Eka Kurniawan

Journal

Apa yang Harus Diajarkan di Kelas Menulis?

Setelah beberapa kali memberi kelas menulis, juga diundang untuk menyampaikan materi di workshop menulis yang sangat ringkas, saya sampai kepada satu kesimpulan bahwa sebenarnya, satu-satunya hal yang sangat perlu diajarkan di kelas menulis, bukanlah perkara bagaimana menulis. Terus apa, dong? Kita tahu, setiap anak yang menempuh pendidikan dasar, telah memperoleh paling tidak tiga keterampilan: berhitung, membaca dan menulis. Nah, mestinya semua dari kita sudah pernah memperoleh keterampilan menulis ini, kan? Ya, tapi ternyata kita tahu itu tidak cukup. Itu tak membuat semua orang yang lulus sekolah dasar bisa menulis. Tentu saja, sebagaimana kesimpulan saya, untuk bisa menulis memang yang diajarkan bukan persoalan bagaimana menulis yang kita pahami sekarang. Jadi apa, dong? Saya yakin, untuk semua orang yang ingin bisa menulis, satu-satunya pelajaran yang sangat penting dimiliki hanyalah: pelajaran berpikir. Apa? Berpikir? Saya yakin, ada persoalan besar dalam pendidikan dasar kita. Kita semua diasumsikan bisa menulis, diajarkan bagaimana menulis. Kita diajarkan bagaimana mengenali huruf, mengenal kata, menyusun kata menjadi kalimat. Tapi itu tak membuat kita bisa menulis. Itu hanya membuat kita menjadi tukang menyalin huruf, atau lebih canggih, hanya menjadikan kita tukang ketik. Menulis bukanlah sekadar menyusun kata-kata menjadi kalimat, bukan sekadar menyusun beberapa kalimat menjadi paragraf (yang bahkan seringkali banyak yang tak mampu), tapi terutama adalah sebagai disiplin berpikir. Bukankah pada dasarnya menulis merupakan perwujudan apa yang ada di dalam kepala kita ke dalam bentuk tulisan? Jika hasilnya ingin baik, maka perbaiki lebih dulu apa yang ada di dalam kepala. Jika ingin menjadi penulis yang baik, pertama-tama jadilah pemikir yang baik. Pendidikan dasar menulis, seharusnya sampai pada titik ini, titik di mana semua orang bisa berpikir dengan benar. Orang yang berpikir dengan benar, paling tidak ia tahu apa perkara yang dipikirkannya. Ia bisa merumuskan premis-premis pikirannya. Ia bisa mengembangkan premis-premis tersebut ke dalam berbagai kemungkinan. Ia mengambil hipotesa, ia mengambil kesimpulan. Perkara bagaimana mewujudkan apa yang ada di pikirannya ke dalam bentuk tulisan, meskipun seringkali juga sama sulitnya, merupakan masalah teknis. Di kelas-kelas menulis, kita terlalu sibuk mengurusi perkara-perkara teknis ini. Saya sadar, perkara teknis ini memang penting, tapi tentu saja jauh lebih penting sumber segalanya: pikiran. Saya sering menemukan manusia, yang bercita-cita ingin menjadi penulis, dengan segudang gagasan yang tumpah-tindih. Ketika diajukan pertanyaan sederhana, “Persoalan apa yang ingin kamu sampaikan?” ia tak mampu merumuskannya. Setidaknya tidak dalam bentuk tulisan, dan besar kemungkinan tidak dalam bentuk pikiran juga. Bagaimanapun kita hanya bisa tahu apa yang dipikirkan seseorang jika ia menuliskannya, atau mengatakannya. Sekali lagi itu urusan teknis. Orang yang jagi pidato, barangkali lebih senang mengatakannya. Orang yang sedikit pemalu, barangkali lebih baik menuliskannya. Tapi sebelum bisa mengetahuinya, sekali lagi, pertama-tama harus dibereskan dulu tata-cara berpikirnya. Bahasa, perkakas kita yang utama dalam menulis, pada dasarnya merupakan perkakas utama kita berpikir. Bahasa apa pun yang kita pergunakan, kita berpikir mempergunakan bahasa. Jika Anda berharap ingin belajar menulis, belajar sendiri atau belajar kepada orang lain, saya sarankan Anda belajar berpikir secara benar. Pahami tata-caranya. Pahami beberapa aspek logika. Juga pahami kelemahan-kelemahan perkakas kita. Jika kita belajar dari penulis lain, katakanlah dari Shakespeare, kita tengah mempelajari bagaimana ia berpikir, dan sadar tidak sadar, kita mencoba merumuskan sendiri pikiran kita. Ini kelas menulis ideal saya. Jika pendidikan dasar kita mencapai titik menulis adalah berpikir, dan membaca adalah menemukan pikiran orang lain, saya yakin kita tak butuh-butuh amat kelas menulis dan segala workshop. Kita dengan mudah menemukan diri kita menulis dengan gampang.



2 Comments

  1. Sangat setuju Kak Eka Kurniawan. Saya juga mau belajar memahami pemikiran orang lain dari membaca karyanya, Makasi

  2. Menulis adalah berpikir. Membaca adalah menemukan pikiran orang lain. Yoha!!

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑