Eka Kurniawan

Journal

Mainan

Sekali waktu, saya berhenti di satu saluran televisi karena kebetulan ada acara khusus mengenai kesusastraan. Tumben, pikir saya, dengan rasa penasaran. Acara itu dibuka oleh pembawa acara yang mencampuradukkan antara kesenian, kebudayaan dan kesusastraan seolah-olah semua itu barang yang sama. Saya mulai bosan dan bersiap memindahkan saluran, tapi tiba-tiba kamera beralih ke lanskap kampus sebuah universitas. Ternyata ada wawancara dengan dosen fakultas sastra. Pembawa acara bertanya, apa itu sastra? Si dosen menjawab, sebuah jawaban panjang yang bertele-tele yang kira-kira berisi “sastra itu merupakan olah pikir dan rasa manusia yang diungkapkan melalui bahasa” dan “merupakan jiwa suatu bangsa” … Saya tak hanya memindahkan saluran televisi, saya akhirnya memutuskan untuk mematikan televisi. Saya memilih untuk melakukan pekerjaan ringan yang kadang-kadang saya lakukan: membereskan mainan anak saya yang berantakan di lantai. Memiliki anak berumur dua tahun lebih, saya harus selalu bersiap melihat rumah dalam keadaan berantakan. Boneka berserakan di sana-sini, beberapa dekil, beberapa bajunya copot, beberapa kehilangan mata atau telinga; lilin yang bisa dibentuk jadi patung menempel di dinding; buku mewarnai penuh coretan tak jelas; kotak-kotak Lego berbaur dengan buah-buahan plastik; juga benda-benda bekas yang entah kenapa dipelihara oleh anak saya. Di akhir pekan, bibinya kadang membelikannya mainan. Ibunya, setidaknya sebulan sekali setelah memperoleh gaji dari kantornya, juga sering membelikannya mainan. Saya sendiri, jika berpergian, sering diingatkan setidaknya jika tak membawa oleh-oleh untuk siapa pun, harus membeli sesuatu untuknya. Saya sering melihatnya bicara dengan boneka, kadang-kadang menasihati boneka-bonekanya dengan “Jangan nakal ya, takut lho nanti ada Bapak Galon” (ia menirukan nasihat-nasihat yang dikatakan orang kepadanya). Ia tidur dengan boneka. Akhir-akhir ini ia sering memastikan sebelum tidur, patung kura-kura kecil yang saya beli di toko buku (untuk mengganjal kertas) ada di sampingnya. Orang-orang yang tak peduli, barangkali akan berpikir betapa barang-barang mainan itu sebagai sesuatu yang tak berguna. Hanya untuk seorang anak bersenang-senang. Beberapa permainan mungkin memberi dasar latihan tertentu untuk anak, beberapa bahkan memberi pengetahuan, tapi yang lain barangkali hanya sekadar keisengan. Tapi pikirkanlah, seperti apa hidup anak-anak tanpa mainan? Saya yakin terdapat jurang lebar menganga antara anak-anak yang bermain, dengan anak-anak yang tak pernah bermain. Dan bukankah pada dasarnya mainan ini bukan semata-mata monopoli anak kecil? Kita semua senang bermain-main, dan selalu punya mainan. Anak remaja mungkin bermain-main dengan bola, bermain-main dengan gitar listrik, bermain-main dengan papan seluncur. Ketika dewasa mereka bermain dengan motor, mungkin mobil, mungkin boneka seks. Orang-orang yang tak peduli, barangkali akan berpikir itu semua tindakan tak berguna, hanya untuk bersenang-senang. Orang-orang semacam ini, saya yakin, juga akan melihat kesusastraan dengan cara yang sama. Untuk apa membaca novel? Untuk apa membaca puisi dan bahkan mendiskusikannya? Lebih sinting lagi, untuk apa menghabiskan waktu menulis novel, menulis puisi? Seperti mainan untuk anak kecil (dan orang-orang dewasa), kesusastraan bagi umat manusia mungkin tak memiliki tujuan praktis. Ia bukan payung yang bisa langsung melindungi keluarga dari panas atau hujan. Ia bukan kereta yang bisa membawa umat manusia dari satu tempat ke tempat lain. Tapi sekali lagi, bayangkan anak-anak tanpa pernah menyentuh mainan: saya pikir seperti itulah umat manusia tanpa kesusastraan (dan kesenian secara umum). Jika melihat seorang remaja membaca novel Pramoedya Ananta Toer di halte bis, bayangkan saja anak kecil Anda sedang menumpuk kotak Lego. Jika bertemu seseorang yang diperkenalkan sebagai penyair, katakanlah Joko Pinurbo, bayangkan saja anak kecil tengah menabuh genderang plastik mainannya dengan irama tak karuan. Dan seperti mainan, tentu saja Anda boleh mengabaikannya, dan berpaling untuk mengerjakan hal-hal yang Anda yakin jauh lebih berguna. Tapi seperti anak-anak yang riang dengan mainan mereka, kami para penulis dan pembaca, dengan senang hati tetap akan menulis dan membaca, tak peduli itu berguna atau tidak untuk Anda. Dan dosen sastra akan menjadikannya bualan keren, sebagai “jiwa satu bangsa” yang merupakan “olah pikiran dan rasa manusia melalui bahasa”.



2 Comments

  1. Haha, aku nonton tayangan itu Mas. Menyimaknya saat itu, aku teringat dengan wawancara Pram di Optimis tahun 1981, saat beliau ditanya “Anda pernah menyebut diri anda sebagai penulis. Apa artinya?” Pram menjawab, “Menulis adalah panggilan hidup saya. Panggilan untuk mempersembahkan segala sesuatu yang baik kepada nation saya. Jadi bukan untuk mengejar popularitet atau kekayaan. Bahwa nation memberi penghidupan pada saya atas karya yang saya persembahkan, ya saya berterima kasih banyak. Tapi tanpa itu pun, saya akan tetap menulis sepanjang saya masih bisa melakukannya. Pekerjaan saya memang menulis. Saya hanya bisa menulis, maka saya hanya menulis….”

    Saya setuju dengan pernyataan “Dan seperti mainan, tentu saja Anda boleh mengabaikannya, dan berpaling untuk mengerjakan hal-hal yang Anda yakin jauh lebih berguna. Tapi seperti anak-anak yang riang dengan mainan mereka, kami para penulis dan pembaca, dengan senang hati tetap akan menulis dan membaca, tak peduli itu berguna atau tidak untuk Anda. ” Saya bahagia sekali membaca jurnal ini. :)

  2. Mas Eka, izin share tulisan ini di facebook dan mailing list Ikatan Guru Indonesia yah. Terima kasih

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑