The Hour of the Star, Clarice Lispector: Sedih Itu Kemewahan, Sastra Itu Membosankan

“Seluruh dunia dimulai dengan satu ya. Satu molekul mengatakan ya kepada molekul lain dan kehidupan dilahirkan. Tapi sebelum prasejarah ada prasejarah dari prasejarah dan ada sang-tak-pernah dan ada ya. Juga yang pernah terjadi. Aku tak tahu kenapa, tapi aku tahu alam semesta tak pernah berawal.” Maafkan saya jika terjemahannya terkesan seadanya, tapi itulah kira-kira pembukaan novel Clarice Lispector berjudul The Hour of the Star. Membaca pembukaan novel ini, apakah Anda mendengar sejenis dentang? Bagi saya, itu seperti alusi kisah biblikal, tentang penciptaan alam semesta. Tentang “Pencipta” dan “Yang Diciptakan”. Ya, pada dasarnya novel ini bercerita tentang “pencerita” dan “yang diceritakannya”, jika di sana-sini muncul kata Tuhan, Hidup, Mati, saya rasa memang novel ini mengacu ke sana, dengan humor yang sangat melimpah. Bagi kamu yang terbiasa membaca novel-novel standar (maafkan saya dengan istilah ini – yang diceritakan dengan gaya “tunjukan saja”, dengan cara yang lurus seperti sapu lidi, yang jika kebanyakan novel ditulis dengan cara seperti itu dan kenyataannya kebanyakan novel ditulis dengan cara seperti itu, seperti saya juga melakukannya, sudah jelas Lispector akan mengumpat betapa membosankannya kesusastraan di dunia ini), kamu mungkin akan mual-mual dan barangkali muntah (“Jangan muntah, apa yang kamu makan sangatlah berharga untuk dimuntahkan,” demikian seperti apa yang dikatakan si tokoh di novel ini) demi membaca pembukaan, monolog ngalor-ngidul si narator yang hendak menceritakan satu karakter yang bahkan awalnya ia tak tahu siapa namanya. Sebagai pencerita, ia juga tak tahu persis apa yang mau diceritakan, dan malah ngomong tentang dirinya sendiri yang, ya ampun, bahkan ia tak tahu siapa dirinya. Modalnya sebagai pencerita, penulis di sini, hanyalah kata-kata. Kata-kata yang disusun menjadi kalimat, dan dari sana keluar satu makna rahasia. Dan tiba-tiba, si pencerita, menemukan dirinya sedang menjalani sejenis “takdir”. Nasib. “Aku si penulis dan aku sedang menulis.” Bingung? Baca saja, ini novel yang lucu dan sangat menghibur. Jika tidak terhibur, jangan kuatir, kebanyakan novel keren memang tidak ditujukan untuk semua orang. Hanya untuk pembaca yang juga keren. Atau bisa juga dibalik: novel buruk juga hanya untuk pembaca yang buruk. Dan jangan kuatir, meskipun si pencerita sempat kebingungan (atau muak) untuk bercerita, akhirnya ia menemukan satu karakter, yang awalnya hanya disebut seorang gadis yang “sangat bodoh hingga tersenyum ke semua orang di jalan. Tak ada yang membalas senyumnya sebab tak satu pun menoleh ke arahnya.” Ia yang diabaikan dan bahkan ditolak dunia. Tapi gadis itu juga, “tak tahu dirinya adalah dirinya, sebagaimana anjing tak tahu dirinya anjing.” Dalam tingkat tertentu, ia juga mengabaikan apa pun: “Ia berdoa tapi tanpa Tuhan, ia tak tahu siapa Dia, dan karenanya Dia tidak ada.” Bahkan ketika untuk pertama kalinya si gadis (ia masih perawan, ini sangat penting untuk dikatakan) punya pacar, bisa dibilang ia tak tahu apa maknanya. Bahkan ketika si pacar menghinanya sedemikian rupa “kau tak mungkin jadi bintang film, wajah dan tubuhmu tidak mendukung”, ia tak merasa itu sebagai penghinaan. Lalu ketika ia dicampakkan, ia juga tak sedih. “Sebab sedih itu kemewahan,” kali ini si pencerita yang berkomentar. “Kesedihan hanya untuk orang kaya yang mampu memilikinya, yang tak memiliki hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan.” Kita sedang bertemu pencerita yang sinis, tapi ia tak hanya sinis kepada dunia, kepada karakternya, tapi juga kepada diri dan tindakannya: “Aku sungguh bosan dengan kesusastraan. Hanya kesenyapan yang membuatku merasa betah. Jika aku tetap menulis, itu karena tak ada hal baik lainnya yang bisa kulakukan, sambil menunggu mati.” Apakah dunia ini juga diciptakan karena Tuhan merasa bosan dan tak ada hal lain yang bisa dilakukannya? Entahlah.





2 thoughts on “The Hour of the Star, Clarice Lispector: Sedih Itu Kemewahan, Sastra Itu Membosankan

Comments are closed.