Tyrant Banderas, Ramón del Valle-Inclán

Tyrant Banderas karya Ramón del Valle-Inclán tak hanya memberi anatomi brutal seorang tiran, tapi juga bagaimana ia pada saat yang sama menyebarkan wabah kebrutalan itu ke dunia yang didiaminya. Novel ini tak hanya merupakan salah satu pelopor kisah manusia yang haus kuasa, yang memberi pengaruh pada novel-novel sejenis (termasuk The Autumn of the Patriarch Gabriel García Márquez), tapi juga rangkaian kisah-kisah ganjil tentang ketidakberdayaan. Bagian terakhir itu, sungguh merupakan bagian paling menarik. Atau bisa dibilang, novel ini tak semata-mata berkisah mengenai sang tiran, tapi terutama mengenai bagaimana sekelompok orang, berkongsi maupun berkonspirasi untuk menggulingkan sang tiran dengan berbagai cara dan upaya. Dibuka dengan seorang kolonel desersi yang tengah mempersiapkan serangan pemberontakannya, novel ini jelas bukan bacaan yang gampang. Ia melompat dari satu tokoh ke tokoh lain, dalam sebuah rangkaian benang semacam jaring laba-laba, jika tak bisa dikatakan kusut. Tapi, jika kau membacanya untuk kedua kali, kau bisa menemukan keindahannya, serta bagian-bagian konyol yang bisa membuat mulutmu melebar dari satu telinga ke telinga lain. Sang tiran sendiri, yang seringkali menyebut dirinya sebagai Santos Banderas, atau Kid Santos, akan mengatakan sesuatu yang pasti bikin kita tertawa jengkel, “Bersumpah, hari paling membahagianku adalah hari ketika aku pensiun.” Semua tiran mengatakan hal serupa itu. Mungkin benar, karena pada dasarnya mereka tak pernah tahu kapan akan pensiun. Mereka pensiun hanya jika dipaksa, atau dibuat mati. “Aku bersumpah hatiku remuk ketika kutandatangani keputusan untuk mengeksekusi Zamalpoa. Aku tak bisa tidur selama tiga malam!” Ia mungkin berkata jujur, tapi tetap saja ia mengeksekusi para musuhnya, para pengkhianatnya, satu per satu. Seorang tiran bisa mengatakan apa pun yang ia ingin katakan, dan memaksa orang untuk menerimanya sebagai kebenaran, dan melakukan bahkan hal yang bertentangan dengan yang ia katakan, dan tetap memaksanya sebagai kenyataan yang harus dilakukan. Bicara tentang seorang tiran, sekali lagi, juga bicara tentang orang-orang tak berdaya di bawah kekuasaannya. Sebagian orang melawan, sebagian berusaha menjadi kolaborator, sebagian lagi menjadi penjilat, untuk bertahan hidup. Yang melawan saling mencurigai satu sama lain, dan pada saat yang sama, gamang merumuskan siapa musuh sebenarnya. Apakah kekuasaan itu memuncak pada sosok sang tiran, Santos Baderas sendiri, atau kekuasaan bersifat organik? Bahwa musuh orang Indian adalah orang kulit putih? Atau negeri leluhur, Spanyol? Atau para yankee dengan kepentingan mereka sendiri? Membaca novel ini, meskipun tak ekspilisit mengatakannya di negeri mana, tak hanya memberi gambaran tengil mengenai rejim-rejim diktator di Amerika Latin, tapi juga di banyak tempat: Afrika, Eropa, Asia. Dulu maupun sekarang. Ini jenis novel yang ideal menurut saya: bicara tentang individu-individu, pada saat yang sama menghamparkan konteks sosial yang sangat luas. Tak hanya pertarungan di antara berbagai faksi lokal, tapi juga beragam kepentingan internasional. Sikut-sikutan pula antara para revolusiner, pencari untung, hingga gereja. Valle-Inclán merupakan penulis yang menghibur, jika tahan membacanya, karena ia memiliki sinisme yang melimpah. Sang tiran memang brutal, tapi para musuhnya, juga tak kalah brutal. Dengan penuh kesinisan, ia menulis, setelah sang tiran ditembak mati, “kepalanya diletakkan di sebuah perancah dalam karung kuning selama tiga hari parade. Dektrit yang sama memutuskan tubuhnya dipotong empat dan disebar dari satu perbatasan ke perbatasan lain, dari satu pesisir ke pesisir lain.”





6 thoughts on “Tyrant Banderas, Ramón del Valle-Inclán

  1. Iya mas aku suka membaca penulis-penulis dari amerika latin berbekal bahasa spanyol seadanya. Aku sesekali mengalih bahasakan cerpennya sesuai yang kubisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.