Eka Kurniawan

Journal

Ini atau Itu?

“Nike atau Adidas?” Sekali waktu mungkin pernah mendengar pertanyaan semacam itu. Ini sejenis permainan dimana kita memilih satu di antara dua pilihan (seringkali keduanya mewakili sejenis persaingan di bidang tertentu), menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkannya lebih dulu, dan konon dari situ bisa ditebak kepribadian atau selera kita. Pertanyaan itu akan berlanjut dengan, “Pepsi atau Coca-Cola?”, “Honda atau Toyota?”, “Airbus atau Boeing?” dan seterusnya. Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu (kecuali mungkin jika salah satu di antara mereka membayar saya). Tapi jika kepada saya diajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis dalam bidang kesusastraan, dengan senang hati saya akan menjawabnya. Saya akan memberanikan diri memilih, bahkan meskipun saya tak punya alasan yang memadai kenapa memilih. Hemingway atau Faulkner? Sudah jelas saya akan memilih Faulkner. Saya senang dengan sosoknya yang lebih kalem, tapi novel-novelnya memperlihatkan keliaran yang seringkali malah susah dipahami. Kawabata atau Mishima? Saya akan memilih Kawabata. Mishima seringkali terlalu mengerikan buat saya. Membaca Kawabata seperti duduk di taman selama berjam-jam hanya untuk melihat bunga-bunga sakura, tanpa kehilangan perasaan menderita dan sedih. Cervantes atau Shakespeare? Saya memilih Cervantes, meskipun saya cuma membaca satu novelnya, dibandingkan beberapa naskah drama Shakespeare yang saya baca. Saya merasa Cervantes lebih banyak menertawakan diri sendiri, sementara Shakespeare menertawakan dunia. Camus atau Sartre? Saya akan memilih Camus. Camus tampak lebih mendekati sosok novelis, sementara Sartre lebih mendekati sosok filsuf. Camus juga (sosok maupun karyanya) memberi saya gambaran mengenai pembangkang yang senyap. Gabriel García Márquez atau Mario Vargas Llosa? Jika pertanyaan ini diajukan sepuluh tahun lalu, saya akan memilih García Márquez; jika pertanyaan ini diajukan sekarang, saya memilih Vargas Llosa. Vargas Llosa terasa lebih modern bagi saya daripada García Márquez. Tolstoy atau Dostoyevsky? Saya memilih Dostoyevsky. Saya lebih suka penulis yang hampir mati dieksekusi, penuh utang karena judi dan doyan mabuk daripada penulis yang arif-bijaksana hingga nyaris menjadi sejenis nabi. Haruki Murakami atau Don DeLillo? Tentu Haruki Murakami. Saya lebih suka sastra Jepang daripada sastra Amerika. Miss Marple atau Poirot? Saya lebih suka Miss Marple, karena saya pikir, perempuan tua yang lebih banyak tinggal di rumah dan memecahkan banyak kasus kriminal terasa lebih keren daripada detektif swasta yang berkeliaran ke sana-kemari seperti Poirot. Agatha Christie atau Sir Arthur Conan Doyle? Saya memilih Sir Arthur Conan Doyle, dengan sedikit rasa humornya, yang hampir bisa dibilang tak ada di karya-karya Agatha Christie. The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde atau The Curios Case of Benjamin Button? Sudah tentu saya memilih The Curious Case of Benjamin Button, sebab saya lebih suka cerita yang lebih ke arah fantasi daripada ke arah fiksi sains, meskipun kedua genre bisa sangat bersinggungan satu sama lain. Michael Crichton atau Sydney Sheldon? Saya memilih Sydney Sheldon, dengan plotnya yang seringkali rumit dan karakter-karakternya yang mencengangkan. Novel-novel silat China atau novel-novel koboi Amerika? Mungkin saya akan menyukai kedua-duanya, tapi sayang sekali saya jarang membaca novel koboi, sementara novel silat China banyak disadur ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan mudah saya memilih novel silat. Times New Roman atau Arial? Saya lebih senang menulis dengan Times New Roman, dan bisa dibilang tak pernah menulis dengan jenis huruf lainnya.



1 Comment

  1. memilih dan dipilih hehe…love it!

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑