Eka Kurniawan

Journal

Ketika Semua Orang Bisa Bicara, Apa Tugas Penulis?

Salah satu usulan Karlina Supelli dalam Pidato Kebudayaan, Dewan Kesenian Jakarta dua malam lalu, yang paling saya ingat adalah: ruang-ruang publik sudah terlalu gaduh dengan komentar siapa saja yang bisa menjadi pakar apa saja di segala persoalan. Tugas kebudayaan para budayawan dan intelektual adalah menghidupkan kembali, pada aras praktek, perbedaan yang ketat antara komentar acak dan pemikiran yang berakar dari perenungan mendalam. Saya sepakat dengan ini. Saya memikirkan hal ini sejak dua tahun lalu, dan mempraktekannya nyaris sampai pada titik “bunuh diri sosial”. Mari kita bayangkan, di masa lalu, seorang penulis sering dianggap sebagai suara masyarakat, suara generasi. Peran itu mungkin tampak berlebihan, dan mungkin tak ada penulis yang menginginkan peran absurd itu. Tapi sejarah memperlihatkan, begitulah kejadiannya. Persoalannya, suka atau tidak, penulis memiliki akses untuk bersuara (yakni melalui tulisan). Ketika masyarakat tak memiliki akses tersebut, disengaja maupun tidak, maka pada dasarnya mereka terbungkam. Mereka tak memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang mereka inginkan, apa yang mereka resahkan, apa yang mereka takutkan. Dalam titik-titik tertentu, penulislah yang menyuarakan suara mereka. Jurnalis, novelis, esais, siapa pun yang menulis. Kita bisa bersikukuh bahwa suara penulis, terutama mungkin sastrawan, tak lebih merupakan suara pribadi. Bagaimanapun personalnya, seorang pribadi tetap saja bagian dari satu masyarakat, dan langsung tidak langsung, persoalan yang di hadapi penulis di dalam kehidupan barangkali juga dihadapi oleh warga biasa yang tidak menulis. Seno Gumira Ajidarma menulis esai yang saya pikir sedikit banyak menyinggung hal ini, “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara.” Suka tidak suka, sastra, memikul tanggung jawab untuk bersuara mewakili masyarakat, dan saya pikir, itu tugas yang terhormat. Tapi mari kita lihat fenomena beberapa tahun terakhir, dengan kehadiran internet, dan terutama kehadiran media sosial (seperti Facebook dan Twitter). Saya tak tahu seperti apa fenomena di negara lain, tapi mari kita tengok data mengenai Indonesia: Jakarta merupakan kota dengan kicauan (tweet) terbanyak di dunia (nomor dua Tokyo). Indonesia merupakan penghuni Facebook keempat di dunia. Siapa pun yang tinggal di Indonesia, di Jakarta, pasti akan merasakan keriuhan ini. Kita berkomentar apa saja, dari mobil pribadi yang menyerobot jalur Transjakarta, hingga Presiden yang sibuk mengurus album musik. Tentu saja ada hal-hal (banyak!) baik mengenai hal ini. Masyarakat luas kini memiliki akses untuk bersuara (syukur jika itu berarti memiliki akses pula untuk informasi yang lebih luas). Media sosial menjadi alat kontrol masyarakat untuk berbagai kebijakan publik. Saya tak ingin mengkritisi hal ini. Bagi saya, tentu itu hal yang baik jika masyarakat luas bisa bersuara. Pertanyaan tololnya sekarang adalah, jika semua orang bisa bersuara (mewakili dirinya atau kelompoknya atau bahkan generasinya), lantas apa tugas penulis? Saya pernah mengatakan kepada seorang teman: “Jika dulu penulis bersuara ketika rakyat dibuat bisu, kini penulis harus membisu ketika semua orang bisa bersuara.” Saya mengatakannya setengah bercanda, setengah serius. Bersepakat dengan Karlina Supelli, ini saatnya penulis (kaum intelektual secara umum), untuk “membisu” dalam arti, menahan diri untuk tak berkomentar, dan mundur sedikit ke belakang, untuk membaca buku, berpikir, masuk laboratorium, melakukan percobaan, penelitian, dan sejenisnya. Saya bayangkan akan ada banyak yang nyinyir dengan gagasan ini. Saya pribadi mengambil tindakan yang agak ekstrem: sejak lebih dari setahun lalu, saya menutup akun Twitter dan Facebook. Tentu saja dengan janji: membaca buku lebih banyak, menulis jurnal lebih rutin di blog, dan tentu saja menulis lebih teratur di komputer (dan ya: tidur lebih teratur agar bisa berpikir lebih nyaman, sebab saya lebih suka melamun sambil setengah tidur). Saya tidak bisa menyarankan banyak hal untuk orang lain, untuk masyarakat luas, untuk Indonesia, tapi paling tidak saya bisa menyarankan sesuatu untuk diri saya sendiri, yang saya percaya, saya bisa melakukannya. Menjadi sedikit terasing dari hiruk-pikuk, saya pikir merupakan sesuatu yang alamiah untuk penulis. Secara pribadi, saya tak merasa kesulitan menjalankannya.



6 Comments

  1. Ketika semua orang bisa bebas bicara, tugas penulis adalah mendengarkan.

    Ada satu teladan yang menawan dari sang kawan yang menjadi corong terdepan melawan kesewenang-wenangan Jenderal Soeharto. Iwan Fals, yang tidak pernah mengidentifikasikan dirinya sebagai intelektual atau cendikiawan atau penulis itu, justru telah menerapkan laku menahan diri sejak mulai jatuhnya Soeharto. Ketika semua orang bebas berteriak lantang, ia diam. Ia bahkan hijrah ke kawasan yang jauh terletak di luar Jakarta, dan banyak menanam tumbuh-tumbuhan serta membagi ilmu beladirinya ke anak-anak kampung sekitar.

    Bukan tanpa sebab ia dijuluki Pahlawan Asia oleh Majalah Time.

  2. Mungkinkah penulis akan tersisih? Aku turut prihatin…
    Bahkan sekarang juga semua orang bisa dengan mudah menerbitkan buku walaupun ia bukan benar-benar seorang “penulis”
    Sungguh, tulisan anda menggugah saya, pak.

  3. Saya menunggu, dan akan selalu setia menunggu, cerita panjang dari kang Eka selanjutnya, selepas Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Sebab saat ini, hanya itulah pengganti dan bukti dari Menjadi : “sedikit terasing dari hiruk-pikuk, saya pikir merupakan sesuatu yang alamiah untuk penulis”

    :D

  4. Saya juga sedang berusaha melakukannya, menahan diri untuk tidak masuk kedalam hiruk pikuk media sosial. Tujuannya pun sama agar lebih banyak membaca dan berolah raga.

  5. Artikel yang menggugah. Hiruk pikuk dunia maya (sosial media) memang terkesan bising meski mungkin tanpa suara yang terdengar telinga. Bisa dibilang ini adalah masa euforia untuk bersuara, hingga siapa pun merasa bebas bersuara apa saja, berbicara apa saja, tak peduli ada manfaatnya atau tidak. Semoga makin banyak orang yang menyadari kenyataan ini.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑