Eka Kurniawan

Journal

Joseph Anton, oleh Salman Rushdie

Buku ini berjudul Joseph Anton, ditulis oleh Salman Rushdie. Atau bisa juga berjudul Salman Rushdie, ditulis oleh Joseph Anton. Saya pikir tak ada bedanya. Kenyataannya, buku ini bercerita tentang Salman Rushdie. Sekaligus bercerita tentang Joseph Anton. Ditulis oleh Salman Rushdie, dan bisa dibilang juga ditulis oleh Joseph Anton. Intinya, di satu titik dalam hidupnya, Salman Rushdie pernah menjadi seorang lelaki bernama Joseph Anton, nama yang diambil dari dua penulis favoritnya: Joseph Conrad dan Anton Chekhov. Ini buku memoar Salman Rushdie, alias Joseph Anton. Diawali hari ketika ia memperoleh telepon, seseorang yang bertanya, apakah ia sudah mendengar bahwa dirinya telah difatwa mati oleh Ayatullah Khomeini karena novelnya, The Satanic Verses? Novel itu pada dasarnya merupakan sejenis tribut untuk ayahnya, Anis Rushdie, seorang sarjana Islam, yang mengagumi kelahiran Islam yang disebutnya sebagai “satu-satunya agama besar di dunia yang dilahirkan di masa sejarah.” Artinya, sejarah Islam, sejarah Muhammad, memiliki konteks. Tercatat di waktu yang bersamaan, bukan ratusan tahun setelah kejadian sesungguhnya terjadi. Ayahnya, mengambil nama keluarga “Rushdie” sebagai ungkapan kekaguman terhadap salah satu filsuf Islam yang berasal dari Andalusia, Ibnu Rushd. Salman Rushdie mewarisi antusiasme ini. Antusiasme ini kemudian membawanya mengambil satu mata kuliah sejarah Islam, satu-satunya mahasiswa yang mengambil mata kuliah di semester itu, dan berkenalan dengan episode “ayat-ayat setan” dalam kehidupan Nabi. Itu ayat yang (bisa dibilang) memperbolehkan berhala-berhala orang Mekah disembah, yang kemudian dianulir sebab ayat-ayat itu ternyata bisikan setan (ayat-ayat penggantinya kemudian menjadi ayat 53:19-22). Bertahun-tahun kemudian, itu memberinya inspirasi menulis The Satanic Verses. Dan antusiasme ini juga membawanya berhadapan dengan fatwa mati, dari para antusias Islam di sisi lain. Itulah saat hidupnya mulai berada di bawah bayang-bayang, dalam perlindungan pengawal rahasia, dan membuatnya mengambil identitas baru. Ia sebagai Joseph Anton. Dalam pembukaan The Satanic Verses, baris ini barangkali terus berbisik di kepala siapa pun yang membaca novel itu: “Untuk dilahirkan kembali, seseorang harus mati.” Buku ini seperti merayakan kelahiran baru dirinya, setelah mati oleh sebuah fatwa. Dalam kelahirannya yang baru ini, setelah bertahun-tahun berlalu, ia memutuskan membela diri. Meskipun memoar ini bercerita banyak tentang kehidupan personalnya, semua buku-bukunya, tapi sesungguhnya terutama tentang kenapa ia menulis The Satanic Verses. Pandangan-pandangannya tentang Islam. Dan ia mengaku, novel ini pada dasarnya bentuk penghormatannya kepada Muhammad. Ia memperlakukannya sebagaimana Nabi menginginkan dirinya dipandang: sebagai manusia, dan bukan sebagai sosok ilahiah. Tapi karena itulah, ia difatwa mati, dan ia harus menjadi Joseph Anton. Bagi saya pribadi, The Satanic Verses merupakan karya terbaiknya. Saya bukan penggemar Midnight’s Children, yang terlalu India (dan format novelnya mengingatkan saya pada The Tin Drum Günter Grass). Novel-novelnya yang lain juga terasa terlalu lokal: Pakistan, Kashmir. Membaca The Satanic Verses, saya merasa membaca sesuatu yang mudah dikenali (karena berbagi latar tradisi agama yang sama): Islam, dengan kekayaan sejarah dan budayanya. Dan tentu saja juga karena betapa imajinatifnya tema itu diangkat di novel ini. Campur-aduk antara mimpi (yang bisa ditafsir sebagai wahyu), ejekan pascakolonial, realisme magis. Hingga kontroversi itu meledak. Dan Joseph Anton harus bersembunyi. Yang saya kagum, di dalam persembunyiannya ia terus menulis. Salah satu yang terbaik, buku anak-anak Haroun and the Sea of Stories, yang merupakan hadiah untuk anaknya (yang mengomel, “Kenapa kamu tak menulis buku untukku?”), ditulis di masa itu. Para penerbit ketakutan, editor berusaha menyensor karyanya (dengan blak-blakan ia memperlihatkan borok di dapur penerbit-penerbit besar, juga para penulis, yang sebagian berusaha mencuci tangan). Ia bersikeras, terbitkan atau tidak sama sekali. Tak ada batas-batas mutlak kebebasan (berkarya), memang. Tapi kebebasan (berkarya) yang tak diperjuangkan, sudah pasti akan dikalahkan. Tanpa fatwa hukuman mati pun, suatu hari Salman Rushdie (atau Joseph Anton) akan mati. Tapi saya percaya bahwa, “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yohanes 19:22). The Satanic Verses telah tertulis, dan akan begitu. Dan perlawanan sesungguhnya adalah: ia terus menulis, meskipun bagi saya, belum ada lagi yang sebaik novel ini. Dan memoar ini, boleh saya akui, merupakan salah satu memoar penulis terbaik yang pernah saya baca.



2 Comments

  1. Apakah ada penerbit Indonesia yang tertarik untuk menerjemahkan dan menerbitkannya, Mas?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑