Sjón dan Parabel Bunga

“Enam bulan pertama sejak buku saya terbit dalam bahasa Inggris, tak ada ulasan, tak ada berita. Sepi,” kata Sjón dalam obrolan dengan saya di satu kedai di daerah bantaran selatan Brisbane. Ia sedang bercerita tentang novel pertamanya yang terbit dalam bahasa Inggris, The Blue Fox. Barangkali karena tak ada biaya promosi besar, dan jaringan para pengulas yang terbatas, novelnya seperti lahir untuk terkubur. Saya sendiri mengenalnya sejak sekitar setahun lalu, melalui novelnya yang lain, The Whispering Muse. Di acara pembukaan festival, kami janjian untuk minum kopi atau sarapan bareng. Sialnya karena jadwal kami sering tabrakan, kami hanya bertemu selewat-selewat. Hingga di malam terakhir, ketika saya merasa bosan, saya keluar hotel untuk sekadar minum di satu kedai. Saya berniat membaca satu novel Halldór Laxness, seorang penulis Islandia, The Fish Can Sing. Tanpa disangka, saya bertemu dengannya. Akhirnya kami punya kesempatan ngobrol panjang. Dari Knut Hamsun, yang pengaruhnya sangat besar dalam kesusastraan Islandia dan Skandinavia secara umumnya; Laxness (kita seharusnya cemburu, Islandia berpenduduk tak lebih dari 400.000 jiwa tapi bisa menghasilkan penulis sekelas Laxness), salah satu “murid” Hamsun; saya bicara tentang Pramoedya Ananta Toer dan ia bilang ingin membaca Pramoedya; hingga akhirnya ia bercerita tentang pengalamannya ketika novelnya mulai terbit dalam bahasa Inggris. Ia menceritakan itu sambil tertawa, barangkali sambil membayangkan bulan-bulan penuh frustasi. Tapi setelah enam bulan itu, ketika si penulis berpikir karyanya tak sanggup membuat pembaca Inggris tersihir, tiba-tiba The Guardian menurunkan satu ulasan panjang atas novel itu. Tak tanggung-tanggung, yang mengulas adalah A.S. Byatt. Ulasan-ulasan lain mulai bermunculan dan orang mulai mencari karyanya. Kini, tentu saja ia seorang selebriti dalam kesusastraan kontemporer dunia. Cerita tentang “nasib” Sjón ini membuat saya teringat pada parabel bunga, yang dulu sering saya dengar di kelas filsafat. Parabel itu sebenarnya diceritakan untuk membantu memahami konsep-konsep mengenai “ada”. Bayangkan ada bunga (katakan mawar yang indah) di tengah hutan. Bunga itu benar-benar indah, tapi masalahnya: tak ada orang yang melihatnya. Bunga itu “ada” sekaligus “tidak ada”. Jika bunga itu memiliki keajaiban, dan bertahan enam bulan, suatu hari barangkali akan ada orang lewat dan menemukannya, mengetahui keindahannya. Intinya, sebuah novel tak bisa dibilang buruk hanya karena tak ada yang membicarakannya. Kualitasnya telah “ada”, seperti mawar indah di hutan; tapi sekaligus “tak ada” sampai ada konfirmasi atasnya. Tentu saja ada kemungkinan lain: ada orang lewat melihat bunga mawar itu, tapi ia buta atau tak mengenal konsep indah, maka mawar itu pun tetap tak ditemukan dan terkonfirmasi. Jadi, mungkin saja selama enam bulan itu, The Blue Fox ada yang baca, tapi mereka tak menyadari kualitasnya. Lebih sial lagi: ada yang baca, tahu kualitasnya, tapi tak mau mengatakannya (bisa karena ia tak ingin orang lain tahu). Parabel ini memang aneh, tapi setidaknya bisa dipakai untuk menghibur diri: jika karyamu tak dianggap selama bertahun-tahun, barangkali suatu hari ada yang menemukan dan mengetahui kualitasnya. Kita tanpa sadar sering berpikir dengan cara seperti itu. Tapi tunggu, parabel ini juga bisa diceritakan dengan cara sebaliknya: ada bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira; lalu pemilik lahan yang berharap orang datang ke hutannya bercerita ke orang-orang, “Ada bunga indah mekar di lahanku.” Tentu saja ia penipu, tapi ia bisa menciptakan ilusi “ada”, sampai orang mengkonfirmasi kenyataan sebaliknya. Dan yang lebih sering terjadi, kita memiliki bungai bangkai layu yang buruk, dan orang-orang telah melihat bahwa itu memang buruk, tapi kita tetap yakin suatu hari akan ada yang melihatnya dan menganggapnya mawar yang indah. Tapi menyangkut Sjón, saya sarankan kalian membacanya. Saat ini saya sedang membaca novelnya yang lain, From the Mouth of the Whale.





5 thoughts on “Sjón dan Parabel Bunga

  1. apakah karya saya selama ini adalah mawar yang kualitasnya telah “ada”, seperti mawar indah di hutan; tapi sekaligus “tak ada” sampai ada konfirmasi atasnya atau ……

    bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira; lalu pemilik lahan yang berharap orang datang ke hutannya bercerita ke orang-orang, “Ada bunga indah mekar di lahanku.” Tentu saja saya akan jadi penipu, seperti si pemilik lahan itu, jika bersikeras karya saya yang sebetulnya buruk adalah karya yang indah.

    Saya sering berpikir soal ini dan baru tahu ada konsepnya, bernama parabel. Terima kasih atas sharing-nya, Mas Eka. Karya-karyamu jelas adalah yang pertama.

  2. Saya tak bosan- bosan berkunjung dan membaca tulisan- tulisan Mas Eka. Sebuah tulisan yang menarik untuk dipikirkan. Saya telah menulis dua novel yang menurut saya karya yang cukup baik dan layak dibaca, namun dua tahun setelah peluncurannya persis seperti apa yang Mas Eka tuliskan di atas.

    Entahlah, termasuk manakah karya saya “bunga mawar indah di hutan” atau “bunga bangkai yang sudah layu, buruk tidak kira”. Namun saya terus belajar agar bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi.

    • @Aji
      Buku Sjon? Setahu saya belum ada. Tapi saya rasa dia salah satu penulis yang perlu diterjemahkan dan diterbitkan di sini. Karya sastra terjemahan di Indonesia seringkali terlambat satu-dua dekade, untuk mengejar ketertinggalan, sudah semestinya penerbit berani menerjemahkan penulis-penulis kontemporer seperti dia. Sebab orang seperti dia, yang beberapa tahun ke depan akan menjadi penulis garis depan dalam kesusastraan dunia.

Comments are closed.