Tanya dan Jawab

Mustikowati: Buku pertama yg saya baca adalah Cantik itu Luka. I’m so impressed. Saya lanjutkan dengan Lelaki Harimau, S.D.R.H.D.T, dan O. Satu yg terasa beda adalah penggunaan kata “tidak” pada C.I.L anda ubah menjadi “enggak” pada novel-novel selanjutnya. Mengapa? (because I prever the first one?). Terima kasih.

Bagi saya sesederhana itu merupakan bagian dari perubahan luas antara era Cantik Itu Luka/Lelaki Harimau (sila perhatikan kembali novel ini) ke era Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas/O yang terentang hingga 10 tahun. Mengapa? Karena itu hanya satu persoalan dari banyak hal yang menarik hati dan pikiran saya, pembicaraannya akan luas sekali. Tapi bisa kita persempit di kata “tidak” dan “enggak” saja, sesuatu yang sebenarnya pernah saya bicarakan di jurnal ini: sementara pada dasarnya saya masih mempergunakan kata “tidak” di sana-sini, pada saat yang sama saya enggak mau membunuh “enggak”. Ini sejenis diplomasi kecil, tentang kata-kata yang seringkali harus dibunuh hanya karena kebakuan, aturan, atau bahkan sopan-santun.

(dari Tanya dan Jawab)

Tanya Jawab #1

Aside
Cool Stuff

resensi_o_kompas

Sila baca “Antitesis Cinta Monyet”, resensi Tenni Purwanti untuk novel O, di Kompas hari ini, 2 Juli 2016. Foto oleh: @sastragpu.

Juga resensi Cantik Itu Luka (Schoonheid is een vloek) untuk edisi Belanda: “Schoonheid is een vloek heeft een speciale gekruidheid” di harian pagi de Volkskrant.

Hadiah Lebaran juga meliputi hak terjemahan Cantik Itu Luka ke bahasa Ibrani, akan diterbitkan oleh Shocken Publishers.

Antitesis Cinta Monyet

Aside
Cantik Itu Luka, In English

Publishers Weekly Review: Beauty Is a Wound

At the beginning of this English-language debut from Indonesian author Kurniawan, Dewi Ayu, who was once the most respected prostitute in the fictional coastal town of Halimunda, rises from her grave after being dead for two decades. She’s returned to pay a visit to her fourth daughter, Beauty, who is famously ugly. What follows is an unforgettable, all-encompassing epic of Indonesian history, magic, and murder, jumping back to Dewi Ayu’s birth before World War II, in the last days of Dutch rule, and continuing through the Japanese occupation and the mass killings following the attempted coup by the Indonesian Communist Party in the mid-1960s. Kurniawan centers his story on Dewi Ayu and her four daughters and their families. Readers witness Dewi Ayu’s imprisonment in the jungle during the war, a pig turning into a person, a young Communist named Comrade Kliwon engaging in guerrilla warfare, and a boy cheating in school by asking ghosts for help. Indeed, the combination of magic, lore, and pivotal events reverberating through generations will prompt readers to draw parallels between Kurniawan’s Halimunda and García Márquez’s Macondo. But Kurniawan’s characters are all destined for despair and sorrow, and the result is a darker and more challenging read than One Hundred Years of Solitude. There is much physical and sexual violence, but none of it feels gratuitous—every detail seems essential to depicting Indonesia’s tragic past. Upon finishing the book, the reader will have the sense of encountering not just the history of Indonesia but its soul and spirit. This is an astounding, momentous book. (Sept.)

From Publishers Weekly, 8 June 2015.
Standard
Cool Stuff

Kabar gembira saya peroleh malam ini: Novel pertama saya Cantik itu Luka (Beauty is a Wound, dalam proses penerjemahan oleh Annie Tucker) memperoleh PEN/Heim Translation Fund 2013 dari PEN Amerika. Proyek penerjemahan novel ini juga memperoleh dukungan dari Lemelson Fellowship/UCLA. Mudah-mudahan tak akan lama lagi kita bisa melihat novel ini dalam edisi Bahasa Inggris. Selamat, terutama saya tujukan untuk Annie, dan terima kasih untuk semua pihak yang memberi dukungan atas proyek ini. Berita mengenai ini bisa dibaca di sini dan di sini.

“Beauty is a Wound” Memperoleh PEN/Heim Translation Fund 2013

Aside