Journal

Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos

Agak sulit untuk mengkasifikasikan novel ini. Pulp? Ya, apalagi dengan latar cerita tentang kelompok mafia narkoba Meksiko dengan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan, tapi juga enggak persis seperti itu. Picaresque? Boleh juga, apalagi dengan tokoh utama (sekaligus narator) seorang anak kecil, agak nyeleneh (atau dari sudut pandang lain: jenius), tapi ya tidak persis seperti novel sejenis lainnya. Nonsense? Judulnya mengingatkan kita kepada Alice’s Adventures in Wonderland memang, dan seperti novel klasik tersebut, novel ini bisa juga dilihat sebagai komentar nonsens anak kecil atas dunia orang dewasa, tapi ya tetap saja beda. Tak ada dunia ajaib, juga tak ada makhluk-makhluk ajaib. Mungkin memang novel ini tak membutuhkan label apa pun, atau label apa pun bisa saja diterapkan kepadanya. Tak ada bedanya. Novel ini bisa dinikmati dengan atau tanpa label-label itu: kocak, penuh sindiran, terus-menerus memancing rasa ingin tahu, sekaligus brutal. Baiklah, untuk memberi gambaran yang lebih jelas, Down the Rabbit Hole karya Juan Pablo Villalobos (penulis ini pernah datang ke Indonesia sekitar setahun lalu) berkisah tentang seorang bocah yang kebetulan anak gembong narkoba. Meskipun hidup di lingkungan yang penuh kekerasan, ayahnya tak pernah berbuat kasar kepadanya (tak pernah memukul atau menampar), bahkan cenderung memanjakannya (mungkin karena ia sudah tak punya ibu). Sebagai anak tunggal gembong narkoba yang kaya raya (punya berjuta-juta uang dalam bentuk peso, dolar, maupun euro), hidupnya menyenangkan sekaligus tak menyenangkan. Ia tak bisa pergi sekolah, tapi tentu punya guru pribadi. Ketika ingin mengunjungi kebun binatang, ia tak bisa pergi ke sana, sebagai gantinya binatang-binatang didatangkan ke halaman rumahnya. Apa pun yang diinginkannya, bisa dikabulkan, ia hanya tinggal menuliskan daftar keinginannya. Termasuk ketika ia menginginkan kuda nil kerdil yang harus didatangkan dari Liberia di Afrika. Bagian yang terakhir, bisa dibilang merupakan jantung kisah novel ini: tentang anak gembong narkoba yang ingin memelihara kuda nil kerdil yang nyaris punah. Bagi yang akrab dengan novel-novel dari Amerika Selatan, tentu akan sedikit terbengong-bengong dengan kisah dan gaya novel ini. Ia seperti sebuah geliat baru dari sejarah kesusastraan nun jauh di sana, sebuah percobaan, barangkali sebuah upaya perusakan sejarah. Saya suka istilah “perusakan sejarah” ini, yang saya karang-karang sendiri. Maksudnya, sebagai upaya menggembosi kemapanan sejarah kesusastraan Amerika Selatan, dengan memberinya tak hanya terobosan, tapi juga sindiran dan olok-olok kebesarannya (alih-alih merayakan eksotisme setempat, novel ini merayakan budaya populer macam film samurai Jepang; alih-alih penuh komentar politik pascakolonial, si bocah dan gurunya lebih banyak bicara tentang kegilaan orang Perancis memenggal kepala raja mereka). Villalobos tentu saja tak sendirian, dan selalu menyenangkan melihat upaya-upaya semacam ini. Baiklah, sejarah mungkin tak pernah benar-benar dihancurkan. Yang ada tak lebih dari yang tercatat dan tak tercatat, atau seseorang mencatat cara-cara baru melihat dunia sementara yang lain mencatat ketololan-ketololan. Apa bedanya? Bajingan maupun santa, si jenius maupun si tolol dalam kesusastraan bisa sama tercatat dan bisa sama dilupakan. Apakah Villalobos dan rekan-rekan segenerasinya merupakan bajingan atau santa dalam kesusastraan Amerika Selatan, tak usahlah dipedulikan. Ia bisa bajingan, bisa pula santa. Satu hal, ia memberi kita sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kelokan kecil yang menyenangkan (kelokan yang mengganggu di ujung jalan raya nan megah). Sebuah setapak yang siapa tahu, dalam perjalanan waktu, menjadi pembuka bagi jalan baru yang lebih lebar dan agung (dan kelak seseorang merasa perlu menghancurkan kembali jalan ini).



Standard

4 thoughts on “Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *