Cool Stuff

Salah satu cara menjawab revisi UU MD3 yang baru disahkan DPR, yang berpotensi mengkriminalkan para pengkritik anggota dewan, adalah dengan terus melakukan kritik terhadap perilaku dan kebijakan mereka. Kutipan di kaos ini diambil dari cerpen Corat-coret di Toilet, yang terbit tahun 1999. Tapi kok rasanya tetap bisa dipakai, ya? Yang berminat memakai, sila mengambilnya dengan potongan harga di sini. Hanya Rp.75.000 (Rp.110.000) + ongkos kirim.

Aku Lebih Percaya Kepada Dinding Toilet

Aside
Cool Stuff

Indonesia (dan dunia) macam apa sih, yang kita inginkan? Bisakah kita (kembali) membentuknya melalui kesusastraan? Atau sudah kalah telak oleh citra yang dibangun sosial media dan berita palsu? Atau jangan-jangan kesusastraan kita sudah tercerabut dari problem-problem sosial zaman dan masyarakatnya, sehingga bahkan memimpikan dunia macam apa pun yang diinginkannya sudah tidak dilakukan lagi?

Kuliah Umum

Aside
Tanya dan Jawab

Giovanni aka Ipang: Mas Eka, saya ingin membuat photo essay tentang Mas Eka, tentang kehidupan sehari-hari Mas Eka. Saya bukanlah seorang fotografer profesional, cuma seorang yang punya passion di fotografi.

Dengan sangat menyesal, saya tak bisa memenuhinya. Sebagai penulis, jika berkenan sila membaca tulisan saya yang sudah terbit. Kehidupan pribadi saya, kehidupan sehari-hari saya, sangatlah tidak penting untuk kebanyakan orang. Biarlah itu menjadi milik saya sendiri, yang saya bagi cuma dengan sedikit orang.

(dari Tanya dan Jawab)

Tanya Jawab #3

Aside
Cool Stuff

The society tends to simplify it as “magical realism,” just because of how it shows up, both fantastically and realistically. We rarely identify Kafka as a magical realist writer, despite the fact there are many fantastic elements in his works. And why are the comic characters from DC and Marvel not called magical realism, even though they have plenty of fantastic elements? The magic aspects in my novel are influenced by horror and silat (Indonesian martial art) novels of the 1970s. Beauty Is a Wound is quite tricky, as it’s difficult to put it in one genre. Classifying it as “magic realism” would be easier for people to figure it out.

Read my conversation with Electronic Literature.

Interview, Electronic Literature

Aside