP, mungkin untuk konferensi pers. Ketika pesawat mendarat, ia keluar dengan senyum mengembang. Ya, tentu saja tak ada wartawan atau fans yang menunggu dan mengelu-elukannya, sebab tahun itu yang memperoleh Nobel adalah penulis Guatemala (Miguel Ángel Asturias). Dari tulisan yang lain, “William Faulkner on Horseback” saya baru tahu bahwa Faulkner, salah satu penulis yang terkenal melarat (As I Lay Dying ditulis selama enam minggu di waktu istirahat saat ia harus kerja malam memasukkan batu-bara ke tungku), ternyata punya hasrat belanja yang agak tak terkendali untuk: pakaian mahal dan kuda! (Ehm, saya akan mengingat dia jika saya tak bisa menahan diri membeli t-shirt mahal). Sekali lagi ini bukan buku biografi seperti yang saya idealkan, dan lebih menyerupai potret. Tapi bahkan melalui potret-potret seperti ini, kita tahu ada hal-hal yang tak mungkin keluar dari mulut si tokoh. Senorak-noraknya Mishima, dia pasti berkilah soal menyewa ruang VIP di hari pengumuman Nobel. Meskipun mengaku gemar membeli kuda mahal, Faulkner diam-diam saja soal kecenderungan membeli baju mahal. Begitu pula James Joyce saya rasa (di tulisan “James Joyce in His Poses”), tak bakal terus-terang mengaku ia depresi selama dua tahun terakhir hidupnya, karena novel Finnegans Wake tak memperoleh sambutan meriah sebagaimana diharapkannya. Masih perlukah membaca riwayat hidup para penulis? Menurut saya perlu. Bagaimanapun mereka manusia yang pernah hidup dan cerita tentang mereka barangkali berguna untuk hidup kita. Terutama jika itu ditulis dengan baik, dan tidak berisi bualan-bualan membesar-besarkan diri si tokoh.

Standard
Journal

Di Sini Monologue Intérieur Bermula

Mereka bilang di novel inilah monologue intérieur bermula. We’ll to the Woods No More. Edouard Dujardin. Ditulis di Paris tahun 1880an. Les lauriers sont coupés. Tanpa itu, tanpa teknik yang kemudian dikenal sebagai arus-kesadaran, novel ini mestinya hilang dari muka bumi. Terbit sekali kemudian dilupakan. Seperti jutaan buku lainnya. Omong kosong jika kau pikir menulis dan buku diciptakan untuk keabadian. Setiap hari orang menulis, setiap hari lahir buku baru, dan sebagian besar, 99,999999% akan hilang dari peradaban. Dilupakan. Percayalah. Survival the fittest, kata Darwin. Buku dan pemikiran tak ada bedanya dengan binatang. Ada yang punah, dan sedikit yang bertahan menghadapi ganasnya zaman. Penulis berusaha menulis sebaik-baiknya, berharap ia akan abadi, seperti seekor anjing mengharapkan kiriknya lahir sehat dan meneruskan spesies mereka. Alamlah yang akan menyiksa buku dan kirik ini, menghancurkannya dengan gila-gilaan. Menjadi artefak. Menjadi fosil. Novel ini, dengan caranya sendiri, memilih bertahan hidup. Bukan karena ia karya besar, bukan karena ia mengandung gagasan hebat, tapi semata-mata karena teknik yang dipergunakannya. Teknik, sayang. Pada akhirnya kesusastraan adalah keterampilan. Sebagaimana tukang kayu dihormati karena keterampilannya. Percuma memiliki gagasan besar jika kau tak terampil. Kau akan menjadi bahan tertawaan saja, Sayang. James Joyce membaca novel ini, tampaknya karena tak sengaja. Di perjalanan dari Paris ke Dublin tak lama setelah pergantian abad. 1902. Lama kemudian Joyce mencuri dari novel itu, si arus-kesadaran, untuk Ulysses. Ia mengakuinya, menyebut nama sang penemu. Dan Dujardin meledak gembira, karena novel kecil ini menjadi alas bagi satu novel besar. Menjadi dasar bagi satu gerakan besar. Di edisi setelahnya, Dujardin bahkan mendedikasikan novel ini untuk Joyce. Sebenarnya apa itu monolog interior? Tentu saja bukan sekadar monolog. Monolog, ngoceh sendiri, kemungkinan besar senantiasa dengan asumsi ada pendengar. Bahkan meskipun diri sendiri. Tidak demikian dengan monolog interior. Ia muncul seringkali tidak untuk didengarkan. Seringkali tanpa struktur. Seringkali merupakan kibasan-kibasan kesan. Jika kita menangkapnya dalam bentuk kata-kata, karena itu salah satu cara (yang sejujurnya lemah) untuk membuatnya ada. Monolog interior merupakan orkestra refleksi, abstraksi, kesan sejenak, mood, dibandingkan sebagai penceritaan aksi atau tindakan-tindakan. Kurang-lebih begitu menurut Dujardin. Saya yakin ia tak memikirkan itu ketika melakukannya. Ia mengatakan itu bertahun-tahun setelah novelnya terbit, bahkan setelah Ulysses juga terbit. Dan dalam novelnya, beberapa kali sejujurnya ia bocor. Si aku menceritakan tindakan-tindakan. Dan mengutip surat secara lengkap, alih-alih membiarkannya sebagai kenangan kacau. Tapi itulah gunanya membaca novel semacam ini. Kita bisa melakukannya jauh lebih baik, berabad-abad kemudian, setelah menemukan kesembronoannya. Bagi saya, monolog interior tak hanya ungkapan bagaimana pikiran bekerja, tapi terutama bagaimana dunia luar masuk ke dalam pikiran. Kadang-kadang ia runtut, seringkali tidak. Kadang-kadang logis, tak jarang tidak logis. Dunia luar masuk ke dalam pikiran, kemudian dikeluarkan kembali melalui kata-kata. Pembaca melihat dunia melalui apa yang ada di dalam pikiran. Begitulah. Monolog interior merupakan sejenis kode. Barangkali lebih menyerupai kode puisi daripada prosa. Tapi lupakan soal itu. Setiap orang berpikir dengan cara mereka sendiri. Dunia akan selalu berbeda di dalam pikiran setiap orang. Virginia Woolf memperlihatkan kepada kita dengan cara yang berbeda. William Faulkner juga. Dan novel ini … sejatinya saya menyukai ceritanya. Daniel Prince dan Leah. Oh. Seorang lelaki jatuh cinta kepada artis panggung. Diporotin. Berharap bisa tidur dengannya. Duitnya makin habis, dan ia belum juga menidurinya. Hingga kesempatan itu datang. Leah mengajaknya ke kamar. Tapi saat itulah ia berpikir, ia harus membuktikan cintanya. Cinta suci. Cinta murni, bukan cinta penuh nafsu. Ia akan menolak jika gadis itu mulai membuka pakaian. Tolol. Di dunia ini memang banyak lelaki tolol. Monolog interior mengajak kita masuk ke pikiran lelaki tolol, sebagaimana kita bisa masuk ke pikiran karakter macam apa pun. Tentu saja tak akan pernah sempurna. Bagaimanapun kata-kata tak akan pernah sempurna mewakili dunia. Dan pikiran manusia merupakan misteri gelap, yang kata-kata bahkan tak mungkin menaklukkannya.

Standard
Journal

Dua Tradisi

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnotis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Standard