Kitchen Curse, Librairie Drawn & Quarterly’s Staff Picks 2019

I knew this collection of short stories was just the thing when I opened it and came across the most sensitive depiction of a public toilet I’ve ever read. In the service of emphasizing the innate strangeness of human interactions ‘crass’ subject matter (public urination, infidelity, fistfights and so on) is dealt with in an original and expansive way.

Librairie Drawn & Quarterly

Ms Ice Sandwich, Kawakami Mieko: Mengucapkan Selamat Tinggal itu Enteng, Kecuali …

Ada satu adegan yang terus menari di kepala saya ketika membaca Ms Ice Sandwich karya penulis Jepang, Kawakami Mieko. Dikisahkan sang narator, anak sekolah dasar, diajak temannya untuk nonton film di rumah. Temannya ini tinggal berdua saja dengan ayahnya, yang memang punya koleksi video “dari lantai sampai langit-langit”. Ditemani sang ayah temannya (yang langsung tertidur ngorok di sofa), kedua anak itu pun menonton film. Sebuah film Hollywood penuh aksi tembak-tembakan. Si narator dengan cepat merasa bosan, berkali-kali bertanya, film apa, sih? Hingga di satu titik, temannya mendadak menekan tombol pause, lalu memutar film kembali ke belakang. Ke satu adegan tembak-tembakan yang seru. Ia meminta sang narator memerhatikan adegan yang menurutnya keren. Saking kerennya, si teman bersedia berdiri di antara sofa dan pesawat televisi, lalu menirukn adegan (dan dialog) di film it. Sama persis, dan bahkan dengan peniruan akting yang membuat sang narator tiba-tiba ikut terseret ke dalam adegan. Hingga di ujung adegan, tanpa sadar ia sudah melorot ke lantai dengan tangan teracung ke atas, seolah meminta ampun jangan ditembak. Selepas itu, si teman mengantar si narator pulang ke titik tengah antara rumah mereka. Waktu sudah hampir tengah malam. Ketika hendak berpisah, si teman melambaikan tangan sambil berseru, “Al Pacino!” Si narator, dengan lugu menganggap “al-pacino” merupakan ungkapan baru, sebagai pengganti “dadah” atau “selamat tinggal”. Maka ia pun membalas, “Al-Pacinoooooo!”. Si teman tertawa, dan membetulkan, “Itu nama aktor di film tadi.” Tapi gagasan memakai sahutan “al-pacino” sebagai ungkapan “selamat tinggal” sudah terlanjur menarik hati mereka, hingga berkali-kali mereka mempergunakannya. Memang, tampaknya novel ini bercerita tentang bagaimana mengucapkan selamat tinggal dengan enteng, belajar banyak kepada anak-anak. Dari mulai tentang bagaimana teman datang dan pergi, yang bisa dilalui dengan sekadar bertanya-tanya, hingga perpisahan yang jauh lebih berat. Si narator tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayahnya sudah meninggal, dan neneknya itu merupakan ibu dari ayahnya. Ibunya mengabdikan diri untuk mengurus si ibu mertua, sekaligus si anak. Kita tahu, neneknya mulai sakit-sakitan. Ia merekamnya dengan baik, dari mulai jalan yang tak lagi sesehat dulu. Kemudian hanya tinggal di rumah, kemudian hanya tinggal di tempat tidur, hingga akhirnya hanya makan dan menggerakkan mata. Si bocah kecil selalu datang ke neneknya, membicarakan banyak hal yang dialaminya di sekolah, terutama tentang Ms. Ice Sandwich yang menarik perhatiannya di pusat perbelanjaan. Ia tak banyak bicara tentang “masa depan” si nenek, tapi kita tahu, di luar yang sering kita bayangkan tentang anak-anak, ia sangat siap menghadapi “selamat tinggal” kepada neneknya. Selamat tinggal yang begitu tenang, sebab ia tak terelakkan. Selamat tinggal yang bisa diganti dengan “al-pacino, Nenek!” Di atas segalanya, tentu ada Ms. Ice Sandwich, penjaga kios sandwich yang menurut gambaran si narator, mestinya sosok biasa-biasa saja. Saking tak pentingnya, ia bisa dimaki-maki pelanggan di depan banyak orang. Tapi hal yang buat orang lain biasa itulah yang menarik perhatian si bocah, hingga setiap hari ia bisa membayangkan wajahnya, lalu menggambarnya. Ketika si Ms. Sandwich tak lagi muncul di kedainya, dan kemudian ia tahu penjual itu akan pindah (menikah dan pindah kota), ia mulai merasakan artinya kehilangan. Ia menemuinya, memberinya kado (gambar yang ia buat). Di sana kita tahu, si bocah bisa enteng menghadapi kematian neneknya, karena ia tahu kematian merupakan hal yang biasa. Ia telah bersiap dengan itu. Tapi, Ms Sandwich jelas bukan “orang biasa”. Ia pernah mengikat perhatian si bocah. Berhari-hari, siang dan malam, dalam terjaga dan tertidur. Orang lain mungkin tak akan kehilangannya, tapi kepergiannya meninggalkan ruang kosong bagi si bocah. Mengucapkan selamat tinggal selalu enteng, seenteng berseru “al-pacinoooo”, kecuali … isi saja sendiri, deh.

Lelaki Malang, Kenapa Lagi?, Hans Fallada

Ini buku kedua dari proyek Moooi Pustaka (buku pertama kami, Angsa Liar karya penulis Jepang, Mori Ōgai). Hans Fallada merupakan salah satu penulis Jerman terkemuka, dan novel ini, Lelaki Malang, Kenapa Lagi? merupakan salah satu novel terpentingnya, yang pertama membawanya ke puncak kepopuleran.

Secara ringkas, ini kisah tentang sepasang kekasih, bersama anak mereka yang kemudian lahir, harus menghadapi dunia yang tak bersahabat. Ekonomi yang memburuk, sentimen anti-Yahudi yang meningkat, kebangkitan Nazi, pertentangan kaum komunis dengan polisi, mereka harus menghadapi itu semua. Sebagai pekerja kelas menengah, mereka harus menghadapi ejekan para buruh proletar yang lebih progresif dan berani, sekaligus harus menghadapi tekanan para majikan yang tak ada ampun. Dipecat dari pekerjaan, kabur dari rumah ibu sendiri yang meminta sewa kamar, menyewa ruangan yang tak layak, hingga terusir ke gubuk musim panas tanpa pekerjaan, sanggupkah keluarga kecil ini menghadapi dunia, dengan keadaan sosial-politik yang semakin menegangkan? Apakah cinta mereka bisa menyelamatkan hidup ketiganya?

Kalau tertarik dengan novel ini, sila menghubungi toko daring marjinkiri.com atau berdikaribook.red. Bisa juga menghubungi kontak Moooi Pustaka di: 0821 3357 5877 (WhatsApp).

The Memoir of an Anti-Hero, Kornel Filipowicz

Awalnya saya kira ia seorang pecundang biasa. Tidak, ia bukan pecundang. Sebagaimana seorang hero tak selalu menjadi seorang pemenang, seorang anti-hero seperti narator buku ini, juga tak perlu menjadi pecundang. Seorang pecundang, setidaknya, kita masih bisa bersimpati. Seorang pecundang mungkin pernah bertarung, tapi kemudian ia menjadi seorang yang kalah. Atau dunia, struktur dunia, telah membuatnya menjadi pecundang sejak lahir hingga mati, karena masyarakat tak pernah memberinya kesempatan untuk memenangi apa pun. Dilihiat dari hal semacam ini, tokoh kita jelas bukan seorang pecundang. Ia justru seorang pemenang, seorang yang bertahan hidup di masa sebelum perang, bertahan hidup di masa pendudukan Jerman, dan terus bertahan hidup di bawah pendudukan Sovyet. Bukan kemenangan yang gilang-gemilang, memang, tapi setidaknya ia mampu keluar dari derita perang dengan kepala menghirup udara laksana berdiri di alam kebebasan. Saya tak ingat persis berapa penulis Polandia yang pernah saya baca. Bukan karena saya sudah membaca banyak, tapi mungkin karena saya sering lupa dari mana seorang penulis berasal. Meskipun begitu, ada beberapa penulis Polandia, menulis dalam bahasa Polandia, yang terus menghantui saya sebab pernah memberi pengalaman membaca mengasyikkan. Pertama, saya bisa menyebutkan nama Bruno Schulz. Kedua, saya bisa menyebut nana Witold Gombrowicz. Dari kedua nama itu, yang kita tahu sudah menjadi nama-nama agung di belantara kesusastraan, sebenarnya saya tak ingat betul mana dulu yang terjumpai oleh saya. Keduanya memberi tawaran mengenai komedi manusia, yang mungkin tak membuatmu tertawa terbahak-bahak, tapi membuat isi kepalamu cengengesan tanpa bisa dijelaskan. Berikutnya, saya bertamu satu-satunya novel karya Andrzej Bursa. Ia memberi komedi jenis lain: kejenakaan di balik teror, di balik tindakan-tindakan brutal yang tak memiliki belas asih. Kejenakaan yang barangkali membuat kita tertawa sedih dengan betapa perihnya segala yang mungkin terjadi. Pernah sekali-dua saya merasa menyesal kenapa kita tak mempelajari Bahasa Polandia di sekolah, karena tampaknya mengasyikkan bisa membaca penulis-penulis ini di bahasa mereka sendiri, ditambah penulis-penulis yang “belum ditemukan”. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika saya membaca buku ini, The Memoir of an Anti-Hero, karya Kornel Filipowicz. “Jerman telah kalah perang, tapi aku tidak.” Kalimat itu disebutnya di bagian agak akhir, dan saya merasa itulah perasaannya yang sesungguh-sungguhnya, perasaan kemenangannya. Jerman, dengan semua pasukan perangnya, keberingasannya, akhirnya mundur dan luluh-lantak, sementara “si aku”, lelaki tiga puluhan tahun dengan satu-satunya senjata yang pernah disebutnya (tapi tak pernah dipakai) adalah pisau, justru bisa bertahan dan bahkan “memenangi” perang. Bagaimana ia melakukannya? Tidak, ia tidak melakukannya dengan aksi-aksi kepahlawanan. Ia justru melakukannya dengan beragam kepengecutan, kelicikan, keegoisan, bahkan pernah juga dengan nyaris menumbalkan orang lain. Bangsat sekali, bukan? Ya, betul. Ia seorang bangsat tak terpuji. Orang yang dengan enteng mengaku Jerman jika dibutuhkan, lalu memaki-maki orang Jerman (atau orang Polandia) di waktu lain. Orang yang meniduri istri-istri kesepian, dan kemudian memperoleh keuntungan dari tindakannya itu, sehingga pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula jauh dari berlaku untuknya. Ia culas, dan ia beruntung. Lagi-lagi komedi manusia dalam seninya yang paling mengasyikkan. Ia seorang pemenang, tapi jelas bukan seorang pahlawan. Kita tahu, kita bisa melihat yang semacam ini. Di masa perang maupun damai.

The Wine of Solitude, Irène Némirovsky

Kesepian itu memang memabukkan. Pertama, kita lihat kesepian yang diderita oleh Bella. Ia lahir dari keluarga bangsawan miskin, begitu miskinnya sehingga ia tak bisa membayar mas kawin dan memilih pasangan yang diinginkannya. Ia akhirnya menikahi Boris Karol, seorang Yahudi yang dia yakin bisa menghasilkan uang. Ya, satu-satunya alasan adalah uang. Demikianlah ia terjebak dalam pernikahan yang tak membahagiakan, meskipun ia bisa membeli pakaian dan topi dan sepatu model terkini langsung dari pusat mode di Paris, yang di kota kecil Kiev langsung menjadi buah pergunjingan karena gaya hidupnya jauh di atas penghasilan suaminya. Kekayaan, ternyata tak sungguh-sungguh membuat jiwanya tenang dan memberi kebahagiaan. Ia selalu kesepian, karena satu hal yang sederhana: ia dibakar oleh amarah dendam masa lalu. Masa kecil dan remaja yang dililit kemiskinan. Masa kecil yang sering menjadi olok-olok keluarga besarnya yang lebih kaya, masa remaja yang tak berkesempatan menikmati pesta-pesta kaum bangsawan papan atas. Ia dendam pada masa kecil dan remaja yang tak dimilikinya. Demikianlah ia selalu ingin waktu berhenti di satu titik, di mana ia terus menyangkal umurnya yang menua, dan puncak kemabukannya bukan dari hidup poya-poya, tapi pada sosok seorang anak muda bernama Max, yang adalah keponakannya sendiri. Ia memelihara Max, bagaikan memelihara gigolo, dan hanya bisa bahagia dengan terus bersama Max, meskipun tetap tak bisa meninggalkan suami dan rumahnya. Kesepian kedua, tentu diderita oleh Boris Karol, sang suami. Ia mungkin memang mencintai istrinya, sebab sampai akhir ia selalu tutup mata terhadap segala desas-desus maupun bukti-bukti tak langsung yang menunjukkan ketidaksetiaan istrinya. Ia barangkali tahu, Bella tetap bersamanya hanya karena uang, dan sebab itulah ia terus berburu uang. Hidupnya hanya berburu uang dan mempermainkan uang. Ia pergi ke rumah judi untuk mempertaruhkan uang. Ia masuk ke Pasar Saham, juga untuk mempertaruhkan uang. Dan, seperti diduga Bella, ia orang yang mahir memperoleh uang. Bahkan ketika di akhir hayatnya saham-sahamnya berguguran, kita tahu ia telah menyimpan banyak uang atas nama istrinya agar mereka tak miskin, tapi ketika ia meminta uang itu ke istrinya dan Bella berbohong bahwa uang itu juga ikut jatuh di pasar saham, ia demikian percaya. Dalam ilusi kebahagiaannya, ketika anaknya mengecup keningnya di saat memejamkan mata, ia berpikir itu istrinya dan demikianlah ia bisa tertidur dengan senyum mengembang. Ia menutup lubang kesepian dengan ilusi bahwa istrinya akan tetap bersamanya, bersetia, sebab ia terus menghasilkan uang. Kesepian ketiga, diderita oleh anak mereka, Hélène, yang merasa masa kecilnya dihancurkan oleh ibu yang tak mencintainya, juga oleh hubungan ibu dan sepupunya, Max. Kesepian semakin dideritanya, ketika satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara, yang mengerti dirinya, sang pengasuh, mati. Ia memimpikan tak hanya kebahagiaan, tapi kebebasan, yang tak pernah diperolehnya hingga usia dewasa. Ia hidup dengan benih-benih kebencian kepada ibunya dan Max, kebencian yang terus berakar dan tumbuh. Puncaknya ketika ia telah menjadi “perempuan”, dan bukan lagi seorang gadis. Ia tahu bagaimana membalaskan dendam penderitaan masa kecilnya: ia bisa merebut Max dari ibunya dan membuat mereka menderita. Ya, itu puncak kemabukannya, rasa mabuk yang juga nyaris menghancurkannya. Dan, saya ikut dibuat mabuk novel ini, dihanyutkan oleh ombang-ambing perasaan si anak, yang menjadi protagonis sekaligus alat pembaca untuk melihat banyak kejadian. Dengan latar belakang Revolusi Rusia, pelarian ke Finlandia, kehidupan glamor Paris, semakin mengasingkan keluarga ini ke kesepian nyaris tanpa dasar. Ini novel yang benar-benar memabukkan, sebaiknya dibaca tidak dalam keadaan kesepian, karena efeknya mungkin bisa membuat hati dan otak berdarah-darah. The Wine of Solitude, judulnya, karya Irène Némirovsky.

Tyrant Banderas, Ramón del Valle-Inclán

Tyrant Banderas karya Ramón del Valle-Inclán tak hanya memberi anatomi brutal seorang tiran, tapi juga bagaimana ia pada saat yang sama menyebarkan wabah kebrutalan itu ke dunia yang didiaminya. Novel ini tak hanya merupakan salah satu pelopor kisah manusia yang haus kuasa, yang memberi pengaruh pada novel-novel sejenis (termasuk The Autumn of the Patriarch Gabriel García Márquez), tapi juga rangkaian kisah-kisah ganjil tentang ketidakberdayaan. Bagian terakhir itu, sungguh merupakan bagian paling menarik. Atau bisa dibilang, novel ini tak semata-mata berkisah mengenai sang tiran, tapi terutama mengenai bagaimana sekelompok orang, berkongsi maupun berkonspirasi untuk menggulingkan sang tiran dengan berbagai cara dan upaya. Dibuka dengan seorang kolonel desersi yang tengah mempersiapkan serangan pemberontakannya, novel ini jelas bukan bacaan yang gampang. Ia melompat dari satu tokoh ke tokoh lain, dalam sebuah rangkaian benang semacam jaring laba-laba, jika tak bisa dikatakan kusut. Tapi, jika kau membacanya untuk kedua kali, kau bisa menemukan keindahannya, serta bagian-bagian konyol yang bisa membuat mulutmu melebar dari satu telinga ke telinga lain. Sang tiran sendiri, yang seringkali menyebut dirinya sebagai Santos Banderas, atau Kid Santos, akan mengatakan sesuatu yang pasti bikin kita tertawa jengkel, “Bersumpah, hari paling membahagianku adalah hari ketika aku pensiun.” Semua tiran mengatakan hal serupa itu. Mungkin benar, karena pada dasarnya mereka tak pernah tahu kapan akan pensiun. Mereka pensiun hanya jika dipaksa, atau dibuat mati. “Aku bersumpah hatiku remuk ketika kutandatangani keputusan untuk mengeksekusi Zamalpoa. Aku tak bisa tidur selama tiga malam!” Ia mungkin berkata jujur, tapi tetap saja ia mengeksekusi para musuhnya, para pengkhianatnya, satu per satu. Seorang tiran bisa mengatakan apa pun yang ia ingin katakan, dan memaksa orang untuk menerimanya sebagai kebenaran, dan melakukan bahkan hal yang bertentangan dengan yang ia katakan, dan tetap memaksanya sebagai kenyataan yang harus dilakukan. Bicara tentang seorang tiran, sekali lagi, juga bicara tentang orang-orang tak berdaya di bawah kekuasaannya. Sebagian orang melawan, sebagian berusaha menjadi kolaborator, sebagian lagi menjadi penjilat, untuk bertahan hidup. Yang melawan saling mencurigai satu sama lain, dan pada saat yang sama, gamang merumuskan siapa musuh sebenarnya. Apakah kekuasaan itu memuncak pada sosok sang tiran, Santos Baderas sendiri, atau kekuasaan bersifat organik? Bahwa musuh orang Indian adalah orang kulit putih? Atau negeri leluhur, Spanyol? Atau para yankee dengan kepentingan mereka sendiri? Membaca novel ini, meskipun tak ekspilisit mengatakannya di negeri mana, tak hanya memberi gambaran tengil mengenai rejim-rejim diktator di Amerika Latin, tapi juga di banyak tempat: Afrika, Eropa, Asia. Dulu maupun sekarang. Ini jenis novel yang ideal menurut saya: bicara tentang individu-individu, pada saat yang sama menghamparkan konteks sosial yang sangat luas. Tak hanya pertarungan di antara berbagai faksi lokal, tapi juga beragam kepentingan internasional. Sikut-sikutan pula antara para revolusiner, pencari untung, hingga gereja. Valle-Inclán merupakan penulis yang menghibur, jika tahan membacanya, karena ia memiliki sinisme yang melimpah. Sang tiran memang brutal, tapi para musuhnya, juga tak kalah brutal. Dengan penuh kesinisan, ia menulis, setelah sang tiran ditembak mati, “kepalanya diletakkan di sebuah perancah dalam karung kuning selama tiga hari parade. Dektrit yang sama memutuskan tubuhnya dipotong empat dan disebar dari satu perbatasan ke perbatasan lain, dari satu pesisir ke pesisir lain.”