Eka Kurniawan

Journal

Rumah dalam “The Wind in the Willows”

Salah satu episode yang paling mengganggu saya di novel The Wind in the Willows (Kenneth Grahame) adalah bab V “Dulce Domum”. Di bagian itu, The Mole dan The Rat baru saja berjalan-jalan dan hendak kembali ke perairan tempat mereka tinggal, lalu The Mole mencium sesuatu. Mencium bau “rumah”. Ya, rumahnya, rumah yang lama ia tinggalkan. Kemudian kita tahu itu rumah kecil yang rapi, dengan berbagai perabot dan hiasan yang disebut The Rat sebagai “terencana dengan baik”. Di awal novel, kita memang diperkenalkan dengan The Mole yang saat itu sedang membersihkan rumah, lalu berjalan-jalan dan tiba di pinggiran sungai dan terpesona oleh lingkungan tersebut, lalu bertemu dan bersahabat dengan The Rat. Ia seolah melupakan begitu saja rumahnya. Dan setelah bagian ia mencium bau rumahnya (atau dalam bahasa lain, mendengar panggilan rumahnya), kita tak pernah menemukan ia kembali tinggal di sana. Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah ia menikmati rumahnya? Bukankah rumahnya terus memanggilnya? Tapi kenapa ia pergi dari rumah? Bagian itu tak memungkinkan kita untuk tak menanyakan hal-hal itu, sampai kita sadar bahwa novel ini, secara umum memang bicara tentang rumah dan dunia di luar rumah (alam liar). Secara harfiah maupun tidak. Setiap kita diperkenalkan dengan karakter utama baru, pertama-tama kita juga diperkenalkan dengan rumah tempat tinggal mereka. Rumah bagi The Rat adalah sungai. Itulah tempat tinggalnya, tempat ia berperahu di perairannya. Kita kemudian juga akan diperkenalkan dengan The Badger, seekor binatang yang tak nyaman dengan Masyarakat, tapi tak bisa disebut anti-sosial. Ketika The Rat dan The Mole tersesat di The Wild Wood, mereka menyelamatkan diri ke rumah The Badger. Dan terakhir kita akan bertemu dengan rumah The Toad, rumah yang sangat terkenal dan mewah bernama Toad Hall. Menurut saya, ada yang unik melihat hubungan antara keempat karakter ini dengan rumah mereka, dan itulah kenapa saya tadi menyebut novel ini memang berkisah tentang rumah. Masing-masing tokoh seperti mewakili karakter yang berbeda-beda, hanya dengan melihat hubungan mereka dengan rumah. Pertama kita lihat The Badger. Ia bisa dibilang makhluk rumahan. Baginya dunia di luar rumah itu nyaris tak ada, meskipun kita tahu ia akan keluar dari sarangnya demi membela sahabat-sahabatnya. Tapi secara umum, dunianya adalah rumahnya. Sedikit lebih terbuka darinya, tentu saja The Rat. The Rat melihat dunia adalah rumah dan perairan sungai lingkungannya. Ia memiliki rasa takut terhadap dunia di luar perairannya. “(Sungai) merupakan kakak dan adikku, dan bibi dan teman, dan makanan dan minuman, dan (tentunya) tempat mencuci. Ini duniaku dan aku tak menginginkan yang lain.” Dan, “Di luar Wild Wood ada Wide World, dan itu bukan sesuatu yang penting, untukku atau untukmu.” The Mole, tokoh yang pertama kali diperkenalkan, seperti kita tahu berani meninggalkan rumah. Ia punya rasa ingin tahu yang tinggi atas dunia luar (itulah kenapa ia melupakan rumahnya dan tersesat di perairan tersebut). Ada hasrat menggelegak di dalam dirinya untuk melihat dunia yang lebih luas. Ia pernah nekad masuk ke Wild Wood. Tapi ambisinya untuk jauh meninggalkan rumah sering terkungkung oleh keragu-raguan. Setelah pengalaman tersesat di Wild Wood, ia praktis kehilangan keberaniannya. Hal ini berbeda dengan The Toad. Ia merupakan satu-satunya sosok di antara keempatnya, yang memiliki ikatan paling longgar dengan rumah. Ia menganggap mobil (atau jalanan) lebih sebagai rumahnya. Ia memiliki hasrat untuk berkelana dan ia melakukannya (berkali-kali kecelakaan, masuk rumah sakit), bahkan hingga akhirnya ia masuk penjara. Sedikit ironis, di akhir cerita ketiga temannya berhasil “menjinakkan” The Toad, untuk menjadi lelaki sejati yang tinggal di rumah. Tapi sebenarnya ada sosok kelima yang unik, meskipun ia hanya karakter minor di novel ini. Di bab “Wayfarers All”, The Rat bertemu dengan tikus lain yang tampak gembel dan menyebut dirinya “A seafaring rat” yang mengklaim bahwa kota tempat kelahirannya bukan lagi rumahnya, dan tinggalkan dia di pinggir pantai mana pun dan ia akan merasa itu sebagai rumahnya. Melihat hubungan Anda dengan rumah, Anda tipe yang mana?



5 Comments

  1. Mas bro mbok kapan-kapan nulis apa saja novel karya penulis asing dalam terjemahan bahasa Indonesia yang memuaskan dan patut dibaca. Tidak semua bisa membaca novel dalam bahasa asing seperti mas bro. Ya?

    • @Sam:
      Insya Allah. Sebenarnya jurnal ini merupakan pengiring bacaan saya yang sedang belajar kembali sastra dan menulis. Bacaan saya bisa dibilang sudah terencana untuk sekitar 2 tahun ke depan, dan rata-rata buku klasik/lama, sih. Kalaupun menyimpang dari yang saya rencanakan, biasanya karena ada buku baru yang saya tertarik. Maaf jika tulisan di jurnal ini terkesan asyik sendiri ;)

  2. Eka,

    Saya senang sahaja menjadi Badger walaupun ada hari seronok juga kalau keluar dengan mobil seperti si Katak haha.

    • @Wan,
      Kurasa aku lebih mirip The Mole/Si Tikus Tanah. Sering melupakan rumah, tapi tak seberani The Toad/Si Katak untuk bertualang jauh. Tapi asyik juga sih sewa mobil dan berkelana, melihat-lihat pelosok negaramu, misalnya. Hahaha … Eh jadi ke Bandung? Kapan?

  3. Loh, kalau mau berkelana di Malaysia, langsung aja ke George Town Literary Festival November nanti. Bisa sewa mobil dan bawa family berliburan. Tentang Bandung… belum tahu Eka kapan mau ke sana. Harus simpan uang dan menunggu royalty buku seterusnya hehehe

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑