Dandelions, Jika Ini Catatan Kepergian Kawabata

Pukul tiga sore ia meninggalkan rumahnya di Kamakura, untuk berjalan-jalan. Kesehatannya agak buruk, ia sangat tergantung kepada obat tidur. Beberapa temannya juga bilang, ia masih sangat bersedih atas kepergian teman kesayangannya, novelis Mishima Yukio, yang mati seppuku. Malam itu ia tidak pulang, tapi mampir ke apartemen tempatnya biasa bekerja di daerah Zushi. Hari itu 16 April 1972, dan ia berumur 72 tahun. Ketika polisi datang, pintu apartemen dalam keadaan terkunci, dan ketika mereka membuka paksa, bau gas tercium menyengat. Kawabata Yasunari sudah meninggal dengan ujung pipa gas di mulutnya. Ia tak meninggalkan catatan bunuh diri (meskipun begitu, ada juga teori yang mengatakan itu kecelakaan), tapi kemudian kita tahu, ia meninggalkan satu novel yang tak terselesaikan, berjudul Dandelions. Seperti sebagian besar novel-novel tak terselesaikan yang ditulis di akhir hayat para penulis jenius, novel ini menyajikan keindahan sekaligus misterinya yang tak terpecahkan. Ya, kita memang tak akan pernah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir, tapi ia membentangkan hamparan masalah yang dihadapi tokoh-tokohnya: cinta, kematian, perasaan kalah, penyakit, dan kegilaan. Seperti juga novel-novelnya yang lain, ia juga menyisipkan sejenis eksotisme masyarakat Jepang, dengan lonceng besi di kuil tua dari masa Edo yang berdentang lima kali sehari, meskipun pembicaraannya terasa jauh lebih modern, dari masalah penyakit mental hingga kutipan dari Balzac tentang perempuan umur empat puluh tahun. Saya membayangkan jika novel ini merupakan catatan kepergiannya, ia merupakan percakapan muram yang tak berujung dan tak menjanjikan apa-apa. Percakapan itu terjadi, terutama di antara ibu Ineko dan kekasih Ineko bernama Kuno, selepas mereka mengantarkan Ineko ke panti orang gila di atas bukit, di sebuah kota kecil di mana pada musim semi bunga dandelion telah bermekaran. Banyak hal mereka percakapkan, dan tak jarang saling berseberangan, terutama menyangkut nasib Ineko. Ibunya percaya, tempat terbaik bagi Ineko adalah klinik tersebut, yang dikelola oleh sebuah kuil, sebab ia hanya ingin mengizinkan Ineko menikah dengan Kuno dalam keadaan sembuh. Sementara Kuno keberatan dengan keputusan tersebut, sebab percaya justru “cinta” (artinya menikah dan dirawat olehnya), yang akan membuat Ineko sembuh. Kita bisa tertawa dengan kenaifan Kuno, kenaifan yang dibawa oleh gejolak anak muda, tapi sekaligus kita tak juga menyalahkannya. Dalam pandangan Kuno, penyakit Ineko tidaklah terlalu serius. Ineko menderita kebutaan sejenak, terutama ia kadang tak bisa melihat bagian tubuh seseorang. Demikianlah sehabis bercinta, Ineko tiba-tiba tak bisa melihat wajah Kuno. Ibunya berpikir sebaliknya, itu penyakit berbahaya. Ia mendengar penyakit serupa dari dokter di mana seorang ibu mendadak tak bisa melihat wajah bayi yang dipangkunya, dan kemudian membunuhnya. Pembicaraan mereka melebar ka masa yang jauh, untuk mencari akar trauma dari penyakit tersebut. Mungkinkah karena Ineko pernah menyaksikan ayahnya yang jatuh bersama kuda tunggangan ke tebing pinggir laut? Dan apakah kematian ayahnya hanya kecelakaan biasa, atau simbol kekalahan Jepang dari perang? Bukankah sang ayah juga pernah mencoba bunuh diri di hutan, tapi diselamatkan seorang perempuan misterius, dan sejak mendengar kisah itu, Ineko merasa perempuan itu bersemayam di dalam dirinya? Novel ini bisa dilihat sebagai catatan traumatik, dan mengikuti kisahnya, saya merasakan jejak waktu yang makin lama semakin suram dan tanpa harapan. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi selepas percakapan mereka, tapi saya membayangkan mereka tak akan pernah melihat Ineko lagi. Sebagaimana kesuraman kisah novel ini membawa kita kepada kenyataan, tak akan lagi mendengar sang penulis bercerita. “Bagaimanapun terasingnya seseorang dari dunia, bunuh diri bukanlah bentuk pencerahan. Semengagumkan apa pun dia, siapa pun yang bunuh diri jauh dari kesucian,” kata Kawabata dalam pidato penerimaan Hadiah Nobel, 1968. Jika novel ini catatan kepergiannya, jelas ia memang tak hendak memperlihatkan kesucian, ia memperlihatkan betapa rapuhnya manusia dan dunia.





6 thoughts on “Dandelions, Jika Ini Catatan Kepergian Kawabata

  1. Wah, saya kira ini adalah Kawabata yang gemar mencintai perempuan yang tidak pernah ada dari novel SGA.

    Dandelion masuk ke dalam daftar bacaan selanjutnya.

  2. Halo Mas Eka! Mas jawab dong plissss :v (Baiklah. Hehehehee karena aku tamvan, maka aku tak akan sebut Bakunin lagi deh Mas…. :v)

    Mas Eka, ini serius aku tanya. Jadi gini Mas,, aku kan tak punya latar belakang apa pun dalam “pembacaan” sastra Mas (linguistik, dan lain-lain). Tapi aku mulai tertarik untuk membaca cerita-cerita. Misalnya Mas,,,,, apa aku akan bisa menikmati cerita Seratus Tahun Kesunyian? Yahhhh maklum Mas aku misquin jadi mau beli novel satu aja mikirr gak selese selese hhhhhhhhh…… (Dijawab gak yaaaa :D)

    • Lho, membaca ya tinggal membaca saja. Kalau kamu suka tinggal lanjutin, kalau enggak suka, tinggal cari bacaan lain yang sekiranya cocok. Cara orang membaca kan tidak bisa diseragamkan juga?

      • Woww….!!!! Mantapp!!! Yaaaa ampuunnnn Masss Ekaa makasiiihhhh bangettt lho jawabannya :)

        (cepettt abisss :’v)

        Mas Eka… aku sebetulnya juga tertarik dengan filsafat. Apa betul-betul bisa Mas, tanpa kuliah di filsafat, untuk memperoleh sebagian besar pengetahuan tentang filsafat yang diajarkan di perkuliahan?

        (Hehee maaff Mas, maunyaa nanya truss hhhhhh :v)

Comments are closed.