Journal

The White Castle, Orhan Pamuk

Saya belum pernah pergi ke Istanbul, kecuali transit beberapa kali di bandaranya yang super sibuk dan luas sekali. Saking sibuk dan luasnya, transit di bandara itu sudah seperti momok: waktu transit yang pendek harus membuat saya berlari-lari dari satu gerbang ke gerbang lain, sementara arus para penumpang yang juga memburu penerbangan berikut salip-menyalip. Bahkan meskipun baru bisa mengenal kota itu melalui bandaranya, saya sadar sejarah panjangnya sebagai titik pertemuan dari berbagai penjuru, yang jika dibikin lebih sederhana, itu merupakan pertemuan Timur dan Barat. Dan itu pula yang sering saya temukan di novel-novel Orhan Pamuk, yang memang banyak berkisah tentang kota ini. Salah satunya novel The White Castle, novelnya yang paling terakhir saya baca (meskipun sebenarnya novel ketiga dia, dan novel pertama yang terbit dalam bahasa Inggris), dan tampaknya bakal menjadi salah satu novel favorit saya darinya. Sebagaimana pertemuan, terutama perjumpaan dengan sesuatu yang asing, selalu merupakan hal menarik, di sana kita menemukan ada kecemasan, ada rasa ingin tahu, ada bentrokan yang bisa jadi berdarah-darah, ada pertukaran budaya dan pengetahuan, menciptakan tragedi, dan di novel ini, juga menimbulkan komedi yang bikin saya berkali-kali nyengir. Saya tak tahu banyak mengenai sejarah Turki, tapi itu tak menghalangi saya untuk menikmati novel ini, yang membawa saya ke masa Mehmet IV, ketika laut mediterania masih dilayari para bajak laut, dan orang bisa ditangkap sebelum dijadikan budak. Demikianlah seorang sarjana Italia yang sedang dalam pelayaran, mendadak disergap kapal Turki, ditangkap dan dijual sebagai budak kepada seorang pasha. Belakangan sang pasha memberikan budak ini kepada sarjana setempat bernama Hoja. Yang lucu, ini benar-benar bagian yang lucu dan menjadi pengikat sepanjang novel, Hoja dan si budak Italia ini berwajah mirip. Kebayang bukan, tuan dan budak, satu Italia dan satu Turki, tinggal serumah, dan mereka bagaikan sepasang kembar? Tentu tak hanya itu. Seperti saya bilang, novel ini tentang perjumpaan. Si orang Italia yang Kristen terpana dengan keyakinan Islam setempat, si tuan Turki penuh penasaran bertanya tentang kemajuan-kemajuan teknologi yang telah dicapai negara-negara di bagian barat. Ini juga tentang ambisi manusia: awalnya hanya disuruh untuk membuat kembang api bagi sebuah pesta, kemampuan si budak didorong untuk menciptakan senjata. Yang menyukai bagian-bagian sejarahnya, kita akan dibawa untuk melihat kehidupan kesultanan Otoman di masa itu: dengan arena perburuan sang sultan, posisi juru nujum yang sangat penting (dan diperebutkan), dan lain sebagainya. Dalam beberapa kali perjalanan ke Eropa, saya lebih sering transit di bandara lain. Meskipun begitu, sambil melihat layar kecil di kursi pesawat yang menampilkan peta dunia dan posisi pesawat, saya selalu menantikan saat pesawat berada tepat di wilayah Turki, sambil menebak-nebak di sebelah mana Istanbul dengan menjadikan selat Bosphorus sebagai penanda. Kenapa? Bagi saya sederhana: itu semacam penanda bahwa saya mulai memasuki dunia barat, atau ketika penerbangan pulang, saya merasa sudah kembali ke dunia timur. Membaca novel-novel Orhan Pamuk, sebagaimana novel yang ini, mengingatkan saya pada perasaan seperti itu. Perasaan menyeberang. Kadang seperti sebuah keberangkatan untuk menemukan hal-hal baru yang asing dan memberi rasa waswas, lain kali memberi perasaan rindu yang meluap-luap akan dunia yang begitu dikenali.



Standard