Eka Kurniawan

Journal

Pembaca Kreatif

Jujur saya sering bengong selesai membaca sebuah atau beberapa buku. Bengong dalam arti tak tahu harus bereaksi apa selain bengong. Tak penting apakah bukunya bagus atau sampah, menggugah saya atau hambar. Padahal obsesi saya, melebihi harapan menjadi penulis yang hebat, adalah menjadi pembaca yang kreatif. Beberapa waktu lalu saya menyelesaikan Candide karya Voltaire, dan saya malah bengong. Lalu saya membaca ulang Si Lugu (L’Ingenu, terjemahan Ida Sundari Husen), berharap otak saya sedikit hidup. Eh, tetap tidak membantu. Kedua novel itu sama sekali tidak jelek. Saya bahkan menikmatinya, dan beberapa kali membuat saya tersenyum geli sendirian (saya membacanya sambil menunggu anak saya “sekolah” di taman bermain). Masalahnya saya ingin menjadi pembaca kreatif. Sialan sekali. Obsesi semacam itu seringkali membuat saya mati kutu. Saya kemudian membaca pengantar-pengantar untuk kedua buku itu (biasanya saya melewatkan pengantar macam begitu), dan terkagum-kagum bagaimana orang (penulis pengantar) bisa “membaca” karya tersebut dengan cara mereka. Saya semakin menyalahkan diri sendiri karena ketidakkreatifan saya. Saya merasa bodoh, hanya bisa membaca sesuatu yang tersurat. Padahal kata Borges, “Membaca merupakan tindakan yang lebih intelek daripada menulis.” Tapi saya merasa sebagai pembaca yang payah, hanya bisa membaca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, dan tak mampu mengembangkan imajinasi liar dari sana. Payah. Payah. Beberapa malam setelah membaca buku itu, saya masih membuka-buka halaman keduanya. Berharap bisa melompat dari sekadar petualangan Candide dan Si Lugu, berharap bisa memperoleh gagasan kreatif, memperoleh cara membaca baru yang keren. Sempat terpikirkan untuk mencoba menyusun trik-trik nyinyir ala Voltaire. Tak bisa dielakkan bagi saya untuk menangkap kesan nyinyir dari penulis ini di kedua novel tersebut, jadi kenapa tidak belajar nyinyir darinya? Saya membayangkan beberapa trik, seperti titik pijak yang kokoh. Jika penulis tak punya titik pijak yang kokoh dalam hal moral, ideologi, politik atau agama, bagaimana ia bisa nyinyir terhadap dunia? Kalaupun ia memaksakan, nyinyirnya akan melebar ke sana-sini tak jelas ditujukan untuk siapa. Trik lainnya adalah menciptakan tokoh yang polos. Anak-anak atau sosok kekanak-kanakan. Ini hal lumrah dalam tradisi novel picaresque. Kepolosan ini (seperti halnya Candide atau Si Lugu), bisa menjadi kontras untuk masyarakat (dewasa) yang penuh kepentingan, korup dan secara umur menyimpang dari akal budi. Saya memikirkan trik-trik lain, yang tentu semuanya saya coba temukan dari kedua novel tersebut, tapi kemudian balik bertanya kepada diri sendiri: apa kerennya trik-trik itu? Pembaca lain pasti dengan mudah memikirkan dan menemukannya. Saya mulai merasa menjadi pembaca yang gagal (bukan lagi payah), dan biasanya itu berlanjut dengan mood yang buruk. Menjalani hidup dengan mood yang naik-turun dengan gampang sangatlah tidak menyenangkan, dan saya harus berusaha mengembalikan gairah saya. Soal ini saya jarang menggantungkan diri kepada orang lain. Satu-satunya cara adalah kembali membaca dan menantang diri kembali untuk menjadi pembaca kreatif. Tentu saja saya akhirnya membaca beberapa buku lain, tapi ingatan terhadap Candide dan Si Lugu tetap tak mau pergi. Saya kembali memikirkannya. Seperti punya utang yang belum tuntas. Saya membaca kembali secara acak Candide dan menemukan episode Eldorado yang bagi saya sangat lucu. Ada satu pertanyaan Candide yang sangat menohok di bagian itu: Bagaimana penduduk Eldorado berdoa kepada Tuhan? Jawaban mereka: “Kami tidak berdoa kepada Tuhan, sebab kami tak memiliki apa pun untuk diminta. Tuhan sudah memberi semua yang kami butuhkan.” Tonjokan keras untuk kaum beragama, bukan? Bahwa orang-orang Eldorado ini, yang tak pernah berdoa, justru mengagungkan Tuhan seagung-agungnya sebagai “memberi semua yang kami butuhkan”. Saya berpikir untuk membaca novel itu, dan novel satunya lagi, sebagai komentar Voltaire mengenai perilaku beragama kita. Ya, Voltaire banyak menyindir orang-orang beragama di sana. Katolik, Kristen, bahkan Islam. Saya rasa keren membaca pandangan Voltaire mengenai ini. Apa? Keren? Sudah banyak yang melakukannya kali … Baiklah, saya menyerah untuk sementara ini.



3 Comments

  1. begong mau komen apa? komentator tidak kreatif. hehehehe

  2. Bacaannya bagus-bagus. Dulu di Jogja suka nyari novel impor bagus di mana?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑