Eka Kurniawan

Journal

Hidup Lo Drama Banget, Sih?

Raymon Carver mungkin memang sadar bahwa sebagian besar pembaca suka dengan drama. Drama dalam makna seperti kita sering dengar seseorang berkata kepada temannya, “Hidup lo drama banget, sih?” Dan brengseknya, melalui cerpen-cerpennya, dia sok berpura-pura mau memberi drama itu, memberi pembacanya rasa deg-degan yang membubung (persis seperti adegan di “drama adu penalti”), sebelum dengan kejam tidak memberi kita semua itu. Pemberi harapan palsu, kata anak gaul. Enggak ngerti apa yang sedang saya coba sampaikan? Jangan kuatir. Ibu saya yang memelihara saya sejak kecil mungkin juga enggak ngerti, tapi saya akan coba menjelajah ke cerpen-cerpennya di kumpulan yang paling heboh, What We Talk About When We Talk About Love, dan mudah-mudahan bisa mengatakan apa yang ingin saya katakan. Setidaknya, persis seperti semua (ya, semua!) cerpen-cerpen Carver, kalaupun tidak mengatakan apa yang tidak saya katakan, apa yang tidak saya katakan bisa dikatakan tanpa perlu mengatakannya. Menceritakan sesuatu tanpa menceritakannya. Bahkan ia melakukannya dengan sejenis adegan klise penuh ejekan, misalnya dalam cerpen ringkas “Popular Mechanics” (taik, ia bahkan mamakai judul “popular” dan “mechanics”). Di cerpen ini, ia seperti menyalin-rekat dari adegan yang sangat umum bisa kita jumpai di banyak cerita: adegan seorang lelaki yang hendak pergi dan seorang perempuan yang berteriak-teriak, “Pergi saja kamu! Pergi!” (tapi kayaknya dengan nada sedih). Selesai si lelaki mengepak kopernya, mereka kemudian berebut … bayi. “Aku mau bayinya,” kata si lelaki. “Tidak,” kata si perempuan. Yang satu mempertahankan si bayi, yang lain mencoba merebut. Si bayi nangis. Selesai. Kita tak tahu apa-apa sebelum dan sesudah adegan tersebut, tapi kita tahu, ada drama di sana. Kita menginginkan drama itu, dan Carver taik anjing tak memberikannya. Biar rusuh sendiri di kepala kita. Di cerpen pembuka, “Why Don’t You Dance?” kita bertemu seorang lelaki yang mengeluarkan semua benda miliknya ke pekarangan rumah. Sepasang anak muda muncul dan tertarik dengan barang-barang itu. Mereka ngobrol, tawar-menawar, dan sepakat menjual dan membeli beberapa barang. Hingga akhirnya si lelaki memutar piringan hitam dan bertanya ke si gadis, “Kenapa tidak berdansa?” Mereka berdansa, lalu selesai dan berpisah. Jujur saja, saya mengharapkan ada drama di antara si lelaki peruhbaya itu dengan si gadis dan si pemuda. Saya suka drama. Tapi drama tak ada di sana. Dramanya ada di balik semua peritiwa jual-beli dan tawaran dansa tersebut. Jika saya harus membayangkan, membandingkan kisah-kisah ini dengan (katakanlah) memancing, Carver hanya menceritakan senar pancing yang bergoyang-goyang di permukaan air. Ia tak menceritakan siapa yang memancing. Juga tak menceritakan ikan macam apa yang terjebak mata kail. Tapi pemancing dan ikan itu jelas ada. Atau jika membandingkannya dengan percintaan: kita hanya disuguhi lenguh dan barangkali derak tempat tidur. Kita tak tahu siapa yang bergumul di sana. Juga tak tahu barangkali ada yang sesenggukan di luar jendela, menangisi percintaan. Bangsatnya, meskipun drama sesungguhnya tersembunyi di balik peristiwa, yang bajingan dari Carver adalah, di peristiwa yang disampaikannya kita seperti dipancing kepada simulasi drama. Seolah-olah akan ada drama. Jika di cerpen pertama saya gemas dengan “mungkinkah akan ada sesuatu antara si lelaki paruhbaya, si gadis dan si pemuda”, di cerpen-cerpen lain kita akan menghadapi situasi serupa. Di cerpen “I Could See the Smallest Things”, seorang perempuan mendengar bunyi gerbang dibuka di tengah malam. Sementara suaminya tidur ngorok, ia turun ke halaman. Bertemu dengan lelaki, yang tetangganya. Langsung kan, ngayal, ada sesuatu nih antara cewek dan si tetangga. Carver senang menjebak perasaan saya ke arah seperti itu, dan dia selalu berhasil menjebak. Bahkan meskipun saya tahu dia bakal menipu saya, tetap dari cerpen satu ke cerpen lain saya membiarkan perasaan saya ditipu. Barangkali karena saya suka drama. Dan percaya hidup tanpa drama memang garing dan tak layak diceritakan?



6 Comments

  1. Tabayyun Pasinringi

    3 May 2016 at 7:52 pm

    Selamat sore, perkenalkan saya Tabayyun mahasiswa Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran. Pada mata kuliah Penulisan Berita Khas saya diberi tugas untuk menulis profil, apakah saya bisa meminta kesediaan Anda untuk diwawancarai? Terima kasih :)

    Warm Regards
    Tabayyun Pasinringi

  2. Ah kebetulan. Saat baca Carver ini, entah kenapa langsung inget cerpen-cerpen Murakami dan Keret. Kecuali bagian surealisnya, banyak unsur Carver di keduanya, utamanya bahasa sederhana (minimalis?), tema masalah keluarga sama cara mengakhiri cerita. Dan memang, setelah baca ini-itu, ada kesan kalau kedua penulis tadi juga fanboy Carver (menurut pembacaan saya gitu).
    Nah, yg jadi pertanyaan: setujukah Kak Eka pada bacotan Bolano kalau dua cerpenis terhebat dari abad 20 adalah Chekov dan Carver ini?

  3. Btw, kang Eka selain baca novel bahasa Indonesia dan Inggris, seringnya baca novel apa saja? Tks.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑