Orientalisme Balzac

Buku ini barangkali bisa menjadi contoh yang baik mengenai orientalisme Eropa abad kedelapan belas. Pertama, ia ditulis oleh Balzac. Betul, Honoré de Balzac yang “itu”. Penulis masyhur Prancis, yang ouvre karya-karyanya “dipaketkan” menjadi “Komedi Manusia” masih dibaca orang hingga kini. Kedua, ia menulis tentang Jawa. Negeri Jawa, yang menurut kata-katanya sendiri sebagai “jiwa Asia”.

“Sebagai orang Eropa, aku bersumpah, terutama sebagai seorang penyair, tak ada negeri yang begitu sedap sebagaimana Pulau Jawa.” Demikian ia menulis, tapi segera mengingatkan kepada rekan-rekan senegerinya, “Di Paris kau hidup sebagaimana kau mau: bermain, bercinta, mabuk sesukanya — dan rasa bosan yang datang dengan cepat. Tapi, di Jawa, maut menggantung di udara. Maut melayang di sekitarmu dalam bentuk senyum seorang perempuan …”

Yang paling menarik, adalah penggambarannya, atau imajinasinya yang luar biasa mengenai perempuan Jawa. Mungkin juga semacam imajinasi seksual lelaki Eropa mengenai perempuan oriental yang jauh dan asing. Balzac menggambarkan perempuan Jawa sebagai: “putih dan halus bagaikan kertas … bibir mereka pucat, telinga dan cuping hidung mereka — semua putih, hanya alis mereka yang hitam pekat dan mata coklat mereka membentuk kontras atas wajah pucat ajaib ini.”

Tidak cuma itu: “Sebagian besar perempuan ini kaya, banyak di antaranya janda. Segera setelah datang, seorang lelaki Eropa bisa langsung kawin, menjadi kaya sebagaimana mereka impikan di malam-malam panjang dan dingin di negeri sendiri.”

Begitulah impiannya tentang perempuan Jawa.

Tentu ada hal-hal lain. Imajinasi maupun prasangka. Tentang lelaki Jawa yang sekali kena candu bisa mengamuk, run amok. Tentang pohon upas yang tumbuh di titik bekas gunung berapi yang telah punah, dan betapa beracunnya pohon itu hingga kriminal yang dihukum mati hanya perlu disuruh membacok batang pohon tersebut. Hanya tiga atau empat dari sepuluh kriminal berhasil lolos. Dan, yang bertahan hidup bisa tumbuh keberanian. Dengan modal keris, ia bisa menghadapi harimau, bagaikan orang Eropa menghadapi kucing.

Buku ini sendiri, judulnya My Journey from Paris to Java — dalam bahasa Prancis Voyage de Paris à Java, terbit pertama kali 1832.

Ini mungkin sedikit menjengkelkan, atau perlu dirayakan sebagai lelucon: bahwa Balzac sendiri tak pernah datang ke Jawa. Tak pernah! Bahkan tak pernah berkelana ke negeri mana pun di “timur jauh” ini. Ia hanya mendengar tentang Jawa dari seseorang, atau beberapa orang. Apakah orang yang berkisah kepadanya, atau Balzac sendiri yang liar berfantasi, buku ini saya rasa merekam dengan baik imajinasi Eropa tentang Orient — khususnya Jawa, setidaknya pada abad kedelapan belas dan awal sembilan belas.





2 thoughts on “Orientalisme Balzac

  1. Wow! Sungguhan Balzac ini tidak pernah berkunjung ke pulau Jawa dan dia bisa mendekripsikan pulau Jawa dengan sedemikian rupa. Artinya imajinasinya sungguh liar dan mengena. Fakta menohok untuk penulis sekarang agar bisa mengimajinasikan cerita dengan gambaran yang magic.

Comments are closed.