Eka Kurniawan

Journal

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan



4 Comments

  1. Suka terasa enak membaca tulisan2 kang eka, terima kasih sudah menulis di jurnal ini kang eka, aku pembaca setia. Sedang belajar menulis, dan mencoba meniru2 gaya menulis kang eka yang di jurnal ini… hehehehehehe :D mengenai ngomongin agama barangkali urusannya dosa dan tidak dosa, kalau salah jadi dosa dan kalau benar jadi pahala dan bahayanya membawa umat kelak di surga at di neraka (shg bagusnya jgn medioker, mesti jelas asal usulnya) wkwkwkwk hehehehe… tapi kalau ngomongin sastra urusan dunia saja dan bisa dibawa becanda biarin medioker juga (soalnya nggak membawa umat), seperti ngomongin sepakbola (walaupun bukan pengamat sepakbola profesional) biarin berdakwah sepakbola juga yang penting happy haha. kalau sepakbola, sepengetahuanku kang eka suka timnas Argentina, kalau klub jagoannya apa kang? (selain Persib hehe). Maaf kalau salah dalam melakukan pengamatan, jangan tersinggung. hehehehehehe :D

  2. Dari beberapa postingan dalam beberapa waktu terakhir, saya rasa ini yang paling tajam menusuk jubah-jubah kebiadaban berpikir manusia hari ini.
    Selain juga catatan mas eka yang saya suka tentang sekolah untuk orang bodoh, yang sempat diposting beberapa waktu lalu. Terbaik!

    Mohon izin untuk share tulisan ini di twitter pribadi saya ya mas eka.
    Terima kasih sudah mencatat (sekaligus berbagi) pemikirannya.

  3. saya suka tulisan yang ini kang, tapi saya tidak begitu yakin mengerti sepenuhnya yang dimaksud, sebagai pembaca sepertinya saya masih medioker dari mediokernya medioker

  4. Ini yang membuat saya bertanya Bung Eka, apa manusia berada di abad medioker? Saat batas-batas antara profesional dan amatir makin kabur? Saat yang medioker dianggap ahli dan yang ahli dianggap kelewat hegemonik dan otoriter? Antara sastra dan bukan sastra dipandang sebatas relasi kekuasaan belaka?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑