Eka Kurniawan

Journal

Seberapa Tua Penulis di Rak Buku Saya?

Hal pertama yang terpikirkan ketika membaca novel-novel Roberto Bolaño adalah, betapa sedikitnya saya membaca karya para penulis dari generasinya. Ia lahir 1953. Saya membaca esai-esainya, yang dikumpulkan di buku berjudul Between Parentheses, dan terkejut oleh kenyataan ia membaca karya-karya penulis yang selama ini kurang-lebih (lebih banyak) saya baca. Oh, tentu banyak penyair dan penulis berbahasa Spanyol yang saya tak akrab, tapi lupakan bagian itu. Ia bicara tentang Borges, tentang Cortazar, dan beberapa yang juga saya baca. Tapi ia lahir 1953, dan saya lahir 1975. Jarak 22 tahun di antara dua pembaca, saya rasa seperti ribuan tahun cahaya. Seharusnya bacaan saya jauh lebih segar daripadanya. Seharusnya saya membaca lebih banyak Bolaño dan segenerasinya. Saya pergi ke rak buku, membuka halaman biografi singkat di beberapa novel, mencari siapa saja yang lahir di tahun 50an. Saya berharap bacaan segar saya tak sekering yang saya duga. Apa boleh buat, di sana lebih banyak mumi-mumi tua. Hemingway, Faulkner, Kawabata, Hamsun. Lebih bangkotan lagi, ada Tolstoy, Dostoyevsky, Chekhov. Bahkan Shakespeare dan Cervantes. Seharusnya nama-nama itu sudah selesai dibaca sebelum lulus sekolah menengah, sehingga di umur menjelang 40, barangkali bacaan saya jauh lebih segar. Saya kembali memeriksa tahun-tahun kelahiran penulis-penulis yang ada di rak buku saya, paling tidak yang saya suka. Syukurlah, saya menemukan bahwa Haruki Murakami lahir 1949. Mo Yan 1956. Herta Muller 1953. Orhan Pamuk 1952. Bahkan saya menemukan yang lebih muda dari tahun-tahun itu. Tak banyak memang, tapi saya pikir tak terlalu menyedihkan. Yang perlu saya lakukan barangkali berkunjung lebih sering ke toko buku. Saya tak terlalu yakin apakah ada gunanya pergi ke perpustakaan untuk tujuan semacam ini. Perpustakaan di sini lebih sering seperti museum berisi hantu-hantu penulis, daripada galeri cantik penuh nama-nama kontemporer. Saya mungkin perlu memberi perhatian pada nama-nama yang lebih muda. Saya pikir tak akan banyak yang bisa saya peroleh dari penulis generasi saya. Mereka belum banyak menerbitkan buku, dan di antara yang belum banyak itu, lebih sedikit yang menonjol, dan lebih sedikit lagi yang diterjemahkan (jika ia penulis dari bahasa yang asing untuk saya). Tapi mungkin saya bisa memperoleh banyak dari generasi penulis yang lahir tahun 50an. Akhir 40an paling tidak. Sangat bagus jika 60an. Oh, tak ada maksud aneh dari omongan saya tentang ini. Saya hanya merasa perlu bacaan yang lebih segar. Karya-karya yang memberi kejutan-kejutan kecil sebagaimana telah dilakukan karya-karya yang lebih tua. Seperti Bolaño bilang, dan saya setuju sehingga saya merasa perlu mengutipnya dan menjadikannya kata-kata saya sendiri, “Saya lebih menikmati membaca daripada menulis.” Dan di atas generasi saya, ada banyak buku-buku yang berangkali perlu ditengok. Buku-buku yang tak lagi membicarakan Perang Dunia II. Buku-buku yang tak lagi membicarakan jamuan teh di rumah tradisional Jepang. Tapi buku-buku yang mengisahkan orang-orang yang mungkin mampir ke 7Eleven, yang mendengarkan musik melalui iPod (ah, bahkan mendengarkan musik lewat Walkman pun terasa sudah usang sekarang ini). Tapi sambil memikirkan hal ini, sambil tergila-gila dengan apa pun yang ditulis Bolaño, rasanya saya tak bisa meninggalkan apa-apa yang telah ditulis oleh para pendahulu Bolaño. Para penulis yang lahir di tahun 30an, atau 20an, atau bahkan beribu tahun cahaya lebih tua dari itu. Karya-karya mereka, orang-orang pintar akan mengatakannya sebagai, klasik. Dan seperti dikatakan Italo Calvino di Why Read the Classics?, “Membaca karya-karya klasik itu lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.” Saya rasa itu alasan yang sangat bagus, sebagaimana membaca karya-karya kontemporer juga lebih baik daripada tidak membacanya sama sekali.



1 Comment

  1. Mas Eka, ada niat menerjemahkan karya lagi? Aku pingin sekali baca Junot Diaz, tapi english-ku parah, jadi mungkin sekalian Mas Eka membaca yg muda, akan berbagi buat kami pembaca yg haus buku terjemahan bagus, hee… :)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑