Eka Kurniawan

Journal

How I Came to Know Fish, Ota Pavel

Saya baper. Gara-gara baca How I Came to Know Fish karya Ota Pavel, serius saya baper. Buku ini sebenarnya memoar penulisnya. Ditulis dalam bentuk sketsa-sketsa ringkas 3-4 halaman (beberapa lebih panjang hingga belasan halaman), untuk membedakan memoar umumnya yang ditulis panjang sambung-menyambung, bahkan dari si penulis kecil hingga umur tertentu. Selain itu, memoar ini lebih banyak berhubungan dengan kisah hidup si penulis dengan ikan dan kegiatan memancing. Nah, itu yang bikin saya baper. Soalnya, Pavel menulis pengalaman masa kecilnya, dari awal bagaimana ia diajarkan untuk memancing, hingga akhirnya sering diajak si ayah (yang menganggap hal penting dalam hidup hanya bisnis dan memancing) untuk menangkap ikan. Penuh penggalan-penggalan kisah yang mengharukan (saat ia hendak hanyut terbawa arus sungai), hingga kelakuan konyol ayahnya, yang membeli kolam yang konon penuh ikan, tapi ketika di-bedah (ini istilah bahasa Sunda untuk kegiatan menguras kolam demi mengambil seluruh ikan), ternyata ikannya cuma seekor saja. Menurut Pavel, malam itu mereka dengan gemas memakan ikan itu sekeluarga, dan menganggapnya sebagai ikan paling mahal tak hanya se-Ceko, tapi se-Eropa Tengah! Saya jadi teringat ayah saya, kan, yang juga doyan ikan serta memancing. Waktu saya kecil, sering ada malam-malam di mana ayah saya pergi bersama teman-teman nelayannya melaut. Ia bukan nelayan, tapi kenal banyak nelayan dan sering pergi bersama mereka. Di pagi hari ia muncul dengan keranjang penuh ikan. Ikan laut hampir seperti makanan pokok di rumah kami, kadang-kadang sampai titik di mana saya merasa eneg. Tapi kami memang suka ikan, jadinya. Bahkan sampai sekarang, saya suka merasa aneh dengan segala macam ikan olahan, sebab sudah terlalu biasa makan ikan segar. Tak hanya melaut, di waktu-waktu tertentu (biasanya bulan puasa, ngabuburit), ayah dan beberapa temannya (dan saya sering diajak), juga gemar menjelajah berbagai sungai, muara, dan rawa-rawa untuk berburu ikan. Memperoleh betok liar dari rawa-rawa sering membuatnya jauh lebih bahagia daripada membeli ikan mas di pasar. Modalnya hanyalah pancing dan jaring kecil. Seperti umumnya pemburu ikan tradisional, ia hanya mencari ikan untuk kesenangan, sebanyak yang bisa dimakan keluarganya. Kalau sedikit dapat lebih (jarang, sebenarnya), paling dibagikan ke tetangga. Terntu saja di luar melaut dan berburu ikan ke sungai atau rawa, kami juga punya kolam ikan (seperti banyak orang Sunda umumnya). Adegan pembuka Lelaki Harimau dengan Kyai Jahro asyik memberi makan ikan di kolamnya, sebenarnya saya ambil modelnya dari kegiatan ayah saya kalau pagi atau sore hari. Aduh, jadinya saya malah ngomongin si ayah. Mudah-mudahan di dunia sana ia bertemu lebih banyak rawa-rawa dan sungai penuh ikan, dan bahagia dengan pancing atau jaring kecilnya. Kembali ke Ota Pavel saja. Tentu saja memoar ini bisa dilihat dari sisi seriusnya: gambaran kehidupan rakyat umumnya di Cekoslovakia sebelum invasi Nazi, dan bagaimana selama pendudukan keluarganya bisa bertahan hidup senormal mungkin. Tapi saya justru menikmati kesederhanaannya: ini kisah sehari-hari, yang seperti saya alami ketika membacanya, membawa kenangan kepada kisah sehari-hari yang juga pernah dialami. Tanpa pretensi untuk membuatnya dramatik, bahkan membuat tokohnya (si penulis) menjadi penting. Dan terutama, Pavel berhasil membuat hal yang demikian “biasa” ini, bahkan mungkin banal, menjadi sesuatu yang layak untuk dibagi dan diceritakan. Bisa membaca memoar semacam ini lebih banyak pasti mengasyikan, tapi kenyataan pahitnya, tak semua orang bisa seperti Ota Pavel, tentu saja.



5 Comments

  1. kang, biasanya dapat buku buku seperti ini dimana? saya jarang sekali menemukan buku sastra dunia yang banyak kecuali di kino. Kalau mau mencari buku sastra dunia yang bekas selain di TIM dimana ya?

  2. Arifin Muhammad

    11 March 2016 at 9:02 pm

    Semoga ‘Man Tiger’ terpilih sebagai Man Booker Internasional Prize 2016. Saya baca hari ini, Lelaki Harimau masuk nominasi.

  3. Dear Om Eka, Congratulations on getting your book long-listed in the Man Booker International awards! ^w^ You are a great source of inspiration to Indonesia, and to me.
    I hope that your book will manage to go through the short-listing selection and eventually will become the winner.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑