Eka Kurniawan

Journal

Shakespeare di Brooklyn Botanical Garden

Salah satu “pelajaran” yang secara sadar saya lakukan ketika memutuskan menjadi penulis (dan selama menjadi penulis) adalah menghapal nama-nama benda. Saya membeli kamus, ensiklopedia, bahkan kadang melatih diri menjawab soal Teka-teki Silang, dan selalu percaya buku-buku itu merupakan perkakas penting bagi seorang penulis. Bagaimana mungkin seseorang dengan gagah-berani memutuskan menjadi penulis tapi abai terhadap nama-nama benda? Terutama bagi penulis Indonesia, yang sebagian besar berbahasa ibu bukan bahasa Indonesia (misalnya Jawa, Sunda, dll), hal itu menjadi semakin penting. Saya lumayan mengenal banyak nama-nama ikan, burung, bunga, pohon dalam bahasa Sunda, tapi tentu saja sering kesulitan ketika harus menuliskannya dalam bahasa Indonesia di mana saya tumbuh tidak dengan kosa-kata tertentu (pertanian, perkebunan, dll). Bahasa Indonesia tidak mengenal kata untuk “anak sapi”, misalnya, sebagaimana bahasa Sunda dan Jawa mengenal pedet atau kirik untuk “anak anjing”. Ada banyak nama jenis pisang (buah yang paling saya suka) dalam bahasa Sunda, tapi susah menemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Kamus dan ensiklopedia sangat membantu hal ini. Selama di New York, sejujurnya saya tak punya banyak waktu untuk kelayapan. Tapi begitu ada kesempatan, saya mampir ke Brooklyn Botanical Garden. Selain pengin sedikit menyegarkan suasana (tempat tersebut lebih banyak dikunjungi pelancong lokal yang membawa anak atau sekadar berpacaran, layaknya Ancol atau Ragunan di Jakarta), siapa tahu juga bisa memperbaharui wawasan saya mengenai tanaman, meskipun tentu saja yang dipamerkan lebih banyak keanekaragaman botani dari wilayah Amerika utara (dan ada satu wilayah didedikasikan untuk tanaman-tanaman dari Jepang). Yang mengejutkan saya, ada satu wilayah di sana yang diberi nama “Shakespeare’s Garden”. Taman kecil itu kembali mengingatkan saya kepada pentingnya pengetahuan mengenai nama-nama benda untuk penulis. Taman itu didesain dengan gaya Elizabethian, gaya yang merujuk ke masa hidup sang penulis. Tapi terutama yang mengasyikan, di taman itu ada beraneka tanaman yang pernah disebut Shakespeare, lengkap dengan kutipan dari drama atau sonetanya yang menunjukkan di mana tanaman itu dikutip. Misalnya dari Macbeth, ada kutipan yang berbunyi “Gall of goat, and slips of yew/Sliver’d in the moon’s eclipse …/Make the gruel thick and slab.” Kutipan itu ditancapkan tak jauh dari gerumbul English Yew (Taxus baccata) dengan daun-daunnya yang menyerupai jarum. Dan kutipannya yang terkenal, “What’s in a name? That which we call a rose/By any other word would smell as sweet” (dari Romeo and Juliet), tentu saja ditancapkan tak jauh dari gerumbul mawar. Sangat menarik mengenal nama-nama tumbuhan asing melalui kutipan-kutipan dari seorang pujangga, sekaligus mengagumi pengetahuan sang pujangga mengenai detail semacam itu, dan secara langsung juga mengenal sedikit karya-karyanya. Seperti kata pepatah, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Lebih dari itu, nama benda-benda, terutama dalam karya sastra, sebenarnya secara tidak langsung juga memberi watak kebudayaan dari mana karya itu berasal. Sebab di balik nama-nama pohon, bunga, binatang, perkakas, juga makanan, terdapat sejarah panjang pembuatan nama-nama itu di rumpun kebudayaan tertentu, di mana seorang penulis biasanya berakar dalam di sana.



5 Comments

  1. Hai Eka,
    Saya tertarik dengan salah satu soal keterbatasan bahasa Indonesia yang kamu angkat. Saya sering mendengar penulis-penulis di luar bahasa Indonesia atau melayu bicara soal ini. Sebenarnya masalah ini dapat dipecahkan dari sumber masalahnya sendiri. Untuk mengatasi keterbatasan terma bahasa indonesia, temukanlah dari terma-terma bahasa melayu yang membentuk bahasa Indonesia. Misalnya, untuk kata anak anjing, dikenal kata ‘patik’ (dari bahasa Sansekerta). Terma inilah yang digunakan para kawula atau hamba sahaya untuk menyebut dirinya di hadapan raja melayu. Dari kata patik (anak anjing) ini, makna bergeser menjadi ‘hamba’, dan ‘budak’, yang menyamakan manusia tak berpunya sebagai anak anjing yang dimiliki tuannya. Kalau kamu tertarik menggali terma bahasa Indonesia, cobalah menggalinya dari bahasa Melayu. Sejarah panjang bahasa dan kesusasteraan melayu tentu tidak datang dengan sendirinya. Ia datang dari penamaan benda-benda di sekitarnya, bukan? Kamu jarang membaca sastra melayu klasik ya? Bahasa novelmu kering, jauh lebih bagus kualitas terjemahan dalam bahasa Inggris…

    • @Terma
      Ya, tentu saja salah satu pemecahannya adalah kembali ke akar Melayu klasik untuk memperkaya kosa-kata. Atau adopsi dari bahasa lain. Baca Melayu klasik? “tidak pernah” barangkali lebih tepat daripada “jarang”. Sejarah bacaan saya agak menyedihkan soal kesusastraan ini. Saya harap besok-besok bisa mencoba membacanya. Dan iya, edisi Inggris novel-novel saya jadi terlihat lebih bagus, tapi dipikir-pikir saya rasa itu lebih “masalah penulis” daripada “masalah bahasa”.

      • Thanks for your reply, Eka..
        Justru kekuatan novel-novelmu datang dari keterbatasan bahasa Indonesiamu. Bahasamu jadi akrab dibaca anak muda. Bahasamu tidak berlebihan melangit dengan penggunaan bahasa arkaik yang dicomot dari kamus. Sebaiknya saya koreksi pernyataan saya, kekayaan terma dalam bahasa melayu tidak akan banyak berguna buat penulis sepertimu. Tapi kalau boleh saran, sebaiknya cerpen-cerpenmu tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa asing. Cerpenmu lahir dari situasi cerpen koran dan majalah Indonesia. Ukuran dan pendalaman cerpen-cerpenmu kurang memuaskan karena situasi yang mewadahinya. Sebaiknya jangan tergoda untuk memberikan cerpenmu ke ‘dunia luar’. Cukup novelmu saja, Eka…

  2. Membaca kalimat terakhir tulisan ini saya jadi ingat Pak Ahmad Tohari (AT) Mas. Beliau selalu memasukkan senarai aneka rupa hewan dan tanaman di karya-karyanya. Bahkan (ternyata) pernah sampai ‘digugat’ karena penggambarannya tidak sesuai dengan kajian ilmu biologi. Tetapi beberapa kali membaca karyanya, penggambaran rupa hewan dan tanaman itu malah menjadi sirep karena disajikan dengan bahasa yang asing namun terasa dekat, misal: burung Sikatan (dari nama resminya Kipasan Belang).

    [Pengalaman tsb sama sekali berbeda dengan pembacaan Laskar Pelangi misalnya. Saya jadi terasa seperti membaca buku paket sekolah karena daftar nama ilmiah tumbuhan dan hewan yang begitu panjang.]

    Makanya pas pertama baca Seperti Rindu, Dendam Harus Dibayar Tuntas, sensasi yang saya rasa adalah sensasi AT Mas. Sensasi bahasa yang terkesan ‘asing’, namun terasa begitu dekat. Pun begitu membaca Lelaki Harimau, sensasi yang mirip juga terasa (ditambah cara penggambaran latar yang bagi saya AT banget). Tetapi itu tentu saja dengan materi bacaan saya yang baru sebatas karya-karya AT. Mungkin sensasinya akan lain kalau bacaan saya sebelumnya lebih dari itu. :)

  3. “What’s in a name? That which we call a rose/By any other word would smell as sweet”

    BEuh.. Kutipan yang ini sungguh mengingatkan pada kisah romeo dan Juliet..

    Keep Nulis Pak :)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑