Eka Kurniawan

Journal

Kata-kata yang Dibunuh

Ketika beberapa tahun lalu saya membaca berita mengenai penerbitan novel Huckleberry Finn karya Mark Twain di Amerika yang disensor, dengan cara menghilangkan seluruh ekspresi kata “nigger”, saya bereaksi sangat kesal. Meskipun saya tahu dalam banyak hal Amerika memang terkenal rada-rada munafik, saya tetap kesal. Saya tahu, kata itu sering dipakai untuk menghina ras kulit hitam (meskipun di negara lain mungkin sama sekali tidak), tapi pikirkanlah hal ini: satu kata dilarang, disensor, percayalah manusia bisa menemukan kata lain untuk mengekspresikan penghinaan. Sekarang kata “black” saja sudah rada-rada dianggap menghina, dan mereka merekomendasikan “Afro-Amerika”. Sampai kapan? Suatu ketika mungkin “Afro-Amerika” pun akan dibreidel, dihilangkan secara paksa. Kita bisa menghina orang kulit putih dengan menyebut mereka “redneck” atau “yankee”, atau apa pun (“bule”, misalnya). Kata-kata itu disensor? Saya tidak mendengarnya. Justru menyensor kata “nigger” memperlihatkan bias kebijakan yang sejatinya rasis. Saya bisa bersepakat kita harus mengikis, sampai habis, bibit-bibit kebencian, bibit-bibit permusuhan. Tapi tentu saja bukan dengan menyensor kata-kata, yang saya percaya tak memiliki dosa. Kepada teman Cina saya di sekolah, saya tak segan mengomelinya, “Dasar cokin!” Semua orang tahu, “cokin” merupakan ekspresi ledekan, penghinaan. Tapi sekali lagi, kata-kata itu tak salah. Yang salah saya, jika saya memang bermaksud menghina. Tapi teman saya tahu, saya tak bermaksud menghinanya. Kami bisa tertawa mendengar hal itu. Ya, tentu saja ada orang yang mengatakan kata tersebut memang dengan maksud menghina. Apa bedanya? Kata itu bisa Anda ganti dengan “anjing”, “babi”, atau apa pun yang menghina. Akan menyensor semua kata-kata itu? Belakangan, teman -teman saya yang Cina ini, juga tak segan-segan mengomeli saya, “Dasar tiko, lo!” Beruntunglah kami punya selera humor yang memadai. Kami akan tertawa, dan jika saya berbuat sedikit bodoh, saya tak segan berkata, “Beginilah tiko.” Saya mengingat semua ini di tengah membaca kembali petualangan Huck Finn, serta karena sering mendengar beberapa pembaca saya, merasa risih dengan bahasa saya yang menurut mereka seringkali vulgar. Apa itu vulgar? Mengatakan sesuatu yang orang lain, takut mempergunakannya? Saya selalu berusaha mempergunakan kata “kontol”, “penis”, “kemaluan”, “burung”, secara bergantian, atau tergantung situasi yang menurut saya cocok. Saya tak ingin menganak-emaskan satu kata di atas yang lain. Semua kata-kata itu merujuk ke barang yang sama. Percayalah, bias pengertian kita akan kata-kata akan selalu berubah, mematoknya pada pengertian tertentu dan kemudian takut (atau malu) mempergunakannya, merupakan perkara sia-sia. Tentu saja setiap penulis memiliki hak untuk memilih satu kata di atas kata yang lain. Yang saya maksud: jangan sampai kita membunuh satu kata karena kita tak menyukainya. Zaman dulu, kita diperkenalkan dengan istilah “bersetubuh”, untuk memperhalus kata “sanggama”. Belakangan, bahkan banyak penulis agak segan menggunakan kata “bersetubuh”, dan menggantinya dengan “bercinta”. Oh, Tuhan, suatu ketika kata “bercinta” mungkin akan hilang dan kita memakai kata, misalnya, “bersatu” atau “bersekutu”. Kata-kata yang semestinya dirawat baik-baik, perlahan-lahan, kita bunuh. Kata-kata akan selalu merupakan metafor, ia bukan realitas itu sendiri. Membunuh kata-kata, tak jauh berbeda dengan memukul bayangan sosok buruk di permukaan air. Sosoknya yang asli tak terpukul, dan di waktu yang tak berapa lama, ketika air kembali tenang, bayangan itu akan kembali muncul. Penghalusan kata di negeri ini memang sudah sampai taraf mengerikan dan menyedihkan, dan saya kuatir bahwa kecenderungan ini merupakan gambaran nyata mentalitas kita. Kita lebih mementingkan penampilan (yang tampak sopan), daripada hal yang lebih esensial. Dengan cara itulah, koruptor tanpa segan-segan tiba-tiba memakai jilbab, dan orang bersimpati. Pemerkosa kemudian pakai kupluk dan pergi pengajian. Ketika ada lelaki memerkosa perempuan, kita menyalahkan si perempuan karena berpakaian minim, karena pulang malam. Kenapa kita tidak bisa dengan tegas menyalahkan kontol si lelaki yang ngaceng? Mentalitas ini saya rasa berhubungan. Jika Anda membaca novel dan menemukan kata “memek”, dan Anda merasa risih karena kata “memek” menggambarkan sesuatu yang menurut Anda tak patut, coba periksa kembali pikiran Anda: jangan-jangan Anda yang berpikir tak patut? Jangan-jangan hanya karena membaca kata “memek”, memek Anda benar-benar basah dan Anda merasa berdosa (seolah melakukan zina) lalu menyalahkan penulisnya, menyalahkan kata-katanya. Jika kita ingin memperlakukan sesama manusia dengan cara adil, saya rasa kita bisa memulainya dengan memperlakukan kata-kata dengan cara adil. Sebab sejarah telah mencatat, hari ini Anda membunuh sebuah kata, hari lain sangat mungkin Anda membunuh manusia yang mempergunakannya. Hari ini Anda membunuh sebuah pemikiran, hari lain Anda membunuh orang-orang yang memikirkannya.

NB: Saya membaca ulang tulisan ini dan saya pikir ada bagian yang kurang tepat menyangkut selera humor. Humor, saya rasa selalu bersifat khusus. Apa yang lucu untuk saya, mungkin tidak untuk orang lain. Terutama menyangkut rasialisme, tentu saja tak bisa disamaratakan. Tapi pokok pikiran saya tetap. Rasialisme dan sensor saya rasa memiliki akar yang sama: penolakan terhadap yang lain. Maka melawan rasialisme saya rasa tidak bisa dilakukan dengan sensor (sebagaimana kasus Huckleberry Finn).



7 Comments

  1. Apakah postingan ini berkaitan dengan penundaan rilis novelmu, Mas?

  2. Seolah mengkambinghitamkan kata-kata. Padahal yang kambing itu ya si manusianya sendiri.

  3. Ada dua karib saya, perempuan (apakah preferensi ini perlu?), yg bilang tak bisa melanjutkan novel Cantik itu Luka karena kata-katanya yg “vulgar.” Sebaliknya, satu karib itu sangat menyukai Gadis Kretek.

  4. @Dewi Kharisma:
    Sepertinya itu ide yang cemerlang ^.^

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑