Eka Kurniawan

Journal

Emma Bovary

Kenapa para penulis menciptakan karakter-karakter yang menyedihkan ini? Kenapa Gustave Flaubert menciptakan sosok seperti Emma Bovary? Saya rasa tak ada perempuan (juga lelaki) di dunia ini yang berharap berdiri di tempat Emma dan menjalani seluruh perjalanan hidup dan nasibnya. Saya jadi ingat satu esai Jean Baudrillard berjudul “Xerox and Infinity”. Ia membuka esai itu dengan satu spekulasi bahwa, jika manusia menciptakan mesin pintar, atau mengkhayalkannya, itu karena mereka diam-diam putus asa dengan kepintaran mereka, atau mereka dalam situasi terdesak oleh beban kepintaran yang besar dan tak berguna, yang mereka coba untuk sembuhkan dengan cara memindahkannya ke dalam mesin. Artinya, kata Baudrillard, dengan memindahkan beban kepintaran ini kepada mesin, manusia terbebas dari tanggung jawab pengetahuan. Saya rasa hal ini bisa berlaku juga untuk para penulis dan karakter-karakter ciptaan mereka. Jika kita (manusia secara umum, secara khusus para penulis dan kemudian pembaca) putus asa dengan beban kehidupan (tak hanya pengetahuan, tapi juga moral, perasaan, impian, dan lainnya), bukankah cara paling baik adalah melemparkan semua beban tersebut ke karakter yang kita ciptakan? Setelah itu, sebagaimana kita kemudian memperlakukan mesin-mesin pintar (telepon genggam, komputer, bahkan kompor listrik), kita bisa bermain-main dengan karakter ciptaan ini, mengolok-olok dan tentu saja yang paling penting melemparkan seluruh tanggung jawab dunia kepada karakter rekaan. Mari kita lihat apa yang “diperbuat” Flaubert kepada Emma. Ketika suaminya pergi menjelang dinihari, Emma Bovary merasakan hasrat membara untuk bertemu kekasihnya. Ia menyelinap dari rumahnya ketika hari masih gelap, melintasi setapak sunyi, memotong padang rumput, menuju rumah Rodolphe. Di sana ia melemparkan dirinya ke pelukan sang kekasih. Emma hanya memiliki waktu satu jam di sana, satu jam untuk merasa bahagia saya kira, satu jam di atas tempat tidur dan dalam pelukan kekasih, sebelum harus bergegas kembali ke rumah sementara semua penduduk masih tidur terlelap. Adegan itu persis berada di tengah-tengah novel Madame Bovary, dan untuk sampai ke sana saya rasa Emma memerlukan situasi di mana keputusasaan berada pada titik yang dalam, sementara harapan membumbung tinggi, untuk memberinya keberanian. Nyali. Dalam kehidupan nyata, menyeberangi satu keadaan ke keadaan lain di mana kita membutuhkan nyali seringkali sulit untuk dilakukan. Bahkan di novel pun, membutuhkan banyak peristiwa dan situasi hingga Emma mampu melakukannya. Cinta platonisnya terhadap pemuda pemalu tapi cerdas bernama Léon memberinya semacam ancang-ancang. Bahwa ada sesuatu di seberang kehidupan rumah tangganya, ada cinta, dan terutama ada sosok yang bisa memuaskan hasrat intelektualnya (bicara mengenai buku-buku, tempat-tempat, pertunjukan). Meksipun begitu, hanya ketika ia bertemu dengan Rodolphe dan jatuh cinta kepadanya, Emma memiliki nyali untuk menyelinap keluar rumah, masuk ke rumah kekasihnya, dan tidur dengannya. Ketika akhirnya ia bertemu kembali dengan Léon, Emma tak lagi mempertunjukkan tentang keberanian, tapi tentang apa yang harus diambil ketika itu merupakan haknya: menjadi bahagia. Tapi inilah yang dilakukan Flaubert kepada Emma: alih-alih memberinya kebahagian yang terus dicarinya, ia malah menghancurkannya. Rodolphe meninggalkan Emma yang telah menyerahkan diri sepenuhnya (bersedia kabur dengannya), dengan pikiran yang waras bahwa Rodolphe tak mau terbebani oleh Emma (dan anaknya!). Cinta Emma dan Léon tak ke mana-mana, dan akhirnya racun menamatkan hidup Emma. Di satu sisi, kita membutuhkan karakter-karakter ini untuk melihat diri dan kehidupan kita. Tapi terutama, ini yang jauh lebih penting, saya rasa sebagian besar di antara kita membutuhkan sosok seperti Emma (bahkan Charles Bovary, Léon, Rodolphe dan seluruh karakter di novel mana pun) sebagai olok-olok dan permainan, karena tak banyak di antara kita sanggup menanggung derita semacam itu lalu mengolok-oloknya sendiri.



4 Comments

  1. Ini sama persis dengan yang diungkapkan oleh Vladimir Nabokov mengenai bagaimana seharusnya penulis memperlakukan tokoh-tokoh rekaannya; dengan membuatnya memanjat pada sebuah pohon dan melemparinya dengan batu.

  2. yang bilang, taruh karaktermu dalam satu rumah lalu bakar rumah itu, siapa ya?

  3. karakter Madame Emma mengingatkan saya pada Anna Karenina yang oleh Tolstoy diganduli peran yang sama tragisnya dengan Emma. Dan Tolstoy menciptakan tokoh macam Vronskii tempat pelarian Anna akibat kesepiannya sendiri.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑