Journal

Dua Novel Bohumil Hrabal

Too Loud a Solitude. Ia pergi ke lapangan melihat daftar pemain utama. Tiba-tiba ia merasa sebelah kakinya menginjak sesuatu yang lembek. Ia tak berani melihat, matanya tajam menatap papan pengumuman. Setelah menemukan namanya, ia menunduk. Ia menginjak tahi anjing. Ia buru-buru menatap kembali pengumuman, berharap satu keajaiban. Setelahnya ia kembali menunduk. Kakinya tetap terbenam di kubangan tahi anjing. Seperti itulah fragmen-fragmen pendek di novel ini. Bohumil Hrabal tak hanya “Penulis Ceko terbesar” sebagaimana dikatakan Milan Kundera, juga master pengendali humor dan tragedi dalam satu tendangan. Ini kisah Hanta yang bekerja di kantor polisi sebagai penghancur kertas (termasuk buku-buku langka dan terlarang). Diam-diam Hanta sering menyelamatkan buku-buku penting, membacanya di waktu luang. Goethe, Schiller, Nietzsche, Kant, membuatnya “tak bisa membedakan mana pikiranku dan mana yang datang dari buku.” Ini novel tentang sensor dan bagaimana pengetahuan diselamatkan dengan jenaka. Tentang bagaimana pengetahuan dihancurkan, tapi diselamatkan di kepala manusia. Hanta menemukan dirinya larut dalam dunia di mana ia melihat Yesus ngobrol dengan Lao-tze, para filsuf membicarakan surga, berbaur dengan kenangannya atas gadis gipsi, dan pacarnya yang selalu sial namun akhirnya menjadi malaikat. Di tengah alur cerita kita menemukan fragmen warna-warni, tentang filsafat, bir, juga Hitler. Karyanya mendekati apa yang menurut saya novel ideal: bermain-main secara serius, atau keseriusan yang main-main. Di bawah rezim komunis Ceko, kisah Hanta dengan mesin penghancur bukunya menjadi paradoks menggelikan sekaligus memilukan. Hanta yang merasa dirinya adalah apa yang dia kerjakan, dengan kedatangan mesin dan teknologi baru (yang diharapkan “membebaskan” manusia), justru merasa dirinya tercerabut. “Seperti para pendeta yang, ketika mengetahui Copernicus telah menemukan satu hukum kosmik bahwa bumi bukan pusat semesta, memutuskan bunuh diri massal karena tak mampu membayangkan sebuah semesta yang berbeda dari yang pernah mereka diami.”

Closely Observed Trains. Di sini kau bisa belajar dari Hrabal tentang humor yang pahit. Novel ini dibuka dengan pesawat Jerman yang jatuh, dan bangkainya dipreteli, salah satunya oleh ayah si tokoh. Ia kolektor barang-barang tak berguna, dan bisa mengubahnya jadi berguna. Tentu saja bikin sirik banyak orang. Yang juga sirik kepada kakek dan kakek buyutnya, karena “keberuntungan-keberuntungan” mereka. Si kakek-buyut kehilangan kakinya di front, pensiun dini dan gaji pensiunnya dipakai untuk mabok sambil mengejek orang-orang yang harus bekerja keras demi makanan. Si kakek-buyut sering dipukuli orang yang kesal, tapi tidak kapok. Sementara itu si kakek bisa hipnotis, dan sekali waktu mencoba menghentikan tank Jerman dengan hipnotisnya. Gagal, malahan diseruduk tank hingga kepalanya lepas. Ia jadi pahlawan. Kita akan mengira ini sejarah keluarga sialan penuh keberuntungan, tapi dengan cerdik Hrabal mengecoh kita. Itu hanyalah pembukaan sebelum melipir dan bercerita tentang seorang pegawai magang di stasiun kereta api. Humornya semakin menjadi-jadi. Ada adegan “mesum” di mana satu pegawai perempuan kepergok telanjang bulat bersama seorang pegawai lelaki. Si pegawai lelaki memberi cap di sekujur tubuh si perempuan dengan stempel stasiun. Tentu saja mereka disidang, bukan karena mereka berbuat cabul, tapi karena stempel yang dipakai mengandung bahasa Jerman! Itu penghinaan terhadap negeri Hitler. Juga ada kisah si bocah tokoh utama yang berusaha menjadi “dewasa”. Yang ia maksud dewasa adalah bisa meniduri perempuan dengan selayaknya, sebab terakhir ia mencobanya, ia mengalami apa yang disebut orang Jawa sebagai “peltu” (nempel metu, baru nempel sudah keluar). Dan peristiwa “peltu” itu makin membuatnya malu (sampai ia mengiris nadinya berharap mati) karena dilakukan di studio foto dengan semboyan “Lima Menit Selesai”. Ia merasa terhina karena bahkan tak sampai lima menit. Percayalah, Hrabal hampir tak pernah gagal membuat kita tersenyum.



Standard