Eka Kurniawan

Journal

Prestasi

1

Bayangkan kamu seorang pelari, yang sesungguhnya sanggup lari seratus meter hanya dalam sembilan detik. Bayangkan: sembilan detik saja! Itu artinya, kamu tak hanya menjadi juara dunia, tapi juga memecahkan rekor lari seratus meter, dan bisa jadi akan sangat lama rekor itu terlewati. Tapi bayangkan, kamu hanya tinggal di sebuah kampung di tengah hutan dan tak pernah pergi ke tempat lain. Di kampung itu, orang-orang hanya sanggup berlari seratus meter dalam lima belas detik, beberapa yang lain bahkan hingga dua puluh detik. Sudah pasti, kamu akan selalu juara di tengah-tengah mereka. Hal lain yang bisa dipastikan: meskipun pada dasarnya kamu punya potensi dan sanggup, kenyataannya kamu tak akan pernah berlari sembilan detik! Berlari secepat empat belas detik sudah sangat luar biasa buatmu. Kenapa? Sederhana: tak ada yang memaksa dan mendorongmu untuk menembus batas kemampuanmu. Tak ada yang memaksamu untuk berlari seratus meter dalam sembilan detik. Menurut saya, ini juga berlaku dalam dunia kesusastraan. Jika kamu hanya hidup dan berhadapan dengan para penulis dan karya medioker, sehebat-hebatnya, kamu hanya akan sedikit lebih baik dari penulis medioker. Alam semesta akan memastikan nasibmu seperti itu.

2

Jika kita tak pernah punya ukuran-ukuran yang jelas tentang prestasi, tentang karya sastra yang baik, kita akan cenderung menciptakan ukuran-ukuran sendiri. Bayangkan jika tak ada penghargaan untuk karya sastra yang baik. Atau bayangkan jika ada penghargaan untuk karya sastra yang baik, tapi para penulisnya sendiri meragukan kualitas penghargaan tersebut. Bahkan para penulis yang pernah memenangi penghargaan tersebut juga meragukan kualitasnya. Bayangkan pula dunia kesusastraan yang diisi para kritikus yang hanya bisa memuji-muji (karena semua karya ada sisi baiknya), dan di sisi lain ada kritikus yang sering kebingungan sendiri menghadapi karya seolah-olah ia seratus dua puluh langkah tertinggal di belakang. Dalam keadaan seperti itu, sekali lagi, yang akan terjadi adalah sejenis anarki: semua orang akan menentukan sendiri ukuran-ukurannya, dan semua akan tampak berprestasi. Kita akan seperti anak taman kanak-kanak, apa pun yang kita lakukan, kita akan memperoleh bintang. Saya membayangkan, setidaknya untuk diri saya sendiri: akan mengirim novel saya ke bulan, menitipkannya ke seorang astronot. Memotretnya di bawah bendera Amerika. Saya akan bilang, “Saya penulis hebat, novel saya sudah sampai ke bulan, ini buktinya, ada foto.” Itu kurang meyakinkan? Saya akan berusaha agar para jin, di dunia dedemit, mendiskusikan karya saya. Dan dengan bangga saya akan bilang, “Novel saya sudah didiskusikan para jin di dunia dedemit.” Jelas itu prestasi, sebab hanya saya yang meraihnya. Masih kurang meyakinkan? Saya akan berusaha menerjemahkan novel saya ke bahasa semut, dan di biografi saya akan ditulis, “Telah diterjemahkan ke bahasa semut, bahasa batu, dan bahasa tubuh.” Bahkan menulis novel 500 halaman dengan Rugos pun bisa jadi prestasi membanggakan, sebagaimana menulis puisi di permukaan air dengan sperma bebek. Jangan salah sangka, saya lumayan suka keadaan seperti itu. Saya seorang anarkis, dan mendukung dunia kesusastraan yang anarkis. Semua penulis layak dapat bintang, semua bisa pulang ke rumah dengan senang.

3

Menulis berarti menyuarakan sesuatu. Karena penulis itu banyak, ada banyak suara. Dunia menjadi tempat yang riuh. Masalahnya, sebagian besar ingin didengar. Bersuara tak lagi cukup. Kita berteriak. Yang berteriak paling kencang, tentu saja merasa jadi juara. Setidaknya jika tak bisa berteriak kencang, kita mencoba membungkam orang lain.

4

Dalam pembukaan komik Panji Tengkorak karya Hans Jaladara, dikatakan: “Dalam ilmu surat (sastra) tak ada nomor satu. Dalam ilmu silat, tidak ada jago nomor dua (karena yang nomor dua sudah menjadi mayat).” Soal ilmu sastra, saya rasa Hans Jaladara salah. Dalam ilmu sastra: semua nomor satu. Sebab kalau tidak nomor satu, penulis merasa jengkel sekali (oh tidak, berbeda dengan pendekar, mereka tak akan mati). Dalam hal ini saya tak tahu mana yang lebih anarkis: dunia sastra atau dunia persilatan?



3 Comments

  1. Bagaimana jika tak ada pertarungan? Tahu-tahu sudah ada juaranya. Atau lebih kacau lagi, wasit ikut bermain dan tentu saja jadi juara karena dia yang menentukan aturan main. Dalam satu pertarungan silat (pibu), saya kira tak penting benar siapa yang jadi juara. Yang lebih penting adalah ilmu silat itu sendiri dan aturan main yang disepakati bersama: sama-sama pakai tangan kosong atau boleh pakai toya. Dengan demikian jurus-jurus yang indah atau yang maut atau yang aneh bisa sama-sama dimainkan dengan gembira. Siapa pun yang menjadi juaranya. Salam tiga jurus!

  2. Bersuara tak lagi cukup. Kita berteriak. Yang berteriak paling kencang, tentu saja merasa jadi juara. Setidaknya jika tak bisa berteriak kencang, kita mencoba membungkam orang lain.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑