Eka Kurniawan

Journal

Membunuh Samsa di Kamar Mandi

Di kamar mandi kami, kadang-kadang muncul seekor kecoa. Anak perempuan saya sering menjerit-jerit jika menemukannya. Saya? Saya akan mengambil pembasmi serangga dan menyemprotnya. Membunuhnya. Tapi membunuh kecoa merupakan kegiatan konyol yang hampir tak ada gunanya. Hari ini seekor mati, esoknya akan muncul lagi yang lain. Itu seperti mencoba menyalip mobil Avanza di jalan tol, satu mobil disalip, di depannya akan muncul mobil yang sama. Dan dalam tingkat sastrawi, itu hampir sama mustahilnya dengan mencoba membunuh Gregor Samsa (anggap saja ia kecoa) dan segala pengaruhnya dari kesusastraan. Baiklah, kita harus jujur bahwa Metamorfosis Kafka merupakan karya yang nyaris sempurna. The Trial atau The Castle merupakan novel yang hebat, tapi Metamorfosis saya pikir tak hanya hebat, ia bisa dibilang nyaris sempurna. Hampir sebagian besar sastra modern bisa dirujuk asal-usulnya ke cerita pendek (yang agak panjang) itu. Saya selalu percaya, sesuatu yang hebat, harus hebat bahkan di bagian-bagian terkecilnya. Sesuatu yang nyaris sempurna (biarlah kesempurnaan hanya milik Tuhan), harus tampak sempurna bahkan sejak bagian awal. “Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar.” Adakah yang lebih sempurna dari pembukaan cerita semacam itu? Jika Márquez pernah mengatakan bahwa arsitektur sebuah novel sudah bisa diraba dan dilihat sejak kalimat pertama, pembukaan itu memperlihatkannya dengan sangat benderang. Saya sering duduk di kakus sambil memandangi seekor kecoa (sebelum saya memutuskan untuk membunuhnya), dan melamun bagaimana caranya membunuh Gregor Samsa (apa boleh buat, saya seorang penulis dan pikiran saya penuh dengan hal itu, dan ya, bisa dianggap membosankan sebenarnya). “Samsa, apa sih yang membuat kamu nyaris sempurna?” Pertanyaan tolol sebenarnya, tapi sebaiknya memang ditanyakan. Ah, dan satu hari Samsa si kecoa menjawab (barangkali merupakan usahanya untuk bersahabat dan terhindar dari upaya pembunuhan, sebagaimana dilakukan secara licik oleh Syahrazad menghadapi Raja). “Seperti yang kamu yakini, novel sempurna harus diawali dengan kalimat pertama yang sempurna.” Maksudnya? Samsa tampak senang melihat antusiasme saya dan seperti pendongeng ia melanjutkan: “Sebelum berpikir menulis 60.000 kata atau bahkan 200.000 kata, cukup pikirkan satu kalimat saja. Satu kalimat sempurna.” Hanya itu? “Ya, hanya itu. Tulis kalimat pembuka yang sempurna, dan jangan tulis hal lainnya sebelum kamu berhasil membuat kalimat pembuka yang sempurna.” Saya mengangguk-angguk dan berpikir, nasihatnya masuk akal juga. Kadang-kadang membayangkan harus menulis seratus atau tiga ratus halaman sudah merupakan tekanan tersendiri. Banyak penulis terintimidasi oleh berapa puluh ribu kata yang harus diketiknya. Tapi membayangkan hanya menulis satu kalimat, tentu saja kalimat yang hebat, barangkali akan meringankan beban. Dan tentu saja merupakan eksperimen yang menyenangkan. “Terus, jika aku berhasil menulis kalimat pembuka yang sempurna, apa yang harus kulakukan?” Samsa merayap-rayap di lantai kamar mandi, mondar-mandir, sebelum berhenti dan menoleh ke arah saya. Kumisnya (saya tak tahu pasti itu kumis atau bukan) tampak bergerak-gerak. “Jika kamu berhasil menyelesaikan kalimat pertama yang sempurna, kamu harus percaya bahwa kamu bisa mengerjakan apa pun yang lainnya dengan sama baiknya. Kamu harus mulai memberi beban yang lebih berat untuk dirimu.” Maksudnya? Terus-terang, saya mulai terbawa oleh kuliahnya. “Kamu naik pangkat. Setelah menulis kalimat pertama yang sempurna, kamu harus mencoba menulis bab pertama yang sempurna.” Aha, saya mengerti. Tugas yang lebih berat, tapi harus dikerjakan dengan sama baiknya. Jika saya bisa menulis kalimat pembukaan yang hebat, kenapa saya tak bisa menulis bab pertama yang hebat? “Nah, jika aku berhasil menulis bab pertama yang sempurna, apalagi?” Samsa tersenyum. Saya yakin ia tersenyum. “Jika kamu bisa menulis bab pertama yang sempurna, kenapa kamu tak bisa menulis bab kedua yang sempurna? Juga bab ketiga, keempat, kelima, dan penutup yang sempurna?” Nasihat yang bagus, pikir saya. Tapi setelah lama termenung, setelah membayangkan bab satu, bab dua, bab … empat belas, saya kembali ke pendapat lama, nasihat bagus selalu sulit untuk dituruti. Dan memikirkan itu hanya membuat seorang penulis tambah tertekan. Tak ada pilihan lain, saya harus membunuh Samsa yang baik hati ini dan melupakan semua nasihat-nasihatnya. Meskipun itu tindakan tolol sebab esok, dan kapan pun, saya akan tetap bertemu dengannya. Dan hanya bisa membayangkan dunia yang tanpa kecoa, dan kesusastraan yang tanpa Gregor Samsa.



1 Comment

  1. Seperti kata Cu Pat Kai, Oh Samsa, dari dulu deritanya selalu sama. Pembuka yang selalu menghantui pembaca, dan barangkali akan selalu menghantui hingga di liang lahat :)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑