Eka Kurniawan

Journal

Clarice Lispector, El Boom, Penerjemahan

Semalam, seperti kadang-kadang saya lakukan, saya mampir ReadingRoom dan bertemu pemiliknya, Richard Oh. Tiba-tiba dia berkata dan bertanya, “Ah, nemu penulis baru. Tapi siapa sih Clarice Lispector?” Rupanya ia menemukan nama itu gara-gara teman kami, Wan Nor Azriq, salah satu penulis muda Malaysia yang sangat berbakat, sedang tergila-gila dengannya. Saya langsung saja nyeletuk, “Penulis Brazil, menulis dalam bahasa Protugis, dan sudah mati.” Untuk ukuran Richard Oh, yang membaca buku sastra jauh lebih banyak dari saya, tidak mengenali Lispector hanya mempertegas satu hal: penulis ini “terlupakan” oleh dunia. Saya sendiri tahu nama itu hanya karena, beberapa bulan lalu, editor saya mengirimi saya buku dia dalam terjemahan, The Hour of the Star. Bagi saya, ini juga menjelaskan segala sesuatu di balik el boom, ledakan kesusastraan Amerika Latin di puncak abad yang lalu. Baiklah, sebelum saya membicarakan hal itu, kita tengok dulu siapa Clarice Lispector ini dan seberapa penting dirinya sampai-sampai kita perlu bilang ia “terlupakan” oleh dunia. Jika iseng membuka internet, dengan mudah kita akan menemukan kalimat, “Penulis Yahudi terbaik setelah Kafka.” Kenapa penulis sehebat itu bisa “tak muncul”, bahkan dengan gerbong el boom (ia kelahiran 1920)? Penerjemahnya, Benjamin Moser mencoba menjelaskan: karya-karya Lispector pernah diterjemahkan ke Bahasa Inggris sebelumnya, tapi hasilnya buruk. Yang dimaksud buruk adalah: Lispector memang menulis dalam bahasa Portugis dengan gaya, sintaks, kalimat, tanda-baca, tata bahasa, yang memang aneh bahkan untuk ukuran bahasa Portugis dan kesusastraan Brasil sendiri. Para penerjemahnya, dan mungkin editornya, mencoba “membetulkan”nya. Hasilnya tentu saja kekacauan. Karya-karyanya dalam terjemahan tak lagi berasa Lispector, bahkan dia sendiri pernah ngamuk-ngamuk soal ini. Lispector, meninggal tahun 1977 ketika el boom justru mencapai puncaknya, barangkali beruntung: tahun-tahun ini ia memperoleh kesempatan kedua. Karya-karyanya kembali diterjemahkan, terutama ke bahasa Inggris, dikomandoi oleh Moser (yang juga penulis biografi tentangnya). Kembali ke el boom: ketika saya pertama kali tercebur ke dunia sastra, di akhir 90an, saya baru tercengang-cengang dengan para penulis Amerika Latin, yang diperkenalkan oleh teman-teman saya (kebanyakan aktivis, yang sebenarnya menengok ke Amerika Latin karena kagum kepada Fidel Castro dan Che Guevara). Saya sampai punya mimpi besar: suatu hari el boom juga akan muncul di Indonesia. Bayangkan, dari satu generasi, membentang dari barat ke timur, akan muncul penulis-penulis Indonesia super keren dan menaklukkan dunia. Jika saya sedang nongkrong bersama beberapa teman, yang saat itu sama-sama tengah berjuang untuk bisa menulis satu-dua karya, atau sedang mati-matian menerbitkan karya pertama, seperti Gunawan Maryanto, Puthut EA, Ugoran Prasad, saya membayangkan teman-teman saya itu sebagai kanon-kanon baru kesusastraan (saya masih mengagumi mereka sampai sekarang). Pikir saya, selain waktu, apa yang diperlukan oleh generasi kesusastraan ini hanyalah seseorang seperti Carmen Balcells. Siapa Carmen Balcells? Dia si “la mama grande” kesusastraan Amerika Latin. Agensi yang mewakili sebagian besar penulis-penulis Amerika Latin dan memperkenalkannya ke dunia. Impian saya naif, dan terbukti memang naif. Belasan tahun setelah memimpikan itu, terbukti tak ada el boom di Indonesia. Kita belum ke mana-mana. Orang seperti Carmen Balcells juga tak muncul, tapi saya rasa faktor pentingnya bukan itu. Clarice Lispector yang saya sebut-sebut di awal menjelaskan apa yang ada di belakang el boom sesungguhnya: tanpa Carmen Balcels, tanpa polesan pemasaran, kesusastraan Amerika Latin memang menyimpan bom waktu yang sangat besar. Tanpa disulut, saya rasa akhirnya mereka akan meledak dengan sendirinya. Ada yang muncul dengan cepat, ada yang terlambat. Kita tak akan mengenali Clarice Lispector sebagai bagian dari el boom, tapi dengan caranya sendiri toh akhirnya ia hadir. Setidaknya bagi saya, ini memberi dua pelajaran penting. 1) Di belakang gemerlap kesusastraan Amerika Latin, memang tersimpan bom yang sesungguhnya. 2) hati-hati dengan penerjemahan. Penerjemahan karya sastra merupakan bisnis yang serius; berharap karyamu diterjemahkan dalam semalam seperti Sangkuriang membuat gunung dan dengan cepat menjadi “penulis dunia”, membuktikan Anda tak serius di urusan ini.



2 Comments

  1. Kalo feminis sih pasti tahu Clarice Lispector :p
    Mungkin Lispector “terlupakan” karena orang kerap melihat El Boom dengan perspektif maskulin.
    Aku suka The Hour of the Star. Aku tahu Lispector via Helene Cixous dan kelas sinema Brazil (nonton adaptasi “Hour” ke dalam film).
    Btw, selamat untuk nominasi Kusala/ Khatulistiwa Lit Award. Jarang-jarang nih gue komen di blog. Gara-gara Clarice Lispector!

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑