Kompas, 9 Juni 2014

Kompas, 9 Juni 2014

“Kelihaian Eka Kurniawan bercerita tampak ditopang oleh sudut pandang dirinya terhadap drama kemanusiaan […] Menariknya, penulis mampu menyelipkan humor segar yang tetap kuat terjalin dengan bagian-bagian lain.”
– Yohanes Krisnawan, Kompas

Cool Stuff

Corat-coret di Toilet, Kompas

Image
Corat-coret di Toilet

Kejujuran dari Dinding Toilet

Oleh Widyanuari Eko Putra, Jawa Pos

Di toilet, kebebasan seperti tumbuh, berkembang, dan mekar. Di sana segala yang “jujur” dan murni bisa tampil tanpa malu-malu. Kita bisa membayangkan, dari toilet, imajinasi dan ide berjejalan minta diperhatikan. Maka ketika ada coretan di dinding toilet, itulah sesungguhnya kebenaran dari apa yang manusia rasakan. Ia mewakili kebebasan pikiran dan mewakili apa yang tengah terjadi, merekam kondisi mental dan psikologis si penulisnya.

Coretan di dinding adalah pertanda zaman yang bergerak, menjadi resep membaca kondisi negara, bangsa, psikologi, dan mental masyarakat. Terlebih sebuah dinding toilet di sebuah universitas, tempat manusia terpelajar dipelihara. Eka Kurniawan menangkap sinyal ini dan merangkumnya dalam buku terbarunya Corat-coret di Dinding Toilet (GPU, 2014). Buku ini adalah antologi kritik, ironisme, paradoks, dan satir bermuatan politis-ideologis.

Nafas kritik bercampur sinisme kepada penguasa tercium sejak cerpen pembuka. Cerpen berjudul “Peter Pan”, berkisah tentang aktifis mahasiswa yang menjual bukunya, menjual segalanya, demi mengurusi perjuangan menggulingkan sang diktatur. Meski akhirnya berhasil dilengserkan, kejahatannya tetap saja tak tersentuh. Cerpen bernada sinis, menyengat ingatan pembaca perihal kekuasaan Orde Baru. Akhir-akhir ini kita memang kerap menjumpai wajah mantan presiden tengah tersenyum sambil menyapa, menawarkan memori nostalgia bermuatan politis. ”Senyum yang terkutuk itu bahkan masih tercetak di uang kertas”. Ekspresi tokoh mahasiswa kepada presiden memang seringkali terkesan sarkastik, meski sebenarnya berisi kejujuran. Cerpen ini merekam kegelisahan dan kejengkelan para aktifis pasca-kejatuhan sang diktatur, yang masih saja “tersenyum”, bahkan hingga hari ini.

Eka bagai melanjutkan wasiat Bung Besar untuk tidak sekalipun melupakan sejarah. Sejarah dijadikan ramuan cerita untuk mengingat, mengejek, dan menghibur pembaca. Sejarah Indonesia berisi peperangan dan konflik. Cerpen “Hikayat Orang Gila” mengantarkan imajinasi penuh haru tentang perang, yang bagaimanapun selalu mengorbankan orang tak berdosa, sekalipun itu orang gila. Tragedi di Timor Timur adalah satu contoh. Deskripsi kesemrawutan perang berkelindan dengan perjuangan seorang gila bersama rasa laparnya yang kian tak terobati. Pada akhir cerita, “tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, Si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak berdaya”. Pembaca bakal termenung haru, mengimajinasikan kematian Si Gila akibat lapar tak terkira.

Melalui penggarapan sejarah, Eka menyajikan kisah beraroma nasionalisme, diselingi humor tragis-politis. Cerpen “Siapa Kirim Aku Bunga?” mengingatkan pembaca pada roman pergerakan ala Mas Marco Kartodikromo. Cerpen ini berkisah tentang Kontrolir Henri, seorang Belanda yang secara tak terduga jatuh cinta pada gadis bumiputera penjual bunga. Percakapan demi percakapan memberi garis demarkasi yang jauh antara kolonial dan bumiputera. Melalui perspektif ala Mas Marco inilah, Eka melawan lewat sejumlah fakta tragis-ironis. Henri hendak menemui orang tua si gadis untuk melamar, namun kedua orang tua si gadis justru tengah berada di Digoel. “Kau sendiri yang kirim mereka ke sana,” tegas si gadis. Pukulan sempurna: merobohkan kesombongan kolonial tanpa angkat senjata. Eka menyajikan kisah berlatar sejarah demi menyadarkan betapa ulah penjajah adalah penyebab atas kesengsaraan bangsanya.

Humor Politis dan Perlawanan

Pada akhirnya humor satir berbau politis mencapai puncaknya pada “Corat-coret di Toilet”. Gubahan cerita pendek dengan serangkaian satir, humor cerdas, hingga ungkapan politis-ideologis seolah mewakili pilihan sikap si pengarang. Penggarapan tema reformasi 1998 jadi isu sensitif. Pergulatan pelbagai pikiran mahasiswa tampil di dinding toilet, mengejawantahkan ironisme demokrasi. Dinding toilet jadi buku harian milik bersama, semua berhak menulis dan berkata jujur. Maman S. Mahayana menganggap cerpen ini cerdas “mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan.” Bernada pesimis-sarkastik Eka menulis:”Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya pada dinding toilet”. Coretan di dinding menjelaskan ketidakpercayaan mahasiswa kepada para anggota dewan. Nah!

Keseluruhan cerita dalam buku ini memiliki satu nyawa: perlawanan. Perlawanan itu menyasar tema-tema kediktaturan, tradisi, penjajahan, kesewenang-wenangan, dan kekerasan, yang mengacu pada satu pusat: kemanusiaan. Cerpen yang keseluruhannya ditulis pada periode 1999-2000 ini tak sekadar kisah, namun semacam jejak sejarah. Jejak semangat reformasi, sekaligus gairah mempertanyakan ulang keberhasilan reformasi, mengalir deras dalam beberapa cerpen Eka. Cerpen yang lahir di saat penulis masih berusia 20-an, usia ketika idealisme dan jiwa perlawanan mencapai titik didihnya. Apalagi beberapa cerpen mengambil penokohan mahasiswa, ikon penting gerakan reformasi. Tokoh mahasiswa memang kerap identik dengan aktifitas pergerakan, reformasi, dan intelektualisme.

Lebih dari itu, kumpulan cerpen ini mengingatkan pembaca di negeri ini, tentang sejarah yang tidak boleh disepelekan. Juga tentang penguasa yang mesti terus diingatkan, meski lewat sekadar “corat-coret di dinding toilet”.

Diterbitkan di Jawa Pos, 4 Mei 2014. Sumber: widyanuariekoputra.blogspot.com.
Standard
Corat-coret di Toilet

Ulasan Corat-coret di Toilet

Ini beberapa tautan berisi ulasan mengenai buku Corat-coret di Toilet:

Standard
Journal

Corat-coret di Toilet dan Hal-hal Lain Tentang Cerpen

Selain menerbitkan novel baru, hal paling membahagiakan untuk saya adalah melihat kembali Corat-coret di Toilet terbit. Bagaimanapun itu buku tipis saya yang istimewa: buku fiksi pertama saya (setahun sebelumnya saya menerbitkan skripsi saya di UGM tentang Pramoedya). Saya jarang membaca ulang karya-karya saya (kecuali terpaksa untuk beberapa kebutuhan, seperti ngedit dan mencocokkan terjemahan), tapi hal ini tak berlaku untuk Corat-coret di Toilet. Saya harus mengakui: buku itu sering saya baca kembali, untuk mengingatkan saya kenapa saya memutuskan untuk menjadi penulis, kenapa menulis merupakan sesuatu yang menyenangkan. Di luar itu, jujur saja, saya menganggap penulis-penulis lain dari generasi saya, melakukan debut karya fiksi mereka (kebanyakan kumpulan cerpen), jauh lebih baik daripada saya. Saya bisa menyebut beberapa kumpulan cerpen debut penulis-penulis yang saya kenal, yang saya rasa sangat istimewa: Kuda Terbang Maria Pinto Linda Christanty, Sihir Perempuan Intan Paramaditha, Perempuan Pala Azhari, Bidadari yang Mengembara A.S. Laksana. Meskipun bukan debut, Filosofi Kopi Dee juga salah satu yang menarik. Dibandingkan karya-karya itu, Corat-coret di Toilet terlihat terlalu sederhana, dengan cerita yang gampang ditebak, ditulis dengan main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuri dari sana-sini (kadang-kadang membacanya kembali saya suka tersenyum lebar dan bergumam, “Ini sangat Dickens, seharusnya aku tak mencuri terlalu terang-terangan, lah.”). Sebenarnya, seperti apa sih kumpulan cerita pendek ideal saya? Sejujurnya saya tak memiliki kriteria khusus, tapi ada beberapa kumpulan cerpen Indonesia, selain judul-judul di atas, yang saya anggap istimewa. Misalnya, Saksi Mata Seno Gumira Ajidarma. Barangkali karena tema dan gayanya, serta tekniknya, yang utuh dalam satu kumpulan. Saya tak pernah melihat yang seperti ini lagi di kumpulan cerpen Seno lainnya. Saya juga ingin merujuk kumpulan cerpen Asrul Sani, Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Tak ada tema besar yang mengikat erat cerpen-cerpen itu, tapi kesederhanaan dan leluconnya menyenangkan, bahkan dibaca saat ini pun. Godlob Danarto, barangkali memenuhi hasrat saya mengenai kumpulan cerpen yang utuh, dengan gaya dan teknik yang menyatu. Dengan alasan yang sama, saya juga merujuk ke Cerita dari Blora, Pramoedya Ananta Toer. Ada yang saya lewatkan? Debut Joni Ariadinata, Kali Mati, saya rasa harus dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar kumpulan cerpen yang saya sukai dan saya rekomendasikan. Saya tak pernah melihat Joni menulis cerpen-cerpen, atau menerbitkan kumpula cerpen, seberkarakter debutnya ini. Problem utama Joni, saya kira adalah, ia mencoba meniru dirinya sendiri. Itu hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang penulis, dan ini banyak terjadi pada penulis lain di sini. Mungkin saya salah, saya tak lagi mengikuti karyanya dalam beberapa tahun terakhir, tapi saya tetap menganggap Kali Mati salah satu kumpulan cerpen terbaik di negeri ini. Ada yang lain? Saya kira ada beberapa yang lain, yang saya lewatkan atau saya lupakan ketika menulis ini. Kembali ke Corat-coret di Toilet, dengan segala kesederhanaan teknik seorang penulis pemula, ditambah kenaifan dan kenekatannya, saya selalu kembali ke buku itu. Sebab hanya di buku itu saya bisa melihat benih-benih hasrat-hasrat kesusastraan saya, yang tak akan pernah saya temukan di karya saya yang lain. Saya tak bisa membayangkan akan menulis lebih bagus dari itu di masa itu. Jika waktu di ulang, saya yakin, saya akan menulis hal yang sama, barangkali dengan ketololan yang sama. Saat ini, bertahun-tahun kemudian (14 tahun tepatnya), saya sudah sangat senang jika seseorang menyukai cerita-cerita itu, dan saya senang melihatnya kembali terbit. Seseorang bilang, itu buku yang bagus. Bahkan ada yang bilang, itu buku kumpulan cerpen terbaik yang pernah dibacanya. Saya rasa ia belum membaca banyak kumpulan cerpen, bahkan untuk ukuran cerpen Indonesia. Ada banyak kumpulan cerpen bagus di kesusastraan kita. Masalahnya, saya pikir, kesusastraan Indonesia tak lagi membutuhkan karya yang bagus. Sudah banyak. Yang benar-benar kita butuhkan adalah karya yang hebat, sebab sekadar bagus sudah tak lagi mencukupi.

Standard
Cantik Itu Luka

Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda

Perjuangan Terbelenngu Kecemasan Alamanda

Makalah ini judul aslinya adalah “Sebuah Analisis Psikologi Sastra: Perjuangan Terbelenggu, Kecemasan Alamanda dalam Cerpen Dongeng Sebelum Bercinta Karya Eka Kurniawan“. Ditulis oleh Avesina Wisda Burhana, mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Makalah ditulis pada 2 Januari 2012.

Makahal bisa juga diunduh di arsip Scribd saya.

Standard
Blog

10 Tahun “Corat-coret di Toilet”

Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul Lapar. Itu novel tentang perjuangan seorang penulis muda. Novel itu entah bagaimana membuat saya merasa ingin menjadi penulis, padahal tokoh di novel itu sendiri ujungnya malah pergi berlayar dan melupakan sejenak cita-citanya jadi penulis.

Meskipun saya sudah memutuskan akan menjadi penulis, saat itu saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis. Saya pernah menulis cerpen-cerpen remaja, bahkan pernah mencoba menulis novel (dalam beberapa genre: silat, horor, remaja), tapi saya merasa apa yang sudah saya tulis tidak lagi memenuhi bayangan saya mengenai karya yang seharusnya saya tulis.

Untuk sementara saya mencoba mencari tahu kemana arah tulisan saya dengan cara membaca sebanyak-banyaknya novel. Itu masa-masa saya sering mampir ke perpustakaan pusat UGM, membaca banyak novel (dunia!): Knut Hamsun, William Faulkner, Gabriel Garcia Marquez, John Steinbeck, Yasunari Kawabata, Toni Morrison. Saya juga mencoba membaca novel-novel klasik, kadang sampai berminggu-minggu karena tebal: Don Quixote Cervantes, The Idiot Dostoevsky. Saya membaca hampir semua buku yang datang ke tangan saya.

Hingga saya berkenalan dengan novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Saya memutuskan untuk menulis skripsi berdasarkan novel-novelnya, yang kemudian terbit tak lama setelah saya lulus kuliah, 1999: Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis.

Dua tahun berlalu dengan hari nyaris tanpa tidak membaca novel, serta satu buku telaah filsafat tentang Pramoedya Ananta Toer, memberi saya keyakinan bahwa inilah saatnya saya menulis. Lagipula saat itu saya sudah lulus kuliah. Saya harus melakukan sesuatu!

Alih-alih menulis lamaran kerja dan mengirimkannya ke perusahaan atau lembaga-lembaga, dari Juli tahun 1999 itu saya malah menghabiskan waktu menulis cerita pendek dan mengirimkannya ke koran. Saya bertaruh dengan diri sendiri: menulis cerpen dan dimuat di koran, atau saya sama sekali tak punya karir apa pun untuk dibanggakan.

Dan cerpen pertama yang saya tulis saat itu adalah “Hikayat Si Orang Gila”. Jujur saja, teknik dan stylenya rada-rada terpengaruh oleh cerpen-cerpen Maxim Gorki. Dan karena saya belum punya kepercayaan diri yang cukup, saya mengirimkannya ke Bernas, koran lokal di Yogya. Dimuat! Honornya Rp. 50.000.

Dengan penuh rasa percaya diri, saya menulis lebih banyak cerpen lagi, percaya jika saya tidak menulis, saya akan miskin dan mati kelaparan (mungkin agak berlebihan, sebab ayah saya masih sering menelepon untuk bertanya apakah saya punya uang, tapi pikiran semacam itu cukup membantu memberi tambahan motivasi). Saya menulis beberapa cerpen yang kemudian saya fotokopi dan perlihatkan kepada beberapa teman dekat. Terima kasih untuk mereka, mereka merekomendasikan untuk mengirim satu atau dua cerpen itu kembali ke koran.

Bolehlah saya sedikit pongah: saya ingin cerpen saya dimuat di koran Jakarta. Tapi untuk itu saya rupanya masih harus mengumpulkan keberanian dulu. Seperti saya bilang, sebelum ini sebenarnya saya sudah pernah nulis cerpen remaja di majalah remaja. Kemudian saya membayangkan, bagaimana jika saya menulis cerpen di majalah remaja (pikiran saya ketika itu adalah HAI), tapi dengan tema yang lebih serius. Itu akan menjadi cara saya mengukur diri sebelum punya keberanian mengirim ke koran nasional.

Saat itulah saya menulis cerpen berjudul “Teman Kencan”. Sebenarnya itu cerita cinta remaja juga: tapi saya balut dengan setting kejatuhan Presiden Soeharto, serta komentar-komentar politik alakadarnya. Saya deg-degan menunggu, apakah cerpen macam begitu bisa dimuat di majalah HAI? Ternyata dimuat juga. Saya semakin yakin, bahwa saya telah menempuh jalan yang benar.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengirimkan cerpen ke koran nasional. Yang pertama saya kirimi adalah Media Indonesia (saya masih keder kirim ke Kompas saat itu). Cerpen ketiga yang saya tulis dan kemudian dimuat pertama kali di Media Indonesia, berjudul “Corat-coret di Toilet”.

Saya merasa sudah menjadi seorang penulis saat itu juga. Kisah selanjutnya mungkin dialami juga oleh kebanyakan penulis: saya semakin banyak menulis, beberapa cerpen ditolak, tapi kemudian saya lempar ke media lain dan dimuat, atau saya perbaiki kembali dan dikirim kembali.

Hingga akhirnya pertengahan tahun 2000, teman saya pemilik Aksara Indonesia yang menerbitkan skripsi saya jadi buku, menawari saya untuk menerbitkan kumpulan cerpen saya. Karir penulisan saya baru setahun. Saya pikir itu terlalu cepat, tapi kesempatan mungkin tak akan datang dua kali. Saya nekat dan maju untuk menerbitkan buku kumpulan cerpen tersebut.

Namun menimbang-nimbang kemampuan diri sendiri, saya membayangkan kalau saya pemusik, mungkin yang akan saya terbitkan bukanlah sebuah “album”, tapi “mini album”. Saya hanya menginginkan sebuah buku tipis, dengan harga yang murah. Katakanlah sebagai sebuah perkenalan. Lagipula saya tak punya cerpen banyak. Maka kemudian, saya pilih sepuluh cerpen saja. Bukunya tidak sampai 100 halaman bahkan.

Begitulah buku cerpen pertama saya lahir, judulnya Corat-coret di Toilet (2000). Seperti saya bayangkan, buku ini tak menimbulkan kehebohan apa pun. Barangkali lebih banyak yang mengejeknya daripada memujinya. Tak ada review satu pun, kecuali yang ditulis oleh Kurniawan di situs Detik (well, mungkin ada hubungannya: penulisnya adalah kakak kelas saya di kampus).

Tapi bagi saya penerbitan Corat-coret di Toilet sangatlah penting: saat itulah saya menyadari bahwa saya harus berhenti dulu menulis cerpen. Penerbitan Corat-coret di Toilet bagaikan sebuah pos singgah sebelum saya mencoba mendaki kembali. Begitulah, dengan modal belasan cerpen, satu buku non fiksi dan satu “mini album” kumpulan cerpen, saya mulai proyek ambisius saya: menulis novel.

Novel tersebut terbit dua tahun kemudian: Cantik itu Luka. Dua tahun lagi setelah itu, saya menulis novel lain: Lelaki Harimau.

Di tengah-tengah itu, saya mencoba mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain dalam menulis cerpen. Ya, saya masih menulis cerpen. Bahkan semakin banyak, dengan tema yang lebih beragam. Serta eksperimen-eksperimen bentuk yang semakin (saya pikir) menantang.

Akhirnya, tahun 2005, saya menerbitkan kembali Corat-coret di Toilet, tapi tidak lagi dalam format “mini album”. Kali ini format “album” lengkap berisi 18 cerpen. Saya ambil 9 cerpen dari Corat-coret di Toilet edisi 2000 (dengan beberapa perbaikan), dan ditambahi 9 cerpen baru. Kumpulan ini saya terbitkan dengan judul Gelak Sedih. Pada saat yang bersamaan, saya menerbitkan pula 13 cerita pendek dengan judul Cinta Tak Ada Mati.

Pada tahun 2008, cerpen “Corat-coret di Toilet” diterjemahkan oleh Benedict R.O’G Anderson menjadi “Graffiti in the Toilet“, dan diterbitkan di Jurnal Indonesia, terbitan Cornell University.

Sepuluh tahun kini sudah berlalu sejak buku “mini album” Corat-coret di Toilet terbit pertama kali. Saya masih menulis cerita pendek, tapi mungkin apa yang saya pikir tentang cerita pendek sudah jauh berubah (dan pasti akan terus berkembang). Masih banyak yang ingin saya tulis dan terbitkan. Tapi satu hal saya pikir masih: dalam menulis, saya masih terus mencari, masih mencoba menaklukkan sesuatu yang saya sendiri tak bisa mengatakannya apa.

Tapi begitulah menulis: jika kita sudah merasa berhasil, kita mungkin akan berhenti menulis. Saya? Saya tak ingin berhenti, sampai benar-benar ada yang berhasil menghentikan saya.

Standard
Corat-coret di Toilet, In English

Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’

by Benedict R. O’G. Anderson, “Indonesia” Vol. 86

At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian. Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy Cantik itu … Luka (Beauty is … a Wound) in 2002, and the fiercely dense Lelaki Harimau (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, Cinta Tak Ada Mati (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.
Continue reading

Standard