Eka Kurniawan

Journal

Animal Farm

Saya baru saja hendak pamit setelah rapat di kantor, ketika dipotong oleh seorang karyawan yang bertanya, “Mas, sudah membaca novel … (ia menyebutkan judul novel)?” Saya bilang belum, dan bertanya balik meminta pendapatnya, “Bagus?” Ia jawab bagus, “Tapi kata Mbak (ia menyebut nama seorang penulis), itu novel jelek.” Penasaran, saya bertanya, “Kenapa ia bilang jelek?” Ia menjawab, “Karena di novel itu perempuan banyak disiksa.” Saya hampir tersedak mendengarnya. Tentu saja seseorang bisa menilai novel menurut selera dan cara berpikirnya, tapi saya tak mengira jawaban seperti itu muncul dari seorang penulis. Tapi setelah mengingat-ingat sebagian besar novelnya penuh dengan khotbah-khotbah mengenai feminisme, saya menjadi maklum. Tentu saja bukan berarti saya tak punya pandangan politik, atau tak punya pilihan ideologi. Misal yang paling gampang, saya akan menganggap Animal Farm karya George Orwell sebagai novel yang buruk, jika saya melihatnya semata-mata dari sudut pandang politik. Novel itu jelas bisa membuat revolusi tampak seperti sesuatu yang pesimistis, menganggap semua pemimpin pada akhirnya akan korup dan menjadi otoriter. Anda bisa membaca sebuah buku kajian yang menghebohkan beberapa tahun terakhir di dunia sastra internasional, berjudul Who Paid the Piper? karya Frances Stonor Saunders. Itu buku yang membuka keterlibatan CIA dalam bidang kebudayaan, terutama di masa perang dingin. Inti buku itu menceritakan bagaimana CIA mendirikan lembaga bernama Congress for Cultural Freedom, yang tujuannya untuk menjauhkan kaum intelektual (awalnya Eropa Barat, tapi kemudian mendunia) dari Marxisme dan Komunisme. Memengaruhi langsung maupun tidak langsung. Hasilnya? Banyak dan luar biasa. Bisa dibilang CIA berhasil dalam pekerjaannya ini. Gelombang anti-komunisme merebak di mana-mana. Salah satu hasilnya? Bisa dibilang: Animal Farm. CIA bahkan membiayai langsung pembuatan film kartun (akan ditonton anak-anak!), tak lama setelah Orwell meninggal. Sekilas saya pernah membaca juga jika Congress for Cultural Freedom juga pernah mengirimkan utusan ke Indonesia (bukan di buku ini). Itu membuat saya bertanya-tanya, apa yang telah mereka lakukan di sini, bagaimana mereka bekerja di sini, dan bagaimana itu memengaruhi gelombang anti-komunisme di karya-karya sastra sejak tahun 60an (bahkan sampai hari ini!)? Tapi soal itu, mungkin seseorang bisa menelitinya dengan lebih serius dan mendalam, dan saya pikir akan menjadi kajian yang menarik jika dilakukan, baik dari aspek sejarah maupun aspek sastra. Kembali ke Animal Farm, secara politik saya akan menganggapnya novel yang buruk. Tapi saya tak pernah menganggapnya demikian. Saya menganggap itu novel yang bagus, sangat bagus. Salah satu favorit saya. Jika di dunia ini ada yang disebut sastra propaganda (dan saya selalu berpikir semua karya sastra dengan satu dan lain cara sebenarnya merupakan karya propaganda), maka Animal Farm (juga karya Orwell yang lain, 1984) merupakan karya propaganda yang bagus dan berhasil, tak peduli apa yang dipropagandakannya. Keberhasilnanya terutama, menurut saya, karena novel ini membidik dua sasaran kritiknya sekaligus, meskipun tentu saja menurut saya yang satu untuk menyamarkan yang lain, agar tak terlalu telanjang. Dalam hal ini, Animal Farm menembak langsung sosok kapitalis (Mr Jones, kapitalis pemilik Manor Farm) dan si komunis (Napoleon, si babi). Strategi ini bisa menarik simpati kaum komunis yang anti-kapitalis, sehingga mulai bertanya-tanya mengenai pilihan politiknya (jangan-jangan, kita akan diperintah oleh sosok seperti si babi?). Keberhasilan lainnya, tentu saja karena karya ini ditulis dalam bentuk fabel. Hampir bisa dibilang ramah-dibaca-untuk-anak. Coba pikirkan, bukankah propaganda paling hebat memang seharusnya ditujukan untuk pikiran anak-anak? Sekali masuk ke kepala mereka, saya membayangkan, akan sulit untuk dikeluarkan kembali. Itulah kenapa, novel ini merupakan novel hebat. Novel yang penting dibaca oleh orang yang ingin membaca novel bagus, maupun propaganda yang bagus.



3 Comments

  1. Terimakasih tulisannya. Ini membuka cara pandang saya

  2. George Orwell memang mengakui salah satu motif orang menulis itu untuk propaganda politik.

    http://ebooks.adelaide.edu.au/o/orwell/george/o79e/part47.html

  3. Siapakah penulis itu? Mbak Ayu? Mbak Laksmi? Mbak Djenar? atau?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑