Eka Kurniawan

Journal

Glossary

Sekali waktu saya secara tak sengaja mendegar “pertengkaran kecil” antara adik perempuan saya dan pacarnya. Mereka memperdebatkan sesuatu, yang sebenarnya dari telinga orang ketiga (saya), perdebatan itu sangat tidak perlu. Mereka berbeda karena melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Saya bisa segera menyadari itu karena saya tak punya kepentingan dengan apa yang mereka perdebatkan, sementara mereka baru menyadarinya setelah lama berdebat, lalu sambil cengengesan mereka berkata satu sama lain, “Kita mis-komunikasi.” Entah berapa kali saya juga “bertengkar” dengan orang lain karena masalah semacam itu. Kadang-kadang masalahnya kita mempergunakan “bahasa” yang berbeda. Baiklah, bisa jadi kita mempergunakan Bahasa Indonesia yang sama, tapi kadang-kadang kita memaknai kata tertentu dengan cara yang berbeda. Saya bisa bilang misalnya, arti “setia” adalah saya bisa berpergian kemana saya suka, tanpa kabar tanpa berita, tapi kembali ke tempat yang sama. Dengan cara seperti itu, saya setia kepada ibu saya, misalnya. Kemana pun saya pergi, yang disebut pulang selalu ke pangkuan ibu (saya masih suka tiduran dengan kepala di pangkuan ibu saya, bahkan sampai sekarang). Tapi mungkin orang lain akan menganggap “setia” adalah selalu terpaut satu-sama lain, bersama-sama selamanya. Bahkan jika mereka terpisah karena satu lain hal, mereka terus menjaga hubungan ini (dengan telepon, dengan kabar). Intinya, tak boleh terpisah. Bisa dibayangkan dua orang dengan dua definisi yang berbeda terhadap kata yang sama ini, meskipun memakai Bahasa Indonesia yang sama, barangkali akan terus-menerus “bertengkar”. Dan tak terbayangkan kata-kata lain, frasa-frasa lain, kalimat-kalimat lain, bahkan kehidupan, yang didefinisikan dengan cara yang berbeda-beda. Dengan satu dan lain hal, orang bisa membangun saling pengertian di atara perbedaan-perbedaan ini, meskipun di titik-titik tertentu, kesalahpahaman dan ketidak-saling-mengertian bisa tetap terjadi. Kita baru bicara mengenai kemungkinan tidak saling mengerti di antara sesama orang yang mempergunakan bahasa yang sama. Kita belum bicara tentang orang-orang yang bicara dengan bahasa yang berbeda. Masalah ini, di kesusastraan, tampak terlihat jelas terutama dalam kaitannya dengan penerjemahan. Kita tahu, di dunia ini, banyak karya sastra diterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, dan di sanalah masalah salah-komunikasi ini bakal muncul. Akibatnya bisa kecil, bisa juga besar. “Iblis bersemayam di dalam detail,” begitu kata pepatah. Dalam detail-detail kecil lah kemungkinan iblis kesalahpahaman itu bisa terjadi. Untuk itulah, di banyak buku terjemahan yang serius (terjemahan karya sastra saya pikir rata-rata mestinya dikerjakan dengan serius), seringkali mencantumkan “Glossary”. Itu daftar istilah, yang (siapa pun yang menyusunnya) untuk membantu menjembatani dua bahasa dalam penerjemahan tersebut. Karena, tentu saja, ada hal-hal yang memang tak terjemahkan, ada hal-hal yang tersangkut-paut kebudayaan, sulit diterapkan di kebudayaan yang lain. Sebagai konsumen karya sastra dalam bentuk terjemahan, tentu saja saya akrab dengan halaman “Glossary”. Saking terbiasanya, saya kadang menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Sesuatu yang ada di sana, karena memang biasanya ada di sana. Di karya-karya yang diterjemahkan dari bahasa yang relatif serumpun, atau kebudayaannya relatif dekat, “Glossary” memang jarang muncul. Misalnya karya sastra Eropa Barat diterjemahkan ke bahasa lain di wilayah yang sama, saya jarang melihatnya. Tapi bayangkan, sastra Cina atau Jepang, diterjemahkan ke Bahasa Inggris, pasti banyak hal-ihwal kebudayaan Cina atau Jepang yang tak dipahami oleh pembaca Bahasa Inggris. Di sinilah “Glossary” menjadi penting. Belum lama saya sendiri terpaksa menyusun “Glossary” sendiri, setelah sadar istilah-istilah semacam “surau”, “kyai”, “Lebaran”, “bajigur”, pasti membingungkan bagi pembaca berbahasa Inggris, sementara kata-kata itu juga tak ada padanannya di bahasa mereka. “Glossary” kembali menjadi jembatan (yang tentu saja belum tentu sukses juga). Nah, dalam hubungan antar-manusia, dengan berbagai sudut pandang yang berbeda, mungkinkah kita manusia perlu meniru usaha terjemahan karya sastra serupa itu? Maksud saya, barangkali tiap orang perlu menempel di tubuh mereka lembar “Glossary”, untuk menghindari kesalah-mengertian? Di lembar “Glossary” yang ditempel di tubuh saya, barangkali salah satu entri akan berbunyi: “Tidur, pekerjaan utama saya. Jika saya sedang tidur, saya sedang sibuk. Jangan diganggu.”



1 Comment

  1. Mas Eka,
    Mohon izin, tulisan ini saya bagi di grup fb klub menulis IGI yah. Terima kasih.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑