Eka Kurniawan

Journal

Bonsai, Alejandro Zambra

Salah satu pengalaman paling menyenangkan selama setengah perjalanan saya ke Amerika ini adalah, saya dipinjami sebuah apartemen selama di San Francisco. Tak ada yang istimewa dengan apartemen itu (sebenarnya seperti apartemen mahasiswa yang amburadul), kecuali satu hal: penuh dengan buku. Di dinding, di meja dapur, bahkan di jendela kamar mandi. Dan separuh di antara buku-buku itu saya kenali, seperti yang saya miliki di rumah. Saya merasa nyaman, seperti di habitat sendiri, dan itu membantu saya memberantas rasa kangen rumah (terutama kangen mengantar anak sekolah di pagi hari). Awalnya saya ingin membaca segala hal yang bisa saya raih, seperti orang lapar tersesat ke ruang perjamuan. Saya membaca satu-dua halaman, lalu berpindah ke buku lain, membaca dua-tiga halaman, sebelum sadar waktu saya di sana terbatas untuk membaca apa pun sampai selesai. Hingga akhirnya saya menemukan buku kecil dari Alejandro Zambra, Bonsai, dan membacanya di dua kesempatan sebelum tidur. Bisa dibilang sebenarnya itu cerita cinta, diceritakan dengan gaya narator yang sering bocor (misalnya tiba-tiba si narator ngomong: “Suami Anita bernama Andrés, atau Leonardo. Mari sepakat saja namanya Andrés dan bukan Leonardo.”). Nyaris tokoh-tokohnya tak dibiarkan bicara sendiri, semuanya diterangkan oleh si narator. Yang menarik, novel (cinta) ini diceritakan dengan gaya cerita detektif atau kriminal. Sejak awal kita tahu hubungan kedua tokohnya (Emilia dan Julio) akan berakhir di satu titik. Emilia akan mati (di umur tiga puluh), dan Julio akan terus hidup/belum mati. Tapi kita bertanya-tanya, bagaimana hubungan mereka akan berakhir? Dan kenapa judulnya Bonsai? Pertama sebenarnya itu sejenis lelucon yang merujuk ke sebuah cerita di Anthology of Fantastic Literature (editan Borges dan kawan-kawan), berjudul “Tantalia”. Itu tentang pasangan yang memelihara tanaman sebagai tanda cinta mereka. Jika tanaman itu layu atau mati, maka begitulah juga cinta mereka. Setelah membaca cerpen itu, hidup mereka berubah dan penuh kekuatiran akan cinta yang redup dan mati (kenyataannya cinta mereka menuju ke arah sana). Di akhir cerita, Julio malah mencoba menanam bonsai, sebagai tanaman cinta tersebut. Tapi bagi saya, merujuk ke manual memelihara bonsai yang dibaca Julio, bahwa bonsai merupakan miniatur pohon, saya melihatnya dengan cara lain. Buku tipis ini seperti menunjukkan, ceritanya yang ringkas (dengan bagian-bagian yang sangat pendek), juga merupakan miniatur untuk sesuatu yang lebih besar. Sebuah kisah hidup mereka yang lebih luas daripada apa yang diceritakan si narator. Dan secara umum, karena Julio dan Emilia merupakan seorang pembaca karya-karya sastra (mereka bahkan membaca In Search of Lost Time), saya melihat metafora sastra dan kehidupan itu sendiri. Bisakah sastra dianggap sebagai miniatur kehidupan? Ia perlu dirawat seperti pohon cinta. Jika layu, kehidupan juga layu. Seperti di novel sebelumnya yang saya baca, Zambra tampaknya senang bermain-main dengan sastra di dalam karya sastranya, sejenis meta-fiksi yang halus dan tak tampak. Ia bisa dibaca dengan pendekatan umumnya sastra tradisional, tapi juga bisa dilihat dengan kacamata meta-fiksi. Ringan seperti bonsai, tapi tetap sebuah pohon.



2 Comments

  1. Sepertinya anda menyukai karya2 Amerika latin ya? Kalau boleh tau anda mencari buku2 mereka di mana? Di luar negerikah? karena yang saya baca penulis latin saat ini hanya Gabo, belum baca penulis-penulis lain…

    terimakasih sebelumnya. salam kenal dari Borneo

    • @Septy
      Saya menyukai penulis dari mana saja. Amerika, Latin, Asia, Eropa. Yang jarang penulis Afrika, karena susah dapetinnya. Yang penting bagus dan menyenangkan untuk saya. Saya juga memperoleh buku dari mana saja, beragam cara. Novel Bonsai ini, seperti saya bilang, saya pinjam dari pemilik apartemen yang saya tinggali. Beberapa hari lalu saya juga ambil buku Cormac McCarthy (penulis Amerika) dari rak buku milik sebuah hotel yang saya tinggali. Bukan mencuri, sebab hotel itu kasih pengumuman: kalau suka, boleh ambil buku mereka.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑