Eka Kurniawan

Journal

Yang Menghibur dan Yang Nyastra, Graham Greene

Bertahun-tahun lalu, saya iseng membaca buku kecil berjudul The Tenth Man karya Graham Greene. Di tengah-tengah karirnya sebagai novelis, Greene pernah meneken kontrak dengan MGM untuk menyuplai cerita film. Dengan kontrak yang nyaris seperti perbudakan (itu kata-katanya sendiri, sic!), Greene menulis rancangan cerita (treatment), dari mulai sepanjang 2 halaman hingga 30000 kata. The Tenth Man merupakan salah satu yang lumayan panjang hingga bisa diterbitkan menjadi buku (yang royaltinya tentu mengalir ke MGM, bukan kepada si penulis). Graham Greene merupakan salah satu penulis yang secara sadar membedakan karya-karyanya ke dalam dua jenis genre: hiburan (entertainment, kata dia), dan sastra. Nah, sudah jelas The Tenth Man merupakan karya yang sejak awal diniatkan sebagai cerita hiburan. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya beberapa minggu terakhir, saya berkesempatan membaca novelnya yang lain, yang dia anggap sastra (dan banyak dianggap karya terbaiknya), The Heart of the Matter. Sebenarnya buku itu sudah lama nongkrong di rak buku saya, bersama tiga buku Greene lainnya (termasuk satu yang sudah saya sebut), tapi baru sekarang sempat dibaca. Pertanyaannya, apa bedanya kedua novel tersebut? Apa perbedaan “yang menghibur” dan “yang nyastra” dalam kedua novel Greene? Meskipun di belakang hari Greene tak lagi mempergunakan kedua kategori tersebut (dan menyebut mereka semua sebagai “novel”), rasanya menarik untuk sedikit menengok kembali kedua contoh karya itu. Baiklah, dilihat dari gaya menulis, keduanya tak memperlihatkan perbedaan yang mencolok. Greene menulis dengan bahasa yang bisa dibilang sederhana, di mana kata-kata ditempatkan fungsional agar mudah dimengerti dan tak sulit dibaca. Ia bukan jenis penulis yang gemar menempatkan begitu banyak ornamen di kalimat-kalimatnya. Kita juga bisa menyebut gaya berceritanya sebagai “sinematik”, di mana ia memberi tekanan yang kuat terhadap adegan, sekuens, aksi dan dialog. Fungsi narator hampir menyerupai mata kamera dalam film. Meskipun begitu, bukan berarti tak ada perbedaan. Hal paling mencolok ketika membaca The Heart of the Matter, adalah dilema moral. Barangkali itulah yang membuat novel ini “serius”, dan membuat penulisnya menganggap itu “sastra”. Novel ini bercerita tentang Scobie, seorang polisi yang ditempatkan di tanah koloni di pantai barat Afrika, di masa perang dunia. Ia memiliki seorang isteri, Lousie (seorang snob, penggemar karya seni dan gaya hidup kota), yang tak betah dengan kehidupan koloni dan ingin pergi. Scobie yang gajinya pas-pasan, terpaksa meminjam uang dari rentenir (dicurigai juga menyelundupkan permata) Siria bernama Yusef, demi bisa mengirim isterinya keluar dari koloni tersebut. Dilema moral pertama muncul: bolehkah seorang polisi memiliki utang budi kepada seorang (kemungkinan besar) kriminal? Setelah isterinya pergi, ada kapal nyasar yang salah satu penumpangnya seorang janda muda bernama Helen. Scobie terlibat affair, Helen meminta mereka melakukan hubungan serius dan terbuka. Beragam persoalan moral muncul, yang paling menonjol tentu saja masalah suami beristeri yang memiliki kekasih. Tapi yang menarik perhatian saya, jika dua orang saling mencintai tapi keadaan mereka mengharuskan hubungan itu dilakukan sembunyi-sembunyi (sekoloni tahu Scobie punya isteri, dan si janda baru saja kehilangan suaminya), haruskan menggenapi cinta tersebut dengan “pengakuan” masyarakat dalam arti tak perlu sembunyi-sembunyi? Problem semakin serius ketika Yusef mengetahui hubungan ini, dan mulai mengancam si polisi, untuk ditukar dengan “perlindungan”. Saya mengira, yang dianggap “sastra” oleh Greene barangkali memang tema-tema serius mengenai moral kehidupan manusia semacam ini. Sebab di novel “hiburan”nya, The Tenth Man, problem tersebut tidak menonjol meskipun bukan tidak ada sama sekali. Di novel ini diceritakan mengenai para tahanan. Satu di antara sepuluh akan dibunuh. Seorang pengacara kaya bernama Chavel terpilih. Ia menawarkan seluruh kekayaannya kepada siapa pun yang menggantikannya. Seorang pemuda bernama Janvier menerima, dan kekayaan Chavel jatuh ke keluarga Janvier yang kemudian dieksekusi mati. Ya, itu novel yang menghibur, tapi bukan berarti tanpa dilema moral dan keseriusan. Saya bertanya-tanya tentang apa makna kekayaan, kematian, dan terutama: kepengecutan. Kita tahu, di akhir karirnya, Graham Greene kemudian meninggalkan kedua kategorisasi tersebut. Ia tak lagi peduli dengan “hiburan” ataupun “sastra”. Baginya, karya-karya itu semua sesederhana disebut “novel”, dan saya rasa itu pilihan yang tepat. Membaca The Heart of the Matter sangat menghibur, bisa dibaca dengan mudah, tapi juga serius. Hal yang sama juga terjadi pada The Tenth Man. Menghibur atau tidak menghibur, bagi saya bukan satu kategori. Sesuatu bisa menghibur untuk kepala manusia yang satu, tapi tidak untuk kepala manusia yang lain, siapa bisa menentukan? Tapi pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan, bisa muncul di karya jenis apa pun dengan tujuan apa pun, jika lahir dari penulis yang memang memandang kehidupan ini dengan beragam pertanyaan dan rasa penasaran, juga ketakjuban. The Tenth Man mungkin awalnya hanya ditulis untuk sekadar hiburan Holywood, thriller dengan balutan romantisme, tapi pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hidup toh tak bisa lepas juga dari sana.



1 Comment

  1. jimbozthesandoz

    11 April 2015 at 9:30 pm

    Saya salut dengan Anda, mas eka. Jarang saya tau ada penulis yang suka membaca buku2 bagus. Tapi mungkin saja mereka membacanya hanya tidak terpublikasikan. Saya memiliki kesan mereka hanya suka menulis dan membaca buku sumber atau referensi buat karya mereka. Salam buku!

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑