The Wine of Solitude, Irène Némirovsky

Kesepian itu memang memabukkan. Pertama, kita lihat kesepian yang diderita oleh Bella. Ia lahir dari keluarga bangsawan miskin, begitu miskinnya sehingga ia tak bisa membayar mas kawin dan memilih pasangan yang diinginkannya. Ia akhirnya menikahi Boris Karol, seorang Yahudi yang dia yakin bisa menghasilkan uang. Ya, satu-satunya alasan adalah uang. Demikianlah ia terjebak dalam pernikahan yang tak membahagiakan, meskipun ia bisa membeli pakaian dan topi dan sepatu model terkini langsung dari pusat mode di Paris, yang di kota kecil Kiev langsung menjadi buah pergunjingan karena gaya hidupnya jauh di atas penghasilan suaminya. Kekayaan, ternyata tak sungguh-sungguh membuat jiwanya tenang dan memberi kebahagiaan. Ia selalu kesepian, karena satu hal yang sederhana: ia dibakar oleh amarah dendam masa lalu. Masa kecil dan remaja yang dililit kemiskinan. Masa kecil yang sering menjadi olok-olok keluarga besarnya yang lebih kaya, masa remaja yang tak berkesempatan menikmati pesta-pesta kaum bangsawan papan atas. Ia dendam pada masa kecil dan remaja yang tak dimilikinya. Demikianlah ia selalu ingin waktu berhenti di satu titik, di mana ia terus menyangkal umurnya yang menua, dan puncak kemabukannya bukan dari hidup poya-poya, tapi pada sosok seorang anak muda bernama Max, yang adalah keponakannya sendiri. Ia memelihara Max, bagaikan memelihara gigolo, dan hanya bisa bahagia dengan terus bersama Max, meskipun tetap tak bisa meninggalkan suami dan rumahnya. Kesepian kedua, tentu diderita oleh Boris Karol, sang suami. Ia mungkin memang mencintai istrinya, sebab sampai akhir ia selalu tutup mata terhadap segala desas-desus maupun bukti-bukti tak langsung yang menunjukkan ketidaksetiaan istrinya. Ia barangkali tahu, Bella tetap bersamanya hanya karena uang, dan sebab itulah ia terus berburu uang. Hidupnya hanya berburu uang dan mempermainkan uang. Ia pergi ke rumah judi untuk mempertaruhkan uang. Ia masuk ke Pasar Saham, juga untuk mempertaruhkan uang. Dan, seperti diduga Bella, ia orang yang mahir memperoleh uang. Bahkan ketika di akhir hayatnya saham-sahamnya berguguran, kita tahu ia telah menyimpan banyak uang atas nama istrinya agar mereka tak miskin, tapi ketika ia meminta uang itu ke istrinya dan Bella berbohong bahwa uang itu juga ikut jatuh di pasar saham, ia demikian percaya. Dalam ilusi kebahagiaannya, ketika anaknya mengecup keningnya di saat memejamkan mata, ia berpikir itu istrinya dan demikianlah ia bisa tertidur dengan senyum mengembang. Ia menutup lubang kesepian dengan ilusi bahwa istrinya akan tetap bersamanya, bersetia, sebab ia terus menghasilkan uang. Kesepian ketiga, diderita oleh anak mereka, Hélène, yang merasa masa kecilnya dihancurkan oleh ibu yang tak mencintainya, juga oleh hubungan ibu dan sepupunya, Max. Kesepian semakin dideritanya, ketika satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara, yang mengerti dirinya, sang pengasuh, mati. Ia memimpikan tak hanya kebahagiaan, tapi kebebasan, yang tak pernah diperolehnya hingga usia dewasa. Ia hidup dengan benih-benih kebencian kepada ibunya dan Max, kebencian yang terus berakar dan tumbuh. Puncaknya ketika ia telah menjadi “perempuan”, dan bukan lagi seorang gadis. Ia tahu bagaimana membalaskan dendam penderitaan masa kecilnya: ia bisa merebut Max dari ibunya dan membuat mereka menderita. Ya, itu puncak kemabukannya, rasa mabuk yang juga nyaris menghancurkannya. Dan, saya ikut dibuat mabuk novel ini, dihanyutkan oleh ombang-ambing perasaan si anak, yang menjadi protagonis sekaligus alat pembaca untuk melihat banyak kejadian. Dengan latar belakang Revolusi Rusia, pelarian ke Finlandia, kehidupan glamor Paris, semakin mengasingkan keluarga ini ke kesepian nyaris tanpa dasar. Ini novel yang benar-benar memabukkan, sebaiknya dibaca tidak dalam keadaan kesepian, karena efeknya mungkin bisa membuat hati dan otak berdarah-darah. The Wine of Solitude, judulnya, karya Irène Némirovsky.





4 thoughts on “The Wine of Solitude, Irène Némirovsky

  1. Selalu suka cara Mas Eka mengulas novel. Selalu membuat saya berharap bisa membacanya dan ikut merasakannya secara individu–yang mungkin bisa berbeda dengan Mas Eka?

    Saya gembira setiap kali ada surel yang berisi pos situs ini.

  2. Oh ya, saya berlangganan situs ini via akun istri saya (yang tidak pernah dipakai) sehingga di akun itu hanya berisi pos pos Mas Eka. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.