Eka Kurniawan

Journal

The Seven Madmen, Roberto Arlt

Makhluk-makhluk di novel ini tak hanya sekumpulan orang-orang gila, sampah masyarakat dan yang terabaikan, tapi juga sekaligus sebagai barang mainan dari dunia yang bengis. Buenos Aires bagi Roberto Arlt (seperti Jerusalem bagi Yesus, kata Roberto Bolaño), adalah padang gembalaan dengan domba-domba yang minta diselamatkan sekaligus sadar bahwa dunia hanya akan meluluh-lantakkan mereka, jika bukan dihancurkan oleh diri sendiri. Oleh ketololan dan kegilaan. Kesusastraan Argentina dari kejauhan, dari negeri tropis yang melenakan ini, seringkali berada di bawah bayang-bayang keglamoran Borges (juga Bioy Casares): intelek, penuh permainan, metafisis, dan tentu saja menyihir. Kehidupan yang berbaur dengan mitologi, sosok-sosok setengah filsuf, para gaucho yang beradu duel pisau, hingga teka-teki personal yang misterius. Tapi tidak, Kawan. Kesusastraan Argentina juga memperlihatkan sisi baliknya yang brengsek, gelap, kacau, dalam diri Roberto Arlt, yang hidup sezaman dengan Borges (meskipun lebih pendek). Brengsek bahkan dalam tingkatan yang paling menyedihkan: novel-novelnya dijejali dengan kesalahan tatabahasa dan logika yang ugal-ugalan (seperti disinggung Nick Caistor, penerjemahnya). Bagi para pemuja, ia jenius; bagi para pembenci, ia sampah. Dan seperti tokoh-tokohnya, Arlt merupakan yang terabaikan. Menggelandang ke sana-kemari, sesekali muncul kembali pengaruhnya dalam diri penulis belakangan. Cortazar atau Bolaño, bisa disebut. The Seven Madmen bisa dikatakan, sekali lagi, tentang orang-orang gila yang mencoba mengubah dunia. Atau lebih tepatnya, menghancurkan dunia yang telah menghancurkan mereka, yang telah melahirkan mereka dalam ketidakbahagiaan akut. Ketidakbahagiaan yang sudah bersemayam di dalam diri mereka, seperti dikatakan salah satu karakter, Hipólita. Pusat dari kegilaan ini barangkali terletak di diri Si Peramal, yang meyakinkan sekelompok orang gila lainnya untuk mendirikan kelompok rahasia dengan tujuan utama: melancarkan revolusi. Novel ini ditulis dan diterbitkan, persis beberapa tahun sebelum masa-masa yang penuh gejolak dalam politik Argentina, ketika tentara berkali-kali berusaha mengambil-alih kekuasaan, sebelum akhirnya berhasil dilakukan oleh Peron. Kejeniusan Arlt terletak bagaimana ia bisa menangkap seluruh keresahan itu, juga kegilaan, di zaman yang tak menentu. Rencana revolusi mereka barangkali merupakan rencana paling tolol yang pernah ada dalam sejarah revolusi, sebab mereka tak tahu persis apa dasar moral, dasar keyakinan, dari revolusi mereka. Si Peramal berkali-kali menyebut Lenin, juga Mussolini, juga bandit abad kesembilan belas bernama Abdala-Abn-Maimun, bahkan mengagumi organisasi Klu-Klux-Klan. Buat Si Peramal sebenarnya sederhana saja. Ia bisa menghasut kaum buruh dan merah dengan gagasan-gagasan revolusioner ala komunis, tapi menghadapi orang-orang religius, kita bisa mengumbar ayat-ayat kitab suci. Yang penting menggalang massa, yang penting membuat mereka senang. “Kebahagiaan manusia terletak dalam kebohongan metafisikal,” jika ada satu kutipan paling penting dari mulutnya, inilah kutipan itu, dan bisa jadi jika ada, inilah inti dasar revolusi yang diangan-angankannya. Dan kembali ia berkata melanjutkan sambil menerangkan si bandit Maimun yang dikaguminya: “Izinkan kukatakan bahwa pemimpin gerakan ini seorang sinis yang luar biasa, yang tak memercayai apa pun. Kita akan mengikuti contoh mereka. Kita akan menjadi Bolshevik, Katolik, fasis, ateis, militeris, tergantung tingkat inisiasi.” Bangsat betul, bukan? Ini dunia yang tidak dijejali pahlawan, tapi sekaligus tidak mengglorifikasi anti-pahlawan. Mereka bukan pahlawan juga bukan anti-pahlawan. Mereka hanya gembel-gembel yang penuh dengan ketulusan, impian, cinta kasih, sekaligus kesedihan, luka, kejahatan dan kedengkian. Gembel di luar dan gembel di dalam. Sebab, seperti kemudian dikatakan kembali oleh Si Peramal, semua manusia pada dasarnya gila, setidaknya di dalam pikiran. Yang membedakan satu dan yang lainnya: ada yang mengungkapkan pikiran-pikiran sintingnya, ada yang mendekamnya. Si tokoh utama (sebenarnya saya ragu mengatakan dia sebagai tokoh utama, mengingat kemunculan dirinya seringkali menjadi pengantar bagi kemunculan sosok-sosok lainnya di novel ini), Remo Erdosain bisa dibilang menyimpan kesintingannya rapat-rapat. Ia mencoba menghadapi hidup seolah semuanya baik-baik saja, padahal kita tahu, segala sesuatu di luar dirinya merupakan kekejian yang tak ada ampun untuk dirinya. Ia memandang dirinya sendiri sebagai penemu. Ia membayangkan banyak penemuan, dan bermimpi mewujudkan penemuannya serta menghasilkan uang. Tapi itu tak pernah terjadi. Uang tak pernah datang kepadanya dan penemuan-penemuan itu hanyalah gagasan-gagasan naif. Hidupnya berakhir menjadi tukang tagih, yang dengan sedikit kecerdikannya, bisa mencuri uang dari tuannya, yang belakangan menjadi masalah besar yang membuatnya terbenam jauh ke dalam lumpur dunia. Persoalannya tak hanya itu: ia menikahi seorang perempuan, yang tak hanya tidak pernah diciumnya, tapi juga tak pernah berani disetubuhinya. Ketika ia akhirnya mencoba menjamah isterinya, si isteri menolak, dan itu memaksanya untuk menghabiskan perkawinan mereka dalam masturbasi. Hingga satu hari, ia melihat isterinya pergi dengan lelaki lain. Ke mana-mana ia membawa pistol di saku celananya, dan memang pantas sekali jika ia punya pikiran untuk menembak kepalanya. Hanya satu pelor, logam kecil, dan segala ketidakadilan dunia dan ketidakbahagiaannya akan berakhir. Tapi makhluk-makhluk brengsek Buenos Aires ini dilahirkan untuk melata lebih lama, bahkan meskipun mereka tak sanggup sekadar menertawakan nasib, dan malahan berpikir untuk meluluh-lantakkan dunia untuk menatanya kembali. Arlt membawa mereka pada akhir yang jenius, juga menyedihkan sebenarnya. Memikirkan semua rencana revolusi itu, mereka terhenyak ketika seorang tentara berkata: “Organisasi kaum buruh bereaksi dan mengumumkan pemogokan; kata-kata ‘revolusi’ dan ‘Bolshevisme’ akan menyebarkan ketakutan sekaligus harapan. Kemudian, ketika serangkaian bom telah melanda seluruh kota, ketika semua selebaran sudah dibaca, dan agitasi revolusi sudah mencapai puncaknya, itulah waktu ketika kami orang militer mengambil alih …” Novel ini tak hanya membicarakan tujuh orang gila, tapi juga dunia yang sinting. Kita harus membaca lebih banyak Arlt, sambil mencabik-cabik apa yang kita pikir tentang novel dan kesusastraan.



5 Comments

  1. Mas Eka, mohon maaf sebelumnya. Untuk nulis di blog memang sengaja gak pakai paragraf ya? Aku bacanya lelah sekali. Maaf. :(

    • @Ranger Kimi
      Sudah pernah saya jawab soal ini. Pertama, mungkin saya memang malas menulis banyak paragraf. Kedua, satu paragraf bukan berarti tidak ada paragraf, bukan? Ketiga, siapa yang mengharuskan orang menulis dengan banyak paragraf? Keempat, saya juga meminta maaf jika membuatmu lelah :)

  2. Wkwkwkk :)

    Aku juga lelah bang bacanya.
    Memang gak ada aturan sih. Gak ada yg ngelarang jg. Cuma kalau di website, sepertinya lebih enak satu paragraf cm tiga atau maksimal empat baris.

    Tapi kembali ke masing2 orang sih. Hhe

  3. Bang Eka, saya nemu buku Roberto Arlt dengan judul lain di perpus kampus tapi jadi ingat ulasan ini hahaa. Nanti saya bikin ulasannya juga deh biar seru kaya punya bang Eka. Oh iya gara-gara Bang Eka saya jadi bikin blog juga namanya http://iramaaksara.blogspot.it/ yah belajar dari bang eka lah. Oh iya segitu dulu ya bang!

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑