Eka Kurniawan

Journal

Bartleby & Co.

Biasanya saya tak terlalu suka membaca novel dengan tokoh seorang penulis, atau novel yang membicarakan kesusastraan. Bagi saya, itu terasa seperti mengeksploitasi kehidupan pribadi penulisnya. Atau barangkali karena saya hidup di dunia itu, hal ini menjadi tak lagi menarik. Tentu saja ada beberapa novel seperti itu yang saya suka. Novel-novel Roberto Bolaño, yang hampir semuanya menceritakan para penulis dan penyair, saya suka. Tapi di antara yang lain-lain, yang paling bangsat dan membuat saya tersenyum kegirangan adalah novel Enrique Vila-Matas berjudul Bartleby & Co. Disebut-sebut sebagai penulis Spanyol (berdarah Catalan) terdepan saat ini, saya bisa sebut lagi bahwa ia salah satu pengejek nyaris sempurna bagi kesusastraan. Terutama bagi penulis jenis Arthur Rimbaud. Para penulis yang menulis satu-dua buku dan dikenal karena itu, tapi setelahnya tak pernah menghasilkan atau menerbitkan apa pun lagi, yang menurutnya menderita “sindrom Bartleby”. Sejenis penyakit yang membuat seorang penulis berkata “tidak” dalam arti “tidak lagi menulis”. Novel ini merupakan sejenis penjelajahan untuk menemukan penulis-penulis macam begini. Beberapa merupakan penulis-penulis yang saya kenal baik nama maupun karya mereka, beberapa yang lain terdengar asing. Yang asing ini bisa jadi memang saya belum pernah mendengarnya, bisa pula memang fiktif belaka, tapi apa bedanya? Entah kebetulan atau tidak, sebelum membaca buku ini saya baru saja selesai membaca novel Juan Rulfo, Pedro Páramo. Novel yang disebut-sebut sebagai salah satu karya terbesar kesusastraan Meksiko, dan pembuka jalan bagi lahirnya novel-novel besar Amerika Latin setelahnya (jika kamu membaca banyak sastra Amerika Latin, kamu akan sadar betapa One Hundred Years of Solitude berutang banyak kepada Pedro Páramo). Seumur hidupnya Rulfo hanya menerbitkan satu kumpulan cerita pendek, satu novel, dan tak pernah menerbitkan karya sastra apa pun lagi setelah itu. Sempat diberitakan ia menulis novel kedua, yang ditulisnya selama bertahun-tahun, tapi sebagaimana kemudian menjadi rumor, naskah itu dihancurkannya hanya beberapa saat sebelum ia meninggal. Jelas sekali, Juan Rulfo sangat layak dimasukkan ke dalam daftar penderita sindrom Bartleby ini. Alasan seorang penulis tidak (lagi) menulis bisa macam-macam. Trik paling populer tentu saja karena mereka tak memperoleh ilham. Saya pribadi bisa membuat banyak daftar alasan macam begini, yang seringkali membangkitkan kemalasan dalam diri saya. Dalam kasus Juan Rulfo, paling tidak sebagaimana diceritakan di novel ini, ia berhenti menulis karena pamannya meninggal. Apa hubungannya? Rulfo mengaku semua cerita di cerpen dan novelnya, tak lain merupakan cerita pamannya. Membaca Bartleby & Co. mau tak mau membuat saya teringat kepada beberapa teman. Mereka pintar dan banyak membaca buku. Mereka juga memiliki ambisi untuk menulis, terutama menulis novel. Tapi selama bertahun-tahun, hingga hari ini, tak satu pun novel mereka hasilkan. Saya tak tahu alasan mereka, tapi sebagaimana ditunjukkan novel ini, kita bisa menemukan banyak alasan untuk berkata “tidak”. Yang paling sialan tentu saja alasan bahwa semua buku pada dasarnya hanyalah catatan kaki, jadi tak perlulah menulis kecuali menulis catatan kaki. Alasan yang barangkali paling menyedihkan, kita terlalu sibuk mencari uang untuk memberi makan anak dan istri, hingga tak ada waktu untuk menulis satu halaman sehari. Atau sedikit arogansi yang diucapkan Jaime Gil di catatan no 13 (novel ini berbentuk jurnal bernomor, sebanyak 86 catatan), “Aku percaya, aku ingin menjadi penyair, tapi jauh di dalam hati aku ingin menjadi puisi.” Sekali lagi, tentu banyak alasan bagi seorang penulis untuk kemudian berhenti menulis, atau tak pernah menulis sama sekali (dalam hal ini, maksudnya tidak menerbitkan apa pun sama sekali). Tapi yang paling mengejutkan, tentu saja ketika Marcelo (narator novel ini), mencoba menanyakan hal ini kepada masyarakat umum, yang memang bukan penulis atau bercita-cita menjadi penulis. Tepatnya kepada istri penjual koran: kenapa ia tidak menulis? Jawaban si perempuan adalah pertanyaan balik, “Beritahu aku, kenapa aku harus menulis?”



2 Comments

  1. mas eka, kalau buku begini Bartleby dll (yg dari luar) belinya di mana ya? via amazone ya? oh ya, kalau boleh tahu bagaimana ya mas cara memuat tulisan (tautan posting) di halaman Bibliografi, aku perhatikan kok ya postingnya itu tidak tayang di halaman depan tapi bisa muncul kalau di klik. makasih ya, mas eka, berharap sekali dapat ilmunya :)

    • @hari:
      saya dapat buku bisa dari mana aja. kadang enggak sengaja nemu di toko buku bekas, kadang beli baru di toko buku yg ada di Jakarta (Kinokuniya, Times, Periplus, Gramedia). saya enggak pernah beli dari Amazon, mahal ongkos kirim. kalo mau beli online, cobain The Book Depository, free shipping worldwide tuh. oh ya, aku gak ngerti maksud pertanyaanmu soal tautan bibliografi. yang jelas itu memang bukan halaman “post” (blog), tapi “page”, jadi ya enggak nongol di halaman depan.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑