Nadja, André Breton

  • Dalam pembacaan awal, saya melihatnya sebagai sejenis esai tentang kota, dalam hal ini Paris. “… patung Etienne Dolet di atas penyangganya di Place Maubert, Paris selalu menarik perhatianku sekaligus memaksa rasa tak nyaman yang tak tertanggungkan.” Paris, kota di mana kau bisa menemukan narator buku ini lewat setidaknya dalam tiga hari.
  • Bisa juga diperlakukan sebagai memoar. “Siapakah aku?” Sebab demikianlah buku ini dibuka. Si aku yang selalu “berharap bertemu, di malam hari di tengah hutan, dengan seorang perempuan cantik telanjang, atau, karena harapan semacam itu sekali dikatakan tak ada artinya sama sekali, aku menyesali kenapa tak bertemu dengannya.”
  • Saya kebetulan menemukan esai Mario Vargas Llosa di buku Touchstone tentang buku ini. Surealisme dan khususnya André Breton, memandang rendah novel, begitu katanya. Meskipun begitu, ia tak ragu untuk menyebut Nadja sebagai “novel orisinil tentang cinta.” Dan, jika itu novel, maka ini novel yang bagus, “sebab ia tak menceritakan dunia ini, meskipun berpura-pura demikian.”
  • Lebih tepatnya, dunia di novel ini dilihat dengan cara yang subyektif. Ia tak hanya mendeskripsikan dunia sebagaimana dilihat sang narator, tapi melingkupi kesan, fantasi, juga mimpi buruknya. Dunia tak melulu apa yang terhampar, tapi juga yang diketahui dari omong-omong kosong, dari potongan gambar, gagasan tak utuh, sebaris teks dari sebuah karya.
  • Mungkin memang bukan novel, bukan esai, apalagi puisi. Ia bukan apa-apa, sekaligus apa-apa.  Bagian pertama merupakan tulisan yang tampak ngalor-ngidul untuk menjelaskan “siapakah aku”, dan alih-alih mendeskripsikan tentang dirinya, narator sibuk bicara tentang banyak hal, dan menempelkan di halaman buku ini berbagai gambar yang ia berharap melengkapi ocehannya.
  • Jika Nadja adalah fiksi tentang seorang perempuan bernama Nadja, kita akan bertemu narator yang terus-menerus berusaha mendefinisikan siapakah Nadja ini, dan bagaimana perasaannya terhadap perempuan itu, serta hubungan macam apa yang dimiliki di antara mereka. “Untuk sementara waktu, aku berhenti memahami Nadja. Sebenarnya, barangkali kami tak pernah mengerti satu sama lain.”
  • Perempuan ini muncul di bagian kedua. “Aku melihat seorang perempuan muda berpakaian buruk berjalan ke arahku.” Perempuan yang di pertemuan awal itu sudah mengatakan memiliki “kesulitan finansial”. Ia pernah bekerja di toko roti, bahkan di penjagalan babi. Ia mengutip puisi, dan ia menggambar beberapa sketsa, sebab dengan cara seperti itulah kadang Nadja berbicara.
  • Gambar-gambar sketsa yang dibuat Nadja pada dasarnya bisa dinikmati secara mandiri. Kadang Nadja menerangkan apa makna, atau simbol apa yang ia coba sampaikan, tapi kadang ia juga tak mengerti apa yang digambarnya. Sketsa “Bunga Cinta” lumayan menyeramkan. Kelopak-kelopak bunga bergambar mata yang menatap tajam, sementara batangnya berawal dari seekor ular yang menganga. Begitu mungkin Nadja melihat cinta.
  • Kalau mau, boleh juga dianggap sebagai kritik sastra, atau kritik seni secara umum. “Bahagia rasanya, kesusastraan psikologis umurnya tak lagi panjang. Dan tak ada keraguan, semburan mematikan ini diembuskan oleh Huysmans.” Di novel ini, ia juga bicara tentang Chirico, Victor Hugo, hingga Robert Desnos. Puisi, novel, patung, hingga lukisan.
  • Sebagai pembaca novel, membaca Nadja memang terasa membaca sebuah “novel” yang sinis, yang terus-menerus meyakinkan pembacanya bahwa “aku bukanlah novel”. Seperti kita dibawa untuk berfantasi tentang Nadja melebihi sosok dengan tulang dan daging, kita diajak untuk terus-menerus bertanya, apa sesungguhnya sebuah novel, bagaimana novel didefinisikan? Yang jelas, seperti kata Llosa, Breton mempergunakan kebebasannya sebagai novelis untuk merdeka mempergunakan waktu, ruang dan kata-kata.




3 thoughts on “Nadja, André Breton

  1. Saya baca, dan baca ulang, dan kepikiran apakah semacam ini–sebuah novel yang bukan sebuah novel–adalah sebuah novel eksperimental?

  2. Kalau menurut Mas Kurnia sendiri gimana, jujur jadi pengen tahu seperti apa bentuk buku dan isinya. Kalau memang itu adalah novel atau sebuah karya, apa bisa didapatkan di Indonesia bentuk fisiknya?

Comments are closed.