Eka Kurniawan

Journal

Yang Berguna Sekaligus Omong-Kosong

Seperti apa kesusastraan ideal untuk saya? Saya akan menjawabnya: kesusastraan yang berguna sekaligus omong-kosong. Saya tahu, itu terdengar kontradiktif dan membingungkan, dan memang begitu. Saya tak akan menyangkalnya. Jika Anda mengikuti jurnal saya, memeriksa dengan teliti, Anda bisa menyadari kecenderungan saya tersebut dengan segera. Pertama. Saya mungkin tak terlalu percaya bahwa karya sastra bisa mengubah dunia (meminjam ungkapan Don DeLillo, bom bunuh diri, atau dua pesawat yang menabrak menara kembar barangkali bisa mengubah dunia lebih dahsyat). Satu-dua karya sastra barangkali pernah mengubah dunia, tapi saya tak terlalu yakin itu tujuan seluruh karya sastra. Meskipun begitu, saya percaya karya sastra bisa mengubah cara orang memandang dunia (dan dengan cara seperti itulah barangkali dunia bisa berubah). Saya percaya, sastra yang baik seharusnya merupakan medan pertarungan gagasan, tempat virus-virus kecil cara kita melihat dunia disebarkan dari satu kepala manusia ke kepala manusia yang lain. Gagasan itu merupakan sesuatu yang besar dan kompleks atau kecil dan sederhana, itu perkara lain. Saya berkali-kali mengatakan, membayangkan genre sastra seperti filsafat. Saya tak terlalu suka karya sastra yang penuh khotbah dan penuh pesan moral. Bukan saya anti khotbah dan moral, tapi saya menyukai karya sastra yang berkhotbah dan menyodorkan pesan moral tanpa saya sadar karya itu tengah berkhotbah dan menggelontorkan pesan moral. Anda harus menjadi penulis hebat untuk membuat karya sastra semacam itu. Kedua. Tapi di sisi lain, saya juga menyukai karya sastra yang omong-kosong. Nonsens. Tentu saja kita bisa berdebat, benarkah di dunia ini ada hal-hal yang benar-benar kosong? Mungkin sebenarnya tidak ada. Jika saya mengatakan sastra yang omong-kosong, itu semata-mata saya merujuk ke sastra yang ditulis seolah-olah untuk main-main saja. Sekali waktu saya pernah mengatakan, kesenian (juga kesusastraan), bagi saya ibarat permainan untuk anak-anak. Kadang-kadang kita tak memerlukan tujuan apa pun, seperti anak-anak dengan bola yang ditendang-tendang sesuka kaki mereka. Kita melakukannya hanya karena kita senang. Kita melakukannya karena sadar, betapa kelabunya kehidupan kita tanpa itu, sekelabu anak-anak yang tak pernah bermain. Begitulah, jika saya melihat diri saya sendiri, saya selalu merasa berada dalam ketegangan antara dua sudut itu: berpikir tentang sastra sebagai sesuatu yang berguna, sesuatu dimana saya ingin menyampaikan gagasan saya, tapi di sisi lain, juga tentang sastra yang sekadar omong-kosong belaka, semata-mata sejenis permainan. Kesusastraan saya, saya bayangkan, sebagai sebuah ketegangan untuk menjadikan ini sebagai suatu proses bermain-main yang serius, atau keseriusan yang main-main. Sekali lagi, itu terdengar kontradiktif, memang. Barangkali seperti itulah, saya. Saya tak tahu apakah saya mampu mengatasi ketegangan kreatif semacam itu atau tidak. Saya tak berusaha menghindarinya, dan memilih untuk selalu berada di tengah ketegangan tersebut. Demikian pula bacaan-bacaan saya. Saya, barangkali seperti kebanyakan pembaca, selalu mencoba “menebak” apa yang ada di pikiran penulis, dan mencoba mengujinya dengan pikiran sendiri. Saya mencoba menafsir Don Quixote, seolah saya bicara dengan Cervantes. Mencoba merasakan amarah Moby Dick, seolah tengah berdebat dengan Melville. Tapi adakalanya saya membaca karya-karya tertentu, yang saya perlakukan sebagai omong-kosong belaka, hanya untuk membuat saya tertawa atau mengernyitkan dahi. Misalnya saya membaca Strange Tales from a Chinese Studio, karya Pu Songling (1640-1715), yang isinya hanya kisah-kisah konyol yang saya tak perlu pusing memikirkan apakah ada maknanya atau tidak. Bayangkan saja sebuah kisah tentang seorang yang sedang semadi, kemudian mulai mendengar suara-suara aneh. Suara-suara yang kurang-lebih mengatakan sesuatu akan terbentuk. Ia penasaran dan terus semadi, untuk melihat sesuatu itu membentuk. Hingga muncullah makhluk-makhluk kecil. Ia kaget dan mengamati makhluk-makhluk itu, penasaran ingin tahu apa. Tapi pada saat yang sama, pintu diketuk tetangganya. Si makhluk-makhluk kecil panik dan berlarian (seperti tikus mencari lubang untuk kabur), dan menghilang. Cerita selesai. Pikirkan saja, cerita macam apa itu? Nyaris tanpa makna sama sekali. Seperti anak-anak bermain kelereng, kadang-kadang saya membaca cerita omong-kosong semacam itu sesederhana hanya karena itu menyenangkan. Jika harus disederhanakan kembali, kesusastraan ideal saya barangkali ini: omong-kosong yang bisa mengganggu isi kepala Anda. Atau: usaha mengganggu isi kepala Anda dengan cara yang penuh omong-kosong. Sebagaimana segala sesuatu yang ideal, kesusastraan macam begitu jauh membumbung di atas langit. Mari kita kembali menginjakkan kaki ke tanah dan menghadapi problem besar setiap penulis: mewujudkan apa yang ada di kepala ke dalam kata-kata.



6 Comments

  1. Mas Eka, kenapa Anda tidak lebih banyak menulis soal buku-buku kumpulan cerpen karya penulis Indonesia yang diterbitkan beberapa tahun terakhir. Bukankah ada banyak sekali kumpulan cerpen terbaru Indonesia bermutu baik karya penulis Martin Aleida, AS Laksana, Linda Christanty; hingga karya lama yang diterbitkan kembali karya A Tohari, Kuntowijoyo, dan sebagainya.

    Setelah membaca motif dan modus tulisan-tulisan dalam blog ini, saya merasa Anda lebih mengutamakan upaya menyiarkan hasil pembacaan Anda atas karya-karya penulis dunia agar spirit dan nilai-nilai terbaik karya penulis tersebut dapat Anda pelajari sebaik-baiknya dan membawa pengaruh terbaik ke dalam karya Anda. Satu sisi, hal tersebut memang termasuk ke dalam kekuatan positif.

    Namun, di sisi lain, sebenarnya hal tersebut menunjukkan kelemahan terbesar penulis Indonesia. Salah satu penyebab lemahnya sejarah pembacaan atas dunia cerpen Indonesia adalah tiadanya tradisi pembacaaan antar penulis cerpen tersebut. Yang dimaksud pembacaan di sini ialah adanya ‘publikasi tertulis’. Lihatlah bagaimana esai AS Laksana tiap minggu di Jawa Pos: berapa banyak didedikasikannya untuk membahas atau mengupas karya-karya cerpenis Indonesia, walau disajikans ecara populer dan ringan sekalipun? Dan berapa banyak buku ditulis oleh cerpenis Indonesia yang membahas khusus karya cerpenis lainnya, baik karya cerpenis pendahulunya mapun kontemporer Indonesia?

    Bandingkan dengan dunia kepenyairan. Sejak era Rustam Effendi, penyair Indonesia telah mengidentifikasi posisinya dibandingkan dengan M Yamin, Chairil Anwar mengidentifikasi posisinya dibandingkan Amir Hamzah, dan sebagainya.

    Mas Eka, bagaimana dengan Anda yang telah bertahun-tahun muncul pertama kali sebagai penulis cerpen di Majalah Hai hingga menerbitkan buku antologi kumpulan cerpen. Sepertinya ada rasa rendah diri bagi penulis cerpen Indonesia untuk membahas mengenai penulis cerpen lama dan kontemporer, dengan studi yang serius dan khas seperti yang dilakukan oleh para penyair Indonesia.

    Mohon maaf sebelumnya, tanpa ditulis dan dibahas oleh penulis Indonesia pun, penulis besar dunia akan tetap besar. Don Quixote, Moby Dick, atau penulis seperti Cervantes, Melville, Kafka, Joyce, Hemmingway, dan sebagainya pun tetap akan ditulis dan dibahas oleh penulis luar negeri. Tidak perlu khawatir.

    Tapi siapa yang akan membahas hasil pembacaan bermutu atas cerpen-cerpen Indonesia jika tidak dijadikan tradisi oleh cerpenis Indonesia itu sendiri?

    Jangan harap karya sastra Indonesia akan mendunia jika sastrawan Indonesia hanya mau menulis hasil pembacaannya atas sastrawan besar dunia. Kesusastraan Indonesia akan mendunia jika tradisi pembacaan atas karya sastra dalam negerinyanya kuat.

    Dalam dunia kepenyairan, tradisi pembacaan atas karya penyair lain ini sudah ada dan tua. Tinggal melakukan pembaharuan dan dirawat terus menerus, dirintis oleh sosok seperti M Yamin, Rustam Effendi, Amir Hamzah, hingga Chairil Anwar, bahkan sebelum tahun 45, sebelum Indonesia didirikan menjadi republik. Dalam masa 50-an, Sitor Situmorang memperpanjang tradisi ini dengan menulis esai-esai mengenai kepenyairan Chairil Anwar dalam berbagai majalah sastra besar pada masanya. Dan selanjutnya tradisi ini berjalan hingga era 2000-an.

    Dalam dunia prosa atau novel, tradisi ini juga sudah ada, dimulai langsung oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang mengalami masa revolusi fisik memerdekakan Indonesia. Pramoedya menulis mengenai ketokohan Kartini, Tirto Adhi Soerjo sebagai prosais, dan kritik atas Hikajat Siti mariah karya Haji Mukti

    Dalam dunia cerpen, tradisi pembacaan atas karya sesama cerpenis Indonesia perlu dikuatkan dan dibukukan agar menjadi tradisi. Padahal cerpen Indonesia sangat diberi ruang dalam begitu banyak Koran tiap minggunya, serta terbuka luas di tabloid dan majalah bulanan…Tapi pembacaan serius oleh cerpenis mengenai karya-karya yang muncul tersebut sangat langka dipublikasikan…

    • @Alkemi Sastra Indonesia:
      Terima kasih tanggapannya. Jawaban saya: tidak memang. Secara khusus saya tak berminat menulis tentang karya-karya sastra Indonesia, terutama kontemporer. Alasan saya? Jelas: saya tak pernah berminat menjadi pengamat sastra, apalagi kritikus. Saya tak membaca seluruh karya sastra. Saya pilih-pilih. Saya hanya membaca dan kadang mengomentarinya sebagai pembaca dan penulis, karya-karya yang saya sukai saja (banyak kok penulis dunia yang saya tidak suka dan ogah membicarakannya). Kebanyakan karya penulis asing (sebenarnya tidak banyak juga), tapi beberapa penulis Indonesia juga ada. Tak banyak. Saya harus jujur: hanya sedikit penulis Indonesia yang saya sukai. Saya malas membaca karya yang saya tidak suka. Saya suka Pramoedya. Asrul Sani, Kho Ping Hoo. Banyak yang tahu soal itu, dan saya pernah menulis tentang mereka. Dengan serius. Bukan karena saya mau jadi pengamat atau kritikus, tapi karena saya begitu mencintai mereka. Anda benar, tanpa saya sebut-sebut penulis-penulis dunia itu tetap besar. Soalnya adalah: blog ini tidak dalam maksud membesarkan mereka (yang tak perlu), tapi untuk menambah-nambah isi kepala pemilik blog ini. Yakni saya sendiri. Kepedulian saya terhadap sastra Indonesia? Sekali lagi saya tak berminat menjadi pengamat sastra (apalagi sampai harus mengulas karya-karya yang saya tidak suka). Kepedulian saya terhadap sastra Indonesia saya lakukan dengan satu cara yang saya paling percaya: menulis salam Bahasa Indonesia. Menulis karya sastra. Semoga Anda mengerti dengan hasrat sederhana saya ini. NB: ngomong-ngomong, kalau masih penasaran, Anda bisa coba baca esai saya “Tragedi 1965 dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk, selain tulisan-tulisan saya lainnya di situs arsip saya tersebut.

  2. Bang Eka, suatu kali aku pernah satu panggung dengan seorang pengarang, dalam acara bincang-bincang kepenulisan. Ia pengarang yang percaya bahwa sastra harus mampu menyuarakan ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Sebegitu percayanya ia akan hal itu, sampai-sampai ia berkata bahwa sastranya didedikasikan untuk menjadi “voice of the voiceless”. Pada titik itu aku tak bersepakat. Kenapa ia tak menulis feature jurnalistik atau esai saja?

    • @andina dwifatma:
      keyakinan orang berbeda-beda. Jika ia tinggal di Gotham dan punya banyak uang, kita juga tak bisa mencegahnya menjadi Batman. Yang menjadi soal bagaimana keyakinannya bisa membuatnya menulis dengan kreatif dan menarik :)

      • Yang jadi soal, ia menulis dengan pilu-pilu sedap, dan sering terharu oleh ceritanya sendiri :)) Oh ya, Soal ujaran “write what you know” itu bagaimana menurut Bang Eka? Aku kenal beberapa pengarang yang nulis kiri-kiri tapi sambil nongkrong di Starbucks :P Entah mereka menganut postmodernisme sebagai pandangan hidup, atau memang punya kecenderungan ingin menulis yang hebat-hebat..

        • @andina dwifatma:
          “write what you know” itu perkara yang gampang. Yang lebih menantang dan saya rasa berguna tentu saja “write what you don’t know”, sebab itu akan membawamu kepada satu hal: riset.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑