Berjumpa Tariq di Soho

Melihat Tariq Ali, membuat saya berpikir mengenai generasi 60an: bohemian, radikal, juga kreatif penuh daya. Untuk kali kedua saya bertemu dengannya. Pertama di Jakarta, beberapa tahun lalu (kami makan siang di satu restoran Jepang di Kemang); kini saya berada di kotanya, London, dan bertemu untuk makan malam di satu daerah yang pasti sangat diakrabinya sejak lama: Soho. Keluar dari pintu stasiun Oxford Circus, kita akan dihadapkan pada bentangan pusat perbelanjaan yang riuh. H&M, GAP, Uniqlo dan American Apparel sudah menunggu. Bahkan memasuki jalan-jalan kecilnya, tempat itu dipenuhi toko-toko suvenir dan restoran serta bar. Tak hanya untuk orang lokal, Soho jelas magnet untuk para turis. Saya pertama kali datang ke sana sehari sebelumnya, untuk mengunjungi pesta kecil yang diadakan penerbit saya, Verso, di kantor mereka. Verso berbagi gedung dengan induknya, New Left Review, di satu ruas jalan kecil bernama Meard Street. Kiri-kanannya dipenuhi bar dan restoran. Kantor Verso di daerah Soho?  Tariq tertawa ketika saya berkomentar soal ini, dan mengakui bahkan banyak penerbit lain sangat iri mengetahui Verso berkantor di daerah sana. Tapi itu memang cerita yang sangat panjang, dan di balik kenapa penerbit radikal yang independen itu bisa memiliki kantor di kawasan elit, terdapat sejarah panjang daerah Soho sendiri. Dulu, itu merupakan daerah kelas pekerja. Di satu perempatan, kami berdiri dan Tariq menunjuk satu apartemen putih sekitar tiga blok dari tempat kami berdiri dan berkata, “Karl Marx tinggal di sana, di apartemen tiga kamar. Ia sangat miskin.” Itu membuat kami hening sejenak. Harus membayangkan “sangat miskin” dengan konteks Soho hari ini. Di tahun 60an, Soho mulai menjadi tempat kaum bohemian. Para aktivis, seniman, musisi, dan pelacur tinggal di daerah tersebut. Iklim intelektual dan seni tumbuh subur. Daerah sekitar kantor Verso merupakan tempat pelacuran, dikuasai seorang germo. Kemudian ada kakak-beradik yang membeli satu bangunan di sana. Kakak-beradik yang sama-sama intelektual ternama. Saya kenal baik si abang, dan mereka menghibahkan gedung tersebut ke lembaga yang menaungi penerbit itu. Kantor itu tetap bertahan di sana, ketika Soho terus berubah, dan jalanannya serta lorong-lorongnya tak lagi dijejali pelacur atau seniman-seniman bohemian, tapi penuh diisi turis yang menenteng tas-tas belanjaan. Di satu lorong, sepasang turis sempat berhenti di depan kami dan berseru, “Tariq! Kamu Tariq yang itu, kan? Senang sekali bisa melihatmu.” Penggemar. Saya rasa dia sering harus menghadapi kejadian seperti itu di jalanan Soho. Di waktu makan malam, melihat ada banyak restoran China di sekitar kantor Verso, kami memutuskan makan di salah satunya. Di pintu masuk kami dihadapkan dengan kutipan besar dari Mao: “Yang tidak makan cabe, tak bisa jadi revolusioner.” Bahkan Mao mencoba berusaha terdengar di keriuhan Soho. Saya lupa nama restorannya (lagi pula papan namanya ditulis dalam bahasa dan huruf China), tapi makanannya enak. Mungkin karena saya kangen nasi. Saya bilang baru mengunjungi Charles Dickens Museum, yang menurut saya seperti rock star, dan Tariq membenarkan. “Di masanya, ia bisa pergi ke Amerika untuk membacakan karyanya, dan acara itu dihadiri ribuan orang. Tak ada bandingannya bahkan untuk ukuran penulis kontemporer,” kata Tariq. Soho mungkin sudah banyak berubah, tapi hal-hal kecil mungkin masih tersisa. Saya masih merasakan gairah kreatif di lorong-lorongnya. Ada satu toko buku yang khusus menjual komik dan novel grafis. Bahkan ketika berjalan kembali ke stasiun, saya sempat berjumpa satu demonstrasi mengenai tuntutan pengaturan ulang aturan sewa hunian. Kami berpisah di depan restoran. Ia berjalan kaki ke arah yang berbeda, dan mungkin akan bertemu turis yang terkejut melihatnya dan menyapanya serta memintanya bersalaman. Saya berjalan ke arah stasiun. Tentu saja tak ada yang akan mengenali saya.

Berjumpa Tariq di Soho
Berjumpa Tariq di Soho