Eka Kurniawan

Journal

Lukács

Tesis terakhir Marx tentang Feurbach mengatakan, “Para filsuf hanya memahami dunia dengan berbagai cara, padahal yang terpenting adalah mengubahnya.” Menurut Georg Lukács, di antara sekian penerus Marx, Lenin lah yang paling sempurna mengikuti tesis tersebut. Sebelum ini saya lebih banyak membaca karya-karya kritik sastra Lukács (The Theory of the Novel, Soul and Form), tapi tinjauannya tentang Lenin di buku tipis berjudul Lenin (A Study on the Unity of His Thought), saya pikir merupakan studi yang tak kalah menariknya. Ditulis tak lama selepas kematian Lenin, setahun setelah ia menerbitkan karya terbesarnya, History and Class Consciousness, kita boleh tercengang: saat itu Lukács baru berusia sekitar 38 tahun (usia yang sama dengan saya saat ini!). Banyak buku tentang Lenin, membicarakan kisah hidup maupun pemikirannya, tapi saya rasa Lenin merupakan salah satu studi yang sangat penting. Bukan hanya karena ditulis oleh salah satu Marxis terbesar (menurut saya: setelah Marx, Engels dan Lenin), tapi karena telaah ini ditulis dengan cara seolah-olah sebagai “biografi pemikiran”. Pandangan-pandangan Lenin ditulis secara kronologis, tak hanya mengikuti urutan waktu tapi juga problem-problem yang melatarbelakangi pemikiran-pemikiran itu, dan lebih penting lagi sebenarnya: keputusan-keputusan praksis yang dilakukannya. Dibuka dengan studi bagaimana Lenin harus menerjemahkan materialisme historis Marx menjadi agenda revolusi proletar dan bagaimana kelas proletar bisa terbentuk di Rusia yang feodal dengan kapitalisme yang masih setengah berkembang. Dan tentu saja penemuan terbesar Lenin: organisasi, tentang bagaimana kelas proletar harus memperkuat diri dalam bentuk organisasi yang diwujudkan dalam bentuk partai politik, serta apa peran negara setelah perebutan kekuasaan berhasil dimenangi? Bagi para pembaca sejarah Marxisme ataupun Sovyet, tentu itu bukan hal yang baru, termasuk pandangan Lenin yang bisa dibilang sebagai inti telaah Lukács ini: tak ada aturan umum yang bisa diterapkan untuk semua kasus. ‘Kebenaran’ muncul melalui satu analisa konkret atas situasi konkret berdasarkan pendekatan dialektika atas sejarah. Dengan cara seperti itulah segala bias utopia atas sosialisme terus-menerus dieliminasi. Kecenderungan filsafat untuk selalu “menjawab” pada satu titik sering membuat saya (yang pernah belajar Filsafat secara formal) merasa bosan. Bandingkan dengan kesusastraan (yang saya geluti selepas lulus kuliah) yang menurut saya merupakan wilayah “pertanyaan”. Para filsuf melulu mencoba menjawab, sementara para sastrawan asyik dalam bertanya tanpa akhir. Dan jawaban para filsuf, seringkali mengasumsikan bahwa selalu ada kebenaran, jawaban tunggal, yang mengatasi banyak masalah. Waham ini bahkan memengaruhi fisika spekulatif, misalnya Hawking yang mencoba menemukan “teori segala hal”. Tapi membaca Lenin ini, Lukács menunjukkan bahwa filsafat, terlepas dari usaha-usaha para filsuf untuk “menjawab” masalah dunia, memperlihatkan bahwa jawaban-jawaban itu tak pernah berlaku untuk segala kasus. Filsafat merupakan usaha untuk menjawab, tapi dengan kesadaran bahwa jawaban itu merupakan proses dialektika sejarah yang terus bergerak. Dan ini muncul dari seorang Marxis, ditelaah oleh Marxis lain, yang sering dianggap oleh umum justru menganut filsafat yang dogmatis. Tentu saja tantangannya adalah untuk selalu siap sedia menjawab pertanyaan yang berubah-ubah. Atau sebagaimana kemudian Lukács mengutip Shakespeare: “Readiness is all.” Bagi saya, tak ada yang lebih menyenangkan daripada sifat filsafat yang spekulatif, sebagaimana karakter sastra yang “bertanya”. Meskipun buku ini sedikit beraroma “pemujaan” atas Lenin, yang diakui sendiri oleh Lukács di catatan akhirnya, telaahnya menunjukkan karakter tulisan Lukács yang terstruktur, fokus, tapi dengan satu dan lain cara mampu memberi sudut pandang yang sedikit beragam. Ia memberi sedikit kontras pada pemikiran-pemikiran dan keputusan-keputusan Lenin dengan menyodorkan pandangan yang berbeda dari Rosa Luxemburg, misalnya, yang kemudian diakuinya dalam bidang ekonomi pemikiran Lenin seringkali inferior dibandingkan Rosa. Terakhir, bagi yang berminat membaca karya-karya filsafat Lukács (yang lebih berat) seperti History and Class Consciousness, buku ini bisa dipergunakan sebagai pengantar ringkas, meskipun tentu memiliki ruang lingkup yang berlainan jika ingin membaca kritik-kritik sastranya.



1 Comment

  1. “Para filsuf melulu mencoba menjawab, sementara para sastrawan asyik dalam bertanya tanpa akhir.”
    Kecuali Socrates. Socrates asyik bertanya seolah-olah tanpa akhir…

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑