Eka Kurniawan

Journal

Belajar Menulis Novel

Seorang teman datang menemui saya. Ia berkata, “Ajari aku menulis novel.” Sebenarnya ia tak perlu mengatakan itu. Ia bahkan tak perlu menemui saya. Saya tahu ia seorang penulis yang baik, meskipun betul ia belum pernah menulis novel. Ia pembaca buku yang rajin. Intinya, ia memiliki banyak hal sebagai modal untuk menjadi penulis novel. Paling tidak itulah anggapan saya. Tapi ia tetap datang kepada saya dan meminta diajari menulis novel. Mungkin karena ia membaca dua novel saya, mungkin ia mendengar saya kadang-kadang mengajar penulisan kreatif. Bagaimanapun ia telah datang kepada saya, dan sebagai seorang teman, saya tak mungkin mengabaikan permintaannya. Tentu saja di sisi lain, saya merasa bukan pada tempatnya bisa mengajarinya. Seperti saya bilang, ia bisa menulis novel tanpa diajari siapa pun, jika ia mau. Maka saya hanya berkata kepadanya, “Ketika kamu menulis novel, ada dua pilihan yang harus kamu tentukan. Kamu sekadar mau menulis cerita yang kemudian kamu sebut sebagai novel, atau kamu mau menulis novel sebagai sebuah jalan kepenulisanan?” Pertanyaan saya tentu saja terdengar retorik. Saya senang memancing orang dengan pertanyaan seperti itu, yang membuatnya balik bertanya. Ia bilang, sebelum memutuskan mana yang ia ingin lakukan, ia ingin tahu apa bedanya menulis cerita dan menulis sebagai jalan. Akhirnya saya bilang, setelah belajar dari banyak novel, dan tentu saja juga telah dituliskan oleh banyak orang yang juga mempelajarinya, hasil dari sejarah panjang novel modern (sejak Don Quixote, kata Milan Kundera), ada “aturan-aturan” dalam menulis cerita. Aturan-aturan ini bisa dipelajari, dan banyak orang dengan senang hati mengajarimu. Dibayar atau tidak. Aturan-aturan ini tentu saja diperoleh setelah mempelajari begitu banyak novel, di rentang sejarahnya. Kita bisa meniru mereka, mengikuti jalan yang sudah dirintis oleh para pendahulu kita. Kita bisa pelajari bagaimana membuat paragraf pertama. Bagaimana menyusun plot. Bagaimana membangun karakter yang dinamis, maupun yang datar. Bagaimana membangun tangga dramatik. Bahkan kita bisa mempelajari bagaimana formula menciptakan tragedi, sebagaimana menciptakan komedi. Jika kamu ingin menulis cerita, yang kemudian kamu sebut sebagai novel, kamu bisa pelajari aturan-aturan itu. Kamu bisa mengkritik aturan-aturan itu, dan menggantinya dengan aturan-aturan lain. Ada banyak aturan, sebagaimana ada banyak jalan dari Anyer ke Banyuwangi. Teman saya mengangguk-angguk, dan ia kembali bertanya. Dan apa bedanya dengan menulis novel sebagai sebuah laku atau jalan penulisan? Pilihan ini sebaliknya, kataku: tak ada aturan. Tapi seperti kamu bilang, kita bisa menulis novel dengan cara menulis cerita, dengan kata lain, mempergunakan aturan-aturan? Tak ada aturan. Menulis novel sebagai laku tak ada aturan, termasuk boleh mempergunakan aturan-aturan. Kami senang mendiskusikan ini, membayangkan menulis sesuatu tanpa aturan. Bagaimanpun saya selalu berpikir, Novel merupakan satu seni. Seni dan filsafat, kadang-kadang saya bilang begitu. Tentu saja kita tak perlu mempertentangkan novel yang mengikuti aturan-aturan bercerita dan novel yang tak mengikuti aturan. Novel baik dan buruk bisa datang dari keduanya. Ini hanyalah dua jalan yang bisa dipilih. Ada orang-orang yang nyaman mengikuti jalan yang telah dirintis oleh para pendahulunya. Jalan yang tak membuatnya tersesat. Jalan yang membuatnya yakin bisa sampai ke tujuan. Kita tak bisa menyalahkan orang-orang seperti ini. Mereka bisa menghasilkan karya bagus dengan cara ini. Dan tentu saja ada orang yang mudah bosan menempuh jalan yang telah licin dan rapi, dan mengharapkan bisa tersesat tanpa harus terobsesi menemukan jalan baru. Hanya melakukan perjalanan tanpa rambu-rambu. Perjalanan yang didorong rasa senang, rasa ingin tahu, dan tentu saja keberanian. Tak ada jaminan pula memperoleh karya yang baik dengan cara ini, tapi paling tidak, mungkin membuat senang orang yang menjalaninya.



2 Comments

  1. tulisanny bikin saya yg lg seneng2ny belajar nulis ini jadi merenung2. memelajari hal baru setelah membacanya, makasin mas eka :)

  2. Mas Eka, saya sedang mencoba salah satunya dan menikmati prosesnya, hehe.
    Oya, omong-omong kalau boleh dapat bocoran, kapan ni Mas, novel Malam Seribu Bulan-nya siap dilepas ke pembaca. :)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑