Eka Kurniawan

Journal

With Borges, Alberto Manguel

Seorang remaja enam belas tahun, mengisi waktu luangnya sepulang sekolah dengan menjadi penjaga toko buku Pygmalion di satu sudut Buenos Aires. Toko itu terutama menjual buku-buku impor berbahasa Inggris dan Jerman. Satu sore, seorang pelanggan buta datang dan menawari si bocah, seandainya ia punya waktu untuk bekerja dengannya, sebagai pembaca buku. Ia menerimanya, dan dari 1964-1968, Alberto Manguel datang sekitar tiga kali seminggu untuk membacakan buku (atau apa pun) kepada si pelanggan buta. Ia menjadi satu dari sedikit orang yang beruntung pernah menjadi pembaca bagi seorang penulis yang kita tahu menjadi salah satu tonggak untuk cerita pendek, realisme magis, el boom: Jorge Luis Borges. Manguel menceritakan pengalaman istimewanya dalam sebuah buku tipis berjudul With Borges. Saya tak pernah tahu ada buku ini sebelumnya, menemukannya secara tak sengaja di sebuah toko buku bekas bernama Judd Books, di 82 Marchmont Street, London, ketika sedang iseng berjalan-jalan sambil memakan es krim. Sebenarnya bukan buku bekas, ada sebuah meja yang khusus memajang buku baru (setidaknya buku-buku dengan kondisi baru). Setiap judul ditumpuk ke atas, berisi beberapa kopi. Mungkin sisa gudang, mungkin juga si pemilik toko sengaja menyediakan buku baru atas pilihannya sendiri. Di meja itu, saya melihat ada satu novel Bolaño, ada satu ulasan tentang Garcia Lorca, kumcer Raymond Carver. Saya hanya mengambil With Borges, seharga 3,99 pound. Saya membacanya di dalam kereta, lalu melanjutkannya dalam penerbangan dari Heathrow menuju Changi. Buku ini berisi setengah memoar dan setengah ulasan, dan seolah menegaskan kecenderungan karya-karya Borges, Manguel merasa hanya perlu 74 halaman buku untuk menceritakan itu semua. Untuk seorang pembaca Borges, barangkali banyak hal di buku ini pernah diketahui, atau pernah dibaca di tempat lain, tapi saya rasa ini salah satu buku yang perlu dibaca tak hanya menyangkut Borges, tapi juga menyangkut kesusastraan. Seperti kristal, peristiwa-peristiwa pendek yang terjadi dalam kehidupan Borges dan kemudian diceritakan kembali oleh Manguel, memancarkan begitu banyak hal mengenai sastra sebagai keterampilan maupun jalan hidup. Salah satu yang baru saya ketahui dan mengharukan adalah, ketika Manguel pertama kali datang ke apartemen Borges dan menyadari (kontras dengan reputasi sang pengarang yang dikenal sebagai “pembaca banyak hal”), tak banyak buku di sana. Hanya ada rak kecil di ruang baca, dan rak lebih kecil di kamarnya. Sebagian besar buku-buku klasik, yang juga gampang ditemukan di tempat lain. Manguel kemudian teringat komentar Mario Vargas Llosa yang pernah berkunjung ke apartemen tersebut dan bertanya kenapa hanya sedikit buku di sana. Si tuan rumah menjawab, “Mungkin (mengumpulkan buku) itu yang kalian lakukan di Lima, di sini di Buenos Aires kami tak suka pamer.” Borges mulai membuta di akhir 30an, kebutaan yang teramalkan (ayah dan kakeknya menderita hal yang sama), dan buta total menjelang umur 60. Mengenai kebutaannya, Borges sendiri pernah menulis esai menarik berjudul “Blindness” (di buku Seven Nights). Memoar ini, sekali lagi ini memoar seorang pembaca buku untuk seorang penulis buta, juga banyak berputar mengenai kebutaannya. Untuk membaca buku, ia banyak dibantu oleh ibunya (“Saya pernah mengurus suami yang buta, sekarang saya mengurus anak saya yang juga buta”), dan beberapa teman yang membacakan buku untuknya. Di balik kebutaannya, Borges memiliki ingatan yang luar biasa. Ia menghapal banyak karya, kata per kata, kalimat per kalimat. Ia mengarang puisi dan cerpennya di dalam kepala, mengoreksinya di dalam kepala, hanya mendiktekannya ketika puisi atau cerpen itu telah tersusun rapi di kepalanya. Dan jika ia pergi ke toko buku, ia akan berjalan sepanjang rak dan tangannya meraba jilid buku, merasakannya, seolah ia tahu persis apa isi buku tersebut. Ia tak pernah sedih mengenai kebutaannya, tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah tragedi, dan bahkan dengan bangga ia sering merujuk kepada Homer, penyair agung yang juga buta. Borges percaya tugas moral manusia adalah menjadi bahagia, dan kebahagiaannya terletak dalam membaca buku. Kebutaan tak pernah menghalanginya untuk membaca buku, untuk bahagia. Sekali lagi, buku ini sangat tipis. Tapi untuk seorang pembaca buku, atau penulis, buku ini seperti tonjokan tanpa ampun.



2 Comments

  1. terimakasih untuk catatan-catannya mas eka. saya suka membaca catatan-catatan anda yang seringkali membahas pendapat dan pandangan mas eka tentang karya sastra yang mas baca. dan karena itu juga menjadi sebuah dorongan bagi saya untuk bisa lebih memahami karya sastra yang sedang saya baca, tak hanya sekedar membacanya. terimakasih

    NB: ada apa dengan desain halaman webnya mas? padahal saya sudah suka dengan desain dulu yang merah-merah itu, sebelum ini. ^__^

    • saya juga suka dengan tampilan yang dulu “merah-merah”, kalau kuning begini, sakit mata saya. Terima kasih Kak eka Kurniawan

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑