Eka Kurniawan

Journal

Menulis Aku

Semalam di forum kecil yang menghadirkan tiga orang penulis pemenang sebuah sayembara menulis novel, tiga orang juri yang memilih karya-karya mereka sebagai pemenang, dan beberapa teman bengis yang dengan cuek menimpali pembicaraan meskipun belum membaca karya-karya tersebut, kami ngobrol selama berjam-jam (ditemani soto dan kopi). Khusus saya, bahkan obrolan itu dilanjutkan di mobil selama hampir dua jam (karena kemacetan malam Sabtu di Jakarta yang sangat epik) bersama si pemenang pertama. Entah kenapa, satu hal yang menarik perhatian saya (mungkin juga kami), adalah tentang bagaimana menuliskan “aku”. Ya, yang saya maksud adalah menulis dengan sudut pandang orang pertama. Kita tahu tantangannya: dunia menjadi sempit, karena pengetahuan dan tangkapan inderawi si aku pasti terbatas. Juga tantangan yang lain: si aku bisa bicara apa saja yang dipikirkan, dan bagaimana kita harus mengendalikannya agar ia selaras dengan wataknya. Tantangan terbesar, dan saya rasa banyak novelis sangat tergoda melakukannya, adalah mengadirkan beberapa “aku” di dalam satu novel. Artinya, novel yang dibangun dengan beragam sudut pandang tokoh-tokoh yang berbeda, di mana mereka bicara masing-masing dengan sudut pandang pertama. Saya tak tahu siapa yang memulai cara seperti ini, tapi saya pertama kali membaca novel dengan pendekatan ini melalui karya William Faulkner, As I Lay Dying. Terakhir membaca novel semacam ini beberapa bulan lalu, Talking to Ourselves karya Andrés Neuman. Saya tak pernah menulis dengan cara seperti itu, dan rasanya tak berniat melakukannya di masa depan, tapi bukan berarti saya tak berniat untuk mengetahui triknya. Setidaknya, itu pasti berguna untuk dipergunakan di teknik yang lain. Menurut saya, tantangan terbesar dari menghadirkan beragam narator di satu karya tentu saja adalah bagaimana membedakan satu suara dengan suara lain. Realisme yang ekstrem akan mencoba menciptakan bangunan bahasa yang unik untuk masing-masing karakter, dengan asumsi, setiap watak tentu memiliki cara ungkap bahasa tersendiri. Hasrat untuk menjadikan setiap suara unik (penggunaan tatabahasa, diksi, bahkan dialek), sekaligus mempertahankan agar itu tetap konsisten sepanjang novel bukanlah pekerjaan mudah. Banyak penulis pemula berambisi mencapai realisme yang ekstrem ini dan banyak yang gagal (saya bercanda, mungkin novel tersebut perlu disisipi berkas audio untuk mendengar dialek si tokoh). As I Lay Dying saya rasa ditulis dengan pendekatan ini, meskipun saya rasa tidaklah ekstrem. Faulkner membedakan gaya atau pilihan kata satu tokoh dengan tokoh lain. Pendekatan yang gampang-gampang susah, menurut saya tentu saja mengambil risiko nekat dengan menghadirkan “suara” tunggal, suara si super-narator (yakni narator yang menceritakan para narator, sebab tokoh-tokoh yang tengah menceritakan diri mereka sendiri ini juga bisa dianggap sebagai narator untuk bagian mereka). Di novel Orhan Pamuk yang terkenal, My Name is Red, saya rasa Pamuk memakai pendekatan ini. Tak banyak perbedaan gaya dari satu tokoh ke tokoh lain (termasuk sosok anjing dan mayat), tapi tentu saja tak sesederhana ini. Yang membuat satu tokoh dengan tokoh lain berbeda, adalah cara dan kerangka mereka berpikir, serta tentu saja pandang dunia mereka. Kita tahu yang bicara si mayat karena cara berpikir dan pandangan dunia-nya tipikal si mayat, misalnya, meskipun bagian dia ditulis dengan cara yang sama dengan bagian tokoh-tokoh lain. Gampang-gampang susah: terasa gampang jika kita pikirkan bahwa itu bisa ditulis dengan cara yang sama, tapi jelas susah karena kita justru harus masuk ke bagian yang dalam dari sekadar susunan kalimat, yakni kerangka berpikir, psikologi dan pandang dunia si tokoh. Di novel Talking to Ourselves, saya menemukan gagasan yang saya rasa segar untuk memakai teknik ini dengan pendekatan yang berbeda. Ada usaha untuk membedakan gaya menulis dan kerangka berpikir tokoh-tokohnya, tentu saja, tapi bagian terbesar membedakan aku yang satu dan aku yang lain justru hadir melalui medium para aku ini bicara. Si ayah di cerita itu, bercerita ke alat perekam. Alat perekam ini menjadi sangat fungsional untuk memberi keunikan narasi si ayah, sekaligus penanda bagi pembaca. Si anak lebih bersifat monolog, seolah bicara dengan orang lain tapi pada dasarnya sendiri. Sementara si ibu menulis catatan harian. Yang pertama memiliki karakter lisan. Yang kedua, monolog-interior. Yang ketiga, bahasa tertulis. Tentu kita bisa menemukan strategi-strategi lain. Apa yang saya sebut bisa dibilang sebagai penyederhanaan juga. Itu teknik yang tidak gampang. Tapi siapa bilang menulis itu gampang?



2 Comments

  1. jimbozthesandoz

    27 December 2014 at 3:09 pm

    Arswendo bilang menulis itu gampang, mas eka…

  2. Teknik yg mas Eka sampaikan sepertinya perlu latihan untuk bisa dikuasai

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑