Eka Kurniawan

Journal

The Hour of the Star, Clarice Lispector: Sedih Itu Kemewahan, Sastra Itu Membosankan

“Seluruh dunia dimulai dengan satu ya. Satu molekul mengatakan ya kepada molekul lain dan kehidupan dilahirkan. Tapi sebelum prasejarah ada prasejarah dari prasejarah dan ada sang-tak-pernah dan ada ya. Juga yang pernah terjadi. Aku tak tahu kenapa, tapi aku tahu alam semesta tak pernah berawal.” Maafkan saya jika terjemahannya terkesan seadanya, tapi itulah kira-kira pembukaan novel Clarice Lispector berjudul The Hour of the Star. Saya mencoba menepati janji untuk menulis tentang beberapa perempuan penulis yang saya baca, di jurnal ini, setidaknya untuk sedikit waktu ke depan (kadang-kadang kita harus keluar dari rencana perjalanan, tapi itulah yang membuat kegiatan membaca dan menulis selalu menarik). Saya pernah menulis tentang Lispector dalam konteks el boom kesusastraan Amerika Latin, tapi saat ini, mari kita ngobrol soal novelnya saja. Membaca pembukaan novel ini, apakah Anda mendengar sejenis dentang? Bagi saya, itu seperti alusi kisah biblikal, tentang penciptaan alam semesta. Tentang “Pencipta” dan “Yang Diciptakan”. Ya, pada dasarnya novel ini bercerita tentang “pencerita” dan “yang diceritakannya”, jika di sana-sini muncul kata Tuhan, Hidup, Mati, saya rasa memang novel ini mengacu ke sana, dengan humor yang sangat melimpah. Bagi kamu yang terbiasa membaca novel-novel standar (maafkan saya dengan istilah ini – yang diceritakan dengan gaya “tunjukan saja”, dengan cara yang lurus seperti sapu lidi, yang jika kebanyakan novel ditulis dengan cara seperti itu dan kenyataannya kebanyakan novel ditulis dengan cara seperti itu, seperti saya juga melakukannya, sudah jelas Lispector akan mengumpat betapa membosankannya kesusastraan di dunia ini), kamu mungkin akan mual-mual dan barangkali muntah (“Jangan muntah, apa yang kamu makan sangatlah berharga untuk dimuntahkan,” demikian seperti apa yang dikatakan si tokoh di novel ini), membaca pembukaan, monolog ngalor-ngidul si narator yang hendak menceritakan satu karakter yang bahkan awalnya ia tak tahu siapa namanya. Sebagai pencerita, ia juga tak tahu persis apa yang mau diceritakan, dan malah ngomong tentang dirinya sendiri yang, ya ampun, bahkan ia tak tahu siapa dirinya. Modalnya sebagai pencerita, penulis di sini, hanyalah kata-kata. Kata-kata yang disusun menjadi kalimat, dan dari sana keluar satu makna rahasia. Dan tiba-tiba, si pencerita, menemukan dirinya sedang menjalani sejenis “takdir”. Nasib. “Aku si penulis dan aku sedang menulis.” Bingung? Baca saja, ini novel yang lucu dan sangat menghibur. Jika tidak terhibur, jangan kuatir, kebanyakan novel keren memang tidak ditujukan untuk semua orang. Hanya untuk pembaca yang juga keren. Atau bisa juga dibalik: novel buruk juga hanya untuk pembaca yang buruk. Dan jangan kuatir, meskipun si pencerita sempat kebingungan (atau muak) untuk bercerita, akhirnya ia menemukan satu karakter, yang awalnya hanya disebut seorang gadis yang “sangat bodoh hingga tersenyum ke semua orang di jalan. Tak ada yang membalas senyumnya sebab tak satu pun menoleh ke arahnya.” Ia yang diabaikan dan bahkan ditolak dunia. Tapi gadis itu juga, “tak tahu dirinya adalah dirinya, sebagaimana anjing tak tahu dirinya anjing.” Dalam tingkat tertentu, ia juga mengabaikan apa pun: “Ia berdoa tapi tanpa Tuhan, ia tak tahu siapa Dia, dan karenanya Dia tidak ada.” Bahkan ketika untuk pertama kalinya si gadis (ia masih perawan, ini sangat penting untuk dikatakan) punya pacar, bisa dibilang ia tak tahu apa maknanya. Bahkan ketika si pacar menghinanya sedemikian rupa “kau tak mungkin jadi bintang film, wajah dan tubuhmu tidak mendukung”, ia tak merasa itu sebagai penghinaan. Tentu saja ia berharap suatu hari mereka akan bertunangan, dan menikah, tapi bukan karena alasan cinta atau romantisme, melainkan karena itu hal lumrah yang terjadi ke semua orang. Lalu ketika ia dicampakkan, ia juga tak sedih. “Sebab sedih itu kemewahan,” kali ini si pencerita yang berkomentar. “Kesedihan hanya untuk orang kaya yang mampu memilikinya, yang tak memiliki hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan.” Kita sedang bertemu pencerita yang sinis, tapi ia tak hanya sinis kepada dunia, kepada karakternya, tapi juga kepada diri dan tindakannya: “Aku sungguh bosan dengan kesusastraan. Hanya kesenyapan yang membuatku merasa betah. Jika aku tetap menulis, itu karena tak ada hal baik lainnya yang bisa kulakukan, sambil menunggu mati.” Apakah dunia ini juga diciptakan karena Tuhan merasa bosan dan tak ada hal lain yang bisa dilakukannya? Entahlah. Novel ini hanya bercerita tentang seorang pencerita yang bosan dengan karakternya yang dungu, tapi percayalah, bisa membawa pembaca ke mana-mana, sebagaimana sering terjadi pada novel-novel yang bagus. Saya sudah bicara tentang Djuna Barnes (dari Amerika) dan Clarice Lispector (dari Brasil), setelah ini mari kita kunjungi China dan bertemu perempuan penulis dari sana. Tapi sebelum itu, izinkan saya mengurus hal yang sangat penting dulu: pergi ke dokter gigi, untuk memperbaiki pekerjaan buruk dokter gigi lainnya.



2 Comments

  1. Ulasan yang keren untuk buku keren, saya jadi pengin sekali baca bukunya.

  2. sangat menarik, saya suka membaca beberapa buku,dan sepertinya kali ini saya ingin memebaca bukunya, terimakasih

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑