Eka Kurniawan

Journal

Tentang Terjemahan

Jika bisa, tentu saya ingin membaca Hiyakat Seribu Satu Malam dalam Bahasa Arab. Jika bisa, tentu saya juga ingin membaca Don Quixote dalam Bahasa Spanyol, membaca novel-novel Kafka dalam Bahasa Jerman, membaca Kisah Tiga Kerajaan dalam Bahasa Cina, dan membaca semua novel Kawabata dalam Bahasa Jepang. Apa boleh buat, saya hanya bisa membaca dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Oh, saya juga bisa membaca dalam Bahasa Sunda dan Jawa, dengan sedikit terbata-bata, tapi tak banyak yang bisa saya baca dari kedua bahasa tersebut. Saya bukan polyglot, itu hampir mendekati keniscayaan. Saya pernah belajar Bahasa Belanda dan Prancis, hasilnya bisa dibilang sangat menyedihkan. Sangat tidak berbakat. Baiklah, kita bisa sedikit mengkhayal kesusastraan dunia (weltliteratur, kata Goethe) yang ideal ditulis dalam satu bahasa yang sama, atau semua manusia bisa memahami bahasa-bahasa yang berbeda satu sama lain. Keduanya terdengar absurd. Pilihan pertama akan membuat seluruh kesusastraan dalam tahap tertentu menjadi sejenis kemonotonan. Pilihan kedua akan membuat gagasan bahasa yang berbeda-beda menjadi sesuatu yang nonsens. Kedua pilihan mengingatkan kita, betapa perbedaan dan ketidakpahaman seringkali terasa lebih menyenangkan. Dalam hal ini, siapa tahu saya memang lebih menikmati One Hundred Years of Solitude daripada Cien Años de Soledad. Lebih menikmati Lapar daripada Sult atau Hunger. Tak ada jaminan membaca sesuatu dalam bahasa aslinya memberi kenikmatan yang lebih daripada terjemahannya, bahkan ketika kita menguasai kedua bahasa. Sekali lagi, tentu saja Anna Karenina dalam terjemahan Bahasa Inggris bukan karya yang sama dengan Anna Karenina yang ditulis Tolstoy dalam Bahasa Rusia. Tapi apa masalahnya? Saya tak harus menjadi Borges yang merasa menyesal mati tanpa sempat membaca Alf Layla wa Layla. Saya tak tahu rujukan ini tepat atau tidak, tapi Immanuel Kant kurang-lebih mengatakan, di dunia ini kita tak pernah bisa mengetahui sesuatu yang sejatinya. Sesuatu di dalam dirinya. Ding an sich. Yang kita tahu hanyalah yang tampak, yang disebut fenomena. Anggap saja karya-karya terjemahan sebagai fenomena. Kita dikutuk untuk tak pernah mengetahui yang sejati dari terjemahan itu. Memang, kita bisa belajar Bahasa Prancis untuk membaca L’Étranger (saya melakukannya, membacanya baris per baris dengan bantuan kamus dan The Stranger), tapi bahkan itu pun tak menjamin kita benar-benar tahu apa yang sesungguhnya ingin disampaikan Albert Camus. Lagi-lagi yang kita peroleh hanyalah fenomena. Mari kita bayangkan hal lainnya. Musik, misalnya: belakangan saya senang mendengarkan lagu-lagu (dan menonton) Girls’ Generation. Mereka bernyanyi dalam Bahasa Korea, atau Jepang. Saya tak tahu apa yang mereka nyanyikan. Saya tak peduli. Saya menikmati apa yang saya lihat dan saya dengar. Itu sudah cukup. Atau film: saya tak pernah berhasil menyelesaikan Les Misérables Victor Hugo. Novel itu penuh klise dan melodrama. Tapi saya menikmati filmnya (produksi 1998 dimana Uma Thurman menjadi Fantine). Kita bisa menikmati lirik lagu asing tanpa harus mengerti bahasa itu. Kita menikmati bahasa tersebut dalam interpretasi musik maupun ekspresi atau tarian penyanyinya. Kita juga bisa menikmati film adaptasi tanpa harus membaca novelnya. Saya rasa, hal ini berlaku juga untuk karya terjemahan. Saya ingat sekali waktu (seseorang menceritakannya kepada saya) ada sedikit lelucon soal terjemahan. Yang menjadi kasus adalah istilah “jalan tikus” yang diterjemahkan menjadi “road that full of rats” (kurang lebih begitu). Kita tahu, terjemahan itu salah. Seratus persen salah dan menyesatkan. Tapi mari kita lihat dari sudut pandang pembaca yang tak tahu: alih-alih membayangkan seseorang yang melewati lorong-lorong untuk memperoleh jalan pintas, ia membayangkan seseorang melewati jalanan penuh dengan tikus. Ia tak tahu yang sebenarnya (lorong-lorong jalan pintas), ia hanya memperoleh apa yang terbaca, fenomena (jalanan penuh tikus). Barangkali itu tak menjadi masalah. Ia bisa tetap menikmati karya itu, dan mungkin dengan lebih menyenangkan. Bagaimanapun, bagi saya melintasi jalanan penuh tikus terdengar lebih seru dan penuh petualangan daripada sekadar melintasi lorong-lorong jalan pintas. Saya tak tahu berapa banyak ketersesatan terjemahan seperti itu saya peroleh dalam karya-karya terjemahan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang saya baca. Tapi apa pedulinya? Pertama, saya tak tahu bahasa aslinya. Kedua, sejauh ini kenyataannya saya menikmati “kesalahan-kesalahan” tersebut. Bahkan mungkin belajar banyak dari hal-hal salah tersebut. Dan kita boleh sedikit membuat hipotesis: sebagian besar dari kita membaca kesusastraan dalam terjemahan dan kesusastraan dunia pada akhirnya dibangun oleh kesalahan-kesalahan terjemahan yang tak terhitung. Tapi percayalah, itu tak akan membuat kita sakit atau lebih buruk, dan kita akan baik-baik saja, sebagaimana kesusastraan yang belajar dari terjemahan-terjemahan yang salah barangkali menghasilkan para jeniusnya tersendiri.



3 Comments

  1. Saya setuju Mas Eka, pemahaman pembaca itu berdasarkan persepsi yang ada di pikiran, artinya dalam bahasa yang kita kuasai pun kita hanya memetik yang dapat kita lihat. Khusus untuk sastra yang merupakan tulisan yang kompleks (isi dan bentuk), pengkajian setiap orang hanya memandang dari satu sisi, mustahil dapat ditelaah secara kompleks, karena itu pentingnya keberadaan banyak kritikus untuk melakukan penelaahan dari sudut pandang yang berbeda dan beragam. Saya jadi ingat Jose Saramago yang pernah bilang, sastra dunia itu diciptakan oleh para penerjemah. Pengalaman saya baca buku terjemahan, kalau bukunya enak dibaca, saya akan selalu lihat nama penerjemahnya, dan mulai mencari terjemahannya yang lain. Tapi kalau terjemahannya tidak sesuai–saya kadang membandingkannya dengan versi teaser di Amazon, he-he–saya pastinya kesal, tapi ya saya menerima karena dalam alih-bahasa, saya yakin ada beberapa bagian yang pasti akan menghilang tanpa dapat dihindari. Namun, ini berlaku satu-dua kali, lebih dari itu saya mendapatkan buku-buku yang hampir seluruhnya dilakukan alih-bahasa sekaligus menghemat bahasa–ia seolah mampu merangkum beberapa bab, haha, dan ini saya sebut sebagai penerbit yang benar-benar kejam. Demikian Mas Eka.

  2. Mencerahkan, terima kasih atas tulisan ini. Mungkin saya akan membuat catatan karena jemari saya menari saat memulai mengeja…

  3. Alkemi Sastra Indonesia

    13 February 2013 at 2:07 pm

    Kulonowon, Mas Eka. Mohon maaf sebelumnya kalau komentar saya yang terdahulu, mengenai close reading itu, terasa mengganggu. Saya sesungguhnya sangat menghargai karya-karya terjemahan. Namun komentar saya tempo hari itu sebenarnya lebih pada upaya membangun semangat mempelajari karya sastra luar negeri dalam bahasa aslinya, sekaligus penghargaan atas bahasa asing lain selain bahasa Inggris yang sering sampai pada pembaca-lain-bahasa ketimbang bahasa asli yang digunakan penulisnya.

    Saya pribadi kurang setuju terhadap pandangan Mas Eka bahwa, izinkan saya mengutipnya secara bulat: “Tak ada jaminan membaca sesuatu dalam bahasa aslinya memberi kenikmatan yang lebih daripada terjemahannya, bahkan ketika kita menguasai kedua bahasa.”

    Menurut saya, bukankah bahasa itu merupakan hakiki keindahan karya sastra itu sendiri, ibaratnya nada pada musik dan warna pada lukisan. Keindahannya tak tergantikan. Saya beri contoh, paragraf pembuka pada Die Verwandlung karya Kafka, sang tokoh disebutkan berubah menjelma jadi “ungeheures Ungeziefer”, lihatlah resonansi yang ditimbulkan oleh “unge” pada frase tersebut, indah sekali. Bedakan jika terjemahan Inggrisnya menggunakan frase “monstrous vermin” atau “gigantic insect”, tidak ada resonansi rima seperti yang ditunjukkan repetisi “unge” dalam bahasa Jerman.

    Berdasarkan pemahaman tersebut, saya berpandangan bahwa: Tentu ada jaminan bahwa membaca sesuatu dalam bahasa aslinya memberi kenikmatan yang lebih daripada terjemahannya, bahkan ketika kita menguasai berbagai macam bahasa.

    Jika pendapat saya ini berbeda, mohon maaf sekali lagi Mas Eka. Saya kembali membawa topik ini karena menghargai jalan yang ditempuh oleh Mas Eka menjadi penulis, terlebih setelah sebelumnya saya membaca terjemahan Mas Eka atas Cannery Row terbitan penerbit Sumbu. Sebagai penerjemah karya dari penulis bermutu, Mas Eka tentu memandang bahasa sebagai media atas keindahan itu sendiri, bahkan keindahan itu sendiri. Salam Mas, karya-karyamu sangat ditunggu pembacamu.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑