Eka Kurniawan

Journal

Abdullah Harahap

Jika saya harus menyebut tiga novelis terpenting dalam kesusastraan Indonesia, saya akan menyebut Pramoedya Ananta Toer, Asmaraman S. Kho Ping Hoo, dan Abdullah Harahap. Membaca semua karya mereka, saya pikir sudah cukup untuk memasuki rimba kesusastraan, dan menjadi yang paling gila di antara orang-orang gila. Saya pernah bertemu dengan Pramoedya, tapi pertemuan dengan Abdullah Harahap barangkali merupakan yang paling ajaib. Sejujurnya, sebelum benar-benar bertemu dengannya, saya berpikir bahwa penulis ini sudah lama tiada. Pikiran ini barangkali dibawa oleh kenyataan bahwa saya (kita), tak pernah menemukan apa pun yang tertulis mengenai riwayat hidupnya. Seolah-olah sejak lama memang ia tak pernah ada di dunia ini. Di sebagian besar buku-bukunya, kita tak pernah menemukan sebaris pun informasi mengenai sang penulis. Kapan ia lahir, dimana ia tinggal. Sosoknya sama misterius dengan kisah-kisah yang ditulisnya. Sebagian besar novelnya diterbitkan oleh penerbit-penerbit kecil (jika tak bisa dibilang skala ruko), beberapa di antaranya bahkan tak mencantumkan alamat, tak punya logo perusahaan. Dan sebagian besar tak mendaftarkan judul-judul novelnya dalam daftar ISBN. Novel-novelnya tampak lebih seperti brosur daripada sebagai karya kesusastraan. Novel-novelnya tak dijual di toko buku besar semacam Gramedia (kecuali belakangan hari), tapi di kaki lima dan di atas bis dan kereta, disodorkan oleh pedagang asongan, bersama Teka-Teki Silang, novel porno dan jam tangan palsu. Tapi itulah memang yang terjadi dalam kesusastraan Indonesia. Ketika saya dan dua teman, Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad memutuskan untuk membaca ulang karya-karyanya, saya tetap beranggapan ia tak ada lagi di dunia ini. Bukan hal mudah menemukan kembali karya-karyanya. Saya membacanya ketika masih remaja, menyewanya dari taman bacaan. Tak pernah menemukannya di toko buku, juga perpustakaan. Saya menemukan kembali novel-novelnya di toko-toko buku loak, berjejalan dengan majalah dan koran bekas. Sebenarnya ia tak hanya menulis novel-novel horor dan misteri. Ia menulis novel romans, bahkan memulai karir menulisnya dengan genre tersebut. Tapi puncak karya-karyanya, saya rasa berada di novel-novel horor dan misterinya. Dengan formula gothic lokal, misteri ala Edgar Allan Poe, dan sedikit petualangan dan penyelidikan. Setelah membaca banyak karya-karyanya, kami memutuskan untuk menerbitkan antologi cerita pendek kami, yang terinspirasi dari novel-novel horor dan misterinya. Dengan gagah berani, kami memutuskan buku itu (berjudul Kumpulan Budak Setan) sebagai tribut untuk Abdullah Harahap. Bahkan ketika buku itu hendak terbit, berisi dua belas cerita pendek kami, saya tetap beranggapan bahwa Abdullah Harahap sudah lama tiada. Hingga hari itu, saya sedang berada di rumah, dan sebuah pesan pendek masuk ke telepon genggam. Dari istri saya, yang bekerja di sebuah stasiun TV. Pesannya singkat saja, ia baru saja bertemu dengan Abdullah Harahap. Ia bilang kepada sang maestro, “Saya kira sudah meninggal.” Istri saya mengirimkan foto dirinya bersama sang penulis, dan itulah kali pertama saya melihat wajahnya. Seorang lelaki tua, tapi dengan tubuh yang masih tegap, berkacamata hitam. Tipikal penulis-penulis romans yang saya bayangkan hidup di tahun 70an. Beberapa minggu kemudian kami (saya, Intan dan Ugo) benar-benar bertemu di lobi Penerbit Gramedia Pustaka Utama (yang kemudian menerbitkan kembali karya-karya Abdullah Harahap). Kami masuk ke satu kedai kopi dan ngobrol selama hampir dua jam. Dengan selera humornya yang menyenangkan, serta aura misterusnya, ia kemudian bilang, yang bagi saya terasa seperti ejekan yang menyenangkan, “Saya bangkit lagi dari kubur.” Itulah Abdullah Harahap, salah satu maestro kesusastraan kita.



3 Comments

  1. Wah, amazing, saya pun membaca tulisan di blog pribadinya (Abdullah Harahap) berkat info dari blog ini. Di Makassar, ada kedai baca tua yang masih menyimpan novel horor beliau. Tadinya saya pikir, Abdullah Harahap ini mirip dengan Fredy S. Benar-benar misterius. Oh, ia. Kapan-kapan bahas soal Fredy S. Sebelumnya sudah pernah saya baca di blog Muhidn M Dahlan. Tapi sosok Fredy S belum juga terungkap.

  2. wah baru tahu abdullah harahap masih hidup.aku juga suka karya beliau yang mana sangat khas indonesia.kapan ya aku juga bertemu dia?

  3. saya baca novel2nya sejak masih SMP…brutal dan penuh darah

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑