Ms Ice Sandwich, Kawakami Mieko: Mengucapkan Selamat Tinggal itu Enteng, Kecuali …

Ada satu adegan yang terus menari di kepala saya ketika membaca Ms Ice Sandwich karya penulis Jepang, Kawakami Mieko. Dikisahkan sang narator, anak sekolah dasar, diajak temannya untuk nonton film di rumah. Temannya ini tinggal berdua saja dengan ayahnya, yang memang punya koleksi video “dari lantai sampai langit-langit”. Ditemani sang ayah temannya (yang langsung tertidur ngorok di sofa), kedua anak itu pun menonton film. Sebuah film Hollywood penuh aksi tembak-tembakan. Si narator dengan cepat merasa bosan, berkali-kali bertanya, film apa, sih? Hingga di satu titik, temannya mendadak menekan tombol pause, lalu memutar film kembali ke belakang. Ke satu adegan tembak-tembakan yang seru. Ia meminta sang narator memerhatikan adegan yang menurutnya keren. Saking kerennya, si teman bersedia berdiri di antara sofa dan pesawat televisi, lalu menirukn adegan (dan dialog) di film it. Sama persis, dan bahkan dengan peniruan akting yang membuat sang narator tiba-tiba ikut terseret ke dalam adegan. Hingga di ujung adegan, tanpa sadar ia sudah melorot ke lantai dengan tangan teracung ke atas, seolah meminta ampun jangan ditembak. Selepas itu, si teman mengantar si narator pulang ke titik tengah antara rumah mereka. Waktu sudah hampir tengah malam. Ketika hendak berpisah, si teman melambaikan tangan sambil berseru, “Al Pacino!” Si narator, dengan lugu menganggap “al-pacino” merupakan ungkapan baru, sebagai pengganti “dadah” atau “selamat tinggal”. Maka ia pun membalas, “Al-Pacinoooooo!”. Si teman tertawa, dan membetulkan, “Itu nama aktor di film tadi.” Tapi gagasan memakai sahutan “al-pacino” sebagai ungkapan “selamat tinggal” sudah terlanjur menarik hati mereka, hingga berkali-kali mereka mempergunakannya. Memang, tampaknya novel ini bercerita tentang bagaimana mengucapkan selamat tinggal dengan enteng, belajar banyak kepada anak-anak. Dari mulai tentang bagaimana teman datang dan pergi, yang bisa dilalui dengan sekadar bertanya-tanya, hingga perpisahan yang jauh lebih berat. Si narator tinggal bersama ibu dan neneknya. Ayahnya sudah meninggal, dan neneknya itu merupakan ibu dari ayahnya. Ibunya mengabdikan diri untuk mengurus si ibu mertua, sekaligus si anak. Kita tahu, neneknya mulai sakit-sakitan. Ia merekamnya dengan baik, dari mulai jalan yang tak lagi sesehat dulu. Kemudian hanya tinggal di rumah, kemudian hanya tinggal di tempat tidur, hingga akhirnya hanya makan dan menggerakkan mata. Si bocah kecil selalu datang ke neneknya, membicarakan banyak hal yang dialaminya di sekolah, terutama tentang Ms. Ice Sandwich yang menarik perhatiannya di pusat perbelanjaan. Ia tak banyak bicara tentang “masa depan” si nenek, tapi kita tahu, di luar yang sering kita bayangkan tentang anak-anak, ia sangat siap menghadapi “selamat tinggal” kepada neneknya. Selamat tinggal yang begitu tenang, sebab ia tak terelakkan. Selamat tinggal yang bisa diganti dengan “al-pacino, Nenek!” Di atas segalanya, tentu ada Ms. Ice Sandwich, penjaga kios sandwich yang menurut gambaran si narator, mestinya sosok biasa-biasa saja. Saking tak pentingnya, ia bisa dimaki-maki pelanggan di depan banyak orang. Tapi hal yang buat orang lain biasa itulah yang menarik perhatian si bocah, hingga setiap hari ia bisa membayangkan wajahnya, lalu menggambarnya. Ketika si Ms. Sandwich tak lagi muncul di kedainya, dan kemudian ia tahu penjual itu akan pindah (menikah dan pindah kota), ia mulai merasakan artinya kehilangan. Ia menemuinya, memberinya kado (gambar yang ia buat). Di sana kita tahu, si bocah bisa enteng menghadapi kematian neneknya, karena ia tahu kematian merupakan hal yang biasa. Ia telah bersiap dengan itu. Tapi, Ms Sandwich jelas bukan “orang biasa”. Ia pernah mengikat perhatian si bocah. Berhari-hari, siang dan malam, dalam terjaga dan tertidur. Orang lain mungkin tak akan kehilangannya, tapi kepergiannya meninggalkan ruang kosong bagi si bocah. Mengucapkan selamat tinggal selalu enteng, seenteng berseru “al-pacinoooo”, kecuali … isi saja sendiri, deh.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.