Eka Kurniawan

Journal

Es Krim

Memiliki anak berumur dua tahun, saya mulai sering mencurigai segala sesuatu sebagai “musuh”. Salah satunya: es krim. Saya bukan penggemar es krim, meskipun kadang-kadang, di tengah udara panas siang hari (di negeri tropis kita), saya sering tak bisa menahan diri untuk pergi ke toko serbaada hanya untuk membeli es krim. Dan perlahan-lahan, anak perempuan saya mulai mengenal benda itu, dan hubungan saya dengan es krim tak lagi biasa-biasa. Saya mulai melihatnya seperti seorang pemuda yang sekali waktu akan membawa anak perempuan saya kencan. Memandangnya sebagai kekuatan jahat yang akan memberi anak perempuan saya pilek, demam, batuk. Tapi pada saat yang bersamaan, saya sering tak tega memandang ekspresi wajahnya, yang penuh hasrat untuk menjilat es krim. Ada sebuah novel yang berkisah mengenai es krim ini. Paling tidak, saya menganggap seluruh bangunan cerita novel tersebut terjadi karena es krim. Novel itu berjudul How I Became a Nun, karya César Aira. Saya membaca novel itu dua atau tiga tahun lalu, tapi seperti batuk yang tak sembuh-sembuh, sesekali datang ke pikiran seperti gangguan yang menjengkelkan. Dan sejujurnya, saya tak pernah membaca karya Aira lainnya. Mungkin belum. Dari apa yang saya tahu, Aira merupakan salah satu penulis Argentina yang sangat produktif. Setahun kadang-kadang ia bisa menerbitkan paling tidak dua buku. Pendek-pendek memang. Ia juga lebih suka menerbitkan bukunya di penerbit-penerbit kecil, membuat karya-karyanya susah dicari. Roberto Bolaño menyebutnya sebagai, “Seorang yang eksentrik, tapi juga salah satu dari empat penulis terbaik dalam Bahasa Spanyol hari ini.” Dalam How I Became a Nun, es krim bisa dibilang sebagai pusat semesta. Ia menjadikan hal sesepele es krim sebagai masalah kemanusiaan, bahasan filosofis dan bahkan teologis. Ini kisah mengenai ayah dan anaknya (jika tak salah menebak, di sampul tampak seorang gadis kecil, tapi di dalam cerita, ayahnya pernah memanggilnya dengan sebutan ‘son’), dan itu makin membuat saya memikirkan hubungan antara saya, anak perempuan saya, dan es krim. Kini, dari posisi seorang ayah, saya bisa sedikit menyimpulkan perihal es krim. Es krim, bisa kita sebut sebagai medan pertarungan antara orangtua dan anak. Di satu sisi, orangtua melihat es krim sebagai musuh yang akan merusak anak mereka. Mereka merasa memiliki otoritas pengetahuan mengenai hal ini: es krim sebagai penyebab demam, penyebab pilek, bahkan mengandung gula yang berbahaya bagi kesehatan anak di masa depan. Di sisi lain, anak-anak melihat es krim sebagai simbol pembangkangan mereka, untuk merebut kebebasan dari otoritas kebenaran dan pengetahuan orangtua. Es krim tak melulu soal penyebab demam dan pilek, tapi juga rasa enak dan segar, bahkan bisa penuh vitamin. How I Became a Nun menjungkirbalikkan tarik-ulur mengenai es krim tersebut, meskipun dengan cara sama tetap memperlihatkan perebutan otoritas antara orangtua dan anak. Di novel ini diceritakan, si ayah justru ingin menyenangkan hati anaknya dengan berjanji membelikannya es krim. Si anak, baru berumur enam tahun, belum pernah merasakan es krim. Ia hanya pernah mendengar, dengan bahasa yang pas-pasan, tentang enaknya es krim dari si ayah. Lalu suatu hari, mereka pergi ke kota dan si ayah menepati janjinya. Tapi ketika si anak menjilat es krimnya untuk pertama kali, ia terdiam. Ia tak menyukai rasanya, yang menurutnya, “Mengerikan!” Si ayah tak percaya, sebab (kembali ia mempergunakan otoritas pengetahuannya), menurutnya es krim itu enak. Ia memaksa si anak untuk memakannya, dan si anak membangkang tak mau memakan sesuatu yang ia tahu tak enak. Si ayah menganggap itu sebagai pembangkangan, merasa otoritas pengetahuannya diusik. Dan si anak mencoba melawan, mempergunakan pengetahuan yang ia baru peroleh. Es krim mungkin pada akhirnya hal sepele, tapi pada dasarnya di kehidupan sehari-hari, ia bisa menjadi apa saja. Bersama berlalunya waktu, orangtua mungkin akan menemukan di satu hari es krim telah berubah menjadi sebatang rokok, lalu segelas alkohol, pergaulan, seks, narkotik, apa pun. Saya tak tahu persoalan-persoalan apa yang akan saya hadapi di masa depan sebagai seorang ayah. Untuk hari ini, saya mencoba belajar menjadi seorang ayah melalui es krim. How I Became a Nun telah mengajarkan saya, pengetahuan orangtua tentu saja bisa salah, dan ada baiknya melihat sesuatu dari sudut pandang seorang anak, tak peduli betapa remehnya pengetahuan yang mereka miliki.



5 Comments

  1. Tok3… Kulonuwon Mas Eka, saya pembaca novel-novel anda sejak Cantik itu Luka masih diterbitkan di Penerbit Jendela dan Akademi Kebudayaan Yogyakarta. Dua novel anda, kumpulan cerita pendek, skripsi yg dibukukan ttg Pak Pram juga saya baca. Terakhir cerpen terbaru Mas Eka yang dimuat di Koran Tempo dan Majalah Esquire juga saya ikuti.

    Ini ada sekedar saran buat Mas Eka: kekuatan bangunan cerita anda di novel Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau sama dan cerita-cerita dalam kumpulan cerpen terletak pada plot dan keunikan karakter tokoh-tokohnya. Kelemahannya: pada style. Kurang kuat pada gaya bahasa. Sepanjang pembacaan saya, Mas Eka minim perhatian pada eksplorasi struktur kalimat. Kelihatannya sebagai pribadi Mas Eka kurang tertarik pada pengemasan kalimat, sehingga konsekuensinya: kalimat-kalimatnya kurang menarik, minim penggunaan berbagai majas yang menarik, unik, dan kuat. Iramanya juga tidak terjaga.

    Pangkal mulanya, sejauh saya coba ikuti dari tulisan-tulisan di jurnal Mas Eka yang tersebar di blog sejak dulu masih di multiply itu hingga versi.net dan .com, adalah: pengaruh bacaan karya sastra luar yang Mas Eka geluti. Kelemahan dari bahan bacaan terjemahan itu ialah Mas Eka tidak dapat menyerap kekuatan irama, rima, metafor, dan bebragai gaya bahasa dalam bahasa aslinya. Coba periksa bacaan di rak Mas Eka, apakah novel-novel itu sebagian besar diterjemahkan dari bahasa asli yang tidak Mas Eka kuasai? Kalau jawabannya ya, maka terlihat ada jarak antara kekuatan bahasa asli dengan bahasa terjemahannya, katakanlah contohnya: jarak antara bahasa Jerman, Portugis, Spanyol, China dan Jepang ke dalam bahasa Inggris itu jauh sekali.

    Saran saya, perbanyak membaca karya sastra Indonesia, karya sastra penulis Malaysia yang ditulis dalam bahasa Melayu. Temukan harta karun dalam karya sastra itu: kekuatan bahasa, gaya bercerita yang khas dengan imaji yang diangkat dari kekuatan bahasa Indonesia. Temukan bahasa Mas Eka.

    Kalau pun harus membaca novel bahasa asing, prioritaskan membaca karya penulis bahasa asing yang Mas Eka kuasai. Ini sekedar saran saya saja Mas. Maaf kalau terkesan sok menasehati dan terlalu berkepanjangan, anggaplah ini sekedar saran atau masukan dari pembaca saja.

    • @Alkemi Sastra Indonesia
      Terima kasih sudah membaca karya2 saya dan terima kasih sudah memberi saran2. Harus saya akui, barangkali saya membaca sastra asing lebih banyak drpd sastra berbahasa Indonesia, tp saya rasa itu masalah kuantitas, toh kenyataannya sastra Indonesia tak sebanyak sastra asing. Bagaimanapun saya membaca sastra Indonesia. Jika mengikuti blog saya, kamu bisa menemukan tulisan2 saya tentang Kho Ping Hoo, Abdullah Harahap, Asrul Sani, tentu saja selain Pramoedya Ananta Toer. Saya juga membaca karya2 penulis seumuran saya. Tapi baiklah, barangkali bahasa Indonesia saya memang tidak “kaya”. Jika kamu memperhatikan selera bacaan sastra Indonesia saya, favorit saya memang bukan sastrawan2 “kanon” yg berbahasa Indonesia/Melayu dg hebat dan indah. Pengarang favorit saya Kho Ping Hoo dan Abdullah Harahap, yang mempergunakan bahasa Indonesia “standar”, yang menurut saya justru di situlah kehebatannya. Bahasa Indonesia seperti itulah yang saya suka. Bahkan makin lama saya makin suka dengan Bahasa Indonesia yang dipakai sehari2. Mungkin itu tidak menarik buat banyak orang, atau saya belum terlalu berhasil melakukannya. Tapi sejauh ini, itu bisa disebut “proyek” sastra saya. Sekali lagi terima kasih telah memancing pembicaraan soal ini.

      • Alkemi Sastra Indonesia

        21 January 2013 at 4:42 pm

        Terima kasih atas balasan tanggapannya, Mas Eka. Sebagai pembaca tentu saya sangat menghargai pilihan bahasa yang dipilih tersebut, itu pula sebabnya saya betah membaca karya-karya anda, karena saya menghargai konsistensi pada pilihan tersebut. Komentar saya yang kelewat panjang di atas mungkin selama ini terpendam dan baru bisa keluar setelah sedikit mulai memahami bahwa ternyata muasalnya ada pada pengaruh bacaan yang Mas Eka pilih.

        Untuk melengkapi komentar saya di atas, izinkan saya menambahi. Temuan sederhana saya atas pembacaan saya adalah dua hal berikut. Sebelumnya, ini bukan telaah analis/akaemisi Mas, harap maklum kalau kurang tajam…

        Pertama, plot dan karakter dalam CIL dan LH merupakan satu kesatuan yang saling membangun nuansa magis dalam cerita. Kegilaan karakternya saling menunjang dengan peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal. Sampai di sini, bagus sekali. Namun, apakah yang membuat kegilaan dan ke-tidak-masuk-akal-an ((kata apa ini,maaf) kurang memiliki nyawa dan terkesan tanggung? Menurut pendapat saya, jawabnya ada pada temuan yang berikut ini. Mas Eka, anda masih menyimak?

        Kedua, struktur kalimat terlalu rapi dan tidak ada frase-frase sinting yang menguatkan kegilaan dan ketidakmasukakalan sang penulis (Maksudnya anda, Mas Eka). Struktur kalimatnya minim gaya bahasa yang memperkuat kesan magis, atau katakanlah, stilistika, tidak mengandung daya magis karena penggunaan bahasa Indonesia yang baku dan kurang liat, atau kurang magis. Dalam bahasa Mas Eka saat menanggapi komentar saya di atas: bahasa Indonesia yang “standar”. Kalimat-kalimat dalam novel-novel Mas eka, khususnya, iramanya panjang-panjang, kekuatannya pada klausa yang panjang, terkadang merupakan kalimat majemuk. sulit menemukan suatu frase pendek yang kuat atau berima dalam paragraf-paragraf itu. Saya mendapati bahwa kalimat-kalimat itu terlalu “bersih”.

        Ciri-ciri kalimat ini banyak terdapat dalam novel-novel terjemahan ala Penerbit Gramedia. dengan kemampuan menulis kalimat-kalimat yang bersih seperti itu, Mas Eka cocok menulis analisis atau telaah seperti buku tentang Pak Pram. Saya kadang bertanya, apakah hal ini dipengaruhi pula oleh latar belakang pendidikan filsafat yang membuat Mas Eka enggan untuk “menurunkan” kadar intelektualitas dalam membangun kalimat yang jauh dari norma dan standar baku? Entahlah.

        Namun, saya cenderung semakin optimis untuk mengikuti karya-karya Mas Eka yang akan datang, khususnya setelah mendapati kata-kata Mas Eka dalam tanggapan atas komentar di atas:”Bahkan makin lama saya makin suka dengan Bahasa Indonesia yang dipakai sehari2″

        Mungkin bahasa Indonesia yang dipakai sehari-hari itu yang sebelumnya saya cari-cari di karya-karya Mas Eka dan belum saya temukan sejauh ini, dan mungkin bahasa Indonesia yang dipakai sehari-hari itu yang akan menjadi senyawa kuat jika dipadukan dengan plot dan karakter berdaya magis dalam karya-karya Mas Eka.

        Terima kasih atas tanggapan Mas Eka terhadap komentar saya. Maaf jika saya menomentari penggunaan bahasa Indonesia “standar” dalam karya-karya Mas Eka, padahal saya pun menggunakan bahasa standar dalam komentar ini. Dan nuwun sewu juga kalau saya tidak berani menggunakan nama asli di sini dan memilih menggunakan kata alkemi. Supaya terkesan magis dan misterius, tidak ada alasan lain. Selamat berkarya Mas.

        Untuk menambah daya magis, mungkin saya akan menerawang ke masa depan: CIL dan LH akan terlihat menonjol jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris, karena publik pembaca bahasa Inggris akan mendapat kesan gila dan sinting dari dunia yang jauh. Bagi pembaca bahasa Indonesia, kesan magis, gila dan sinting itu harus meyakinkan sejak pada level eksekusi di tingkat kalimat, bukan pada level gagasan semata.

        Sekali lagi selamat berkarya Mas Eka. Maaf saya mengganggu. Anda masih menyimak Mas?

  2. maaf sedikit nimbrung, saya juga membaca hampir seluruh karya mas eka yang diterbitkan. bagi saya membaca ya membaca dan saya menikmati membaca tanpa memperdulikan teori-teori yang menurut saya tidak begitu penting.
    sampai sekarang saya hanya membaca dan menikmati apa yang saya baca, saya bahkan tidak memikirkan banyak hal tidak masuk akal. terkadang bahkan hal tak masuk akal yang tanpa penjelasan penulis itu adalah sesuatu yang sexy, saya bisa menerka-nerka, berimajinasi dan membuat alasan atau cerita di kepala saya.
    bukan bermaksud memuji, tapi memang karya-karya eka kurniawan mengasikkan dibaca dan itu cukup bagi saya sebagai pembaca biasa. terima kasih.

  3. Ikutan nimbrung juga ah, kayaknya seru. Saya juga termasuk yang ngikutin tulisan-tulisan Mas Eka. Saya pikir, Mas Eka dengan gaya bahasanya itu, memang pilihannya. Kita tidak bisa mengharapkan semua penulis memiliki gaya bahasa yang flamboyan atau berbunga-bunga. Sebut saja Linda Christanty, bagi saya gaya bahasa dia juga “bersih”. Beda jauh dengan Triyanto Triwikromo, misalnya, yang kaya akan metafora dan kata keterangan yang diselipkan di sana-sini. Tetapi, meskipun demikian mereka memiliki keindahan masing-masing. Dinikmati dengan cara masing-masing pula. Tidak bisa menyeragamkan. Begitu juga dengan Mas Eka.

    Saya pikir, kalau Mas Eka mau, pasti dia sebetulanya bisa kok pake kalimat yang “genit”. Tetapi dia memilih untuk tidak demikian. Sebabnya apa? Hanya Mas Eka dan Tuhan yang tahu. Tetapi, yang jelas…jika kita semua sampai membahasnya panjang lebar di sini, itu berarti Mas Eka adalah penulis yang memang patut diperhitungkan. Seorang penulis boleh saja dikritik habis-habisan, tetapi (menurut saya) jika sampai demikian detail kritikannya, berarti dia memiliki pembaca yang setia, dan memang berarti dia patut diperhitungkan sebab dia sangatlah diperhatikan oleh pembaca (dan kritikus). Udah ah.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑